Claim Missing Document
Check
Articles

KEHIDUPAN BERMAKNA PEREMPUAN YANG MENGALAMI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Ariyanti, Ni Made Putri; Valentina, Tience Debora
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.402 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i02.p05

Abstract

Meaningful life occurs when an individual is able to give meaning to his life. To achieve a meaningful life, individuals go through a process of achieving a meaningful life that begins from the suffering stage, the stage of self-understanding, the discovery phase of the meaning of life, the meaning realization stage, and the stage of meaningful life. This study aimed to see a meaningful life of women who have experienced violence in the home. Domestic violence is any act against someone, especially women, which results in the emergence of physical, sexual, or psychological suffering, and /or negligence of households within the domestic sphere.This study used qualitative research with a phenomenological approach and the number of the respondents was three women experiencing domestic violence. The data used in this study were observation and interviews. The results of this study indicated that the process of achieving a meaningful life started from the stage of suffering, experiencing violence. The women who experienced violence were the ones found to have been divorced but reconciled with her husband, when women underwent violence they were not able to give meaning to their life in a positive way. When women were not able to give meaning to their life, they began praying and reading positive books that directed them to seek the meaning of life, namely children, religion, values, and expectations as the meaning of life which then directed them to change attitudes in the face of violence. Changing attitudes carried out by women are looking for help and choosing to separate from her husbands. After changing attitudes, women committed themselves to living a meaningful life that had been found to fulfill the meaning of life with work and developing skills. The women who had fulfilled the meaning of life were able to look at life more meaningful by generating belief, seeing violence as a trial and behind the trial is a lesson that can be learned and that it can ultimately bring happiness.Keywords: women, domestic violence, meaningful life
Hubungan antara dukungan sosial keluarga dan penerimaan diri individu dengan lupus Widiantari, Ida Ayu; Valentina, Tience Debora
Jurnal Psikologi Udayana Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2023.v10.i01.p02

Abstract

Penerimaan diri sangat penting dimiliki oleh individu dengan lupus untuk menghadapi perubahan yang dialami akibat dari dampak penyakit lupus yang dimiliki. Penerimaan diri ialah proses yang dialami oleh individu untuk menerima kekurangan dan kelebihan diri tanpa melihat karakteristik penyakit yang dimiliki. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi proses penerimaan diri pada individu dengan lupus adalah dukungan sosial keluarga. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan penerimaan diri pada individu dengan lupus. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 120 individu dengan lupus yang berusia 18 hingga 40 tahun. Teknik pengambilan sampel yang dipakai yaitu purposive sampling. Terdapat dua alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala penerimaan diri dengan reliabilitas sebesar 0,909 dan skala dukungan sosial keluarga dengan reliabilitas sebesar 0,894. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan metode analisis data korelasi Spearman menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (sig < 0,05), yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dengan penerimaan diri pada individu dengan lupus. Nilai koefisien korelasi yang positif yaitu r = 0,436 menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara dukungan sosial keluarga dengan penerimaan diri. Implikasi dari penelitian ini yaitu memberikan pemahaman bagi keluarga mengenai pentingnya dukungan yang diberikan oleh keluarga kepada individu dengan lupus serta memberikan masukan dan dukungan bagi individu dengan lupus dalam menerima diri.
KONSEP DIRI GAY YANG COMING OUT Asmara, Kadek Yoga; Valentina, Tience Debora
Jurnal Psikologi Udayana Vol 4 No 02 (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.226 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2017.v04.i02.p05

Abstract

Homoseksual di Indonesia, khususnya gay semakin lama semakin menunjukkan keberadaannya. Gay adalah seorang laki-laki yang memiliki ketertarikan baik secara fisik dan emosional kepada laki-laki lainnya (Huegel, 2011). Masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi budaya ketimuran memandang homoseksual sebagai fenomena yang tidak sesuai dengan norma di masyarakat. Hal tersebut membuat sebagian besar gay memilih untuk menyembunyikan identitas seksualnya. Pada kenyataannya, beberapa gay justru berani mengungkapkan identitas seksualnya karena dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pengungkapan identitas tersebut dikenal dengan istilah coming out (Berger, 1996). Gay yang coming out pada umumnya akan mengalami berbagai penolakan, terutama dari lingkungan sosial yang kurang menerima homoseksualitas (Evans & Broido, 1999). Menurut Burn (1993), umpan balik dari lingkungan merupakan faktor yang dapat memengaruhi pembentukan konsep diri pada individu. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk membahas mengenai konsep diri gay yang coming out. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi pada tiga gay yang coming out. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa umpan balik negatif dari lingkungan dapat membentuk konsep diri yang negatif pada individu. Begitu juga sebaliknya, individu gay membentuk konsep diri yang positif ketika lingkungannya memberikan umpan balik yang juga positif. Temuan lainnya menunjukkan bahwa umpan balik yang diterima individu dari orang yang tidak penting dalam kehidupannya tidak memengaruhi individu dalam membentuk konsep dirinya. Kata kunci: Konsep diri, gay, coming out.
GAMBARAN RESILIENSI PADA PEREMPUAN DENGAN KANKER PAYUDARA Saputri, Andini; Valentina, Tience Debora
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.489 KB)

