Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PENYULUHAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK DI POSYANDU ANGSANA WAY HALIM PERMAI TAHUN 2017 Usastiawaty Cik Ayu Saadiah Isnainy; Teguh Pribadi; Lidya Ariyanti; Dewi Novalina
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 1 Nomor 1 April 2018
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v1i1.25

Abstract

ABSTRACT Prevention of mosquito population was done by eradication of mosquito larvae, mosquito eggs, and mosquitoes in various ways. The larvae are targeted in controlling that act as vector-borne diseases through mosquitoes, such as malaria and dengue hemorrhagic fever. The purpose of the activity is expected to understand how to eradicate mosquito breeding. This activity was done on Thursday, December 14, 2017. The activity consist of education to the residents on how to eradicate mosquito breeding in the work area of Way Halim health center, using LCD and leaflets. There was a significant result of people knowledge after education. Thus, the provision of education can provide increased knowledge, especially with regard to eradicating mosquito breeding. Keywords: Mosquito, Larva, Eradication
Penggunaan Daun Salam Terhadap Klien Asam Urat Untuk Menurunkan Kadar Asam Urat Di Kelurahan Gunung Agung M. Arifki Zainaro; Dita Resi Andrianti; Teguh Pribadi; Djunizar Djamaludin; Andoko Andoko; M. Ricko Gunawan; Rika Yulendasari
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 1 Februari 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i1.2784

Abstract

Artritis gout (asam urat) adalah penyakit yang timbul akibat kadar asam urat darah yang berlebihan, yang menyebabkan kadar asam urat darah berlebihan adalah produksi asam urat di dalam tubuh lebih banyak dari pembuangannya, selain itu penyebab produksi asam urat di dalam tubuh berlebihan dapat terjadi karena faktor genetik (bawaan), faktor makanan dan faktor penyakit. Pengobatan tradisional untuk asam urat yaitu rebusan daun salam. Tujuan setelah penyuluhan dan demonstrasi, diharapkan pemberian daun salam pada klien asam urat untuk menurunkan kadar asam urat. Adapun kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan menggunakan leaflet dan demonstrasi pembuatan daun salam. Terdapat penurunan kadar asam urat setelah meminum air rebusan daun salam pada penderita asam urat di Kelurahan Gunung Agung. Dengan demikian, pemberian rebusan daun salam sangat efektif dalam menurunkan kadar asam urat.
Depresi, kecemasan, stress dan beban perawatan pengasuh utama (caregiver) pasien dengan stroke Desi Risnarita; Teguh Pribadi; Prima Dian Furqoni; Rahma Elliya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 7 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i7.8843

