Claim Missing Document
Check
Articles

EKSISTENSI PUISI INDONESIA DI BALI PADA ERA KOLONIAL Putra, I Nyoman Darma
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.632 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v29i2.192.171-182

Abstract

Kontribusi Bali pada masa-masa awal perkembangan sastra Indonesia dikenal sebatas karya-karya Panji Tisna. Hal ini tidak mengherankan karena tahun 1930-an Panji Tisna sudah menulis beberapa novel seperti Sukreni Gadis Bali (1936) yang diterbitkan Balai Pustaka dan menjadi karya klasik yang masih mengalami cetak ulang sampai sekarang. Sebetulnya, di luar karya Panji Tisna ada banyak puisi yang dipublikasikan penulis Bali di media massa seperti Surya Kanta, Bali Adnyana, dan Djatajoe, terbit di Singaraja pada era kolonial, 1920-an hingga awal 1940-an. Makalah ini mengidentifikasi puisi Indonesia penyair Bali yang terbit pada zaman kolonial dan menganalisis tema-temanya dikaitkan secara intertekstual dengan wacana sosial yang berkembang saat itu. Makalah ini menyimpulkan tiga hal. Pertama, puisi penyair Bali ikut memperkaya khasanah sastra Indonesia pada masa awal pertumbuhannya. Kedua, kehadiran puisi penyair Bali di media massa lokal ikut memperkenalkan sastra nasional di daerah Bali. Ketiga, puisi penyair Bali dijadikan media bagi penulisnya untuk mengartikulasikan kepedulian sosial, misalnya masalah pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan dan kekhawatiran masyarakat Bali yang tidak siap menghadapi dampak pariwisata.  
KONFLIK DAN KOMPROMI DALAM CERPEN-CERPEN BERLATAR KELUARGA DARI ASIA TENGGARA Putra, I Nyoman Darma
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.036 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.23.1-14

Abstract

Selain isu-isu makro tentang bangsa, masalah-masalah mikro dalam kehidupan keluarga jugabanyak diangkat menjadi latar sekaligus tema cerita oleh kalangan cerpenis negeri serumpunAsia Tenggara, yaitu Singapura, Malaysia, Brunei, dan Indonesia. Penelitian ini bertujuanuntuk menganalisis konflik dan kompromi antaranggota keluarga dalam karya cerpenisnegeri serumpun. Data diambil dari cerpen karya penulis negeri serumpun yang terkumpuldalam antologi Matahari di Nusantara (2010) yang diterbitkan oleh Majelis Sastera AsiaTenggara (Mastera). Pengumpulan data menggunakan metode pustaka dan teknik catat,sedangkan metode analisis data menggunakan metode analisis kritis interpretatif denganteori intertekstualitas. Hasil pembahasaan menunjukkan bahwa tema yang sama dalamantologi cerpen Matahari di Nusantara memberikan gambaran tentang pentingnya kedudukankeluarga sebagai institusi pendidikan anak, penanaman adat, dan tradisi pengembangan diri dimasyarakat. Konflik dan kompromi dalam keluarga yang disuguhkan dalam cerpen tersebutdibiarkan menggantung sehingga pembaca tertantang untuk menemukan maknanya.
OTORITAS TUBUH ANTARA SAKRAL DAN PROFAN DALAM PUISI KARYA PENYAIR BALI TAHUN 1970—2016 Hardiningtyas, Puji Retno; Putra, I Nyoman Darma; Kusuma, I Nyoman Weda; Triadnyani, I Gusti Ayu Agung Mas
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.389 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.238.17-41

