Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Peningkatan Kapasitas Pengurus Karangtaruna melalui Optimalisasi Modal Sosial dalam Pengembangan Desa Wisata Hiryanto Hiryanto; Entoh Tohani; Miftahuddin Miftahuddin
Diklus: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.221 KB) | DOI: 10.21831/diklus.v4i1.27875

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengembangkan kapasitas (capacity building) pada pengurus dan anggota karangtaruna dengan memanfaatkan modal sosial yang dimiliki dalam rangka mengembangkan desa wisata. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan dengan tahapan pengkajian isu, perencanaan, pengimplementasian tindakan, dan refleksi. Tindakan berupa pembelajaran wawasan dengan modal sosial melalui model permainan dan outbond training kepada pengurus dan anggota karangtaruna di desa Bejiharjo, karangmojo, gunungkidul. Data dikumpulkan dengan wawancara dan observasi dan dianalisis secara kualitatif yaitu direduksi, disajikan dan ditarik kesimpulan. Teknik keabsahan data dilakukan dengan pengamatan perpanjangan dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan yang diberikan kepada kelompok sasaran memberikan perubahan positif berupa mereka dapat memiliki kesadaran untuk lebih inovatif dan memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan gagasan yang inovatif yang dapat diterapkan dalam organisasi karangtaruna dalam ikut mengembangkan desa wisata. Oleh karenanya, tindakan berkesimbungan dan relevan perlu dilaksanakan kembali di masa depan dengan menyediakan fasilitas yang memadai.AbstractThis study aims to build capacity (capacity building) for management and members of Karangtaruna by utilizing social capital owned in order to develop a tourist village. This research is an action research with stages of study about the problem, planning, implementation actions, and reflection. The action took the form of learning insights with social capital through game models and outbound training to management and members of Karangtaruna in the village of Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul. Data collected through interviews and observations and analyzed qualitatively reduced, presented, and drawn conclusions. The data validity technique is done by observing extensions and triangulation. The results showed that the actions given to the target groups gave positive changes in their forms and could have an awareness to be more innovative and have knowledge and skills in developing innovative ideas that could be applied in the Karangtaruna organization in participating in developing tourism. Village. Therefore, relevant and relevant actions need to be implemented again in the future by providing adequate facilities.
Madam: Budaya Urang Banjar Merantau untuk Kehidupan Lebih Baik Rochgiyanti; Miftahuddin; Heri Susanto; Fathurrahman; Meli Hadijah
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 3 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.569 KB) | DOI: 10.31004/jpdk.v4i3.4945

Abstract

Urang Banjar terkenal sebagai orang yang suka merantau. Merantau dalam istilah Urang Banjar dikenal dengan sebutan madam. Madam dilakukan Urang Banjar dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup yang lebih baik. Madam sudah menjadi budaya bagi Urang Banjar, sehingga Urang Banjar mudah dijumpai diberbagai wilayah yang ada di Indonesia termasuk di Kelurahan Kuala Pembuang I. Urang Banjar berani melakukan madam tentu ada penyebabnya. Fenomena madam Urang Banjar ke Kelurahan Kuala Pembuang I menjadi topik yang sangat menarik untuk diteliti dan dibahas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor apa saja yang melatarbelakangi terjadinya madam dan bagaimana kehidupan sosial Urang Banjar di Kelurahan Kuala Pembuang I. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian yaitu Urang Banjar dengan lokasi penelitian di Kelurahan Kuala Pembuang I, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Teknik pengumpulan data diperoleh dari wawancara dan observasi. Kemudian analisis data menggunakan model Milles dan Huberman. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua faktor yang membuat Urang Banjar madam ke Kelurahan Kuala Pembuang I. Pertama, faktor pendorong dikarenakan berkurangnya sumber daya alam dan menyempitnya lapangan pekerjaan serta susahnya dalam mengembangkan karir di tempat asal. Kedua, faktor penarik dikarenakan banyaknya lowongan pekerjaan di perusahaan kayu saat itu dan adanya hubungan kekeluargaan. Kehidupan sosial Urang Banjar di Kelurahan Kuala Pembuang terjalin dengan baik dengan masyarakat sekitar, hal ini dikarenakan ketika ada acara dari suku lain Urang Banjar senantiasa membantu. Selain itu, Urang Banjar selama berada di Kelurahan Kuala Pembuang I mempunyai sikap toleransi yang besar terhadap sesama, terutama dalam hal agama.
Dibalik Cahaya Bulan Sabit: Peran Muhammadiyah di Purbolinggo dalam Mewujudkan Keberadaban Masyarakat pada tahun 1963-1983 Ardian Fahri; Miftahuddin Miftahuddin; Febriana Khoiriyah
HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Vol 11, No 2 (2023): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.459 KB) | DOI: 10.24127/hj.v11i2.7464

