Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Pola Komunikasi Dalam Komunitas Perempuan Sosialita “X” di Surabaya (Studi Fenomenologi Pada Komunitas Perempuan Sosialita di Surabaya) Anak Agung Ayu Mirah K.W; Bambang Dwi Prasetyo; Sanggar Kanto
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan peneliti mengetahui permasalahan yang terjadi pada komunitas Sosialita. Komunikasi muncul karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas untuk bersosialisasi. Perempuan bersosialisasi di dalam suatu kelompok bisa mengurangi masalah pribadi yang perempuan alami. Sosialita merupakan sebutan yang diberikan kepada perempuan yang bisa digolongkan sebagai kelompok perempuan yang sudah memiliki kemampuan dan kemauan serta fasilitas, kesempatan, dan sarana yang cukup bagi perannya. Berdasarkan perspektif feminis liberalisme bahwa perempuan mencoba eksistensinya di ruang publik dan mereka berhasil. Studi fenomenologi digunakan sebagai metode penelitian ini. Metode fenomenologi digunakan karena mampu menjelaskan makna dibalik fenomena yang nantinya ditemukan dalam penelitian ini. Metode fenomenologi juga mampu menggambarkan dan menganalisis pola perilaku manusia. Penelitian dilakukan pada komunitas sosialita X di kota Surabaya.Dengan mengambil empat informan perempuan sosialita sebagai informan penelitian. Masalah yang diteliti pada penelitian ini adalah bagaimana pola komunikasi dalam komunitas perempuan sosialita X di Surabaya. Peneliti melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk mengumpulkan data penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi kelompok, komunikasi antarpribadi,komunikasi verbal dan non verbal, interaksionisme simbolik.  Hasil penelitian menunjukkan para kaum sosialita mulai mengidentifikasi dirinya ketika bersosialisasi dengan sesama kaum sosialitanya. Dalam menjalin hubungan para perempuan sosialita melakukan identifikasi terkait dengan identitas mereka sebagai seorang perempuan sosialita satu sama lainnya. Lingkungan juga mempengaruhi dalam hal perilaku individu serta keputusannya terkait dengan menjadi seorang sosialita. Mengenai peran komunitas sosialita yang ada, dalam penelitian ini adalah komunitas sosialita X yang memberikan pembelajaran dan informasi-informasi dengan dunia sosialita.Kata Kunci : Sosialita, Fenomenologi, Pola Komunikasi
Hubungan Antara Karakteristik Sosial Ekonomi Dengan Partisipasi Pemandu Wisata Dalam Pengelolaan Kampung Wisata Cinangneng. (Kasus Kampung Wisata Cinangneng. Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor) Tristania Puspa Kintani; Sanggar Kanto; Reza Safitri
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.646 KB)

Abstract

Kegiatan wisata di kampung wisata Cinangneng yang satu ini cukup unik karena agrowisata dipadukan dengan wisata budaya. Paket yang ditawarkan tidak hanya sekedar untuk diketahui oleh pengunjung melainkan bersifat mendidik (edukatif). Pengunjung dilibatkan langsung dalam kegiatan pertanian seperti paket pulang kampung dengan kegiatan sebagai berikut : Bercocok tanam dari mulai menanam, menggarap sampai memanen, Memandikan kerbau, Ronda kampung, Berkreasi dengan huruf dan warna diatas caping (topi petani), Bermain ala permainan anak desa, Belajar  tari jaipongan dan gamelan, belajar main angklung dan bernyanyi sunda, membungkus nasi timbel , Dan lain sebagainya. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh: Kondisi sosial ekonomi  responden termasuk dalam kategori tinggi (79,16%) antara lain: tingkat pendidikan (53,33%). jumlah tanggungan keluarga responden (66,67%). Motivasi (46,67%). Kemudian kontak dengan penyuluh (80%). Tingkat partisipasi dalam pengelolaan kampung wisata Cinangneng Desa Cihideung Udik, pada tahap perencanaan (87,55%).  Pada tahap pelaksanaan (84,44%), Sedangkan pada tahap menikmati hasi tergolong tinggi (100%). Hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi dengan partisipasi dalam pengelolaan kampung wisata Cinangneng antara lain sebagai berikut : dengan menggunakan analisis tabel silang (Cross Table Analysis) dan analisis Rank Sperman (Rs) terbukti bahwa terdapat hubungan antara faktor sosial ekonomi dengan partisipasi.   Kata kunci: Faktor Sosial Ekonomi, Partisipasi
Partisipasi Perempuan dalam Penanggulangan Kemiskinan pada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan di Kabupaten Pasuruan (Studi Kasus Di Desa Gajahbendo, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan) M Hery Amrizal; Darsono Wisadirana; Sanggar Kanto
Jurnal Pamator : Jurnal Ilmiah Universitas Trunojoyo Vol 9, No 2: Oktober 2016
Publisher : LPPM Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.504 KB) | DOI: 10.21107/pamator.v9i2.3373