Abstract

Kanker payudara memiliki prevalensi yang tinggi di Indonesia dan dialami sebagian besar oleh perempuan. Penegekan diagnosa dan pengobatan kanker payudara menghadirkan berbagai dampak yang memengaruhi keseluruhan aspek hidup perempuan dengan kanker payudara. Perempuan memiliki kemampuan pada diri masing-masing dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi dan menangani beban emosional yang disebut dengan resiliensi. Terdapat keterkaitan antara resiliensi dengan kesehatan fisik dan mental perempuan yang mengalami kanker payudara dan hal tersebut membantu perempuan untuk beradaptasi dengan kondisi sakit yang dialami. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi pada perempuan dengan kanker payudara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data menggunakan teknik wawancara dan observasi dengan melibatkan empat orang responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat responden menunjukkan gambaran resiliensi yang baik. Hal ini dapat terjadi karena keempat responden mampu mengembangkan karakteristik resiliensi dengan baik dan memenuhi sebagian besar dari aspek-aspek pembentukan resiliensi. Regulasi emosi, mampu mengendalikan tekanan, memiliki harapan masa depan, dan mampu mengidentifikasi masalah merupakan aspek yang paling berperan dalam pembentukan resiliensi. Hal tersebut membuat keempat responden memiliki pandangan hidup yang lebih positif dengan bersyukur atas kondisi yang dialami dan menerima kanker payudara sebagai bagian dari hidup saat ini. Kata Kunci: resiliensi, kanker payudara, fenomenologi.
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PRESTASI AKADEMIK PADA MAHASISWA AKTIVIS ORGANISASI KEMAHASISWAAN DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS UDAYANA Saragih, Jesica Handayanita; Valentina, Tience Debora
Jurnal Psikologi Udayana Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.097 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2015.v02.i02.p13

Abstract

Student is a learner who has moral duties in applying Tri Dharma Perguruan Tinggi consisted of three important missions, which are implementing education, research, and community service. One embodinent of community service is being involved in the organizational activities around campus. Student activists have an immense relation with the role of emotional intelligence since they have more responsibilities than those who are not actively participating in organisation. In addition to running the missions of Tri Dharma Perguruan Tinggi, students would also encounter personal problem and be faced with school’s demands. The purpose of conducting this research is to investigate the correlation of emotional intelligence and academic achievement of student organization activists at University of Udayana. The sampling technique used in this research was simple random sampling. Subjects were 129 student activists at University of Udayana, age ranged from 17 to 25 years old. Emotional intelligence scale was deployed based on emotional intelligence aspects proposed by Goleman (2002). Transcripts were also collected to determine academic achievement of the subjects, aside from spreading the emotional intelligence scale. Karl Pearson product-moment correlation analysis was conducted to observe correlation of emotional intelligence and academic achievement. Correlation coefficient value obtained from the result of analysis performed on the variables, emotional intelligence and academic achievement, were -0.204 and P of 0.021 (p<0.05). This result shows that there is a negative relationship between emotional intelligence and academic achievement, which also indicates that the increase of emotional intelligence is followed by the decrease of academic achievement on student organization activists. The number of organizations in which the subjects participated in, various activities performed outside campus, and other external factors of research’s subjects contributed to the effect of academic achievements.   Keyword: emotional intelligence, academic achievement, student organization activists.
ENGKAU BERHARGA BAGIKU: RELASI SAUDARA REMAJA YANG MEMILIKI SAUDARA KANDUNG DENGAN AUTISM SPECTRUM DISORDER Pramesti, Kadek Sintia Dwi; Valentina, Tience Debora
Psyche: Jurnal Psikologi Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/psyche.v7i1.2596