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah serta pengaruh perkembangan Muhammadiyah di dalam membangun peradaban masyarakat Purbolinggo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode historis dengan tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini mengunakan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa Muhammadiyah Cabang Purbolinggo berdiri pada 3 April 1963 yang diketuai oleh Amirudin, dan Abdul Fatah sebagai wakil ketua. Peranan Muhammadiyah dapat terlihat dalam aspek kehidupan masyarakat seperti mendirikan Masjid Darul Ihsan yang bersebelahan dengan Pusat Pasar Purbolinggo, mendirikan sekolah Madrasah Ibtifaiyah, Sekolah Pendidikan Guru Agama Muhammadiyah (PGAM), TK Aisyiyah Bustanul Athfal, SMP, SMA, MA Muhammadiyah serta Koperasi Wargamu pada 1973, dan Zafakoh pada 1978 yang merupakan badan pengumpul Zakat, Infak serta Sodakoh, dan memberikan bantuan pelayanan sosial seperti Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO).
Tolerant and Moderate Islamic Religious Practices in Pesantren Al-Qodir Miftahuddin Miftahuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.18342

Abstract

Creating peace and harmony among communities is an Islamic teaching must be implemented to achieve goodness and harmony among humanity. It is what K.H. Masrur Ahmad MZ and his pesantren are currently doing, not only in theory but also in practice. This article aims to explain the practice of a tolerant and moderate interpretation of Islam, or often referred to as "Islam rahmatan li al-alamin," which is led by K.H. Masrur as the caretaker of Pesantren Al-Qodir. This research uses a qualitative method with a symbolic interaction approach. Data collection is carried out through in-depth interviews and observations, and relevant documentation is gathered. The results show that, by not eliminating the basic principles and values of Islam, the Islamic religiosity practiced in pesantren, Al-Qodir, is Islam that is able to sustain dialogue with various groups, other religions, cultures, and local communities. In this context, K.H. Masrur goes beyond the interpretation of a tolerant and moderate understanding of Islam, and also demonstrates how tolerance is implemented in real actions, such as inviting Christians to participate in the sacrifice of animals for Qurban, staging local art festivals, and other initiatives. Menciptakan perdamaian dan kebersamaan di kalangan masyarakat adalah ajaran Islam yang harus diimplementasikan agar tercipata kebaikan dan keharmonisan di antara umat manusia. Hal inilah yang sedang dilakukan K.H. Masrur Ahmad MZ dan pesantrennya, yang tidak hanya dalam tataran pemikiran atau teori tetapi juga praktik. Artikel ini bertujuan menjelaskan praktik keberagamaan Islam toleran dan moderat atau sering disebut Islam rahmatan li al-alamin yang dimotori oleh K.H. Masrur sebagai pengasuh pesantren Al-Qodir. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interaksi simbolik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan tidak menghilangkan prinsip-prinsip dasar dan nilai-nilai Islam, keberagamaan Islam di pesantren Al-Qodir adalah Islam yang mampu berdialog dengan berbagai kelompok, agama lain, budaya, dan masyarakat lokal. Dalam konteks ini, K.H. Masrur tidak berhenti dalam hasil penafsiran ajaran Islam yang toleran dan moderat, akan tetapi bagaimana praktik toleransi diimplementasikan dalam tindakan yang nyata, seperti mengundang kaum nasrani ikut dalam penyembelihan hewan kurban, pagelaran vestifal kesenian lokal, dan lainnya.
Situs Megalitik Tanjung Telang, Kabupaten Lahat: Kajian Bentuk Dan Fungsi. Tama Maysuri; Zulkarnain Zulkarnain; Miftahuddin Miftahuddin
Diakronika Vol 23 No 1 (2023): DIAKRONIKA
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/diakronika/vol23-iss1/239

