Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Lampuhyang

Campur Kode dalam Pembelajaran Bahasa Bali Gotama, Putu Andyka Putra
LAMPUHYANG Vol 4 No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v4i2.153

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui bagaimana bentuk campur kode yang dilakukan oleh guru bahasa Bali dalam kegiatan pembelajaran, (2) mengetahui apa faktor penyebab terjadinya campur kode tersebut, dan (3) mengetahui apakah campur kode dalam pembelajaran bahasa Bali dapat dibenarkan.Kemudian, subjek dari penelitian ini adalah guru bahasa Bali yang mengajar di kelas X TKJ 2 SMK Negeri 1 Abang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi campur kode ke dalam pada tataran kata dan kalimat yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran bahasa Bali di kelas. Selanjutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode, yaitu karena sulitnya mencari padanan kata dalam bahasa Bali, sehingga guru terpaksa menggunakan kata dalam bahasa Indonesia, campur kode itu terjadi karena guru menginginkan siswa lebih memahami materi yang dijelaskan, kebiasaan dalam pemakaian, keakraban hubungan partisipan, kesantaainsituasi pembicaraan,topik pembicaraan, internasionalisasi, promosi bahasa, keanekaragaman suku/etnik, peran,ragam bahasa, faktor keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan, penutur, dan bahasa. Terakhir, campur kode itu bisa benarkan dengan beberapa alasan, yaitu pertama, campur kode itu bisa dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah lawan bicara di dalam memahami informasi yang kita sampaikan. Kemudian kedua, Campur kode bisa dilakukan, namun dengan catatan, campur kode yang kita gunakan harus memerhatikan bentuk atau unsur kata, frasa, kalimat dari bahasa tertentu agar tidak terjadi kekeliruan.
Soft Skill dalam Dunia Pendidikan pada Era Revolusi Industri 4.0Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan softskill dalam pendidikan pada era revolusi industri 4.0. Berdasarkan pembahasan diperoleh hasil bahwa Ada 20 hal (softskill) yang d Gotama, Putu Andyka Putra
LAMPUHYANG Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v9i2.168

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan softskill dalam pendidikan pada era revolusi industri 4.0. Berdasarkan pembahasan diperoleh hasil bahwa Ada 20 hal (softskill) yang dapat ditanamkan di dunia pendidikan dalam menghadapi industri 4.0. Keduapuluh itu adalah Mengutamakan hal-hal yang baik tanpa kecuali, kemampuan dalam mengarahkan pertimbangan intelektual dalam membedakan secara jernih apa yang baik dan buruk, Keadilan, sikap ugahari, Keteguhan, bersikap adil, mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan kesediaan menanggung derita atas jerih payah/pekerjaan/tugas-tugas, setia pada tugas-tugas yang dipercayakan, memberi makna atas jerih payah dan kerja keras sendiri, kesiapsediaan dan kemurahan hati melayani orang lain, penanaman keutamaan ini dimulai sejak kecil, creativity, critical thingking/problem solving, communication, collaboration/team-working, leadership, digital literacy, emotional intelligence, entrepreneurship, dan global citizenship.Berdasarkan hasildi atas, maka saran ingin diberikan kepada pihak pengajar mesti mengajarkan soft skill sehingga lulusan benar-benar menjadi SDM yang kompeten dalam menghadapi revolusi industry 4.0 dengan menguasai 3 ranah yaitu knowledge, skill, dan attitude, Lembaga Pendidikan penghasil tenaga pendidik hendaknya tetap memperhatikan integrasi penanamansoft skill dalam setiap kurikulum yang ada, dan peneliti atau penulis lain tentunya dapat melakukan penelitian-penelitian sejenis untuk mengembangkan pengetahuan terutama dalam penanaman soft skill di dunia pendidikan dalam menghadapi revolusi industry 4.0.
STRATEGI PEMERTAHANAN BENTUK LEKSIKAL NUMERALIA BAHASA BALI Putu Andyka Putra Gotama
LAMPUHYANG Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i1.88