Abstract

Kehadiran anak dengan autism spectrum disorder (ASD) membawa tantangan tersendiri bagi saudara kandung disebabkan ASD sebagai gangguan yang menyebabkan terjadinya defisit pada interaksi sosial dan komunikasi. Karakteristik anak dengan ASD menyebabkan terjadinya beragam interaksi baik positif maupun negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana relasi saudara pada remaja yang memiliki saudara kandung dengan gangguan ASD. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review. Pencarian literature review melibatkan basis data Google Scholar serta SpringerLink dengan rentang tahun penerbitan mulai dari 2014-2024. Diperoleh 10 artikel terpilih yang yang tergambar melalui empat dimensi yaitu dimensi warmth atau closeness, relative status atau power, conflict, dan dimensi rivalry. Implikasi penelitian menunjukan adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi faktor-faktor individual dan konteks sistem keluarga serta konteks lingkungan yang lebih luas untuk menemukan dinamika relasi saudara kandung dengan ASD. Selain itu, perlu adanya dorongan untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam mengelola ketegangan dan konflik dalam relasi bersaudara dengan ASD.
Tahapan Pembentukan Resiliensi Diri Ibu Tunggal Pasca Kematian Suami: Literature Review Parwata, Ni Putu Putri Diptasari; Valentina, Tience Debora
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 1 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i1.18206

Abstract

Fenomena Ibu tunggal kerap terjadi di beberapa dekade terakhir ini. Ibu tunggal merupakan seorang wanita yang memikul tanggung jawab besar dan mengharuskannya untuk memberi nafkah serta membimbing keluarga dengan bekerja, membimbing, mengasuh, dan membesarkan anak. Pencapaian resiliensi bagi Ibu tunggal merupakan hal yang sulit, karena Ibu tunggal dihadapi dengan kondisi kehidupan yang penuh tekanan sehingga menciptakan kondisi baru bagi Ibu tunggal. Berdasarkan permasalahan, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses tahapan resiliensi diri pada Ibu tunggal pasca kematian suami. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review atau narrative review. Kajian Literature menggunakan 10 dari 30 artikel yang telah ditemukan yang menggunakan penelitian kualitatif dengan berbagai metode sampling dan responden Ibu tunggal pasca kematian suami. Hasil penelitian literature, ditemukan bahwa Ibu tunggal melewati beberapa tahapan untuk mencapai resiliensi, yaitu Berserah (succumbing), Bertahan (survival), Pemulihan (recovery), dan Berkembang (thriving). Adapun faktor yang menyongkong pencapaian resiliensi Ibu tunggal yaitu faktor dukungan sosial. Kata Kunci: ibu tunggal, resiliensi, tahapan, kematian suami.
TAHAPAN PEMBENTUKAN RESILIENSI DIRI IBU TUNGGAL PASCA KEMATIAN SUAMI: LITERATURE REVIEW Putri, Ni Putu Putri Diptasari Parwata; Tience Debora Valentina
JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan) Vol. 11 No. 01 (2024): JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JKKP.111.02

Abstract

Abstrak Fenomena Ibu tunggal kerap kali terjadi di beberapa dekade terakhir ini. Ibu tunggal merupakan seorang wanita yang memikul tanggung jawab besar dan mengharuskannya untuk memberi nafkah pada keluarga dengan bekerja, membimbing, mengasuh, dan membesarkan anak. Pencapaian resiliensi bagi Ibu tunggal merupakan hal yang sulit, karena Ibu tunggal dihadapi dengan kondisi kehidupan yang penuh tekanan sehingga menciptakan kondisi baru bagi Ibu tunggal. Untuk menjadi individu yang resilien, dapat dilalui dengan berperilaku dan kognitif, seperti menghargai kehidupan serta berinteraksi. Ibu tunggal dapat dikatakan memiliki resiliensi ketika berhasil dan mampu melalui kondisi buruk dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan permasalahan, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses tahapan resiliensi diri pada Ibu tunggal pasca kematian suami. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review atau narrative review. Kajian Literature menggunakan 10 dari 30 artikel yang telah ditemukan yang menggunakan penelitian kualitatif dengan berbagai metode sampling dan responden Ibu tunggal pasca kematian suami. Hasil penelitian literature yang telah dilakukan, ditemukan bahwa Ibu tunggal melewati beberapa tahapan untuk mencapai resiliensi, tahapan tersebut yaitu Berserah (succumbing), Bertahan (survival), Pemulihan (recovery), dan Berkembang (thriving). Adapun faktor yang menyongkong pencapaian resiliensi Ibu tunggal yaitu faktor dukungan sosial. Dengan memiliki resiliensi yang baik, Ibu tunggal akan dapat mengatasi masa-masa sulit, menjadikan pengalaman sebagai motivasi kedepannya, serta percaya bahwa setiap individu memiliki karakter uniknya sendiri. Abstract The phenomenon of single mothers has become increasingly common in recent decades. A single mother is a woman who bears significant responsibilities, requiring her to provide for her family by working, guiding, nurturing, and raising her children. Achieving resilience for a single mother is challenging, as they face a life full of pressures that create new conditions for them. To become a resilient individual, one can engage in behavioral and cognitive practices, such as valuing life and interacting with others. A single mother is considered resilient when she successfully overcomes adverse conditions and leads a better life. Based on these issues, this study aims to analyze the process of self-resilience stages in single mothers following the death of their husbands. The approach used in this research is a literature review or narrative review. The literature study used 10 out of 30 articles found, employing qualitative research with various sampling methods and respondents being single mothers after the death of their husbands. The literature findings indicate that single mothers go through several stages to achieve resilience, which include Succumbing, Survival, Recovery, and Thriving. A supporting factor for achieving resilience in single mothers is social support. With good resilience, single mothers can overcome difficult times, use experiences as motivation for the future, and believe that everyone has their own unique character.
Kajian sistematis tentang perspektif perempuan Bali berkasta terhadap pernikahan nyerod: Antara tradisi dan modernisasi Wagiswari, I Gusti Ayu Suryaning; Valentina, Tience Debora
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 12 No 1 (2025)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu1079