Abstract

Abstract This article is entitled Megalithic site Tanjung Telang, Lahat Regency: Study of Form and Function. This article aims to examine the from and function at the Tanjung Telang megalithic site, Lahat Regency, South Sumatra Province. This article uses the historical research method (historical method). This article uses the following stages: heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The results of the research in this article say that in Lahat Regency there are many thousands of megalithic sites with various unique shapes and different sizes and have a certain meaning for each site found. Lahat Regency has a hilly area and a very fertile area, namely Bukit Selero which was trusted by the people in the past as a reminder that there is still a God above humans so humans must remain humble. Tanjung Telang Village, West Merapi District, Lahat Regency, South Sumatra, Found megalithic cultural relics inthe form of the Tanjung Telang Human Statue, Megalithic Flat Stone and Menhirs. The heritage site in the form of megalithic culture is located with in the environment of West Merapi 2 Junior High School, in the highlands (hills), shrubs, and is located in the community’s coffe garden.
Telaah Perubahan Stratifikasi Sosial Masyarakat Banten Sebelum Pemberontakan tahun 1888 Kristoforus Bagas Romualdi; Miftahuddin Miftahuddin
Jurnal Pattingalloang Vol. 10 No. 2, Agustus 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp3k.v10i2.45315

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah perubahan stratifikasi sosial pada masyarakat Banten sebelum terjadinya pemberontakan petani tahun 1888 di wilayah tersebut. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode sejarah. Sumber-sumber yang digunakan dalam metode sejarah ini adalah sumber dokumen berupa buku dan artikel penelitian yang relevan. Hasil dari penelitian memperlihatkan bahwa stratifikasi sosial di Banten sebelum pemberontakan tahun 1888 terbagi menjadi stratifikasi tradisional dan berubah ke kolonial. Perbedaan dari dua stratifikasi tersebut, yakni terletak pada posisi, fungsi, pengaruh, hak, dan kewajiban kelompok yang menempati lapisan atas, menengah, dan bawah. Stratifikasi masa kolonial yang cenderung menindas menjadi penyebab munculnya pergolakan hingga pemberotakan petani Banten tahun 1888.Kata Kunci : Sejarah, Stratifikasi Sosial, BantenAbtractThis study aims to examine changes in social stratification in Banten society before the 1888 peasant revolt in the area.. The research approach used was qualitative with historical methods. The sources used in this historical method are document sources in the form of books and relevant research articles. The results of the study show that social stratification in Banten before the revolt in 1888 was divided into traditional stratification and changed to colonial. The difference between the two stratifications lies in the position, function, influence, rights, and obligations of groups occupying the upper, middle and lower layers. The stratification of the colonial period which tended to be oppressive became the cause of the emergence of upheavals until the revolt of Banten Peasant’s in 1888.Keywords : History, Social Stratification, Banten
Penguatan Nilai-nilai Nasionalisme dalam Pembelajaran Sejarah Bagi Peserta Didik Kelas XI SMA Negeri 4 Kabupaten Sorong Dominikus Doni Petun; Miftahuddin Miftahuddin
Indonesian Journal of Social Science Education (IJSSE) Vol 5, No 2 (2023): JULI
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ijsse.v5i2.10465