Abstract

ABSTRAK Bahasa Bali merupakan salah satu bagian dari kebudayaan Bali. Kita ketahui bersama bahwa bahasa merupakan jati diri pemiliknya (Seloka, 2006: 6). Artinya, bahasa Bali merupakan jati diri dari masyarakat Bali. Oleh karena itu, eksistensi bahasa Bali merupakan “harta” yang patut untuk dipertahankan. Namun, kenyataannya sekarang bahasa Bali sedikit demi sedikit telah mulai digeser keberadaannya oleh pengaruh bahasa lain. Buktinya adalah generasi muda Bali sekarang nampaknya mulai tidak memperhatikan bahasa Ibu mereka. Sebagian besar generasi muda tidak mengetahui apa arti kata telung benang, selikur, sasur, selaé dan yang lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui bentuk leksikal numeralia dalam bahasa Bali dan strategi pemertahanan bentuk leksikal numeralia dalam bahasa Bali. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif, dengan pendekatan empiris. Subjek dalam penelitian ini adalah tokoh masyarakat, pendidik (guru dan dosen) bahasa Bali, dan para pemerhati bahasa Bali. Kemudian, metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah wawancara dan studi kepustakaan dengan teknis analisis data melalui reduksi, klasifikasi, display, dan interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, dalam bahasa Bali terdapat bentuk-bentuk leksika numeralia mulai dari tingkat satuan, puluhan, ratusan, ribuan, sampai pada tingkat pecahan yang paling tinggi. Masing-masing bentuk memiliki nama atau sebutan tersendiri. Kedua, berdasarkan hasil wawancara, teridentifikasi adanya dua strategi yang efektif untuk diterapkan dalam mempertahankan bahasa Bali. Strategi tersebut adalah pembiasaan penggunaan bahasa Bali dalam situasi formal di Bali dan pembiasaan untuk menggunakan bentuk leksika numeralia dalam bahasa Bali pada komunikasi yang terjadi di rumah. Berdasarkan hasil tersebut peneliti merumuskan beberapa saran, di antaranya, untuk pemerintah diharapkan untuk lebih memperhatikan kaitannya dengan pemertahanan bahasa daerah, dalam hal ini adalah bahasa Bali, bagi masyarakat diharapkan senantiasa membudayakan penggunaan bahasa Bali dalam komunikasi sehari-hari. Selain itu, diharapkan untuk tetap mempertahankan bahasa Bali sebagai bahasa Ibu, bagi pendidik terutama pendidik bahasa Bali, diharapkan untuk menerapkan pembiasaan komunikasi menggunakan bahasa Bali baik di dalam kelas maupun di luar kelas, Bagi mahasiswa diharapkan untuk membudayakan penggunaan bahasa Bali dalam komunikasi sehari-hari di kampus dan di luar kampus, dan bagi peneliti lain diharapkan tetap melakukan kajian terhadap pemertahanan bahasa Bali, sehingga nantinya akan muncul strategi-strategi lainnya yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Penerapan Metode Proyek dengan Memanfaatkan Kemampuan Berpikir Kritis untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Wacana Argumentasi Siswa Kelas X 5 Semester 2 SMAN 1 Selat, Karangasem Putu Andyka Putra Gotama
LAMPUHYANG Vol 2 No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v2i1.109

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui hasil pembelajaran menulis wacana argumentasi melalui metode proyek, (2) mengetahui langkah-langkah efektif penerapan metode proyek dengan memanfaatkan kemampuan berpikir kritis, dan (3) mengetahui respon Siswa Kelas X 5, semester 2, SMAN 1 Selat, Karangasem terhadap penerapan metode proyek dengan memanfaatkan kemampuan berpikir kritis. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa dan guru bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Selat, Karangasem pada semester II Tahun Pelajaran 2009/2010. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas melalui dua siklus. Data tentang keterampilan menulis wacana argumentasi itu dikumpulkan dengan metode tes yang dianalisis dengan metode deskriptif kuantitatif, langkah-langkah pembelajaran dikumpulkan dengan metode observasi yang dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif, dan respons siswa dikumpulkan dengan metode kuesioner/angket serta metode wawancara yang dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Sebelum dilaksanakan kedua siklus tersebut, terlebih dahulu dilaksanakan kegiatan pretes. Kegiatan pretes ini digunakan untuk mengetahui nilai awal keterampilan menulis wacana argumentasi siswa kelas X 5 SMA Negeri 1 Selat, Karangasem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode proyek dengan memanfaatkan kemampuan berpikir kritis dapat (1) meningkatkan keterampilan menulis wacana argumentasi siswa, (2) dilakukan melalui langkah-langkah pembelajaran yang paling tepat yaitu sebanyak 20 langkah pembelajaran, dan (3) menumbuhkan respons positif siswa dalam pembelajaran menulis wacana argumentasi.
Pentingnya Soft Skill bagi Mahasiswa Calon Guru Putu Andyka Putra Gotama
LAMPUHYANG Vol 2 No 2 (2011)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v2i2.119

