Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

Pergeseran Leksikal sebagai Dampak Kontak Budaya pada Masyarakat Sunda di Desa Parigi Kabupaten Pangandaran Dian Indira
Metahumaniora Vol 8, No 1 (2018): METAHUMANIORA, APRIL 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i1.18876

Abstract

AbstrakBudaya dan bahasa merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, tergerusnyabahasa berbanding lurus dengan tergerusnya budaya, begitu pula sebaliknya.Terjadinya kontak budaya luar dengan budaya lokal tidak dapat dihindarkan yangterlihat dari sikap berbahasa masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukanterhadap siswa sekolah dasar di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, yangsehari-hari berbahasa Sunda, terlihat bahwa pengaruh budaya luar telah memengaruhibahasa Sunda mereka. Dengan menggunakan angket dan daftar tanya sebagai bahanuntuk memperoleh data dari para pembahan, beberapa siswa tidak bisa menyebutkanbeberapa nama benda, binatang, dan tumbuhan di dalam bahasa Sundanya.Kata kunci: budaya luar, pergeseran bahasa Sunda, PangandaranAbstractCulture and language are an inseparable unity, the erosion of language is directlyproportional to the erosion of culture, and vice versa. The occurrence of outside cultural contactwith local culture can not be avoided which is evident from the attitude of community speakers.Based on research conducted on elementary school students in Parigi - Pangandaran District, whospeak Sundanese daily, it appears that the influence of outside culture has influenced their Sumdalanguage. Students can not name some objects, animals, and plants in Sundanese language, thehighest percentage is the use of the word greetings in the nuclear family environment.Keywords: outside culture, Sundanese, Pangandaran
Dualisme Pelestarian dan Pengembangan Musik Keroncong pada Tahun 1970-an Raden Muhammad Mulyadi; Dian Indira
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.22874

Abstract

Keroncong merupakan suatu genre musik yang khas Indonesia, keberadaanya selalu dikaitkan dengan statusnya sebagai salah satu warisan seni budaya bangsa Indonesia yang perlu dilestarikan. Selain perlu dilestarikan, para penggiat keroncong dan pemerintah pun menganggap perlu mengembangkan keroncong dalam segi musik maupun perluasan peminatnya, khususnya di kalangan generasi muda. Penelitian ini memperlihatkan popularitas keroncong yang sudah menurun sejak akhir tahun 1960-an bahkan pada tahun 1970-an keroncong sudah dinyatakan harus diselamatkan atau dilestarikan. Perkembangan keroncong terhambat oleh semangat pelestarian musik tersebut. Pelestarian keroncong terhambat oleh pakem-pakem yang ditentukan oleh para tokoh senior musik tersebut. Pakem-pakem keroncong merupakan suatu bentuk hegemoni para tokoh senior keroncong untuk memberi batasan keroncong yang baik dan benar menurut versi mereka. Pada satu sisi, pakem-pakem dalam keroncong telah dapat menjaga kelestarian keroncong, sementara pada sisi lainnya tidak berhasil mengembangkan keroncong kepada peminat yang lebih luas.  Keroncong is a music genre that is typical of Indonesia, its existence is always associated with its status as one of the Indonesian cultural arts heritage that needs to be preserved. Besides needing to be preserved, keroncong activists and the government also consider it necessary to develop keroncong in terms of music and the expansion of their interests, especially among the younger generation. This study examine that the popularity of keroncong which has declined since the late 1960s even in the 1970s that keroncong has been declared to be saved or preserved. Keroncong development is hampered by the spirit of preservation of the music. Keroncong conservation is hampered by the standards determined by the senior figures of the music. Pakem-pakem (standards) keroncong is a form of hegemony of senior keroncong figures to limit the keroncong to good and correct according to their version. On the one hand, the features in keroncong have been able to preserve keroncong, while on the other hand they have not succeeded in developing keroncong for wider interested ones.