Abstract

Salah satu program pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah yaitu dengan dilaksanakannya suatu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Mandiri Perkotaan .Tujuan penelitian ini adalah untuk  mendeskripsikandan menganalisa bentuk partisipasi perempuan dalam PNPM-MP, menganalisa faktor pendorong dan penghambat yang mempengaruhi partisipasi perempuan, dan untuk menganalisa implikasi partisipasi perempuan terhadap peningkatan kapabilitas perempuan dalam PNPM-MP. Teori teknik longwe yang digunakan sebagai alat analisis proses pemampuan perempuan, tetapi tujuanya adalah untuk memahami lima butir kriteria analisis yaitu dimensi kesejahteraan, dimensi akses, dimensi penyadaran, dimensi partisipasi aktif, dan dimensi penguasaan / control. Metode penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi perempuan di  dalam PNPM-MP di Desa Gajahbendo Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan sudah terimplementasikan dalam siklus kegiatan pemberdayaan di PNPM-MP, ditemukannya berbagai macam faktor pendorong dan faktor penghambat baik faktor internal maupun faktor eksternal, serta implikasi partisipasi perempuan terhadap peningkatan kapabilitas perempuan adalah perempuan aktif dalam pembangunan dengan perannya sebagai subyek pembangunan.
Persepsi Masyarakat Miskin terhadap Pelayanan Kesehatan Bidang Gizi (Studi Kasus di Wilayah Puskesmas Sidotopo Surabaya Utara) Haris Fariadi; Sanggar Kanto; Mardiyono Mardiyono
Jurnal Pamator : Jurnal Ilmiah Universitas Trunojoyo Vol 9, No 2: Oktober 2016
Publisher : LPPM Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.846 KB) | DOI: 10.21107/pamator.v9i2.3375

Abstract

Pembangunan kesehatan juga harus dipandang sebagai suatu investasi dalam kaitannya mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan ekonomi, serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Upaya kesehatan harus dilakukan sejak dini dan berkesinambungan. Gizi yang cukup serta perilaku sehat sangat penting bagi kesehatan dan pertumbuhan balita. Anak yang sehat akan lebih berkonsentrasi dalam belajar, pekerja yang sehat akan lebih produktif dalam pekerjaannya, serta ibu-ibu yang sehat akan melahirkan anak-anak yang sehat pula, dan angka kematian bayi pun dapat ditekan. Kejadian kasus balita gizi buruk di Kota Surabaya masih cukup mengkhawatirkan, Berdasarkan data Dinas Kesehatan penyebab balita gizi buruk diantaranya karena pola asuh yang keliru, kurang asupan makanan bergizi, hingga masalah kemiskinan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, sedangkan metode yang digunakan adalah Studi Kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua balita sebagian besar tidak mengetahui kalau masih berada dalam kondisi pola pengasuhan yang kurang tepat, baik dalam pola asuh pemberian makan, maupun pola asuh perawatan kesehatan dan hygiene sanitasi serta lingkungan rumah yang kurang mendukung, sedangkan untuk kepedulian keluarga miskin terhadap kesehatan masih sangat rendah, kurangnya keluarga miskin dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Persepsi keluarga miskin terhadap bantuan penganggulangan masalah gizi adalah positif. Mereka beranggapan bahwa bantuan tersebut bermanfaat sekali dalam menunjang perekonomian keluarga dan juga dapat meningkatkan status gizi anak mereka, serta dengan adanya kegiatan pendampingan tersebut mereka merasakan manfaatnya karena mereka merasa diperhatikan setiap bulannya untuk mengontrol kesehatan anaknya.
BUDAYA KONSUMSI MINUMAN BERALKOHOL (STUDI KASUS PADA MASYARAKAT MOSKONA DI KELURAHAN BINTUNI BARAT, DISTRIK BINTUNI BARAT, KABUPATEN TELUK BINTUNI) Frans Yerkohok; Sanggar Kanto; Anif Fatma Chawa
JISIP : Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.211 KB) | DOI: 10.33366/jisip.v9i2.2231

