Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Apakah digitalisasi meningkatkan harapan hidup? Analisis panel data Provinsi Indonesia 2022-2024 Putri, Yustika Mahayu; Hidayat, Budi
Journal of Economics Research and Policy Studies Vol. 5 No. 1 (2025): Journal of Economics Research and Policy Studies
Publisher : Nur Science Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53088/jerps.v5i1.1718

Abstract

Digitalization has become a global and national priority to improve various aspects of life, including public services, infrastructure, education, economy, and healthcare. This study analyzes the impact of digitalization on life expectancy using panel data from 34 provinces in Indonesia for 2022–2024. Digitalization is measured using the Indonesia Digital Society Index (IMDI), while the dependent variable is life expectancy at birth. The econometric model was applied for the analysis with a fixed-effects panel data model, controlling for variables such as gross regional domestic product (GRDP) per capita, average salary, population density, average years of schooling, and unemployment rate. The results indicate that digitalization significantly impacts life expectancy, with a one-unit increase in the Indonesia Digital Society Index (IMDI) associated with a 1.6% increase in life expectancy. Additionally, years of schooling contribute positively, while the unemployment rate has an adverse effect. Improving digital literacy, education, and reducing unemployment are necessary to enhance society’s quality of life.
Government Health Spending and Life Expectancy: Evidence from Cities and Districts in Indonesia Sari, Kurnia; Hidayat, Budi; Sjaaf, Amal Chalik; Nadjib, Mardiati
Kesmas Vol. 20, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Life expectancy is widely recognized as a fundamental indicator of population health, and its improvement is often linked to government health spending, particularly in decentralized health systems. This study aimed to investigate the relationship between local government health expenditures and life expectancy in decentralized Indonesia. Data from 492 cities and districts, spanning from 2015 to 2019, were analyzed using a two-way fixed effects regression model to control for time-invariant district characteristics and common temporal shocks. The findings indicated that a 10% increase per capita in government health expenditure was associated with a 0.01% increase in life expectancy. This association was established after adjusting for key health system and contextual variables, including physician density, sanitation coverage, poverty rates, and proportion of fiscal transfers from the central government. The association remained strong and statistically significant across all model parameters. The results demonstrated that increased local health expenditure improves population health outcomes.
Praktik Dokter Terkait Perilaku Merokok Pasien Pujianto, Pujianto; Thabrany, Hasbullah; Hidayat, Budi; Ong, Michael; Fitriah, Fitriah
Kesmas Vol. 4, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kini Indonesia berada pada awal tahap kedua epidemi tembakau dengan prevalensi perokok pada penduduk berumur di atas 10 tahun mencapai 23,7%. Dalam memerangi epidemi tembakau, dokter memegang peran kunci membantu pasien berhenti merokok. Untuk mengetahui praktik dokter terkait perilaku merokok pasiennya telah dilakukan survei di Jakarta dengan sampel 96 dokter yang dipilih secara acak. Hasil survei menunjukkan hanya 1 dari 50 dokter yang merokok setiap hari (2,1%). Pengetahuan dan sikap dokter tentang merokok pada umumnya sangat baik, yaitu 93,8% mengetahui dampak negatif perokok pasif, 84,4% mengetahui bahwa rokok dengan kadar tar/nikotin rendah tetap membahayakan, 93,8% setuju menjadikan dokter sebagai role model perilaku tidak merokok, dan 95,8% setuju dengan kondisi bebas asap rokok di rumah sakit. Namun, dokter yang tidak selalu menanyakan kebiasaan merokok pasien cukup tinggi (66,7%) dan dokter yang tidak selalu memberikan nasehat kepada pasien untuk berhenti merokok (38%). Analisis regresi logistik menemukan bahwa dokter yang bekerja di bagian jantung dan paru berpeluang 28,4 kali lebih besar untuk menanyakan kebiasaan merokok pasien daripada dokter yang bekerja di bagian penyakit dalam. Penulis menyarankan agar dilaksanakan pendidikan dokter berkelanjutan tentang bahaya merokok dan pengendalian merokok. Indonesia is in the second phase of tobacco epidemic shown by 23,7% of people age 10+ years are smoking. In tobacco control programs, physicians play significant roles. To know how Indonesian physicians behave in facing smoking habits, a survey to 96 practicing physicians in three clinical departments has been undertaken in Jakarta. The survey identified that only one in 50 (2,1%) physicians smoke daily. As high as 93.8% physicians know about negative impact of passive smokers, 84.4% know that low tar/nicotine has significant impact on health, 93.8% agree that physicians should be one of the role model to smoking cessation, and 95.8% agree on free smoke environment in all hospital premises. However, 66.7% physicians did not regularly asking smoking behavior of their patients and 38% did not advice patients to stop smoking. Logistic regression produce 28.4 times higher probability of physicians in Lung and Heart Clinic to ask smoking behavior of their patients as compared to physicians in Internal Medicines. The authors suggest to introduce a special continuing medical education on smoking and smoking cessation of practicing physicians.
Model Spesifikasi Dinamis Permintaan Rokok: Rasionalkah Perokok Indonesia? Hidayat, Budi; Thabrany, Hasbullah