Abstract

Persoalan tubuh dan jiwa perempuan dijadikan subjek inferior dan eksploitasi atas tubuhnya sendiri menjadi ruang yang paradoksal muncul dalam karya-karya puisi Indonesia sejak tahun 1960--2016. Rumusan masalah penelitian ini adalah wacana otoritas tubuh, baik sakral maupun profan sebagai representasi citra ruang manusia; konsep ruang dan konstruksi tubuh dalam pertarungan kehidupan dalam puisi-puisi penyair di Bali. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah studi pustaka dengan teknik baca catat. Analisis data menggunakan metode analitik deskriptif dengan teknik hermeneutika dan interpretatif. Teori penelitian ini adalah poskolonial Sara Upstone dengan mempraktikkan ruang tubuh dan konstruksi keberadaan eksistensi manusia itu sendiri. Hasil dan pembahasan penelitian ini membuktikan bahwa otoritas tubuh mengalami ironi dengan peristiwa yang dialami manusia, yaitu tubuh sebagai jasmaniah, tubuh sebagai simbol agama, dan tubuh sebagai kekuatan perempuan dalam menghadapi pertarungan kehidupan. Konstruksi yang terjadi dalam tubuh pada akhirnya menjadi diri yang dibongkar/dibalikkan oleh penyair yang secara ontologis dikuliti sendiri. Tubuh dihancurkan dalam kebudayaan, kefaanaan, sedangkan jiwa sebagai Tuhan yang diidealkan dalam keutuhan. Dengan demikian, konstruksi dan ruang tubuh antara profan dan sakral adalah ruang paradoksal antara jasmani dan rohani yang didekonstruksi oleh penyairnya menjadi sebuah ironi semata.
PATRIARCHAL IDEOLOGY IN WORKS OF VISUAL ART OF BALINESE CONTEMPORARY WOMEN ARTISTS Hardiman, Hardiman; Putra, I Nyoman Darma; Atmadja, Nengah Bawa; Mudana, I Gede
E-Journal of Cultural Studies Volume 11, Number 3, August 2018
Publisher : Cultural Studies Doctorate Program, Postgraduate Program of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.232 KB) | DOI: 10.24843/cs.2018.v11.i03.p01

Abstract

Human problems are faced faced by Indonesian contemporary visual artists. However, the most typical are the problems faced by contemporary women visual artists, including those faced by Balinese contemporary women visual artists. Other than social problems, their personal problems also arise as women visual artists amidst patriarchal cultural construction. Balinese contemporary women visual artists, like Indonesian contemporary visual artists, are facing social problems and their personal problems as women. But, Balinese contemporary women visual artists also face very strong patriarchal (purusa) cultural ideology. This study aimed at revealing and describing the form of the subject matter of woman’s body as an expression of opposition in the works of visual art of the Balinese contemporary women visual artists; revealing and describing ideologies that operate behind the sexual representation of the Balinese contemporary women visual artists and revealing and describing the contestation of meaning in the ideological sexual representation of Balinese contemporary women visual artists. This study using interpretive qualitative method produced, first, works of Balinese contemporary women artists which have traditional visual elements comprising contour, repetition, rythm, dialect. The works of Balinese contemporary women visual artists also have modern visual elements comprising spatial awareness,distortion, stylization, material character, unity, and personal identity. In addition, the works of Balinese contemporary women artists also have post-modern visual elements of trans-aesthetics, dialogism, and disorder. Secondly, the ideologies that operate behind the works of Balinese contemporary visual artists can be classified into three ideologies based on the forms and contents of the works of art. The ideologies are patriarchal ideology that is related to the theme of superiority,phallus symbol, and weak group; feminism ideology that is related to the theme of subordination, equality, and subjectivity construction, and aesthetical ideology concerning with style, which is related to the classification of styles based on time, place, form, technique, and subjject matter. Third, meanings which can be developed from Balinese contemporary women visual artists are the meaning of domestic body and the meaning of open body in the sexual representation of Balinese contemporary women artists. The meaning of domestic body is found in the works of Cok Mas Asiti, Ni Nyoman Sani, and Sutrisni. Sani while the meaning of open body in the works of IGK Murniasih and Nia Kurniati Andika.
REVITALISASI TEMBANG TEKS SASTRA BALI TRADISIONAL DALAM RANAH RITUAL DAN DIGITAL Putra, I Nyoman Darma; Sari, Ida Ayu Laksmita
ATAVISME Vol 22, No 1 (2019): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.754 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v22i1.541.32-46

