Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Assessment of the Perception of Security Based on CPTED in Bundaran HI TOD Siti Nurlaela; Sugiono Sugiono; Nadhila Alda Ismiralda; Ardy Maulidy Navastara; Ema Umilia; Arwi Yudhi Koswara
TATALOKA Vol 23, No 4 (2021): Volume 23 No. 4, November 2021
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.23.4.536-552

Abstract

CPTED studies has been popular since 1960-1970s, however studies in Indonesian city context showed limited references. This paper identified the need of CPTED study followed a massive MRT network development in Jakarta City, as the need for re-design and city beautification to fit with the vibrant TOD urban lifestyle may create moments as well to promote CPTED implementation. The perception survey was developed to understand the perceived crime risk level among the MRT users of Bundaran HI Station. The survey conducted in two scopes of context, i.e. the TOD precinct, an area of 800 radius from the station, and inside the station itself. Finding from the TOD context showed that the maintenance and information have been the most significant but often mostly ignored. These two component may lead to under-rated other CPTED components, weaken the territorial reinforcement and natural surveillance. Out of 56 parameters, 26 parameters or almost halve have rated below 3, alarmed for a more comprehensive design and intervention at the TOD neighbourhood level that emphasizes on the implementation of CPTED principles. Finding from the Bundarin HI station context showed that under the Likert scale 1 (the lowest risk) to 5 (the highest risk), most of the CPTED rated from 4 – 5. There were a variation in the perceived security among different respondents based on gender, time pattern, location pattern, and mode chosen for station access. However, these rating differences were not significant according to the ANOVA and the t-test statistics. The chi-square test found no association between the perceived securities with the type of mode uses for station access. These preliminary findings suggested that the Bundaran HI TOD station is secured from crime risk according to perception of MRT users; therefore little variation in the rating of perceived security gave little information to draw any association with other important variables such as the mode choice for station access. However, taken the measures on wider context at the TOD precinct, the rating of CPTED consistently lower in all components, suggested the urban design and land use zoning-and transportation intervention that consider CPTED principles to be emphasizing at wider area to support the security of the station.
Arahan Penyediaan Green Infrastructure Wisata Pantai Wedi Ireng Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi Hafidza Firda Kharira; Arwi Yudhi Koswara
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i3.91882

Abstract

Pantai Wedi Ireng merupakan salah satu objek daya tarik wisata di Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi. Dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Banyuwangi (2021), kawasan Wisata Pantai Wedi Ireng Kecamatan Pesanggaran diarahkan untuk pengembangan sarana dan prasarana. Dalam kondisi eksistingnya, penyediaan sarana dan prasarana masih sangat minim (eksisting 2022), dan aksesibilitasnya sulit. Lokasi Pantai Wedi Ireng yang berada pada kawasan hutan produksi membuat pengembangan wisata ini harus berwawasan lingkungan. Tujuan penelitian ini memberikan arahan terkait penyediaan infrastruktur hijau yang dapat dibangun pada kawasan wisata Pantai Wedi Ireng dengan tetap mempertahankan kondisi lingkungan. Penelitian ini menggunakan analisis AHP dengan input berupa kuisoner stakeholder untuk mengidentifikasi faktor prioritas penyediaan infrastruktur, analisis deksriptif untuk mengidentifikasi kondisi eksisting infrastruktur pariwisata, dan analisis Triangulasi untuk memberikan arahan penyediaan infrastruktur dengan menerapkan konsep infrastruktur hijau yang berwawasan lingkungan. Hasil dari penelitian ini didapatkan jenis infrastruktur yang menjadi prioritas untuk disediakan dalam empat kategori yakni aksesbilitas dan transportasi, fasilitas pelayanan wisata, utilitas, serta fasilitas pendukung wisata. Dalam identifikasi karakteristik kondisi eksisiting didapatkan deskripsi mengenai kekurangan dan kelebihan masing-masing infrastruktur. Penelitian ini mengahasilkan arahan penyediaan infrastruktur pariwisata dengan konsep green infrastructure berdasarkan prioritas pengembangan untuk pengembangan wisata Pantai Wedi Ireng.
Arahan Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo Natsir Azzam; Arwi Yudhi Koswara
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i3.97167