Abstract

Nyerod marriage continues to exist within Balinese Hindu society, wherein women from higher castes marry men from lower castes. This study reviews existing literature on nyerod marriage from women's perspectives, exploring the tension between tradition and modernization. The research method used is a literature review, sourced from four databases such as Google Scholar, OpenAlex, Semantic Scholar, and Crossref, with ten articles selected using the PRISMA flowchart. The findings reveal that traditionally, women in nyerod marriages face significant consequences. These include bringing shame upon their families, being required to adopt and constantly display a new social identity at all times, experiencing psychological challenges, shifts in how they communicate with their families, and other forms of social sanction. From a modern perspective, however, nyerod marriage is seen as an act of resistance by high-caste women against traditional norms of partner selection norms, driven more by economic considerations than by a desire to uphold caste hierarchy.
REPRESENTATION OF INHERITANCE RIGHTS IN PATRIARCHAL CULTURE IN BALI BASED ON GENDER EQUALITY THEORY Dewi, Frisca Putriana; Valentina, Tience Debora
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.32337

Abstract

Abstract Gender equality is a concept of balance put forward to equalize the position between women and men. In implementing this concept, Balinese people experience challenges in realizing it, this is due to the influence of patriarchal culture. One aspect that is difficult to implement gender equality is inheritance rights in Bali, due to the concept of patriarchal culture that is intertwined with Hindu religious beliefs. The research method used in this research is a literature review with a narrative literature-overview article approach. This research aims to understand a more specific picture of how patriarchal culture influences inheritance rights and how the transformation that occurs to obtain gender equality can be pursued in a complex cultural context such as in Bali. The results of this study show that the patriarchal culture in Bali is influenced by Hinduism and adat, where men are the main heirs through a major inheritance system, while women often experience marginalization and subordination. The results of this study are expected to provide new insights and encourage changes in a more equitable inheritance system. Keywords: Patriarchal Culture; Inheritance Rights; Gender Equality; Balinese Society.Abstrak Kesetaraan gender merupakan suatu konsep keseimbangan yang dikemukakan untuk menyetarakan posisi antara perempuan dan laki-laki. Dalam penerapannya, masyarakat Bali menghadapi tantangan dalam mewujudkan konsep tersebut, yang disebabkan oleh pengaruh budaya patriarki. Salah satu aspek yang sulit diterapkan dalam konteks kesetaraan gender adalah hak waris di Bali, karena konsep budaya patriarki yang melekat erat dengan ajaran agama Hindu. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah tinjauan pustaka dengan pendekatan artikel naratif-literatur. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran yang lebih spesifik mengenai bagaimana budaya patriarki memengaruhi hak waris serta bagaimana transformasi menuju kesetaraan gender dapat diupayakan dalam konteks budaya yang kompleks seperti di Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya patriarki di Bali dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan adat istiadat, di mana laki-laki merupakan ahli waris utama melalui sistem waris utama, sementara perempuan kerap mengalami marginalisasi dan subordinasi. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru serta mendorong perubahan menuju sistem pewarisan yang lebih adil dan setara. Kata Kunci: Budaya Patriarki; Hak Waris; Kesetaraan Gender; Masyarakat Bali.