Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

KEMAMPUAN OOSIT IKAN LELE (Clarias grapienus) DALAM MENOLERANSI KLORIN SEBAGAI BAHAN OKSIDATIF STRES Hadid Armansyah; Yulianus Linggi; Marsoedi M
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 1 (2014): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.908 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i1.1256

Abstract

Penelitian ini menggunakan klorin dalam bentuk natrium hipoklorit yang dipaparkan secara in vitro untuk menguji kemampuan oosit ikan lele dalam menoleransi kehadiran klorin sebagai bahan oksidatif stres dalam medium kultur. Konsentrasi klorin yang digunakan adalah 0, 10, 20, 40, 80, 160, dan 320 μM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi paparan semakin rendah jumlah oosit yang mampu bertahan hidup hingga 4 jam pengamatan. Konsentrasi klorin 320 μM menghasilkan jumlah oosit yang mampu bertahan hidup paling optimum. Disimpulkan bahwa oosit ikan lele mampu menoleransi kehadiran bahan oksidatif stres dalam medium kultur dengan konsentrasi paparan klorin sebanyak 320 μM.
Maturation of Nile-Tilapia (Oreochromis niloticus) Oocytes With Exposed by Goat Inhibin Isolated from Granulose Cells Yulianus Linggi; Aulanni’am A; Yenni Risjani; Tongku N. Siregar
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 1, No 1 (2007): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2955.202 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v1i1.3118

Abstract

The present study aimed to investigate the role of inhibin in the regulation of oocytesmaturation. Inhibin was isolated from goat granulose cells and injected by intraperitoneal in to femaleNile-Tilapia. Three days later its gonad was taken by decapitation and the change of oocyte was evaluatedunder microscope. Results showed that average of percentages of oocytes that undergo maturated after exposed with inhibin of 0, 20, 40, and 60µg/individual 50.05, 29.44, 21.46, and 30.83%, respectively.The exposure of doses of goat inhibin in Nile-Tilapia showed significantly different (P0.01) to percentages of mature oocytes. It was conluded that exposition of goat inhibin from granulose cells caninducing the maturation of Nile-Tilapia oocytes.Keywords: inhibin, maturation, oocytes
Kinerja Pertumbuhan Oreochromis niloticus yang diberi Pakan Komersial dengan Substitusi Tepung Ulva lactuca Gadis Glorya Valentina Olang; Ridwan Tobuku; Yulianus Linggi
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 2 (2025): April 2026
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i2.7560

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peningkatan subtitusi tepung Ulva lactuca dalam pakan komersial terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) dan menentukan dosis optimal yang mempengaruhi pertumbuhan. Masalah penelitian mencakup efektivitas tepung Ulva lactuca sebagai bahan pakan ikan dan dampaknya terhadap kelangsungan hidup serta pertumbuhan ikan. Penelitian dilakukan di BBIS Noekele, Kabupaten Kupang, pada Agustus-September 2025, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan berupa substitusi tepung Ulva lactuca dalam pakan komersial dengan dosis 15%, 30%, 45%, dan 60%. Ikan uji yang digunakan adalah 240 ekor (tiap ulangan ada 20 ekor) Alat yang digunakan termasuk kolam, hapa, timbangan, Thermometer, pH meter, sementara parameter yang diamati meliputi pertumbuhan mutlak, pertumbuhan spesifik,efisiensi pakan, dan kelangsungan hidup ikan. Analisis data dilakukan dengan ANOVA pada taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak, pertumbuhan spesifik, dan efisiensi pakan tertinggi terjadi pada perlakuan P1. Selain itu, kelangsungan hidup ikan nila juga paling tinggi pada perlakuan P1, namun perbedaan perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kelulusan hidup (P>0,05), menunjukkan bahwa semua perlakuan masih mendukung kelangsungan hidup ikan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung Ulva lactuca dalam pakan komersial memberikan hasil optimal pada dosis rendah hingga sedang, khususnya 15%. Sebaliknya, peningkatan dosis yang terlalu tinggi cenderung menurunkan performa pertumbuhan ikan nila. Dengan demikian, pemanfaatan Ulva lactuca sebagai bahan substitusi pakan perlu memperhatikan batas optimal agar tidak memberikan efek negatif terhadap pertumbuhan ikan.Kata kunci : Tepung Ulva lactuca, Subtitusi pakan, pertumbuhan, ikan nila, kelangsungan hidup,efisiensi pakan.
Efektivitas Maskulinisasi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) melalui Metode Perendaman Larutan Madu Kefa dengan Dosis Berbeda Regina Firsani Missa; Yulianus Linggi; Yuliana Salosso
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 2 (2025): April 2026
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i2.7562

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh perendaman larva ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam larutan madu Kefa dengan dosis yang berbeda terhadap persentase kelamin jantan, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup. Larva berumur 7 hari direndam selama 20 jam dalam empat perlakuan dosis madu: 0 ml/L (kontrol), 5 ml/L, 10 ml/L, dan 15 ml/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan D (15 ml/L) menghasilkan persentase jantan tertinggi sebesar 73,81%, yang berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan lainnya. Pertumbuhan mutlak tidak berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan. Kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada kontrol (93,33%), sedangkan perlakuan D menunjukkan kelangsungan hidup terendah (70%) akibat stres osmotik. Disimpulkan bahwa madu efektif sebagai agen maskulinisasi alami dengan dosis optimal 15 ml/L, meskipun berdampak pada penurunan kelangsungan hidup.Kata kunci : Ikan nila; maskulinisasi; madu kefa; kelangsungan hidup; pertumbuhan
Pengaruh Perbedaan Suhu terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Larva Tiram Mutiara (Pinctada Maxima) Maria Selvia Froni; Priyo Santoso; Yulianus Linggi
Student Research Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Student Research Journal
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Yappi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/srj-yappi.v4i3.2744

