Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Analisis Kadar Air dan Laju Pengeringan Bahan Baku Pembuatan Bubur Pedas Instan Suhendra, Suhendra; Nopriandy, Feby; Perdana, Daud; Maryam, Andi
Jurnal Engine: Energi, Manufaktur, dan Material Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Proklamasi 45 University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30588/jeemm.v8i1.1676

Abstract

Bubur pedas is a traditional food from Sambas Regency which is very popular in West Kalimantan. The development of bubur pedas was carried out by making instant bubur pedas so that this food can be enjoyed anytime and anywhere. The main problem found in the production process is in the drying process of raw materials. Based on these problems, it is necessary to develop a drying system to help the instant bubur pedas production process. Through this research, a performance test of a rotary drum type dryer was carried out to analyze the water content and drying rate of instant bubur pedas raw materials. The raw materials for dried instant bubur pedas are katuk leaves, singkil leaves and fern leaves. The rotary drum type dryer is operated at a rotational speed of 14.5 rpm. The drying process takes 2 hours with data collection every 20 minutes. Based on the measurement results, the initial water content of katuk leaves was 76.66%, singkil leaves were 72.72% and fern leaves were 88.06%. After drying for 2 hours, the water content of katuk leaves dropped to 38.40%, singkil leaves 43.91%, and fern leaves 64.64%. The material that experienced the highest decrease in water content was katuk leaves at 38.26%, followed by singkil leaves at 28.81% and fern leaves at 23.42%. The average drying rate for instant bubur pedas raw materials was fern leaves 0.1213 grams/second, katuk leaves 0.0613 grams/second and singkil leaves 0.0314 grams/second.
Pengaplikasian Serbuk Kayu Secang (caesalpinia sappan. L) dan Suhu Penyimpanan pada Kecap Kelapa Borneo Maryam, Andi
Jurnal Agroindustri Pangan Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Agroindustri Pangan
Publisher : PPPM POLTESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47767/agroindustri.v2i2.548

Abstract

Kecap Kelapa Borneo adalah produk kecap manis yang berasal dari pemasakan air kelapa yang ditambahkan gula merah dan rempah-rempah. Proses pembuatannya tanpa menambahkan bahan pengawet menyebabkan Kecap Kelapa Borneo memiliki umur simpan yang relatif singkat jika disimpan pada suhu ruang. Kayu secang dapat ditambahkan pada bahan pangan berfungsi sebagai pengawet alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serbuk kayu secang dan suhu penyimpanan terhadap umur simpan, mutu fisik, mikrobiologis dan kimia Kecap Kelapa Borneo. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu penambahan serbuk kayu secang KS1 = 2,34 gram, KS2 = 3,9 gram dan KS3 = 5,46 gram. Faktor kedua yaitu P1 = penyimpanan pada suhu ruang 24 – 35˚C dan P2 = penyimpanan pada suhu dingin 10 – 15˚C. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan KS1P1, KS2P1 dan KS3P1 (penyimpanan suhu ruang 24 – 35˚C) dan KS1P2, KS2P2 dan KS3P2 (penyimpanan pada suhu dingin 10 – 15˚C) pada hari ke-1 sampai hari ke-35 secara sensori masih dalam kondisi baik. Kondisi ini ditandai dengan aroma harum khas gula merah dan rempah-rempah masih tercium kuat. Warna yang dihasilkan masih berwarna hitam kecoklatan, namun perlakuan yang disimpan pada suhu ruang memiliki tekstur lebih encer sedangkan pada penyimpanan suhu dingin memiliki tekstur lebih kental. Hasil uji mikrobiologi baik perlakuan yang disimpan pada suhu ruang maupun suhu dingin dinyatakan negatif mengandung cemaran bakteri coliform. Perlakuan KS3P2 menghasilkan nilai viskositas tertinggi yaitu 28,12 dpas dan kandungan protein tertinggi yaitu sebesar dan 24,76%.
Analisis Kimia Dan Organoleptik Bubuk Penyedap Rasa Berbasis Limbah Udang Sebagai Alternatif Penyedap Alami Maryam, Andi
Jurnal Agroindustri Pangan Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Agroindustri Pangan
Publisher : PPPM POLTESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47767/agroindustri.v2i2.549

Abstract

Limbah udang merupakan hasil samping yang dibuang begitu saja tanpa termanfaatkan, sehingga dapat memicu timbulnya aroma tidak sedap bagi lingkungan akibat terjadinya pembusukan. Dampak bagi lingkungan adalah mengundang bibit penyakit. Udang memiliki kandungan protein yang cukup tinggi termasuk kulitnya. Selain kandungan protein yang masih terkandung didalamnya, limbah udang juga berpotensi menjadi flavor karena memiliki komponen asam glutamat. Pemanfaatan limbah udang menjadi produk seperti penyedap rasa akan menambah nilai ekonomi. Selain menjadi penyedap rasa alami berprotein, produk juga diharapkan dapat menjadi altenatif mengurangi penggunaan penyedap sintetik MSG (Monosodium glutamate). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air, kadar protein dan organoleptik penyedap rasa alami berbasis limbah udang dengan variasi lama waktu penyangraian. Jenis penelitian adalah eksperimen dengan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 faktor perlakuan meliputi lama waktu penyangraian 20 menit, 30 menit, 40 menit, 50 menit dan 60 menit sebanyak 3 kali ulangan. Hasil penelitian menujukkan kadar air terendah dan memenuhi SNI adalah pada PT4 sebsar 3,4%, PT5 sebesar 3,5% dan PT3 sebesar 3,6%. Kadar protein tertinggi adalah pada PT3 sebesar 2%. Penyedap rasa terbaik berdasarkan penilaian panelis adalah pada perlakuan PT4 dengan skor 3,8 (suka) berwarna coklat, tekstur yang halus serta aroma dan rasa produk sangat kuat sehingga disukai panelis.
PENGARUH PEMAHAMAN ETIKA BISNIS ISLAM PEDAGANG MUSLIM TERHADAP PRAKTEK PENIMBANGAN DI KOTA SAMBAS INDONESIAAM PROFIT BISNIS PADA PEDAGANG MUSLIM DI SAMBAS INDONESIA Sumar’in; Andi Maryam; Mokmin Basri
IQTISHODUNA: Jurnal Ekonomi Islam Vol. 13 No. 1 (2024): April
Publisher : LPPM, Universitas Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/iqtishoduna.v13i1.2388