Abstract

There has been a concern that textual singing tradition (kidung) may disappear along with the advancement of information and communication technology. This paper aims to examine the metamorphosis of kidung from the ritual realm to the digital domain which is the basis of today's electronic mass media. Data were collected with ethnographic method and interviews with enthusiasts and audiences of kidung as well as with managing of electronic mass media. Recording method was used to record the interactive kidung programme in Radio and TV. The data were examined by transformation media and globalization theory. The study began with a description of the metamorphosis of kidung from the ritual realm to digital, enthusiasts and audiences, as well as the future of the kidung cultural heritage in the digital era. The result shows that the transformation of kidung from the ritual to the digital domain is a revitalization process that makes this tradition increasingly lively, not vanishing as it has been feared. In addition, the tradition of the kidung which was originally dominated by the older generation, has also been able to attract younger generation who present it through digital-based social media such as Facebook and YouTube so that it can be enjoyed by Balinese diaspora.
THE CHANGE IN PERCEPTION OF SUBMITTING CHILDREN TO CHILD WELFARE INSTITUTIONS IN DENPASAR CITY IN THE PERIOD 2006-2014 Westerlaken, Rodney; Ardika, I Wayan; Ardhana, I Ketut; Darma Putra, I Nyoman
E-Journal of Cultural Studies Volume 12, Number 2, May 2019
Publisher : Cultural Studies Doctorate Program, Postgraduate Program of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.179 KB) | DOI: 10.24843/cs.2019.v12.i02.p02

Abstract

Terroristic events, like the Bali bombings in 2002 and 2005, have major effects on a society. Prior research towards those effects have focused on the financial, economic and social economic effects, however this study focuses on the social cultural effect in the aftermath of the terroristic effects. The changed social cultural perception of submitting children to a Child Welfare Institution in the period 2006 to 2014 in Denpasar city, Bali. Sub questions to this problem statement what the reasons are that children are living in Child Welfare Institutions in Denpasar city recently and whether it is possible to connect social cultural perceptions of submitting children to Child Welfare Institutions in Denpasar city to coping mechanisms of the society after the terroristic attacks in 2002 and 2005. This research has used a quantitative approach, interviewing 50 children and 23 parents / familial caretakers. The outcomes have been analysed with help of the computer assisted qualitative data analysis software NVIVO. Research indicates that the trend of submitting children to Child Welfare Institutions, as a coping mechanism, in the first years after the second Bali bombing instigated a change in the social cultural system on Bali. The Balinese kinship system partly fell apart as a result of the Bali bombings, the keluarga besar is less considered to be asked for help and submitting a child to a Child Welfare Institution became an easy solution that currently continues to exist. It is concluded that the ethos, the moral formation as described by Foucault, is victimized by the failing system of aletheia and politeia, but that also ethos itself is victimized by contemporary forms of normalization. Keywords: social cultural change, terroristic attack, coping mechanism, Child Welfare Institutions.
KONFLIK DAN KOMPROMI DALAM CERPEN-CERPEN BERLATAR KELUARGA DARI ASIA TENGGARA I Nyoman Darma Putra
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.036 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.23.1-14

Abstract

Selain isu-isu makro tentang bangsa, masalah-masalah mikro dalam kehidupan keluarga jugabanyak diangkat menjadi latar sekaligus tema cerita oleh kalangan cerpenis negeri serumpunAsia Tenggara, yaitu Singapura, Malaysia, Brunei, dan Indonesia. Penelitian ini bertujuanuntuk menganalisis konflik dan kompromi antaranggota keluarga dalam karya cerpenisnegeri serumpun. Data diambil dari cerpen karya penulis negeri serumpun yang terkumpuldalam antologi Matahari di Nusantara (2010) yang diterbitkan oleh Majelis Sastera AsiaTenggara (Mastera). Pengumpulan data menggunakan metode pustaka dan teknik catat,sedangkan metode analisis data menggunakan metode analisis kritis interpretatif denganteori intertekstualitas. Hasil pembahasaan menunjukkan bahwa tema yang sama dalamantologi cerpen Matahari di Nusantara memberikan gambaran tentang pentingnya kedudukankeluarga sebagai institusi pendidikan anak, penanaman adat, dan tradisi pengembangan diri dimasyarakat. Konflik dan kompromi dalam keluarga yang disuguhkan dalam cerpen tersebutdibiarkan menggantung sehingga pembaca tertantang untuk menemukan maknanya.
BENTUK DEKONSTRUKSI IDEOLOGI GENDER DALAM NOVEL OUT DAN GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO I Gusti Ayu Andani Pertiwi; I Nyoman Darma Putra; Ida Ayu Laksmita Sari
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.559 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.487.15-30