Abstract

Background:  A caregiver is someone who provides assistance to people who are disabled and need help due to illness or limitations such as spouses, children, in-laws, grandchildren, relatives, neighbors, friends, or other kinship relationships. Caregivers have the task of assisting in mobility, communication, self-care, and emotional and psychological changes so caregivers must balance the dual responsibility role of caring for stroke patients and adjusting their lifestyle. The weaker and more chronic the patient's illness, the higher the burden experienced by the caregiver.Purpose: To determine the relationship variables depression, anxiety, and stress with the burden of care among caregivers of patients with stroke.Method: Quantitative, analytic cross-sectional design. The population in this study were caregivers with  80 respondents, the sampling technique used was accidental sampling. Analysis using chi-square testResults: On average, respondents experienced the most dominant mild depression 45 (56.25%), mild anxiety 35 (43.75%), stress 35 (43.75%), the burden of care for the main caregiver was mild-moderate 38 (47.5%)Conclusion: There is a relationship between the burden of primary caregiver care (caregiver) in stroke patients with depression (p-value 0.03), anxiety (p-value 0.02), and stress (p-value 0.04).Keywords: Depression; Anxiety; Stress; Burden of Primary; Caregiver; Patients; Stroke.Pendahuluan: Caregiver adalah seseorang yang memberikan bantuan pada orang yang mengalami ketidakmampuan dan memerlukan bantuan karena penyakit atau keterbatasannya seperti pasangan, anak, menantu, cucu, saudara, tetangga, teman maupun hubungan kekerabatan lainnya. Caregiver memiliki tugas membantu dalam mobilitas, komunikasi, perawatan diri, perubahan emosional dan psikologis sehingga caregiver harus menyeimbangkan peran tanggung jawab ganda merawat pasien stroke serta menyesuaikan gaya hidupnya. Semakin lemah dan kronis penyakit pasien maka semakin tinggi beban yang dialami caregiver.Tujuan: Diketahui hubungan depresi, kecemasan, stress dengan beban perawatan pengasuh utama pada pasien stroke.Metode: Penelitian kuantitatif, desain analitik rancangan cross sectional. Populasinya caregiver/pengasuh pasien stroke dan besar sampel yang diambil sebanyak 80 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Analisis menggunakan uji chi square.Hasil: Rata-rata responden mengalami yang paling dominan depresi ringan 45 (56.25%), kecemasan ringan 35 (43.75%), stress 35 (43.75%), beban perawatan pengasuh utama beban ringan-sedang 38 (47.5%).Simpulan: Ada hubungan antara beban perawatan pengasuh utama (caregiver) pada pasien stroke dengan depresi (p-value 0.03), kecemasan (p-value 0.02), stress (p-value 0.04).
Penyuluhan kesehatan tentang kesehatan jiwa pada remaja Teguh Pribadi; Rahma Elliya; Prima Dian Furqoni; Chelda Ernita; Cindy Desmonika; Eka Novita Sari; Febi Erlianti
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.765 KB) | DOI: 10.56922/phc.v2i1.169

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan jiwa merupakan keadaan sehat baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk lingkungannya (UU No. 18 Tahun 2014). Sedangkan menurut Stuart & Laraia (2010) menyatakan kesehatan jiwa merupakan bagian integral dari kesehatan yang meliputi keadaan sejahtera, seimbang, merasa puas, pencapain diri dan optimis. Berdasarkan hal tersebut. Tujuan: Responden dapat mengetahui dan memahami tentang kesehatan jiwa pada remaja. Metode: Pelaksanaan metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan 2 tahap, yaitu pertama mahasiswa profesi ners menjelaskan tentang kesehatan jiwa pada remaja dan ke dua setelah diberikan penyuluhan kesehatan jiwa pada remaja, responden diberikan Tanya jawab tentang kesehatan jiwa pada remaja. Hasil: Responden memahami tentang kesehatan jiwa pada remaja Simpulan: responden dapat menerapakan hidup sehat jiwa  pada diri sendiri
Dukungan keluarga dan kemandirian pasien dengan gangguan jiwa yang menjalani perawatan di Yayasan Aulia Rahma Teguh Pribadi; Sumartono Sumartono
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 1 No. 1 (2022): Alternatif terapi untuk menurunkan gejala depresi pada lansia
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v1i1.251