Abstract

Desa Jatimulyo merupakan salah satu desa wisata di perbukitan menoreh yang memiliki banyak potensi daya tarik wisata khususnya pada wisata air dan juga kuliner serta tarian khas setempat. Namun dibalik potensi yang dimiliki oleh desa tersebut, masih terdapat permasalahan tentang kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pariwisata dalam rangka peningkatan ekonomi lokal. Tujuan Penelitian ini untuk memberikan arahan terkait pengembangan dari Desa Wisata Jatimulyo yang berbasis masyarakat guna meningkatkan ekonomi desa dan juga membangun desa wisata yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan analisis delphi dengan menggunakan input dari stakeholder untuk menentukan faktor penentu pengembangan berbasis partisipasi masyarakat desa wisata, analisis deskriptif untuk mengidentifikasi karakteristik dan potensi masalah desa wisata, dan terakhir menggunakan analisis triangulasi untuk menentukan arahan pengembangan desa wisata berbasis partisipasi masyarakat. Hasil dari penelitian ini didapatkan enam indikator yang mempengaruhi pengembangan desa wisata berbasis partisipasi masyarakat yaitu aksesibilitas, promosi, sarana prasarana, sumber daya manusia, atraksi, dan partisipasi masyarakat. Kemudian dalam identifikasi karakteristik desa wisata didapatkan potensi, masalah, serta bentuk-bentuk partisipasi masyarakat pada setiap indikator. Penelitia ini menghasilkan arahan pengembangan desa wisata berbasis partisipasi masyarakat di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo
Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Bagi Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Kampung Susu Lawu Eko Budi Santoso; Arwi Yudhi Koswara; Vely Kukinul Siswanto; Inna Hidayani; Fellyta Zahrah Anggarini; Aulia Rahma; Andika Mahendra Arrianta; Mohammad Ramdan
Sewagati Vol 6 No 3 (2022)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1836.979 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v6i3.161

Abstract

Desa wisata merupakan pengembangan suatu desa dengan memanfaatkan unsur-unsur yang terdapat di dalam masyarakat desa yang memiliki fungsi sebagai atribut produk wisata. Berdasarkan wawancara dengan kelompok sadar wisata (POKDARWIS) Kampung Susu Lawu terdapat permasalahan terkait kelembagaan dan sumber daya manusia. Maka, kegiatan peningkatan kapasitas sumber daya manusia bagi Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) di Dusun Singolangu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur dimana Kampung Susu Lawu berada dilakukan melalui pelatihan dan simulasi dengan berfokus meningkatkan / memberdayakan masyarakat Kampung Susu Lawu khususnya POKDARWIS (kelompok sadar wisata) sebagai pemandu wisata di Kampung Susu Lawu. Hasil menunjukkan adanya respon positif stakeholder serta partisipasi aktif masyarakat yang cukup tinggi dalam mengikuti Pelatihan Pemandu Wisata selama 2 (dua) hari dengan 2 (dua) kegiatan yaitu pemaparan materi dan simulasi. Adapun luaran yang dihasilkan yaitu berupa Buku Saku Pemandu Wisata yang akan dibagikan kepada peserta pelatihan guna sebagai media cetak materi-materi yang praktis, tampilannya menarik, mudah dibawa kemana pun, dan mampu membuat peserta lebih mendalami materi terkait pemandu wisata.
Pengembangan Sistem E-Lapor untuk Meningkatkan Kualitas Pengelolaan Data Perumahan, Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU) di Kabupaten Sidoarjo Putu Gde Ariastita; I Dewa Made Frendika Septanaya; Arwi Yudhi Koswara; Karina Pradinie Tucunan; Agus Budi Raharjo; Placidus Kristadi Stefanugroho
Sewagati Vol 7 No 3 (2023)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1127.793 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v7i3.448