Abstract

Novel Bebas dan Grotesque: Gaib adalah karya sastra Natsuo Kirino yang mengangkat topik mengenai realita sosial di Jepang. Isu-isu yang diangkat di dalam novel tidak jauh dari bahasan mengenai gender di Jepang serta narasi seksualitas yang dihadirkan melalui isu enjokousai (prostitusi). Penelitian ini berusaha mengungkap bentuk-bentuk dekonstruksi ideologi gender yang dilakukan oleh pengarang dalam novel tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data studi pustaka. Data-data dikumpulkan dari kedua novel dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teori dekonstruksi dan teori feminisme. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pengarang mendekonstruksi wacana-wacana ketimpangan gender dan seksualitas di Jepang kemudian menuangkannya ke dalam bentuk teks-teks sastra. Bentuk-bentuk dekonstruksi ideologi gender yang ditampilkan pengarang dalam kedua novel tersebut yaitu ideologi gender yang memertahankan peran gender konvensional dan ideologi gender yang mengikuti perkembangan zaman. Natsuo Kirino’s Out and Grotesque raises the topic of social reality in Japan. The issues raised in the novel are not far from the discussion of gender and the narrative of sexuality, which is presented through the issue of enjokousai (prostitution). This research attempts to uncover the forms of gender ideology deconstruction carried out by the author in the novel. This research is a qualitative research with literature study method. Data is collected from both novels and then analyzed using deconstruction theory and feminism theory. The results of the study show that the author deconstructed the discourse of gender inequality and sexuality in Japan and then poured it into the form of literary texts. The form of gender ideology deconstruction is gender ideology that follows the passage of time. Each character depicted is no longer influenced by the conventional order of Japanese society regarding how men and women should be. Instead, they choose to go by their own rules of life.Keywords: deconstruction, ideology, gender, Natsuo Kirino   
OTORITAS TUBUH ANTARA SAKRAL DAN PROFAN DALAM PUISI KARYA PENYAIR BALI TAHUN 1970—2016/THE AUTHORITY OF THE BODY BETWEEN SACRED AND PROFANE IN SOME POEMS BY BALINESE POETS IN 1970--2016 Puji Retno Hardiningtyas; I Nyoman Darma Putra; I Nyoman Weda Kusuma; I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.391 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.238.17-41