Abstract

Abstrack. This article is a socio-cultural study of the culture of consuming liquor. This research was conducted using a qualitative method with a case study approach to the Moskona community in West Bintuni Village, West Bintuni District, Bintuni Bay Regency. Using Herbert Blumer's theory of symbolic interactionism, this study seeks to understand the meaning of alcohol consumption for the people of Moscow and the economic, social, and health impacts of the culture of consuming alcoholic beverages. The results of this study reveal that the consumption of alcoholic drinks does come from outside and has developed into a habit in society, and people perceive alcoholic drinks as a form of brotherhood and kinship between groups of people when sitting together. Various efforts have been made by elements of society such as traditional leaders, religious leaders, and the government, such as very high customary fines for people who commit deviant behavior after consuming liquor, but in reality, the rate of accidents and fights after consuming alcoholic beverages is still high. This study also shows that the persistence of alcohol consumption in the community is related to family, economic and social factors.Keyword : Indigenous people, Liquor, Teluk BintuniAbstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perkembangan komsumsi minuman beralkohol pada masyarakat Moskona yang berada di Kelurahan Bintuni Barat, Distrik Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, sehingga menjadi sebuah budaya. Sselain itu juga untuk memahami makna konsumsi minuman beralkohol bagi masyarakat Moskona serta dampak ekonomi, sosial dan budaya dari konsumsi minuman beralkohol, dengan menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik dari Herbert Blumer. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa konsumsi minuman beralkohol memang datang dari luar dan berkembang menjadi sebuah kebiasaan pada masyarakat, dan masyarakat memaknai minuman beralkohol sebagai bentuk persaudaraan dan kekerabatan di antara kelompok masyarakat saat duduk bersama. Berbagai upaya yang dilakukan oleh elemen masyarakat seperti tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah sudah dilakukan seperti denda adat yang sangat tinggi kepada masyarakat yang melakukan perilaku menyimpang pasca mengkonsumsi minuman beralkohol, namun dalam kenyataannya tingkat kecelakaan dan perkelahian pasca konsumsi minuman beralkohol masih tetap tinggi. Bertahannya kebiasaan konsumsi minuman beralkohol pada masyarakat ada kaitannya dengan faktor keluarga, individu pelaku konsumsi dan maraknya minuman beralkohol yang beredar luas di tengah masyarakat, oleh karena itu upaya yang diharapkan oleh peneliti adalah pemerintah mengambil sikap tegas dengan mengeluarkan Peraturan Daerah (PERDA) terkait minuman beralhokol, untuk mampu meredam berdar luasnya minuman beralkohol tersebut.Kata Kunci : Minuman beralkohol, Peraturan Daerah, Teluk Bintuni
PERAN MODAL SOSIAL DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI PANTI ASUHAN (Studi Kasus di Panti Asuhan Nurul Haq Kelurahan Masigi Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong) Mujaahidah Damar; Sanggar Kanto; Anif Fatma Chawa
POLITICO Vol 18, No 2 (2018): Jurnal POLITICO Fisipol
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/politico.v18i2.1653