Abstract

The pearl oyster (Pinctada maxima) is a high-value aquaculture commodity whose hatchery success is strongly influenced by environmental conditions, particularly temperature. This study aimed to determine the effect of different temperatures on the growth and survival rate of Pinctada maxima larvae. The research was conducted at PT Timur Otsuki Mutiara (PT. TOM), Kupang Regency, East Nusa Tenggara, using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of three temperature treatments: A (28°C), B (29°C), and C (30°C), each with three replications. The observed parameters included survival rate, absolute growth, dorsal–ventral specific growth rate, anterior–posterior specific growth rate, and water quality. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA). The results showed that temperature had a significant effect (P<0.05) on the survival rate and specific growth rate of the larvae. The 28°C treatment produced the highest survival rate (22.44%), dorsal–ventral specific growth rate (4.97%), and anterior–posterior specific growth rate (5.13%). The highest absolute growth was also recorded at 28°C, reaching 121.67 µm; however, no significant differences were observed among treatments (P>0.05). Water quality parameters remained within the optimal range for larval rearing throughout the study. Based on the research results, it can be concluded that 28°C is the optimum temperature for supporting the growth and survival of Pinctada maxima larvae, whereas increasing the temperature up to 30°C tends to reduce larval performance.
Budidaya Kappaphycus striatum dari Hasil Pembibitan Bersama Makroalga Coklat (Sargassum SP) dalam Keramba Jaring Apung di Pulau Semau Kabupaten Kupang Safronius Avatorio Peol; Welem L. Turupadang; Yulianus Linggi
Student Research Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Student Research Journal
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Yappi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/srj-yappi.v4i3.2749

Abstract

Kappaphycus striatum seaweed is a strategic commodity producing high-value carrageenan and is widely cultivated in Indonesia. This study aims to assess the growth rate of Kappaphycus striatum which is seeded with Sargassum sp. in floating net cages (KJA) and then cultivated using the longline method in the waters of Batuhopon, Huilelot Village, Semau Island, Kupang Regency. The study was conducted during August–October 2025 using a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments, namely P0 (5 kg Kappaphycus striatum + 0 kg Sargassum sp.), P1 (4.5 kg Kappaphycus striatum + 0.5 kg Sargassum sp.), P2 (3.5 kg Kappaphycus striatum + 1.5 kg Sargassum sp.), and P3 (2.5 kg Kappaphycus striatum + 2.5 kg Sargassum sp.). Observed parameters included daily growth rate, specific growth rate, absolute growth rate, ice-ice disease incidence, and water quality. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA). The results showed that the average daily growth rate in all treatments increased until the fifth week, but some treatments decreased in the sixth week. Treatment P0 provided the highest and most stable growth. The results of the ANOVA test showed that the treatment had no significant effect on the daily growth rate (P>0.05), but had a significant effect on the specific growth rate and absolute growth (P<0.05). The highest absolute growth was obtained in treatment P0, followed by P1, P3, and P2. The incidence of ice-ice disease increased gradually from 5% in the first week to 35% in the sixth week. Water quality parameters during the study were in the range that still supported seaweed growth, namely temperature 28–30°C, salinity 30–33 ppt, pH 7.5–8.0, depth 20 cm, and current velocity 0.3–0.4 m/s.
Respons Pertumbuhan, Moulting, dan Kelulushidupan Kepiting Bakau (Scylla serrata) terhadap Dosis Vitamin C Berbeda pada Pakan Berbasis Pila ampullacea Veronika Yulistiani; Yulianus Linggi; Agnette Tjendanawangi
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7539

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons pertumbuhan, frekuensi moulting, dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla serrata) yang diberi pakan berbasis keong sawah (Pila ampullacea) dengan dosis vitamin C berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dosis vitamin C, yaitu 12 mg/100 g pakan (A), 24 mg/100 g pakan (B), dan 36 mg/100 g pakan (C), masing-masing dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, survival rate (SR), frekuensi moulting, serta kualitas air. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan terdapat pengaruh nyata (P<0,05) dosis vitamin C terhadap pertumbuhan, moulting, dan kelulushidupan kepiting bakau. Perlakuan C menghasilkan pertumbuhan rata-rata tertinggi sebesar 48,2 g, frekuensi moulting terbanyak (3 ekor), serta tingkat kelulushidupan 100%. Peningkatan performa biologis pada perlakuan C menunjukkan bahwa suplementasi vitamin C mampu meningkatkan efisiensi metabolisme, mendukung pembentukan eksoskeleton, serta meningkatkan respons imun kepiting bakau. Parameter kualitas air selama pemeliharaan masih berada dalam kisaran optimal untuk budidaya kepiting bakau. Dengan demikian, suplementasi vitamin C sebesar 36 mg/100 g pakan berbasis Pila ampullacea direkomendasikan sebagai dosis optimal dalam meningkatkan performa budidaya kepiting bakau.Kata kunci: vitamin C, Scylla serrata, moulting, pertumbuhan, kelulushidupan