Abstract

Kabupaten Sidoarjo menjadi lokasi pilihan utama bagi pengembang untuk membangun perumahan di wilayah metropolitan Surabaya. Pembangunan perumahan formal berkembang dengan pesat dan dampaknya sektor properti menjadi tulang punggung perekonomian di Kabupaten Sidoarjo. Namun, masalah muncul karena mayoritas pengembang belum atau tidak menyerahkan aset prasarana, sarana dan utilitas (PSU) perumahannya ke pemerintah daerah sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri dalam Negeri No.9 tahun 2009 dan Peraturan Bupati Kabupaten Sidoarjo No.16 tahun 2017 serta No.10 tahun 2019. Dengan adanya permasalahan ini, sistem E-Lapor dibuat untuk mengelola isu PSU perumahan di Kabupaten Sidoarjo. Sistem ini secara teknis dikembangkan dalam bentuk web dengan memanfaatkan kerangka kerja Code Igniter dan sistem database MySQL. Hasilnya, sistem E-Lapor dapat mempermudah pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk melakukan kegiatan pemantauan, pencegahan dan penindakan, khususnya kepada pengembang yang tidak tertib dan taat dalam menyediakan PSU di lokasi perumahannya. Selain itu, bank data E-Lapor juga bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan fitur lain dalam sistem cerdas E-Pengelolaan aset PSU perumahan di Kabupaten Sidoarjo.
QR Code Edukatif sebagai Media Belajar Terintegrasi untuk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Bambu di Kawasan Ekowisata Boonpring, Kabupaten Malang Indah Trisnawati; Arwi Yudhi Koswara; Agus Budi Raharjo; Putra Maulida; Farid Kamal Muzaki
Sewagati Vol 7 No 4 (2023)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v7i4.537

Abstract

Kawasan wisata alam Boonpring Desa Sanankerto, Kecamatan Turen (Malang) memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi lingkungan berupa arboretum pusat pendidikan, penelitian dan konservasi tumbuhan bambu. Untuk wisata edukasi lingkungan berupa perpustakaan dan museum bambu, diharapkan Boonpring menyediakan informasi memadai mengenai potensi lokalnya yaitu beragam jenis bambu. Kegiatan Abmas ITS ini telah melakukan inventarisasi karakteristik (morfologi luar, distribusi, status konservasi) dan sistematika (taksonomi dan nama ilmiah) bambu. Dilanjutkan dengan menyusun dan mengembangkan media belajar terintegrasi dengan barcode edukatif Sistem Informasi Inventarisasi Tumbuhan Berbasis Quick Response (QR) Code, dan e-booklet potensi keanekaragaman bambu. Sistem ini memudahkan pihak pengelola untuk mengelola semua informasi tentang bambu, serta memonitor data koleksi bambu di arboretrum, sehingga pengelolaan keanekaragaman bambu dapat dilakukan secara efisien. Selain itu, sistem ini dapat membantu permasalahan dan kelemahan metode manual. Hal ini bermanfaat bagi rencana pemanfaatannya di masa datang sebagai perpustakaan dan museum bambu di Indonesia, yang mampu meningkatkan pemberdayaan masyarakat desa cerdas di bidang edukasi lingkungan. Dalam pengaplikasian sistem informasi ini perlu ditingkatkan kesiapan sarana, terutama internet di lokasi eduwisata. Komunikasi dan koordinasi tim abmas dengan pengelola eduwisata perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama terkait dengan pengelolaan keanekaragaman hayati dan wisata alamnya agar edukasi lingkungan masyarakat ini dapat tercapai secara optimal.
Eksplorasi Bentuk Adaptasi Sosial terhadap Ancaman Climate Change pada Masyarakat Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang Rastanto, Firmansyah Permadi; Sandi, Bayu Kurnia; Adji, Kinaya Rizqina; Purwaningsih, Endry; Santoso, Farrel Pradipa Aryasatya; Nisa, Khairun; Anam, Muhamad Khoirul; Koswara, Arwi Yudhi
JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) Vol 18, No 2 (2025)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24433527.v18i2.23247

Abstract

This study explores the forms of social adaptation among coastal communities on Mandangin Island, Sampang Regency, in response to the growing impacts of climate change. Using a qualitative descriptive approach with a case study design, the research involved six informants, consisting of key and main participants. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis, then analyzed using content analysis to identify emerging social adaptation patterns. The findings reveal four main forms of social adaptation: (1) solidarity and mutual cooperation, which strengthen collective responses during environmental crises; (2) social independence, reflected in rainwater management and livelihood diversification; (3) community resilience, built through cooperation and flexible economic strategies; and (4) collective awareness and local knowledge, which guide communities in interpreting environmental signals and maintaining ecosystem balance. These social mechanisms demonstrate that resilience among coastal communities is rooted not only in physical adaptation but also in cultural values, shared experiences, and social cohesion. Therefore, enhancing social capital, preserving local wisdom, and integrating community-based strategies into climate policies are essential for achieving sustainable coastal development.