Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Dengan Integrated Clinical Pathway Terhadap Mutu Pelayanan Keperawatan Lia Dwi Jayanti; Rr. Tutik Sri Hariyati
Syntax Idea Vol 2 No 2 (2020): Syntax Idea
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v2i2.148

Abstract

Integrated Clinical pathway (ICP) adalah rencana asuhan pasien terintegrasi dan terkoordinasi efektif antar multidisiplin dengan mendayagunakan sumber daya yang ada secara efisien dalam pelayanan kesehatan. Implementasi Clinical pathway bisa menjadi fasilitas dalam tercapainya peningkatan mutu pelayanan keperawatan. Akan tetapi, pengembangan dan penerapan ICP di Rumah Sakit tidaklah mudah karena pendokumentasian ICP dilakukan multidisiplin maka memerlukan pengetahuan yang mumpuni dan keterampilan klinis yang baik dalam menerapkan clinical pathway. Tujuan dari tinjauan literature review ini adalah untuk mengetahui pengembangan sistem informasi manajemen dengan Integrated Clincal Pathway terhadap mutu pelayanan keperawatan di Rumah Sakit. Studi ini menggunakan perangkat penelitian PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome) dengan mengambil sumber dari EBSCO, ProQuest, Scopus, JKI dan artikel lain. Studi ini menunjukkan bahwa ICP yang terintegrasi dengan sistem informasi manajemen dapat mengefisienkan waktu serta tenaga saat pemberian asuhan keperawatan professional. Penerapan sosialisasi, pelatihan dan evaluasi Clinical pathway yang optimal dapat. mengeskalasi mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit Kata kunci: Clinical Pathway, Manajemen Keperawatan, Mutu Pelayanan, Sistem Informasi
HUBUNGAN PERSEPSI MAHASISWA TENTANG METODE PENGAJARAN DOSEN DENGAN MOTIVASI BELAJAR PADA MAHASISWA KEPERAWATAN Lia Dwi Jayanti
Coping: Community of Publishing in Nursing Vol 2 No 3 (2014): JURNAL EDISI SEPTEMBER-DESEMBER 2014
Publisher : Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.085 KB)

Abstract

Motivation is the change of person’s energy that is characterized by presence of "feeling" and preceded by the response to the presence of the goal. Learning motivation is encouragement that exists and emerges in student to learn. In order to fulfill the terms of the right quality of learning, there are three aspects that need to be considered, such as students, faculty, and the environment. The quality of lecturers has the strongest relationship with learning motivation compared to intrinsic factors, methods of lectures, and material from college. A method of this research is descriptive correlation with cross-sectional design. The sample is consisted of 75 respondents who met the inclusion criteria and were selected by purposive sampling technique. Data collection was conducted by giving questionnaire to both variables. The results showed that the perception of students about lecturer’s teaching method is the most in medium category as many as 47 respondents (62.7 %) and 55 respondents in high category of learning motivation (73.3 %). This research used Rank Spearman statistic test and is obtained p value 0.000 < 0.05 means H0 is rejected which means there is a relationship between students' perceptions of lecturer’s teaching methods toward learning motivation on Nursing Student in 8th Semester A Program.  The value of r is 0.662 which means there is a strong relationship between students' perceptions of lecturer’s teaching methods toward learning motivation. For further research, the researcher is expected to examine other variables that can affect the learning motivation.
Development of Management Information Systems with Integrated Clinical Pathway on the Quality of Nursing Services Lia Dwi Jayanti; Rr. Tutik Sri Hariyati
JENDELA NURSING JOURNAL Vol 4, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jnj.v4i1.5414