Abstract

Background: Mental health or mental health is a state of complete physical, mental and social well-being, and not only free from disease, disability, and infirmity, which enables a person to live productively, both socially and economically. Data from the Lampung Provincial Hospital in 2021, the number of patients with Mental Disorders with mental disorders was 20,416 patients and 15,578 people (77.3 percent) had mental disorders and the total number of patients was the number of patients in the category of 10 cases or the most types of diseases being treated. at the Regional Hospital of Province Lampung. Purpose: To know relationship between family support and independence behavior among patients with mental disorders at Yayasan Aulia Rahma. Method: This type of research is quantitative, analytical design with a cross-sectional approach. The population in this study were all families of mental patients who underwent treatment at the yayasan Aulia Rahma on November 2020. The sampling technique used accidental sampling, where 46 respondents were obtained when the family came to visiting, and a questionnaire would be given. The family support instrument uses a questionnaire of 20 statements. Meanwhile, to see the patient's independence by using the observation sheet after the patient underwent 60 days of treatment and his condition had recovered, which was accompanied by regularity in taking medication and activities and being able to control symptoms. The independence observed included 10 items, such as self-care initiatives, independence in tidying and cleaning the correct bed, and cleanliness of the room and its environment. Data analysis using chi-square test. Results: Family support was obtained in the majority of mental patients with mental disorders in the low support category of 72.0 percent. The level of independence of patients with mental disorders is still at a low level at 67.3 percent. Conclusion: There is a relationship between family support and the independence of mental patients with mental disorders (p-value = 0.003 < 0.05). Suggestion: The management of the foundation to socialize the form of support to the patient's family to always provide support, so that the patient can recover quickly and learn independently so that he can be immediately discharged. Keywords: Family Support; Independence; Patients; Mental disorders. Pendahuluan: Kesehatan mental atau kesehatan jiwa merupakan keadaan sejahtera yang lengkap dari fisik, mental dan sosial, dan bukan hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan, yang memungkinkan seseorang hidup produktif, baik secara sosial, maupun ekonomis. Data RSJ Provinsi Lampung tahun 2021 jumlah penderita dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)  gangguan jiwa sebesar 20.416 pasien dan sebesar 15.578 orang (77,3 persen) mengalami gangguan jiwa dan total pasien tersebut merupakan jumlah pasien yang masuk kategori 10 kasus atau jenis penyakit terbanyak yang ditangani di RSJ Daerah provinsi Lampung. Tujuan: Diketahui hubungan dukungan keluarga dan kemandirian pasien dengan gangguan jiwa yang menjalani perawatan di Yayasan Aulia Rahma Metode: Jenis penelitian kuantitatif, desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga pasien gangguan jiwa yang menjalani perawatan di Yayasan Aulia Rahma di bulan November 2020. Teknik sampling menggunakan accidental sampling didapatkan sebanyak 46 responden dimana saat keluarga datang berkunjung maka akan diberikan kuesioner. Instrumen dukungan keluarga menggunakan kuesioner sebanyak 20 pernyataan. Sedangkan untuk melihat kemandirian pasien dengan menggunakan lembar observasi setelah pasien menjalani 60 hari perawatan dan kondisinya sudah pulih, yang disertai keteraturan makan obat dan aktivitas serta mampu mengendalikan gejala. Kemandirian yang di observasi meliputi 10 item, seperti inisiatif perawatan diri, kemandirian dalam merapikan dan membersihkan tempat tidur yang benar serta kebersihan kamar dan lingkungannya. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil: Didapat dukungan keluarga pada pasien jiwa gangguan jiwa mayoritas pada kategori dukungan rendah sebesar 72.0 persen. Tingkat kemandirian pasien gangguan jiwa  masih dalam tingkat rendah pada sebesar 67.3 persen. Simpulan: Ada hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian pasien jiwa gangguan jiwa (p value = 0,003 < 0,05). Saran: Manajemen yayasan untuk mensosialisasikan bentuk dukungan kepada keluarga pasien untuk selalu memberikan dukungannya, sehingga pasien dapat segera pulih dan belajar mandiri sehingga dapat segera dipulangkan.
Dukungan keluarga dan kualitas hidup pada pasien dengan Skizofrenia Bayu Ahya Dinata; Teguh Pribadi; Triyoso Triyoso
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 4 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i4.9190

