M. Ridwan Hasbi
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Jurnal Ushuluddin

INTERAKSI RASIONALITAS TEKNIS DALAM PEMIKIRAN HADIS KONTEMPORER Hasbi, M. Ridwan
Jurnal Ushuluddin Vol 19, No 1 (2013): Januari - Juni 2013
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transmisi periwayatan hadis dari Rasulullah sampai pada tahap kodifikasinya merupakan sebuah realitas yang berkaitan dengan redaksionalisasi wahyu, kewenangan dan validitasnya. Tahap selanjutnya aplikasi hadis dalam ajaran Islam dengan pemahaman yang berputar antara tekstual dan kontekstual yang berformulasi pada penggunaan rasio secara terbatas terikat dengan kaidahkaidah dan atau liberal. Kontek pemikiran hadis kontemporer menjelaskan perlunya rasio dalam pemahaman hadis yang disebabkan perubahan kondisi sosio-historis, mobilitas sosial, dan kemajuan zaman. Dinamika pemikiran ini dipola pada rasionalitas teknis, yakni penggunaan akal terhadap hadis dalam merealisasikan ajaran Islam yang “sholeh likulli zamanin wa makanin” dengan memilih sarana yang terbaik dalam menggapai tujuan tersebut tapi tidak keluar dari kaidah yang mu`tabarah. Konstruksi interaksi pemikiran ini dihadapkan pada maqashid dan maslahah, juga `umum al-lafzi dan khusus al-Sabab, kedua masalah ini dipolarisasi pada dinamika bahwa penjabaran dan pemahaman rasionalitas teks bersifat teknis dengan sarana dua sayap akal dan teks yang tidak beroposisi untuk sampai pada pemikiran yang flekisibel, variasi dan tidak statis.
THE LEGALITY OF DIVORCE IN THE PERSPECTIVE OF HADITH Hasbi, Ridwan; Hasibuan, Syafaruddin
Jurnal Ushuluddin Vol 24, No 1 (2016): Januari - Juni
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cerai talak (formula for divorce) and Cerai gugat (sue for divorce) are two terms of termination of marriage bond in Indonesia. The formula of divorce is a term that coincides with a divorce coming from the will of a husband and sue for divorce is the desire of a wife to separate from her husband. Islamic Law legalizes the right of wives in cases of divorce redeem (khulu‘) and fasakh because of syiqaq. On the other side, there are signs setting the rights up, so that the given reasons to use the rights must be legal in syar‘i. The reasons for the legality of divorce is a common-cause factor, so that the banning with threatening hadiths as well as those of the hadiths that say wives must obey their husbands, the wives should not hurt their husband and the wives are prisoners of husbands are all categorized into general. At another angle, there also the hadiths concerning with the status a couple husband and wife is heaven and hell for them in a household. Contextualization of hadiths that ban a wife asking for divorce without any legal cause from Syar‘i, and also those of the hadiths legalize khulu‘ are the realization of the conjugal lives with regards to the mandate of Allah and religious values. The facts of a wife sue for divorce to her husband are the conditions related to a confusion occurred in a household which are influenced by a variety of factors, i.g. economy, adultery, polygamy, social strata and others. A sue for divorce which is Syar’i based condition is a disagreement prolonged strife after peace held between the two sides and act endangers a wife
Elastisitas Hukum Nikah dalam Perspektif Hadits Ridwan Hasbi
Jurnal Ushuluddin Vol 17, No 1 (2011): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v17i1.680

Abstract

Nikah merupakan satu sunnah (ajaran) Rasulullah SAW yang sangat dianjurkannya, sampai beliau mengatakan “orang yang tidak mau menikah dengan tanpa alasan yang Syar`i, dimasukkan kedalam kategori bukan dari pengikutnya”. Kalau begitu posisi dari anjuran Rasulullah SAW dan larangan Tabattul (membujang) menjadikan pernikahan sebagai salah satu tanda beriman kepadanya, dan bahkan dapat menjadi salah satu upaya untuk menyempurnakan iman. Hukum nikah disaat mengacu pada hadits Nabi tidak menunjukkan pada satu ketetapan hukum, sehingga membuat nikah elastis pada wajib, sunat, mubah, makruh dan haram dalam ketetapan hukum.
Paradigma Shalat Jum’at dalam Hadits Nabi M. Ridwan Hasbi
Jurnal Ushuluddin Vol 18, No 1 (2012): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v18i1.700

Abstract

Shalat jum‘at sebelum direkontruksi oleh ulama Mazahib seperti sekarang ini, terdapat fenomenal jika dirujuk kepada riwayat-riwayat yang menjelaskannya. Sebab ayat yang menjelaskan tentang shalat jum‘at turun di Madinah, tapi pelaksanaannya sudah ada sebelum hijrah dan saat Nabi SAW hijrah sebelum sampai ke Madinah. Penulis menemukan bahwa shalat jum‘at sebelum hijrah yang sudah dilaksanakan di Madinah dan saat Nabi SAW di Quba adalah shalat zuhur plus khutbah. Pada awalnya khutbah setelah shalat, tapi saat terjadi orang-orang meninggalkan Nabi saat khutbah dan turun ayat, maka diubah menjadi khutbah dulu baru shalat, lalu terkontruksi shalat dua rakaat. Waktu pelaksanaannya terdapat perbedaan riwayat dengan ungkapan waktu dhuha, sebelum tengah hari, saat tengah hari dan setelah matahari tergelincir, dengan esensial shalat jum‘at sama dengan shalat ‘id (hari raya). Jumlah jamaah yang menjadi wajibnya shalat tidak terdapat kesepakatan dan kewajiban bagi mukallaf sebab riwayat-riwayatnya bersifat umum dan berbeda satu dengan lainnya.
Nilai-nilai Oposisi dalam Hadis Nabawi M Ridwan Hasbi
Jurnal Ushuluddin Vol 22, No 2 (2014): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v22i2.733