Abstract

Background: Integrated Clinical Pathway (ICP) adalah rencana asuhan pasien terintegrasi dan terkoordinasi efektif antar multidisiplin dengan memanfaatkan sumber daya yang ada secara efisien dalam pelayanan kesehatan. Implementasi clinical pathway dapat menjadi sarana dalam terwujudnya peningkatan mutu pelayanan keperawatan. Akan tetapi, pengembangan dan penerapan ICP di Rumah Sakit tidaklah mudah karena pendokumentasian ICP dilakukan multidisiplin maka memerlukan pengetahuan yang mumpuni dan keterampilan klinis yang baik dalam menerapkan clinical pathway.Purpose: Tujuan dari tinjauan literature review ini adalah untuk mengetahui pengembangan sistem informasi manajemen dengan Integrated Clincal Pathway terhadap mutu pelayanan keperawatan di Rumah Sakit.Methods: Studi ini menggunakan perangkat penelitian PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome) dengan mengambil sumber dari EBSCO, ProQuest, Scopus, JKI dan artikel lain.Results: Studi ini menunjukkan bahwa ICP yang terintegrasi dengan sistem informasi manajemen dapat menghemat waktu dan tenaga saat pemberian asuhan keperawatan professional.Conclusion: Penerapan sosialisasi, pelatihan dan evaluasi clinical pathway yang optimal dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit.
Optimalisasi Fungsi Manajemen Kepala Ruangan Melalui Manajemen Burnout Staf Keperawatan di Masa Pandemi Lia Dwi Jayanti; Hanny Handiyani; Krisna Yetti; La Ode A. Rahman; Nurdiana Nurdiana
Journal of Telenursing (JOTING) Vol 3 No 2 (2021): Journal of Telenursing (JOTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/joting.v3i2.2558

Abstract

This study aims to identify the management function of the head of the room, the level of staff burnout and develop problem solving solutions by preparing burnout management guidelines for nursing staff. The method used is a case study and analysis of results and implementation gaps with a discussion based on a literature review. The results showed that the perception of the head of the room related to the planning function was 53.7%, the organizing function was 59.3%, the manpower function was 53.7%, the directive function was 55.6% and the control function was 55.6%. The burnout level of nursing staff is in the medium category. The emotional exhaustion dimension scored 50.5%, the depersonalization dimension was 44.1% and the personal accomplishment dimension was 50.7%. In conclusion, the implementation of the draft guideline for burnout management can be carried out well. The involvement of the team, support from the Nursing Services Division and the Nursing Committee is needed in the preparation of the burnout management guide draft for nursing staff in hospitals. Keywords: Burnout, COVID-19, Function Management, Nurse Manager
Pengaruh Pemberdayaan Keluarga terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Perilaku Pencegahan Penularan TB Paru Anak Lestari, Tri Wiji; Jayanti, Lia Dwi
Jurnal Keperawatan Vol 17 No 3 (2025): Jurnal Keperawatan: September 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/keperawatan.v17i3.2616

Abstract

Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi kronis yang menjadi permasalahan Kesehatan utama secara global termasuk Indonesia. Kejadian TB paru pada anak disebabkan oleh ketidakberhasilan pengobatan. Untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan penularan TB Paru pada anak dapat dilakukan melalui pemberdayaan keluarga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberdayaan keluarga terhadap peningkatan pengetahuan dan perilaku pencegahan penularan TB paru pada anak. Penelitian ini menggunakan quasy eksperimental quasy eksperiment dengan non randomized control group pre-posttest design. Teknik pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuesioner, observasi, dan pengukuran. Data dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon Sign Rank Test, Mann-Whitney test, dan Spearman Rho. Sampel adalah keluarga yang memiliki anak dengan TB sebanyak 31 orang, dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan sebelum diberikan penyuluhan kesehatan pengetahuan dari 31 responden mayoritas dalam kategori cukup sebanyak 16 orang (51.7%) dengan hasil pre-test sikap dan perilaku mayoritas dalam kategori sifat positif sebanyak 16 orang (51.6%). Setelah diberikan penyuluhan kesehatan terjadi peningkatan dengan hasil pengetahuan baik mencapai 21 orang (67.7%), sikap dan perilaku meningkat sebanyak 18 orang (58.0%). Kesimpulan penelitian ini ada pengaruh penyuluhan kesehatan terhadap tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga mengenai pencegahan penularan TB anak yaitu dengan nilai signifikasi p=0.000.
Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Berbasis Media Audio Visual terhadap Pengetahuan tentang Tuberkulosis pada Anak Sekolah Dasar Jayanti, Lia Dwi; May Lorenna; Amalia, Lisa Rizky
Jurnal Keperawatan Vol 17 No 3 (2025): Jurnal Keperawatan: September 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/keperawatan.v17i3.2634