Kesmas Vol. 3, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini mengestimasi model spesifikasi dinamis permintaan (demand) rokok di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menguji hipotesis kecanduan rasional perokok, dan menghitung elastisitas harga rokok jangka pendek dan jangka panjang. Analisis diaplikasikan pada data agregat individu yang dibentuk dari tiga tahapan survei panel IFLS selama tahun 1993-2000. Studi ini menjajagi sejumlah teknik ekonometrik dan memilih teknik tercocok atas dasar serangkaian uji statistik. Hasilnya menunjukkan bahwa rokok terbukti sebagai produk yang menimbulkan kecanduan (koefisien konsumsi masa lampau positif dan signifikan pada 1%). Sedangkan koefisien negatif dan signifikan untuk konsumsi rokok masa depan menunjukan sifat kecanduan miopik, artinya para perokok bersifat tidak rasional. Studi ini juga menunjukkan permintaan rokok lebih sensitif terhadap perubahan harga untuk jangka panjang ketimbang untuk jangka pendek. Temuan bahwa perokok memiliki sifat kecanduan miopik mengharuskan pengambil kebijakan mendisain ulang strategi promosi kesehatan masyarakat tentang larangan merokok di Indonesia. Berbagi implikasi kebijakan temuan studi disajikan pula pada bagian akhir tulisan ini. This study estimates a dynamic model specification of demand for cigarette in Indonesia. The objectives are to test the rational addiction hypothesis of cigarettes demand, and to calculate price elasticity of cigarettes in the short-run and long-term. The data for this analysis were aggregate individual data from three-wave a panel surveys of the IFLS (Indonesian Family Life Survey) from 1993-2000. This study explores several econometric approaches, and selects the best fit of several statistical measures. The results indicate that cigarette indeed an addictive good (the lags consumption coefficients are a positive with p-value
Mengenal Rancang Bangun Program Keluarga Harapan Kesehatan Hidayat, Budi
Kesmas Vol. 4, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah Indonesia sedang melakukan uji coba program bantuan tunai bersyarat (BTB), yakni Program Keluarga Harapan (PKH). Program ini memberikan bantuan tunai kepada rumah tangga miskin dengan mensyaratkan mereka melakukan investasi sumber daya manusia. Pelaksanaan BTB di berbagai negara selalu diikuti upaya sistematis untuk mengukur efektivitas dan memahami dampak yang lebih luas dari program pada perilaku rumah tangga. Artikel ini menyajikan bukti nyata bahwa BTB telah meningkatkan kehidupan penduduk miskin. BTB dipuji sebagai cara untuk mengurangi kesenjangan terutama di sejumlah negara Amerika Latin; membantu rumah tangga keluar dari lingkaran setan kemiskinan yang ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya; meningkatkan status kesehatan dan gizi anak, serta membantu negara memenuhi tujuan-tujuan pembangunan millenium. Artikel ini juga mengupas lebih dalam mengenai rancang bangun PKH, termasuk alasan-alasan pengembangan PKH kesehatan serta proses penetapan persyaratan kesehatan. The Government of Indonesia is testing a conditional cash transfer (CCT) program, e.g., Family Hope Program. This program provides money to poor households conditional on investments in human capital. CCTs implementation in various countries has been followed by systematic efforts to measure their effectiveness and understand their broader impact on households’ behavior. The article shows empirical evidence that CCTs have improved the lives of poor people. CCTs have been hailed as a way of reducing inequality, especially in Latin America countries; helping households break out of a vicious cycle whereby poverty is transmitted from one generation to another; promoting child health and nutrition; and helping countries meet the Millennium Development Goals. This article explores more deeply on the design of the Indonesian CCT program, including the reasons for the development of CCT health and health conditionalities determination process.
Program Keluarga Harapan dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Preventif Hidayat, Budi; Tuhiman, Hendratno; Prawiradinata, Rudy; Sumadi, Pungky
Kesmas Vol. 5, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program keluarga harapan (PKH) yang berbasis bantuan tunai bersyarat (conditional cash transfers, CCT) di bidang pendidikan dan kesehatan telah diluncurkan Pemerintah Indonesia sejak Juli 2007 di 348 kecamatan dari 48 kabupaten/kota di 7 provinsi, namun dampaknya dalam mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia warga miskin belum pernah dievaluasi. Studi ini mengevaluasi dampak awal PKH terhadap penggunaan layanan kesehatan preventif. Evaluasi ini menggunakan rancangan eksperimen, intervensi program PKH berbasis rumah tangga dengan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok perlakuan dan kontrol yang sebelumnya dipilih acak pada tingkat kecamatan. Data diperoleh dari survei dasar CCT tahun 2007 dan survei lanjutan PKH tahun 2008 yang dikumpulkan di 6 provinsi. Hasil estimasi metode double-difference menunjukkan dampak program intervensi PKH pada kenaikan sejumlah indikator pelayanan kesehatan preventif seperti kunjungan posyandu, pemantauan tumbuh kembang anak, dan imunisasi. Temuan ini penting sebagai dasar pengambilan keputusan untuk melanjutkan program. Namun karena evaluasi awal ini memiliki sejumlah keterbatasan, hasil studi ini harus ditafsirkan hati-hati dan divalidasi lebih lanjut dengan data survei PKH tahun 2009 menggunakan berbagai metode analisis. Family hope program (PKH), a conditional cash transfers (CCT)-based program in education and health, has been launched by the Government of Indonesia since 2007 in 348 sub-districts of 48 regencies/cities in 7 provinces, but its impact on the reduction of poverty and improvement of poor human resources has not been evaluated. This study valuates initial impact of the PKH on the utilization of preventive healthcare services. This evaluation applies experimental design, a household-based intervention program with measurements prior to and after-intervention in both treatment and control groups that previously were chosen randomly at the sub-district level. The data were obtained from CCT baseline surveys 2007 and PKH follow-up survey 2008 in 6 provinces. Double-difference estimates show the impact of PKH on the increase of preventive health care services indicators such as visit to posyandu, child growth monitoring, and immunization. These findings are important for decision making to continue the program. However, as this initial evaluation has a number of limitations, this study should be interpreted with caution and be validated further by PKH survey 2009 data using different methods of analysis.
Kondisi Fisik Atlet Judo Jawa Barat Pada Saat Pandemic COVID-19: Tinjauan Tahap Persiapan Umum Purnamasari, Ira; Listiandi, Arfin Deri; Novian, Geraldi; Hidayat, Budi
Journal of Sport Science and Education Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Sport and Health Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jossae.v7n1.p24-33