Abstract

Penulisan artikel ini bertujuan untuk (1) mengetahui apakah soft skill itu penting ditanamkan kepada mahasiswa calon guru, (2) mengetahui kapan soft skill itu bisa ditanamkan pada diri seseorang, dan (3) mengetahui bagaimana cara menanamkan soft skill tersebut. Kemudian, berdasarkan pembahasan, diperoleh hasil bahwa soft skill itu sangat penting dikuasai oleh seorang guru. Soft skill itu sebenarnya harus ditanamkan kepada seseorang dari kecil dan apabila dikaitkan dengan dunia pendidik, maka soft skill akan lebih baik diajarkan ketika seseorang masih menjadi mahasiswa calon guru. Selain itu, soft skill bisa ditanamkan dengan menggunakan banyak cara sesuai dengan kebutuhan, seperti diinkludkan dalam pembelajaran di kampus, pembiasan, dan penerapan metode pemodelan. Berdasarkan hasil pembahasan, maka penulis memberikan beberasa saran, yaitu (1) Mahasiswa calon guru hendaknya mampu menyeimbangkan antara hard skill dan soft skill, (2) Pihak lembaga pendidikan pencetak tenaga pendidik, hendaknya tidak mengabaikan soft skill, karena dengan hard skill dan soft skill yang seimbang akan mampu melahirkan tenaga pendidik yang berkualitas dan mampu bersaing di dunia kerja, (3) Diharapkan bagi penulis lain, mampu menulis artikel yang sejenis dari aspek yang dianggap penting untuk dikaji.
Campur Kode dalam Pembelajaran Bahasa Bali Putu Andyka Putra Gotama
LAMPUHYANG Vol 4 No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v4i2.153

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui bagaimana bentuk campur kode yang dilakukan oleh guru bahasa Bali dalam kegiatan pembelajaran, (2) mengetahui apa faktor penyebab terjadinya campur kode tersebut, dan (3) mengetahui apakah campur kode dalam pembelajaran bahasa Bali dapat dibenarkan.Kemudian, subjek dari penelitian ini adalah guru bahasa Bali yang mengajar di kelas X TKJ 2 SMK Negeri 1 Abang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi campur kode ke dalam pada tataran kata dan kalimat yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran bahasa Bali di kelas. Selanjutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode, yaitu karena sulitnya mencari padanan kata dalam bahasa Bali, sehingga guru terpaksa menggunakan kata dalam bahasa Indonesia, campur kode itu terjadi karena guru menginginkan siswa lebih memahami materi yang dijelaskan, kebiasaan dalam pemakaian, keakraban hubungan partisipan, kesantaainsituasi pembicaraan,topik pembicaraan, internasionalisasi, promosi bahasa, keanekaragaman suku/etnik, peran,ragam bahasa, faktor keinginan untuk menjelaskan dan menafsirkan, penutur, dan bahasa. Terakhir, campur kode itu bisa benarkan dengan beberapa alasan, yaitu pertama, campur kode itu bisa dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah lawan bicara di dalam memahami informasi yang kita sampaikan. Kemudian kedua, Campur kode bisa dilakukan, namun dengan catatan, campur kode yang kita gunakan harus memerhatikan bentuk atau unsur kata, frasa, kalimat dari bahasa tertentu agar tidak terjadi kekeliruan.
Soft Skill dalam Dunia Pendidikan pada Era Revolusi Industri 4.0Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan softskill dalam pendidikan pada era revolusi industri 4.0. Berdasarkan pembahasan diperoleh hasil bahwa Ada 20 hal (softskill) yang d Putu Andyka Putra Gotama
LAMPUHYANG Vol 9 No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v9i2.168

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan softskill dalam pendidikan pada era revolusi industri 4.0. Berdasarkan pembahasan diperoleh hasil bahwa Ada 20 hal (softskill) yang dapat ditanamkan di dunia pendidikan dalam menghadapi industri 4.0. Keduapuluh itu adalah Mengutamakan hal-hal yang baik tanpa kecuali, kemampuan dalam mengarahkan pertimbangan intelektual dalam membedakan secara jernih apa yang baik dan buruk, Keadilan, sikap ugahari, Keteguhan, bersikap adil, mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan kesediaan menanggung derita atas jerih payah/pekerjaan/tugas-tugas, setia pada tugas-tugas yang dipercayakan, memberi makna atas jerih payah dan kerja keras sendiri, kesiapsediaan dan kemurahan hati melayani orang lain, penanaman keutamaan ini dimulai sejak kecil, creativity, critical thingking/problem solving, communication, collaboration/team-working, leadership, digital literacy, emotional intelligence, entrepreneurship, dan global citizenship.Berdasarkan hasildi atas, maka saran ingin diberikan kepada pihak pengajar mesti mengajarkan soft skill sehingga lulusan benar-benar menjadi SDM yang kompeten dalam menghadapi revolusi industry 4.0 dengan menguasai 3 ranah yaitu knowledge, skill, dan attitude, Lembaga Pendidikan penghasil tenaga pendidik hendaknya tetap memperhatikan integrasi penanamansoft skill dalam setiap kurikulum yang ada, dan peneliti atau penulis lain tentunya dapat melakukan penelitian-penelitian sejenis untuk mengembangkan pengetahuan terutama dalam penanaman soft skill di dunia pendidikan dalam menghadapi revolusi industry 4.0.
Campuram Kode Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Putu Andyka Putra Gotama
LAMPUHYANG Vol 12 No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v12i2.263