Abstract

Oposisi merupakan suatu yang sangat fenomenal dan urgen disaat instrumen bernegara sekarang ini dihadapkan kepada sistem demokrasi. Landasan nilai-nilai oposisi adalah memperbaiki yang batil, meluruskan perilaku yang keluar dari norma agama, menyanggah yang tidak benar serta mengajak kepada kebaikan dalam bentuk taushiyah. Pertumbuhan oposisi begitu pesat dan menjadi bahan pembicaraan yang dilematis antara kalangan yang mengharamkannya dengan menganggap bahwa nilai-nilai oposisi adalah suatu penghianatan, dan kalangan yang membolehkannya dengan dasar bahwa oposisi adalah kewajiban menyampaikan kebaikan serta mencegah keburukan. Dalam hadis terdapat dua arahan, yakni suruhan untuk taat serta sabar terhadap pemimpin yang keluar dari jalur kebenaran, dan suruhan untuk melakukan oposisi. Nilainilai oposisi itu terpola dalam amar ma‘ruf nahi munkar dalam sifat global dan terdapat aplikasi para khulafa al-Rashidin yang menganjurkannya. Kedua kalangan ini melandaskan pendapat mereka kepada hadis Nabawi sebagai pijakan realitas oposisi menjadi haram dan halal.
HADIS “KHAIR AL-QURUN” DAN PERUBAHAN SOSIAL DALAM DINAMIKA HUKUM Ismail Nasution; Ridwan Hasbi
Jurnal Ushuluddin Vol 26, No 1 (2018): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v26i1.4042

Abstract

Ungkapan Rasulullah SAW atas pengakuan kebaikan tiga generasi berkaitan dengan keimanan, penegakan hukum, dan moral mereka. Realitas generasi ini berhadapan dengan akan terjadinya suatu perubahan sosial yang berkorelasi dengan ketetapan hukum Islam. Perspektif “khair al-qurun” menunjukkan bahwa perubahan struktur sosial dan sistem yang terjadi, antara masa hidup Rasulullah SAW dengan zaman hidup Sahabat, begitu juga antara zaman Sahabat dengan zaman Tabi`in dan sesudahnya terdapat transformasi hukum. Transformasi hukum dengan transformasi sosial merupakan suatu keniscayaan dalam sebuah kehidupan manusia, baik secara individu maupun secara kolektif. Ajaran Islam yang bersandarkan pada al-Qur'an dan hadis dihadapkan pada idealisme dan realisme, juga antara stabilisme dan perubahan. Dalam pemahaman hadis “khair al-qurun” menunjukkan bahwa realisme dan perubahan diperhatikan dalam konteks wahyu, sebab manusia secara alami memiliki sifat tidak statis dalam sebuah kondisi, sebab cenderung aktif merespons sejumlah kejadian dan peristiwa yang ada di sekelilingnya. Respons inilah yang membuat hidup manusia selalu dinamis dan pada akhirnya menciptakan sejumlah gagasan dan ide-ide baru dalam rangka memenuhi harapan serta kebutuhannya
Reframing The Period Of The Sahaba And Tabi`In In The Archipelago: Acceptance Of Tradition Hasbi, Ridwan; Rehayati, Rina; Martius, Martius; Kuakul, Yuttana
Jurnal Ushuluddin Vol 32, No 2 (2024): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v32i2.29070

Abstract

The presence of the Sahaba and Tabi`in in the archipelago is proven by the discovery of grave sites and historical records that corroborate the Arab theory of the entry of Islam. The period of the Sahaba and Tabi`in was the period that received the best certification from the Prophet with the phrase "Khair al-Qurun". This hadith becomes the basis for the continuity of traditions carried out by the Moslim archipelago, which cannot be separated from the assimilation and acculturation carried out by the Sahaba and the Tabi`in. This research uses qualitative methods that are formulated in historical and interconnection aspects. The elaboration of this method is related to content analysis that correlates with the descriptive hadith of the Prophet about the virtues of the period of the Sahaba and the Tabi`in. The movement of the Sahaba as the successor of the Prophet and followed by the Tabi`in in spreading the mission of preaching Islam throughout the world was assimilated with the traditions that already existed in the region. The revitalization of the framing of the period of the Sahaba and Tabi`in in the archipelago is related to the understanding that the period of the Sahaba and Tabi`in was only in the Arabian Peninsula. The thought is dismantled in the facts and data that the period of the Sahaba and Tabi`in existed in the archipelago as a construction that the Moslem religion is now going straight with the teachings of Islam