Abstract

The COVID-19 pandemic that has hit the whole world has disrupted various important things, including the match agenda, including the holding of PON (National Sports Week) which had to be postponed. The exercise program that has been carried out by athletes has also been disrupted, especially physical exercise that must be done at home. The purpose of this study was to determine the physical condition of the results of training carried out by West Java Judo athletes during the general preparation period, which was also constrained by the existence of a home exercise program at the beginning of the COVID-19 pandemic. The method used in this study is a descriptive method using research instruments 1) aerobic capacity: balke test; (2) an-aerobic capacity: 300 meters-run test; (3) strength endurance: 1-minute push up test and 1-minute sit-up test; (4) core stabilization: core stabilization test. The sample in this study were 18 athletes of West Java Judo PON Pelatda PON XX athletes. The t-test was used as a data analysis technique for this research. The results showed that there was a significant effect of the exercise carried out on the physical condition of the athlete at the general preparation stage. An increase in every component of the athlete's physical condition also occurred, although some of them experienced no change or even a decrease. This is due to the constraints of the training program that must be faced during the time of training at home independently, so athletes are constrained by limited facilities, unlike the facilities provided in the centralized training center. Motivation to practice also affects the factor of practicing during the training period at home during the COVID-19 pandemic.
EVALUASI METODE PENGUKURAN BEBAN KERJA (WISN) DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Novannisa, Nikky; Hidayat, Budi; Lavinia, Zhafirah
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.29682