Abstract

Abstrak Eksploitasi citra tubuh muncul berulang sebagai tema dalam puisi Indonesia dalam rentang waktu enam dekade, 1970—2016. Dalam penelitian ini dianalisis citra tubuh dalam puisi Indonesia dengan fokus pembahasa pada dua hal, yaitu wacana otoritas tubuh, baik sakral maupun profan sebagai representasi citra ruang manusia; konsep ruang dan konstruksi tubuh dalam pertarungan kehidupan dalam puisi-puisi penyair di Bali. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah studi pustaka dengan teknik baca catat. Analisis data menggunakan metode analitik deskriptif dengan teknik hermeneutika dan interpretatif. Teori penelitian ini adalah poskolonial Sara Upstone dengan mempraktikkan ruang tubuh dan konstruksi keberadaan eksistensi manusia itu sendiri. Hasil dan pembahasan penelitian ini membuktikan bahwa otoritas tubuh mengalami ironi dengan peristiwa yang dialami manusia, yaitu tubuh sebagai jasmaniah, tubuh sebagai simbol agama, dan tubuh sebagai kekuatan perempuan dalam menghadapi pertarungan kehidupan. Konstruksi yang terjadi dalam tubuh pada akhirnya menjadi diri yang dibongkar oleh penyair yang secara ontologis dikuliti sendiri. Tubuh dihancurkan dalam kebudayaan, kefanaan, sedangkan jiwa sebagai Tuhan yang diidealkan dalam keutuhan. Dengan demikian, konstruksi dan ruang tubuh antara profan dan sakral adalah ruang paradoksal antara jasmani dan rohani yang didekonstruksi oleh penyairnya menjadi sebuah ironi semata. Kata kunci: puisi, ruang tubuh, konstruksi, profan sakral Abstract Exploitation of body image appeared repeatedly as theme in Indonesian poem in six decades, 1970—2016. In this research body image on Indonesian poems were analized focused on two points, the discourse of body authority, both sacred and profane as representation of human space image; the concept of space and body construction in the battle of life in poems in Bali. Method of this research is literary study by noting and reading technique. Data analysis method of this research is descriptive analytics by hermeneutic techniques and interpretative. This research used postcolonial of Sara Upstone theory by practicing the physical space and construction of body space and the existence of human itself. The results and discussion of this research prove that the authority of the body has irony with the events experienced by humans, namely the body as body, the body as religious simbol, and the body as a force of women in the face of the battle of life. The construction that takes place in the body eventually becomes a self dismantled by the poet who is ontologically skinned on his own. The body is destroyed in culture, inhumanity, while the soul as God is idealized in wholeness. Thus, the construction and the space between the profane and the sacred is the paradoxical space between the physical and the spiritual that the poet deconstructs to be a mere irony. Keywords: poem, body space, construction, sacred profane 
EKSISTENSI PUISI INDONESIA DI BALI PADA ERA KOLONIAL I Nyoman Darma Putra
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.002 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v29i2.192.171-182