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan dunia. TB tidak hanya menyerang orang dewasa, namun juga anak-anak. Pemberian terapi TB pada anak masih ditemukan adanya ketidakberhasilan pengobatan, meliputi: pengobatan yang tidak benar, kegagalan pengobatan, dan putus pengobatan sehingga diperlukan edukasi yang tepat dan menarik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kesehatan berbasis media audiovisual terhadap pengetahuan tentang tuberkulosis pada anak. Penelitian ini merupakan pra-eksperimen dengan rancangan one group pre test-post test design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV, V dan VI yang berjumlah 60 orang diambil dengan metode simple random sampling. Data dianalisis menggunakan uji statistic paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan berbasis media audio visual (p-value = 0,001). Jumlah responden yang memiliki pengetahuan baik sebelum intervensi sebanyak 23 orang (38,3%) meningkat menjadi 58 orang (96,7%) setelah intervensi, sedangkan responden yang memiliki pengetahuan cukup sebelum intervensi berjumlah 33 orang (55%) mengalami penurunan menjadi 2 orang (3,3%) setelah intervensi. Setelah intervensi, tidak ada responden yang termasuk kategori pengetahuan yang kurang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan dengan media audio visual berpengaruh terhadap pengetahuan tentang tuberkulosis pada anak di SDN Gedawang 01 Kota Semarang.
Peran Media Permainan Balok dalam Edukasi Pencegahan Stunting terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja Lia Dwi Jayanti; May Lorenna; Erna Sulistyawati
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2026): Juli: Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v6i2.11048

Abstract

Prevalensi stunting pada anak masih tergolong tinggi dan menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius di tingkat nasional. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang, seperti penurunan produktivitas dan hambatan perkembangan kognitif. Oleh karena itu, diperlukan upaya penanggulangan yang komprehensif dan berkelanjutan. Salah satu strategi preventif yang dapat dilakukan adalah pemberian intervensi edukasi kepada remaja melalui media permainan balok stunting. Efektivitas intervensi dapat ditingkatkan dengan penggunaan media pembelajaran yang interaktif dan mudah dipahami. Menganalisis pengaruh edukasi pencegahan stunting melalui media permainan balok stunting terhadap pengetahuan dan sikap remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental melalui metode one-group pretest-posttest. Populasi penelitian adalah remaja di SMP Negeri 33 Semarang yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel berjumlah 30 responden yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon signed-rank. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 6,53 (pretest) menjadi 8,00 (posttest) dengan selisih 1,47. Rerata skor sikap meningkat dari 28,57 menjadi 29,97 dengan selisih 1,40. Nilai p-value 0,000 pada pengetahuan dan 0,013 pada sikap (p < 0,05). Edukasi pencegahan stunting melalui permainan balok stunting efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap positif remaja.
Stres Kerja Memicu Sindrom Kelelahan Pada Perawat Manajer di Masa Pandemi Covid-19 Lia Dwi Jayanti; Hanny Handiyani; Tuti Nuraini; La Ode A. Rahman; Prayetni Prayetni
Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jkmk.v5i2.1549