Abstract

Campur kode memang sering terjadi pada kegiatan pembelajaran di sekolah. Begitu pula dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Ketika menjelaskan materi, guru bahasa Indonesia tidak akan mungkin menggunakan bahasa Indonesia secara penuh, melainkan mereka sesekali akan menggunakan Bahasa Bali dalam menjelaskan materi, sehingga terjadilah campur kode dalam bahasa Indonesia. Secara teori dinyatakan bahwa apabila dalam berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, maka kita penutur tidak diperkenankan untuk menggunakan unsur bahasa daerah, maupun unsur bahasa asing. Dengan demikian, barulah seorang penurut bahasa Indonesia dapat dikatakan sebagai penutur dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar (Baku). Oleh karena itu, penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk campur kode yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesia dalam kegiatan pembelajaran, untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya campur kode tersebut, dan untuk mengetahui apakah campur kode dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat dibenarkan. Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian kualitatif, dengan pendekatan empiris. Subjek dalam penelitian ini adalah guru bahasa Indonesia yang mengajar di SMK N 1 Abang. Kemudian, metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi, wawancara, dan studi kepustakaan dengan teknis analisis data melalui reduksi, klasifikasi, display, dan interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, semua guru masih melakukan campur kode ke dalam dan keluar. Kedua, penyebab terjadinya campur kode itu adalah ketidaksengajaan/kebiasaan, penegasan maksud komunikasi, internasionalisasi, promosi bahasa, keanekaragaman suku/etnik, peran atau penutur, dan ragam bahasa (kedwibahasaan). Ketiga, jika berbicara mengenai campur kode itu dapat benarkan atau salah, maka jawabannya adalah tergantung konteks dan tujuan penggunaannya. Apabila campur kode itu dipakai dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman siswa, maka campur kode itu dapat dibenarkan. Namun, jika kata sisipan yang menyebabkan terjadinya campur kode itu penggunaannya tidak tepat atau kata tersebut sudah memiliki padanan kata dalam bahasa yang digunakan dalam komunikasi, maka jelas campur kode itu tidak dibenarkan. Berdasarkan hasil tersebut peneliti merumuskan beberapa saran, di antaranya, untuk lembaga pencetak tenaga guru bahasa Indonesia tentunya harus selalu mengembangkan kazanah pengetahuan dalam bidang materi campur kode, ahasiswa calon guru bahasa Indonesia, hendaknya harus mengetahui dan mempelajari campur kode, guru bahasa Indonesia wajib mengetahui campur kode, karena terkadang suatu materi pelajaran lebih mudah dipahami jika campur kode dalam komunikasi dimunculkan, dan peneliti lain diharapkan terus mengadakan penelitian-penelitian sejenis, sehingga pengetahuan tentang campur kode bisa terus dikembangkan.
Asesmen Otentik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Putu Andyka Putra Gotama; Ni Komang Suni Astini
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.305