Abstract

AbstrakPembangunan setiap wilayah khususnya pemekaran yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, tidak bisa dipandang sebelah sisi. Permasalahan utama adalah  tingginya kemiskinan yang mendesak ekonomi keluarga, sehingga berdampak pada perpecahan keluarga, perceraian, dan anak terlantar. Diperlukan suatu lembaga yang bisa membina anak-anak tersebut. Oleh karena itu peneliti ingin mencari peranan modal sosial di Panti Asuhan Nurul Haq, bagaimana peranan modal sosal dipertahankan dan mekanismenya. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan teknik analisis data dan menerapkan metode triangulasi dalam memperoleh keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan, norma, dan jaringan terbangun dari nilai persahabatan antara penggagas dan rekan kerjanya. Sehingga saling bertanggungjawab atas pembagian perannya di bidang peternakan, perkebunan, dakwah, wirausaha dan pertanian. Kondisi tersebut memperkuat hubungan internal kelompok (bonding), akhirnya mereka juga membangun kerjasama dengan beberapa donatur yayasan (bridging), dinas pemerintah (linking) dan terjalin hubungan timbal balik (resiprositas). Kemudian, setelah pergantian kepengurusan terjadi pelemahan kepercayaan (low trust) dan perkembangannya modal sosial dipelihara atas dasar jasa pendiri dan nilai kekerabatan.Kata kunci: modal sosial, social bonding, social bridging, social linking, dan panti asuhan nurul haq  AbstractDevelopment of every region, especially pemekaran made by the goverment of parigi moutong regency, can not be regarded as one side. The main  problem is the high poverty urging the family economy, thus impacting the family split, diforce and abandonment of childrent. It takes an institution that can foster the child. Therefore, the researcher wanted to find the role of social capital of nurul haq orphanage, how the role of social capital is maintained and its mechanism. The research method used qualitative with data analysis tehnique and applied triangulation method in obtaining data validity. The results showed the trust, norms, and networks awakened from the value of friendship between the initiator and his co workers. So mutually responsible for the division of roles in the field of livestock, plantation, indentures, enterpreneurship and agriculture. These conditions strengthen the internal relations of the group (bonding), eventually they also build cooperation with some donors of the fondation (bridging), goverment agencies (linking), and established reciprocal relationship (reciprocity). Then, after the change of management there is a weakening of trust (low trust) and the defelopment of social capital is maintained on the basis of the services of the founder and the value of kinship. Keyword: social capital, social bonding, social bridging, social linking, and panti asuhan   nurul haq 
The Dynamic Role of Religious Figures in The Diffusion of Community Forest Development: A Study of Phenomenology on Madurese Community in Probolinggo Regecny Tirmidi Tirmidi; Sanggar Kanto; Kliwon Hidayat; Thohir Luth
JURNAL AT-TURAS Vol 8, No 1 (2021): Penafsiran dan Sosiologi Hukum Islam
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/at-turas.v8i1.2287

Abstract

One of the causes of the successful development of community forests in Probolinggo Regency was the participation of religious leaders. This study explored the dynamics of the role of religious leaders in the development of community forests. Through a qualitative research design with a phenomenological approach and a Naturalistic paradigm, it was found that religious leaders carried out dynamic roles from the pioneering period to the period of obtaining international ecolabel certificates. From this discovery, three propositions were drawn to which after inter-relation between the concepts, two substantive theories were drawn, namely (1) Followers’ Need-Based Visionary Leader Theory, dan (2) Theory of Change-and-Innovation Enabling Leader Quality (Attributes of Change-and-innovation Enabling Leader).
Strategy for Winning Women's Legislature in the 2019 Malang General Election Atika Candra Larasati; Darsono Darsono; Sanggar Kanto; Yayuk Yuliati
Journal Research of Social Science, Economics, and Management Vol. 1 No. 9 (2022): Journal Research of Social Science, Economics, and Management
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1607.332 KB) | DOI: 10.59141/jrssem.v1i9.142