Abstract

Sindrom kelelahan menjadi masalah kesehatan akibat stres kerja yang dialami oleh semua manajer keperawatan di masa pandemi Covid-19. Perawat manajer rentan mengalami kelelahan karena beban kerja yang tinggi dan kurang waktu istirahat dalam melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer. Peningkatan stres kerja akan menimbulkan kelelahan psikis dan fisik perawat manajer. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi stres kerja sebagai faktor yang berhubungan dengan sindrom kelelahan perawat manajer di masa pandemi Covid-19.Desain penelitian menggunakan korelasi deskriptif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan terhadap 147 responden. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan estimasi proporsi. Analisis yang digunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji korelasi pearson. Sindrom kelelahan perawat manajer di masa pandemi Covid-19 sebesar 42,04%. Stres kerja perawat manajer di rumah sakit selama pandemi Covid-19 sebesar 57,71%. Terdapat hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan sindrom kelelahan (p=0,000). Stres kerja dapat memicu sindrom kelelahan perawat manajer di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini merekomendasikan agar pimpinan rumah sakit mengadakan pelatihan manajemen diri, membangun lingkungan kerja yang kondusif, dan meningkatkan kesejahteraan dengan pemberian insentif, gaji, serta penghargaan yang sesuai di masa pandemi. Dukungan organisasi untuk perawat manajer dengan pemberian waktu istirahat yang cukup, makanan sehat, program spiritual, dan olahraga di masa pandemi Covid-19.
Edukasi Interaktif sebagai Upaya Meningkatkan Pengetahuan Kesehatan Mental Remaja Isnaeni Anggun Sari; Lia Dwi Jayanti
ABDISOSHUM: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/abdisoshum.v5i1.7670

Abstract

Mental health is a crucial issue that needs attention among adolescents. Adolescents low level of mental health knowledge can impact their ability to recognize their current psychological conditions and how to obtain appropriate psychological assistance. The purpose of this community service activity is to increase the knowledge of Junior High School students regarding mental health through interactive educational workshops. The main focus of this community service activity is to increase mental health knowledge related to the characteristics of mental health, how to maintain mental health and overcome problems, and recognize myths and facts about mental health. The implementation method used a one-group pre-test and post-test design to evaluate the impact of education. The activity subjects were 30 junior high school students. The evaluation instrument was a mental health knowledge questionnaire administered before (pre-test) and after (post-test) the educational activity. The pre-test results showed that most participants had a limited level of mental health knowledge. After receiving mental health education, the post-test results showed an increase in knowledge scores in most participants. The research data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The analysis results showed a significant difference between knowledge scores before and after the educational activity (p < 0.05), indicating that mental health education was effective in improving the knowledge of junior high school students. This community service activity is expected to be a promotive and preventive effort in improving adolescent mental health literacy in the school environment.
Factors Associated with Bullying Behavior among Adolescents in a Junior High School Lia Dwi Jayanti; Rahma Wulan Safitri; Tri Wiji Lestari
International Journal of Health and Medicine Vol. 3 No. 1 (2026): January : International Journal of Health and Medicine
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/ijhm.v3i1.608

Abstract

Bullying is a form of aggressive behavior commonly experienced by adolescents and has significant impacts on both physical and mental health. Schools, as primary social environments for teenagers, often become settings where bullying occurs. Several factors contribute to this behavior, particularly peer influence, family roles, and social media use. This study aimed to analyze factors related to bullying behavior among adolescents in a junior high school, including respondent characteristics, peer influence, family roles, and social media usage, as well as their relationships with bullying behavior. This research used a quantitative approach with a cross-sectional design involving 71 eighth-grade students as respondents. Data were collected using structured questionnaires and analyzed with the Chi-Square test. The results showed significant relationships between peer factors (p=0.003), family roles (p<0.001), and social media use (p=0.001) with bullying behavior. A large proportion of respondents reported high social media usage (45.1%) and low family involvement (45.1%), while more than half (53.5%) were categorized as being at risk of engaging in bullying behavior. These findings indicate that adolescents are strongly influenced by their social environment, both offline and online. Negative peer interactions and limited family supervision can increase the likelihood of bullying behavior. In conclusion, peer factors, family roles, and social media use are significantly associated with bullying among adolescents. Therefore, collaboration between families, schools, and communities is essential through psychosocial assessments, increased family involvement, and character education programs to prevent and reduce bullying behavior.