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Proses penguatan nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran sejarah (2) Pemahaman nasionalisme peserta didik SMA Negeri 4 Kabupaten Sorong (3) Hambatan yang ditemukan dalam melakukan penguatan nilai nasionalisme melalui pembelajaran Sejarah serta solusinya. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian adalah SMA Negeri 4 kabupaten Sorong. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi langsung, wawancara, dokumentai dan Triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Proses Penguatan nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran sejarah kelas XI SMA Negeri 4 Kabupaten Sorong, Guru sejarah sudah melakukan dengan baik yaitu: dalam proses perencanaan, Proses Pelaksanaan dan melakukan evaluasi dalam pembelajaran (2) Peserta didik sebagai generasi penerus bangsa semakin menyadari dan optimis dan rasa bangga sebagai bagian dari Negara kesatuan republik Indonesia. Beberapa nilai nilai nasionalisme yang mereka pahami di antaranya cinta tanah air, persatuan dan kesatuan, rela berkorban, berani, dan disiplin. Nilai-nilai Nasionalisme dalam pembelajaran sejarah sangat penting di implementasikan kepada peserta didik melalui materi-materi sejarah yang terintegrasi dengan nilai-nilai nasionalisme (3) Hambatan yang dihadapi dalam penguatan nilai-nilai nasionalisme adalah Kompotensi Kurikulum, sarana dan prasarana dan lingkungan keluarga yang kurang mendukung. 
Good Citizen Values in Rasuna Said’s Struggle as a Character-Based History Learning Source Finna Wijayanti; Wildhan Ichzha Maulana; Miftahuddin Miftahuddin
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 16, No 2 (2024): AL-ISHLAH: JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v16i2.4702

Abstract

This research aims to describe Rasuna Said’s good citizen value based on an androgynous historical perspective and its relevance to the contextualization of character-based history learning in the “Merdeka Curriculum”. This research is included in the qualitative based on a literature review and uses a content analysis approach. Primary sources in this research, Fikiran Ra'jat magazine, Menara Poetri newspaper, and supported by several other secondary sources, all provide a contextualization of Rasuna Said’s civic knowledge, civic skills, and civic disposition in the history of her struggle. The results of this study are as follows: (1) to explain Rasuna Said’s struggle based on an androgynous historical perspective; (2) Describe Rasuna Said’s good citizen values, in this case, civic knowledge is shown through her critical attitude towards the problem of gender inequality and her decision to establish several formal educational institutions for the empowerment of women; civic skills are shown from the complexity of her skills, interaction style, and participation in society regardless of differences in individual and group backgrounds; then civic disposition is shown from her appreciation of the values and principles of gender equality for women which is actualized through her contribution to the organizations “Sarekat Ra’jat” and “PERMI”. (3) The value of good citizen Rasuna Said can strengthen the competence of the Pancasila student profile through its integration in the history learning of class XI Phase F of the “Merdeka Curriculum” material history of the nation’s struggle. The introduction of Rasuna Said’s good citizen values through history learning can be a solution to help students become democratic, superior, and productive citizens in the 21st century.
PRAGMATISM-ACCOMMODATIVE POLITICAL PATTERNS OF AL-IRSYAD DURING THE REIGN OF PRESIDENT SOEKARNO, 1945-1965 Miftahuddin, Miftahuddin; Abdurahman, Dudung
JOURNAL OF INDONESIAN ISLAM Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : State Islamic University (UIN) of Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/JIIS.2023.17.1.189-212