Abstract

This study aims to explore strategies for winning women's legislatures in politics. Women in the history of civilization are often number two. With the help of previous studies, we can find out that the impacts that women bring on politics to policy making have a significant positive impact. This study uses a qualitative research method with a phenomenological approach. The location in this study is Malang Raya (Malang City, Batu City and Malang Regency) as the second largest city and an education city located in East Java province, where East Java province is known as a province with mature political maturity in Indonesia because several stakeholders important power is women. With the help of some descriptive data that shows the level of participation or representation of women in government in Malang Raya, the researchers focused on how the strategies of these women in enabling themselves to assume power. The results of the study show that various strategies used by women in Malang Raya in winning legislative seats can be used as further studies as points that allow for an increase in the realization of women's representation in government.
Jejak Citra Kuno Orang Tenganan dalam Foto Masa Kolonial 1920-1940 I Wayan Suyadnya; Sanggar Kanto; I Nyoman Darma Putra; Desi Dwi Prianti
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v12i1.53900

Abstract

Artikel ini mengungkapkan pesan khas dari gambar fotografi pada masa kolonial tentang primitivisme melalui Tenganan Pegringsingan masa kolonial sebagai studi kasus. Beberapa foto terbatas tentang Tenganan yang diperkirakan diambil pada tahun 1920-1940 menggambarkan orang dan kehidupan masyarakat masa itu. Tiga kategori utama dari gambar dianalisis, yaitu lanskap dan arsitektur pemukiman, manusia Tenganan, dan aktivitas dan budaya material. Ketiga kategori menampilkan diri dengan gambaran kesan publik mengenai konsep kuno atau primitif. Penelitian ini memanfaatkan data visual (fotografi) melalui analisis citra fotografi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa gambar fotografi kolonial memberikan ide pembekuan citra dan kesan primitif pada orang Tenganan. Gagasan yang hadir melalui gambar fotografi itu adalah  cara-cara mereka dibedakan dengan orang luar, misalnya melalui pakaian dan cara kontak mata dengan orang luar (Belanda). Ide tentang lingkungan ideal dan figuratif bagi orang Tenganan dan publik umum, berupa autentik, kuno, dan seragam, dihadirkan sebagai lanskap yang harus dipertahankan secara kokoh. Pada akhirnya proyeksi kolonial tentang Tenganan melalui fotografi berintegrasi dengan dunia imajinasi lokal orang Tenganan.
The Role of Uncle (Atoin Amaf) in Belis Transactions on Wedding Customs Melkianus Suni; Sanggar Kanto; Anif Fatma Chawa
Wacana Journal of Social and Humanity Studies Vol. 20 No. 4 (2017)
Publisher : Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.311 KB)

Abstract

This research is conducted to determine the Role of Uncle (Atoin amaf) in Belis Transaction in Marriage Culture of Naibenu mainly in Naibenu Sub district North Central Timor regency. The method used is qualitative method with the aim to descripe the role of Uncle in this belis transaction phenomenon in a natural manner and in as it is by using transcendental phenomenology approach namely the researcher puts aside any assumptions concerning the studied phenomena by conducting epoche that is containment initial knowledge so that the researcher is able to understand and describe any arising general meanings as well as any meanings behind the phenomena taken from life experiences of informants. The data collection technique is conducted by using in-depth interview by listening directly to any related informants. Also, the researcher conducted an observation to make sure the data validity obtained and conducted documentation in the forms of photographs and recorder records.  The sample collection technique was by using Snow ball because the research has yet understood properly concerning the situation and location characteristics. Therefore, the researcher through new main informants was directed to main informants. Results of the research show that in belis payment process in marriage culture found in Naibenu, the one has the right to speak in decision making process is Uncle (atoin amaf) from the party of Bride. Om also serves as the marriage witness and guarantor from both bride and bridegroom.