Abstract

Sharias-based ethics seems to be a trend that can increase profits or as a way to attract customers. As well as the increasing literacy of the community or business actors who are not only looking for profits but also getting blessings from Allah Swt. This study will examine the extent to which Muslim Traders' Islamic Business Ethics Understanding of Weighing Practices. This research was conducted at the Sambas Morning Market. The samples used are permanent traders in Pasar Pagi, who have stalls, and are Muslim. The number of samples to be studied is 30 traders in the Morning Market. This research focuses on Weighing Practices carried out by traders. The analytical tool in this study is to use Linear Regression. Based on the results of the study, it can be concluded that there is a significant influence between the Understanding of Muslim Trader's Islamic Business Ethics on Weighing Practices. Based on the description above, it is interesting to investigate further whether there is an influence between Islamic business ethics and profit.
DIVERSIFIKASI PRODUK BUAH RAMBUTAN UNTUK MENINGKATKAN NILAI TAMBAH DI DESA MEKAR JAYA KECAMATAN SAJAD Junardi, Junardi; Tritisari, Angga; Maryam, Andi
Sehati Abdimas Vol 6 No 1 (2023): Prosiding Sehati Abdimas 2023
Publisher : PPPM POLTESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47767/sehati_abdimas.v6i1.634

Abstract

Desa Mekar Jaya merupakan salah satu desa penghasil buah rambutan di kecamatan Sajad Kabupaten Sambas. Dengan banyaknya hasil yang di dapatkan setiap tahunnya, perangkat Desa berinisiatif untuk menciptakan program-program yang berfokus pada peningkatan ekonomi melalui peningkatan nilai tambah pada hasil panen. Karena sampai saat ini, hasil panen khususnya komoditas rambutan yang melimpah berakibat pada murahnya harga ketika panen raya, bahkan sampai terjadi pembiaran buah sampai berguguran di pohonnya. Oleh karena itu, untuk lebih memaksimalkan lagi hasil panen yang sekaligus memberikan nilai tambah pada produk masyarakat sangat mengharapkan adanya mengharapkan upgrade skill dan ilmu pengetahuan untuk mengolah buah rambutan menjadi dodol, selai, keripik biji dan teh kulit dari rambutan.
98 LIMBAH CAIR TAHU (WHEY) SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN NATA DE SOYA DI INDUSTRI TAHU DESA DALAM KAUM SAMBAS Maryam, Andi; Sari, Dian
Jurnal Vokasi Vol 4, No 2 (2020): Oktober
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/vokasi.v4i2.1992

Abstract

Limbah cair tahu (whey) di Home Industry Tahu milik Bapak Sulaiman selama ini tidak dimanfaatkan dan hanya dibuang sebagai limbah di lokasi industri. Akumulasi limbah yang tergenang di sekitar lokasi industri mengakibatkan aroma busuk dan lingkungan kotor karena jauh dari aliran sungai. Whey merupakan cairan residu koagulasi protein kedelai dalam pembuatan tahu yang memiliki potensi sebagai bahan baku pembuatan nata sehingga disebut nata de soya. Pemilik home industry (mitra) tidak mengetahui cara membuat nata de soya sehingga kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) difokuskan pada pelatihan pembuatannata de soya yang bertujuan mengatasi permasalahan lingkungan akibat limbah cair tahu. Hasil dari kegiatan ini memberikan efek positif bagi mitra yaitu mampu memproduksi nata de soya yang sudah dipasarkan. Nata de soyakini menjadi produk baru di home industry Bapak Sulaiman selain tahu dan tempe.
Peningkatan Nilai Tambah Sagu Melalui Pelatihan Pembuatan Mie Sagu Instan di Desa Sebangun Kabupaten Sambas: Increasing the Added Value of Sago Through Training on Making Instan Sago Noodles in Sebangun Village, Sambas Regency Pratama, Gusti Randy; Maryam, Andi; Andiyono, Andiyono
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 6 (2025): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v10i6.8827

Abstract

The use of sago as a traditional food ingredient has long been known by residents in sago-producing areas. Sebagun Village is a sago-producing center in Sambas Regency. The service activity aims to increase community capacity through training in making instant sago noodle products. The method used starts with classical or lecture and then continues with practice by the participants. The manufacturing stages are divided into two, namely making instant noodles and seasoning. Training participants can practice the steps in making instant sago noodles very well. The evaluation results from the participants stated that the participants were satisfied with the implementation of community service activities.