Abstract

Background: Based on data World Health Organization (WHO) in 2022 schizophrenia is a severe mental disorder that affects about 7 per thousand of the adult population, especially in the age group 15-35 years. Although the incidence is low (3-10,000), a high prevalence is due to chronicity. Based on data obtained from the Lampung Provincial Mental Hospital in 2021, 27,490 outpatient visits were recorded, 2,606 were new patients and 24,884 were old patients, of which 17,924 were male and 9,566 were female.Purpose: To identify the relationship between family support and quality of life among patients with schizophrenia.Method: This type of research uses quantitative, the research design uses an analytical survey with a cross-sectional approach, the population and sample in this study were outpatient patients at the Lampung Provincial Mental Hospital, accidental sampling technique, univariate and bivariate data analysis using chi square. The research will be conducted at the Regional Mental Hospital of Lampung Province in February 2022.Results: Most of the family support is a poor category as many as 29 respondents (58.0%). Most quality of life among patients with schizophrenia is a poor category as many as 29 respondents (58.0%).Conclusion: There is a relationship between family support and quality of life in schizophrenic patients at the Lampung Provincial Mental Hospital in 2022 with a p-value = 0.000 (< 0.05)Keywords:  Family Support; Quality of Life; Patients; SchizophreniaPendahuluan: Skizofrenia merupakan gangguan mental yang berat yang mempengaruhi sekitar 7 per seribu dari populasi orang dewasa, terutama di kelompok usia 15-35 tahun. Meskipun insiden rendah (3-10.000), prevalensi yang tinggi terjadi karena kronisitas. Berdasarkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung tahun 2021 tercatat 27.490 kunjungan pasien jiwa yang rawat jalan, 2.606 merupakan pasien baru dan 24.884 merupakan pasien lama, dimana 17.924 laki dan 9.566 perempuan, dari data 24.884 pasien lama terdapat 19.907 pasien mengalami kekambuhan.Tujuan: Diketahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien skizofrenia  Metode: Jenis penelitian menggunakan kuantitatif, rancangan penelitian menggunakan survey analitik dengan pendekatan cross sectional,  populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah pasien melakukan rawat jalan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung, teknik sampling  accidental , analisa data univariat dan bivariat menggunakan chi square. Penelitian akan dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung pada bulan Februari 2022.Hasil : Sebagian besar dukungan keluarga kategori buruk sebanyak 29 responden (58,0%). Sebagian besar kualitas hidup pasien skizofrenia kategori buruk sebanyak 29 responden (58,0%). Simpulan: Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien skizofrenia di rumah sakit jiwa daerah provinsi Lampung tahun 2022 dengan nilai p-value = 0,000 (< α 0,05)
Hubungan religiusitas terhadap kualitas hidup (quality of life) pada pelajar di SMA Lampung Alisah Rahmah Hidayah; Teguh Pribadi; Prima Dian Furqoni
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 6 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i6.12024

Abstract

Background: The many phenomena that occur in adolescence both in the world and in Indonesia, especially in Lampung, in previous research, stated that this case was due to the lack of good religious education. Because religiosity can influence individual feelings to form an optimistic quality of life for adolescents.Purpose: To find out whether there is a significant relationship between religiosity and quality of life for students at Bahrul Ulum Natar High School, South Lampung and public high school 1 Lemong Pesisir Barat, totaling 538 students.Method: Researchers used a descriptive correlation study with a proportional stratific random sampling technique, a research instrument CFA (Confirmatory factor analysis) and WHOQOL-BREF quality of life.Results: The level of religiosity obtained an average value of (2.7742) at Bahrul Ulum High School and (3.1545) at Public high school 1 Lemong. The level of religiosity in the two institutions related to the acquisition of high religiosity results was 9 (5.8%) at Bahrul Ulum High School and 46 (29.9%) at public high school 1 Lemong. The level of good quality of life in both institutions is related to the number of 10 (6.5%) at Bahrul Ulum High School, 50 (32.5%) at Public High School 1 Lemong. Based on the research results, it is known that there is a relationship between religiosity and quality of life for students at High School Lampung (p-value <0.05).Conclusion: The value of religiosity in both institutions has a high value with a good quality of life and there is a relationship between Religiosity and the Quality of Life of Students in High school Lampung with a p-value (<0.05).Keywords: Adolescents (Students); Quality of Life; ReligiosityPendahuluan: Banyaknya fenomena- fenomena yang terjadi pada usia remaja baik didunia maupun di Indonesia khususnya di Lampung, pada penelitian yang di lakukan sebelumnya, menyatakan adanya kasus tersebut dikarenakan belum tercapainya pendidikan religius yang baik. Karena religiusitas dapat mempengaruhi perasaan individu untuk membentuk kualitas hidup yang optimis bagi remaja. Tujuan: Untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara religiusitas dan kualitas hidup (Quality of life) pada pelajar di SMA Bahrul Ulum Natar Lampung Selatan dan SMAN 1 Lemong Pesisir Barat yang berjumlah 538 siswa.Metode: Penelitian deskriptif korelasi dengan teknik pengambilan sampel proportionate stratific random sampling, instrument penelitian CFA (Confirmatory factor analysis) dan quality of life WHOQOL-BREF.Hasil: Tingkat religiusitas didapatkan nilai rata-rata (2.7742) pada SMA Bahrul Ulum dan (3.1545) di SMAN 1 Lemong. Tingkat religiusitas dikedua institusi terkait didapatkan hasil religiusitas tinggi sebanyak 9 (5.8%) di SMA Bahrul Ulum dan 46 (29.9%) pada SMAN1 Lemong. Tingkat kualitas hidup baik pada kedua institusi terkait dengan jumlah 10 (6.5%) di SMA bahrul ulum, 50 (32.5%) pada SMAN 1 Lemong. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara religiusita dan kualitas hidup (Quality Of Life) pada pelajar di SMA Lampung (p-value < 0,05).Simpulan: Nilai religiusitas di kedua institusi bernilai tinggi dengan kualitas hidup baik serta terdapat hubungan antara religiusitas Terhadap Kualitas Hidup Terhadap Pelajar di SMA Lampung dengan P-value (<0.05). 
Penyuluhan kesehatan tentang gizi seimbang pada bayi dan balita Teguh Pribadi; Umi Romayati; Aryanti Wardiyah; Ria Mu’alifah; Riri Anjeli; Kiki Erlita Ananda
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v3i1.256

