Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

KINERJA EPISTEMOLOGI ISLAM KETERJALINAN NALAR BAYANI, BURHANI, IRFANI MUHAMMAD ABID AL JABARI Lisa Amelia; Sri Murhayati
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.1939

Abstract

Nalar bayani, irfani, dan burhani merupakan tiga kerangka epistemologis utama dalam tradisi keilmuan Islam yang berperan penting dalam proses pembentukan, pengembangan, dan validasi pengetahuan. Ketiga nalar ini tidak berdiri secara terpisah, melainkan saling melengkapi dalam membangun pemahaman manusia terhadap realitas, baik yang bersumber dari wahyu, akal, maupun pengalaman spiritual. Nalar bayani bertumpu pada teks-teks otoritatif, khususnya Al-Qur’an dan Hadis, dengan penekanan pada pemahaman kebahasaan, penafsiran, dan penalaran normatif. Melalui pendekatan ini, kebenaran ilmu ditentukan berdasarkan kesesuaian makna dengan teks dan otoritas keagamaan, sehingga nalar bayani berperan besar dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman seperti fikih, tafsir, dan ushul fikih. Sementara itu, nalar irfani menekankan dimensi batin dan pengalaman spiritual sebagai sumber pengetahuan. Nalar ini berangkat dari keyakinan bahwa kebenaran tidak hanya dapat dicapai melalui teks dan rasio, tetapi juga melalui penyucian jiwa, intuisi, dan pengalaman langsung dengan realitas transenden. Pengetahuan dalam nalar irfani bersifat subjektif namun mendalam, karena diperoleh melalui proses kontemplasi, riyadhah, dan kedekatan spiritual kepada Tuhan. Oleh karena itu, nalar irfani banyak berkembang dalam tradisi tasawuf dan filsafat spiritual Islam, dengan tujuan mencapai pemahaman hakikat yang melampaui makna lahiriah. Adapun nalar burhani berpijak pada rasio dan logika demonstratif sebagai sarana utama dalam memperoleh kebenaran. Nalar ini menekankan argumentasi rasional, kausalitas, dan pembuktian sistematis yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam tradisi Islam, nalar burhani banyak digunakan dalam filsafat, ilmu kalam rasional, serta pengembangan ilmu pengetahuan yang bersifat empiris dan analitis. Kebenaran dalam nalar burhani diukur melalui konsistensi logis dan kesesuaian antara teori dan realitas.
AKSIOLOGI ILMU BEBAS NILAI (POSITIVISME) VS TERIKAT NILAI (ISLAM) Rozi Siregar; Sri Murhayati
Indonesian Journal of Social Science and Education (IJOSSE) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol 2 No 1: Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijosse.v2i1.1912

Abstract

Filsafat adalah berpikir dengan mendalam. Dalam pemahaman bahwa ketika seseorang berfilsafat maka ia akan melakukannya secara mendalam, yaitu dengan segenap usaha yang maksimal, segenap eksistensi, segenap kemampuan, segenap kekuatan, dan dengan seluruh apa yang dipikirkannya. Salah satu cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaiman manusia menggunakan ilmunya disebut aksiologi. Aksiologi mencoba untuk mencapai hakikat dan manfaat yang ada dalam suatu pengetahuan. Aksiologi merupakan cabang filsafat yang membahas tentang nilai atau disebut juga teori nilai. Nilai sendiri adalah kualitas yang terdapat dalam suatu objek sehingga dapat dianggap sebagai bernilai atau tidak bernilai. Penelitian ini membahas tentang Aksiologi Ilmu Bebas Nilai (Positivisme) vs Terikat Nilai (Islam). Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini Adalah penelitian Pustaka Library Research. Paradigma ilmu bebas nilai (value free) mengatakan bahwa ilmu itu bersifat otonom yang tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan nilai. Bebas nilai artinya setiap kegiatan ilmiah harus didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam pandangan ilmu yang bebas nilai, eksplorasi alam tanpa batas bisa jadi dibenarkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri, seperti juga ekpresi seni yang menonjolkan pornografi dan pornoaksi adalah sesuatu yang wajar karena ekspresi tersebut semata-mata untuk seni. Penjelasan terikat nilai Islam dalam perspektif filsafat menunjukkan bahwa setiap pembahasan filsafat harus berpijak pada wahyu, menggunakan akal secara seimbang, dan diarahkan untuk kemaslahatan.
DESAIN INSTRUKSIONAL ANALISIS TUJUAN PEMBELAJARAN Monasari Nst, Amelia; Sri Murhayati
Ilma Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal ILMA
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58569/gysbr604