Abstract

Pengukuran beban kerja sangat penting untuk memastikan kinerja yang optimal, kesejahteraan karyawan, dan alokasi sumber daya yang efektif. Metode Indikator Beban Kerja Kebutuhan Tenaga Kerja (WISN) sudah sering digunakan untuk menilai beban kerja dan kebutuhan tenaga kerja. Tinjauan literatur sistematis ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan, reliabilitas, dan validitas metode WISN di pelayanan kesehatan. Pencarian sistematis terhadap database yang relevan (PubMed & Google Scholar) dilakukan untuk mengidentifikasi penelitian yang diterbitkan antara tahun 2014 hingga 2024 yang berfokus pada penerapan metode WISN dalam pelayanan kesehatan. Dengan menggunakan metodologi PRISMA, ditemukan 12 artikel dipilih dari 323 artikel awal berdasarkan relevansi dan kualitas metodologisnya. Kajian ini menemukan bahwa metode WISN telah diterapkan secara efektif di berbagai konteks pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, pusat layanan primer, dan klinik. Metode ini memberikan pendekatan secara terstruktur untuk menentukan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan beban kerja, sehingga menghasilkan alokasi sumber daya yang efektif. Namun, beberapa penelitian menyoroti tantangan yang berkaitan dengan keakuratan data dan kemampuan adaptasi metode WISN pada berbagai kondisi pelayanan kesehatan. Diperlukan pengembangan dan pendekatan terpadu pada metode WISN ini sehingga dapat menyeimbangkan beberapa metode pengukuran beban kerja lainnya untuk meningkatkan reliabilitas dan validitas.
Analisa Kinerja Keuangan Selama dan Sesudah Pandemi Covid-19 di Rumah Sakit Khusus Paru Kabupaten Karawang Darawati, Dayu; Hidayat, Budi
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jcm.v3i2.2509

Abstract

Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam sebuah perusahaan. Hal tersebut digunakan untuk menilai keberhasilan suatu perusahaan dan sebagai dasar dalam penyusunan imbalan atau insentif dalam suatu perusahaan. Populasi penelitian ini adalah Sub Bagian Keuangan pada Rumah Sakit Khusus Paru Karawang, Sampel dalam penelitian ini adalah Laporan Keuangan Rumah Sakit Khusus Paru Karawang pada masa selama pandemi covid-19 dan sesudah pandemi covid-19 Tahun 2020 sampai dengan 2022. Cost Recovery Rate (CRR) atau kemampuan perusahaan dalam membiayai operasional Rumah Sakit Khusus Paru Karawang tahun 2020 yaitu 120,27%, tahun 2021 153,07%, tahun 2022 23,20%. hasil perhitungan analisa kinerja keuangan menggunakan rasio sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-34/PB/2014 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Badan Layanan Umum Bidang Layanan Kesehatan terlihat bahwa rasio peningkatan terjadi pada tahun 2020 ke 2021, dan mengalami penurunan dari Tahun 2021 ke 2022. Hal ini terjadi karena pengaruh masa selama pandemi dan sesudah pandemi di Rumah sakit Khusus Paru Karawang yang berdampak pada tingkat pendapatan rumah sakit selama pandemi di dominasi oleh pendapatan klaim pasien covid-19 sehingga kenaikan cukup tinggi terjadi saat puncak pandemi di tahun 2021.
ANALISIS PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN PESERTA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA (FKTP): ANALISIS DATA SAMPEL BPJS KESEHATAN TAHUN 2022 Rahman, Reza; Hidayat, Budi
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 3 No. 3 (2022)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang menyebabkan tingkat kematian yang tinggi. Pada pelaksanaan JKN Tuberkulosis Paru merupakan salah satu penyakit yang masuk dalam penjaminan yang dapat dituntaskan pada pelayanan FKTP. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan model Binomial Negatif dengan tujuan untuk mengetahui gambaran serta faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan FKTP bagi peserta JKN penderita tuberkulosis paru. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 33,79% peserta dengan tuberkulosis paru memanfaatkan pelayanan FKTP dengan angka rasio rujukan rata-rata sebesar 25,95%. Hasil uji statistik didapatkan, terdapat hubungan yang signifikan antara Jenis Kepesertaan (p value 0.026), Umur (p velue 0.034), Status Perkawinan (p value 0.011) dan Status Pulang (p value 0.000) pada pelayanan FKTP dengan pemanfaatan pelayanan FKTP. Pemanfaatan pelayanan peserta dengan tuberkulosis paru paling banyak pada Jenis Kepesertaan PBI, Kelompok Usia Tidak Produktif, Status Telah menikah dan Status Pulang FKTP dirujuk lanjut. Pelayanan FKTP sesuai kompetensinya sangat berperan dalam pencegahan penularan dan perburukan kondisi tuberculosis paru untuk mencegah adanya komplikasi lebih lanjut. Alur layanan rujukan parsial antar FKTP dan rujukan lanjutan yang dilakukan secara cepat dan tepat akan meningkatkan kualitas pelayanan yang efektif dan efisien bagi pasien tuberculosis paru.