Abstract

Pendidikan yang relevan harus bersandar pada empat pilar pendidikan, yaitu (1) learning to know, yakni peserta didik mempelajari pengetahuan, (2) learning to do, yakni peserta didik menggunakan pengetahuannya untuk mengembangkan keterampilan, (3) learning to be, yakni peserta didik belajar menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk hidup, dan (4) learning to live together, yakni peserta didik belajar untuk menyadari bahwa adanya saling ketergantungan sehingga diperlukan adanya saling menghargai antara sesama manusia. Dengan demikian, pendidikan saat ini harus mampu membekali setiap peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai dan sikap, yang mana proses belajar bukan semata-mata mencerminkan pengetahuan (knowledge-based) tetapi mencerminkan keempat pilar di atas. Melalui keempat pilar itulah dapat terbentuk kompetensi. Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang dimiliki dan dikuasai peserta didik yang dapat tertampilkan secara nyata dalam memecahkan/menyelesaikan tugas-tugas dalam kehidupan. Kompetensi ini hendaknya benar-benar bisa diukur dengan bentuk evaluasi yang valid. Hal ini disebabkan karena kompetensi merupakan produk akhir dari sebuah pembelajaran, termasuk pembelajaran bahasa Indonesia. Salah satu assesmen yang bisa digunakan adalah Asesmen Otentik. Artikel ini ditulis untuk mengetahui bentuk dan jenis assesmen otentik dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan pembahasan, diperoleh hasil bahwa asesmen otentik merupakan penilaian yang terintegrasi dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelas (berbasis kelas) melalui pengumpulan karya siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance) dan tes tertulis (paper and pencil test). Beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru mencakup (1) valid, (2) mendidik, (3) berorientasi pada kompetensi, (4) adil terbuka, (5) berkesinambungan, (6) menyeluruh dan, (7) bermakna. Kemudian, ada beberapa jenis assesmen otentik yaitu Wawancara lisan, Menceritakan kembali teks atau cerita, observasi guru, Portofolio, dan Rubrik. Seluruh jenis asesmen otentik ini sangat relevan jika digunakan untuk mengukur kompetensi peserta didik dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut di atas, maka saran ingin diberikan kepada Lembaga pencetak tenaga pendidik agar memberikan penekanan pada model-model asesmen yang bisa dipakai karena asesmen adalah ujung tombak dari keberhasilan suatu pembelajaran. Kemudian, kepada guru bahasa Indonesia agar memahami isi artikel guna menambah pengetahuan mengenai evaluasi pengajaran bahasa Indonesia, dan bagi peneliti lain tentunya dapat melakukan penelitian-penelitian sejenis untuk mengembangkan pengetahuan terutama dalam bidang evaluasi pembelajaran bahasa Indonesia.
Peranan Lingkungan Formal dan Informal dalam Pemerolehan Bahasa Kedua Putu Andyka Putra Gotama
LAMPUHYANG Vol 14 No 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v14i1.328

Abstract

Manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya menggunakan sarana bahasa. Masyarakat Indonesia hendaknya mampu menguasai lebih dari satu bahasa karena negara Indonesia merupakan negara kepulauan, dan tentu memiliki Bahasa Daerah yang beragam. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah dengan masyarakat interen suku tentu tidak akan mengalami kesulitan, namun apabila berkomunikasi dengan masyarakat di luar suku, sudah dapat dipastikan akan mengalami kesulitan. Oleh karena itulah, di Indonesia telah ada bahasa persatuan/bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Itulah sebabnya kenapa masyarakat disarankan untuk menggunakan lebih dari satu bahasa, minimal untuk masyarakat Indonesia, mampu menggunakan bahasa daerah sebagai B1 (bahasa Ibu) dan bahasa Indonesia sebagai bahasa keduanya (B2). Selain B2 bahasa Indonesia, kenyataan sekarang karena Indonesia terkenal dengan dunia pariwisata dan juga demi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ada semacam tuntutan yang wajib dilaksanakan yaitu, menguasai bahasa Inggris sebagai B2 yang lain. Terlepas dari pernyataan di atas, disadari bahwa dalam belajar B2 itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak kesulitan-kesulitan dalam belajar bahasa kedua. Ada banyak faktor yang mempengaruhi seseorang dalam belajar bahasa kedua. Salah satu faktornya adalah faktor lingkungan. Oleh karena itu, dalam artikel ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui pengertian lingkungan bahasa, peranan lingkungan formal dalam pemerolehan bahasa kedua, dan peranan lingkungan informal dalam pemerolehan bahasa kedua. Berdasarkan pembahasan diperoleh hasil bahwa yang termasuk lingkungan bahasa adalah situasi di mana orang tersebut belajar B2, misalnya di rumah, di sekolah, di kantor, di tempat nongkrong, dan yang lainnya. Kualitas lingkungan bahasa merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi kesuksesan seseorang dalam belajar B2. Kemudian, ada banyak faktor yang memengaruhi seseorang dalam belajar bahasa kedua. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah faktor lingkungan. Lingkungan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu lingkungan formal dan lingkungan nonformal. Lingkungan formal adalah salah satu lingkungan dalam belajar bahasa yang memfokuskan pada penguasaan kaidah-kaidah bahasa yang dipelajari secara sadar. Sementara itu, lingkungan nonformal adalah lingkungan yang mampu menjadi data input yang baik bagi pembelajar B2. Data input ini bila telah mengalami internalisasi akan menjadi pengetahuan linguistik yang berguna kelak sebagai bahan monitor. Lingkungan informal yang terpahami merupakan lingkungan bahasa yang baik bagi pembelajar. Seorang pembelajar B2 akan mampu menguasai bahasa target dengan baik apabila kedua lingkungan di atas dapat di manfaatkan dengan baik.