Abstract

Abstrak Penelitian ini membahas secara mendalam hubungan esensial antara analisis desain instruksional dan perumusan tujuan pembelajaran sebagai dua komponen kunci dalam merancang program pembelajaran yang efektif. Analisis desain instruksional, yang meliputi Analisis, Merancang, Mengembangkan, Mengimplementasikan, Mengevaluasi, peran model ADDIE adalah sebagai kerangka sistematis untuk merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi program pembelajaran yang efektif. Dari hasil analisis ini, dapat dirumuskan tujuan pembelajaran yang terukur dan relevan. Artikel ini menjelaskan tahapan analisis secara rinci dan menghubungkannya dengan prinsip-prinsip perumusan tujuan pembelajaran yaitu ABCD (Audiens, Perilaku, Kondisi, Derajat). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kajian literatur, maka dapat disimpulkan bahwa kombinasi analisis yang cermat dan perumusan tujuan yang tepat akan menghasilkan program pembelajaran yang tidak hanya relevan, tetapi juga mampu mengoptimalkan hasil belajar siswa.    
Active and Creative Learning Models in Islamic Religious Education: An Analysis of PAKEM and PJBL Syuhada Irmadanti; Ririn Ristiani; Sri Murhayati
JEICI - Journal of Education and Islamic Contemporary Issue Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Education and Islamic Contemporary Issue (JEICI)
Publisher : KIPS Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65980/jeici.v2i1.32

Abstract

This study aims to analyze active and creative learning models in PAI, particularly through the PAKEM (Active, Creative, Effective, and Fun Learning) and Project-Based Learning (PjBL) approaches. Using a qualitative research method grounded in a literature review, data were obtained from scientific articles and other relevant studies that examined the implementation of the two models. The study's results indicate that active and creative learning models can increase students' motivation, engagement, and creativity in understanding Islamic values. Factors supporting implementation include teacher professionalism, availability of facilities, student motivation, and school support, whereas obstacles include limited time, limited facilities, and resistance to new methods. Overall, PAKEM and PjBL have demonstrated a positive impact on students' mastery of material, character development, and 21st-century skills. Therefore, the development of active and creative learning designs in PAI is essential to addressing educational needs in the digital era and independent curricula.
Integrative-Holistic Islamic Curriculum Framework: A Conceptual Model for Contemporary Curriculum Development Hafizah; Sri Murhayati; Nurhasnawati; Eliza Putri Ardiah; Nurul Habibah Arfizeah
JEICI - Journal of Education and Islamic Contemporary Issue Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Education and Islamic Contemporary Issue (JEICI)
Publisher : KIPS Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65980/jeici.v2i1.35

Abstract

This study develops the Integrative–Holistic Islamic Curriculum Framework (IHICF) as a conceptual model to address persistent fragmentation in Islamic Religious Education (PAI) and its limited alignment with contemporary educational demands. The separation between religious knowledge and modern scientific disciplines, along with instructional practices dominated by memorization, has reduced the relevance of PAI to twenty-first-century competencies such as digital literacy, critical thinking, collaboration, and ethical reasoning. Using a qualitative library research approach, this study analyzes literature published between 2020 and 2025 through systematic selection, open coding, thematic synthesis, and conceptual triangulation. The analysis yields four pillars of the IHICF: internal integration across PAI subjects; external integration with modern sciences and social realities; holistic and adaptive learner development; and operational mechanisms involving curriculum planning, teacher capacity, and authentic assessment. The findings indicate that IHICF offers a coherent and applicable curriculum model that bridges Islamic values with contemporary learning needs. It provides structured pathways for thematic instruction, value-based projects, collaborative teaching, and meaningful digital integration. The framework contributes to PAI renewal by supporting learners' ethical grounding, intellectual competence, and social responsiveness.