Abstract

This article examines the roles and political behaviors of Al-Irsyad during the President of Soekarno's reign (1945-1965).This study is part of an effort to complete the history of Al-Irsyad's journey which seems to have not been revealed by academics, the role and political attitude of Al-Irsyad in the era of President Soekarno in particular. Using historical research methods supported by the main primary sources that have not been explored by scholars, such as a collection of writings welcoming the "Musjawarah Besar dan Ulang Tahun ke-25 Pemuda Al-Irsjad, 1964" and a collection of writings to welcome "Muker IV Pemuda Al-Irsjad Tahun 1967, the study has revealed that Al-Irsyad as the organization of a religious social movement that at the beginning of its establishment focused on the development of modern (Islamic) education, then shifted and involved on political movement. Its involvement in politics was pragmatic and accommodative. The proof of its pragmatism showed when it joined the Masyumi Party. Those two parties had similar Islamic views and even Masyumi could support the Al-Irsyad members’ political rights. Meanwhile, Al-Irsyad’s pragmatic-accommodative attitude was shown when addressing Soekarno's policies during the Guided Democracy. It was performed to obtain protection from Soekarno. Therefore, it is common knowledge that in the era of Guided Democracy, the statements of Al-Irsyad's figures were supported by Soekarno's political policies in many ways.
The Expansionist Politics of Sultan Agung and Turning Away the Sea in the 17th Century: Rereading Javanese Historiography Miftahuddin; Ajat Sudrajat; Danar Widiyanta; Ita Mutiara Dewi; Kuncoro Hadi; Raymizard Alifian Firmansyah
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.24900

Abstract

Abstract: This article develops a thesis by Adrian B. Lapian and contextualizes the Islamic rule in Java that stimulated the movement of the sea people to turn their backs on the sea. It critiques conventional historiography that focuses only on heroic stories. Using critical maritime history studies, this article presents a re-reading of the political narrative of Sultan Agung's expansion into North and East Java. The history of Java is not only about political power and conflicts between Javanese kingdoms in the 17th century, but also about expansion, social problems, socio-political domination, and the erasure of collective memory of maritime culture. Therefore, this research attempts to write history with an alternative perspective to examine the "movement towards the sea" in Java, which has implications for the formation of an agrarian society. As a result of strengthening the legitimacy of royal power in the 16th-17th centuries, various violent incidents occurred in northern and peripheral Java. Under the pretext of expanding power and attempting to attack Batavia, this event was normalized, which becomes a phenomenon of historiographical problems in writing history, particularly regarding the minimal discussion about the oppression of the Javanese Maritime community under the political domination of Mataram (Sultan Agung).   Abstrak: Artikel ini, dengan mengembangkan tesis dari Adrian B. Lapian, membahas tentang kekuasaan Islam di Jawa yang menstimulasi gerak orang laut untuk memunggungi laut. Artikel ini juga bagian dari kritik terhadap historiografi konvensional yang hanya membahas tentang kisah-kisah heroik semata. Dengan menggunakan kajian sejarah maritim kritis, maka artikel ini menyajikan pembacaan ulang mengenai narasi politik ekspansi Sultan Agung ke daerah Jawa Utara dan Jawa Timur. Sejarah Jawa kenyataannya tidak hanya soal kekuasaan politik dan konflik politik kerajaan-kerajaan Jawa abad 17, tetapi juga soal ekspansi, masalah sosial, dominasi sosial-politik, sampai dengan penghapusan memori kolektif budaya maritim. Untuk itu, penelitian ini adalah bagian dari upaya penulisan sejarah dengan perspektif alternatif untuk melihat “gerak memunggungi laut” di Jawa, yang implikasinya berpengaruh terhadap terbentuknya masyarakat agraris. Akibat peneguhan legitimasi kuasa keraton, pada abad ke 16-17, di Jawa bagian utara dan pinggiran terjadi berbagai peristiwa yang penuh kekerasan. Dengan dalih perluasaan kekuasaan dan upaya penyerangan terhadap Batavia, membuat peristiwa ini dinormalisasi. Hal ini menjadi fenomena permasalahan historiografis dalam penulisan sejarah. Terutama, terkait pembahasan yang minim tentang ketertindasan masyarakat Maritim Jawa atas dominasi politik Mataram (Sultan Agung).