Abstract

Kontribusi Bali pada masa-masa awal perkembangan sastra Indonesia dikenal sebatas karya-karya Panji Tisna. Hal ini tidak mengherankan karena tahun 1930-an Panji Tisna sudah menulis beberapa novel seperti Sukreni Gadis Bali (1936) yang diterbitkan Balai Pustaka dan menjadi karya klasik yang masih mengalami cetak ulang sampai sekarang. Sebetulnya, di luar karya Panji Tisna ada banyak puisi yang dipublikasikan penulis Bali di media massa seperti Surya Kanta, Bali Adnyana, dan Djatajoe, terbit di Singaraja pada era kolonial, 1920-an hingga awal 1940-an. Makalah ini mengidentifikasi puisi Indonesia penyair Bali yang terbit pada zaman kolonial dan menganalisis tema-temanya dikaitkan secara intertekstual dengan wacana sosial yang berkembang saat itu. Makalah ini menyimpulkan tiga hal. Pertama, puisi penyair Bali ikut memperkaya khasanah sastra Indonesia pada masa awal pertumbuhannya. Kedua, kehadiran puisi penyair Bali di media massa lokal ikut memperkenalkan sastra nasional di daerah Bali. Ketiga, puisi penyair Bali dijadikan media bagi penulisnya untuk mengartikulasikan kepedulian sosial, misalnya masalah pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan dan kekhawatiran masyarakat Bali yang tidak siap menghadapi dampak pariwisata.  
Co-Authors A.A. Anom Kumbara A.A. Ngr. Anom Kumbara A.A. Ngurah Anom Kumbara Agus Putra Mahendra Alicia Agustina Ginting ANAK AGUNG GDE SUTRISNA WIJAYA PUTRA Anak Agung Ngurah Anom Kumbara Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranatha Antari, Ni Luh Putu Aryasi Aron Meko Mbete Asmyta Surbakti Astawa, Ida Bagus Gde Puja Bertova Simanihuruk Bestari, Ni Made Prasiwi Desi Dwi Prianti Diana Rosca Apria Eddy Setia Eddy Setia Eva Lailatur Riska Gede Ginaya Gede Pasek Putra Adnyana Yasa Gede Suardana Hardiman Hardiman Hardiman Hardiman Husen Hendriyana I B Gde Pujaastawa I B Gde Pujaastawa I Gde Nala Antara I Gde Pitana, I Gde I Gede Adi Sudi Anggara I Gede Girinatha Surya I Gede Mudana I Gst. Bagus Suka Arjawa I Gusti Agung Dyah Maheswari I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani I Gusti Ayu Andani Pertiwi I Gusti Ayu Oka Suryawardani I Gusti Putu Bagus Suka Arjawa I Ketut Ardhana Ardhana, I Ketut Ardhana I Ketut Sudewa I Komang Gde Bendesa I Made Agus Asta Panca I Made Antara I Made Marthana Yusa I Made Suyasa I Nyoman Kutha Ratna I Nyoman Kutha Ratna I Nyoman Larry Julianto I Nyoman Suarka I Nyoman Sudiarta I Nyoman sukiada I Nyoman Sunarta I Nyoman Wahyu Angga Budi Santosa I Nyoman Weda Kusuma I Nyoman Weda Kusuma I NYOMAN WIJAYA I Wayan Ardika I Wayan Artika I Wayan Nuriarta I Wayan P. Windia I Wayan Pantiyasa I WAYAN PASTIKA I Wayan Resen I Wayan Restu Suarmana I Wayan Suardana I Wayan Suardana I Wayan Suardiana I Wayan Suyadnya I Wayan Tagel Eddy I.A. Etsa Pracintya Ida Ayu Etsa Pracintya Ida Ayu Laksmita Sari Ida Ayu Laksmita Sari Ida Bagus Gde Pujaastawa Ida Bagus Gde Pujaastawa Ida Bagus Jelantik Sutanegara Pidada Ida Bagus Rai Putra Indra Bhaskara, Gde Iola Astried Karisma Isvari Ayu Pitanatri Juliana, I Wayan Kanto, Sanggar Ketut Antara Komang Adi Sastra Wijaya Kristiana, Nina Indra Kumbara, Ngr. Anom Luh Putu Puspawati, Luh Putu Made Antara Made Heny Urmila Dewi Made Hery Santosa Mananda, I Gusti Putu Bagus Sasrawan Margaretta Andini Nugroho Maria Matildis Banda Michael Hitchcock Mozes, Getruida Nita Nanang Sutrisno Nengah Bawa Atmadja Nengah Bawa Atmadja Nengah Bawa Atmaja Ngakan Putu Darma Yasa Ni Kadek Dea Adelia Putri Ni Luh Arjani Ni Luh Gede Eni Laksmi Ni Luh Kade Yuliani Giri Ni Luh Ramaswati Purnawan Ni Made Ari Yanti Putri Negara Ni Made Eka Mahadewi Ni Made Ras Amanda Gelgel Ni Made Sri Purnami Ni Made Wiasti Ni Nyoman Arini Ni Putu Evi Wijayanti Ni Putu Ratna Sari Ni Putu Rika Sukmadewi Nonny Aji Sunaryo Nyoman Kutha Ratna Pande Putu Abdi Jaya Prawira Pidada, Ida Bagus Jelantik Sutanegara Prameswari, Ni Putu Laksmi Mutiara Prayoga, I Putu Satria Puji Retno Hardiningtyas Puji Retno Hardiningtyas, Puji Retno Putu Ayu Mira Maharani Putu Gede Sridana Putu Sucita Yanthy Putu Sucita Yathy Putu Titah Kawitri Resen Rahmat Sewa Suraya Ramanda Dimas Surya Dinata Renata Lusilaora Siringo Ringo Rimalinda Lukitasari Rinestu, Tyas Rosvita Flaviana Osin Rustiani, Komang Wahyu Sanjaya, I Wayan Kiki Saortua Marbun Saroha Manulang Sri Jumadiah Sudiksa, I Nyoman Sukariyanto, I Gede Made Surbakti, Asmyta Sutanegara Pidada Ida Bagus Jelantik Sutarwiyasa, I Ketut Syairal Fahmy Dalimunthe Syamsul Alam Paturusi Tjok Istri Priti Mahendradevi Tyas Rinestu Vanesia Amelia Sebayang Westerlaken, Rodney Widiastuti . Yan Yan Sunarya Yan Yan Sunarya Yogi, Ida Bagus Putu Prajna Yohanes Kristianto Yohanis Umbu Roru Yongki Darmawan Yosep Kupertino Ilang Yovanca Koondoko Yuliani Giri, Ni Luh Kade Yuniarto Putri, Aghnia