Abstract

Introduction: One of the causes of malnutrition and stunting is the behavior and practice of parents in giving food to infants and toddlers that are not good. Good nutritional status of toddlers plays an important role for growth and development, especially during the golden period in the first five years. The results of nutritional status monitoring (PSG) in 2017 in Indonesia showed the prevalence of stunting for toddlers was 27.5%, underweight toddlers 8.0%, very thin toddlers 3.1%, underweight toddlers 22.8% and undernourished toddlers as much as 17.8%. Purpose: To increase mother’s knowledge about the nutritional status of toddlers so that they can reduce the incidence of malnutrition or less than normal toddlers. Method: The method used in this health education is carried out in several stages. The first stage is PSIK students explain about balanced nutrition in infants and toddlers using leaflets and the second after being given public education (respondents) are given a question and answer session about balanced nutrition in infants and toddlers. Results: Respondents (Community) can understand and apply balanced nutrition for infants and toddlers. Conclusion: Respondents (Community) can know and apply the balanced nutrition that should be given to infants and toddlers. Keywords: Balanced Nutrition; Nutritional Status; Toddler Pendahuluan: Salah satu penyebab terjadinya gizi buruk dan stunting yaitu perilaku dan praktek orang tua dalam pemberian makanan pada bayi dan anak yang kurang baik. Status gizi balita yang baik sangat memegang peranan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan terutama pada tahap golden period di lima tahun pertama. Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) pada tahun 2017 di Indonesia menunjukkan prevalensi stunting balita sebesar 27,5%, balita kurus 8,0%, balita sangat kurus 3,1%, balita risiko kurus 22,8% dan balita dengan gizi kurang sebanyak 17,8%. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang status gizi balita sehingga dapat menurunkan kejadian balita gizi buruk atau kurang dari normal. Metode: Metode yang digunakan dalam penyuluhan kesehatan ini yaitu dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahap yang pertama yaitu mahasiswa PSIK menjelaskan tentang gizi seimbang pada bayi dan balita menggunakan lembar leaflet dan yang kedua setelah diberikan penyuluhan, masyarakat (responden) diberikan sesi tanya jawab tentang gizi seimbang pada bayi dan balita. Hasil: Responden (Masyarakat) bisa memahami dan menerapkan tentang gizi seimbang bagi bayi dan balita. Simpulan: Responden (Masyarakat) bisa mengetahui dan menerapkan tentang gizi seimbang yang harus diberikan bagi bayi dan balita.