Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan terhadap Karakteristik Fisikokimia Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus (Weber) Britton & Rose) Kering Novia Santi, Indri; Supartha Utama, I Made; Bintang Madrini, Ida Ayu Gede
Jurnal Hortikultura Indonesia (JHI) Vol. 12 No. 1 (2021): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.12.1.69-80

Abstract

Sebagai salah satu komoditas hortikultura, buah naga merah (Hylocereus polyrhizus (Weber) Britton & Rose) adalah komoditas yang mudah mengalami kerusakan setelah panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu pengeringan terhadap karakteristik fisikokimia buah naga merah kering. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah suhu pengeringan terdiri atas tiga taraf, yaitu 40, 50 dan 60 °C dan faktor ke-dua adalah lama waktu pengeringan terdiri dari tiga taraf, yaitu 15 jam, 20 jam dan 25 jam. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Potongan melintang buah naga merah dengan ketebalan 1 cm dikeringkan dengan oven pada suhu dan lama pengeringan sesuai perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan suhu 60 °C dan waktu pengeringan 20 jam menghasilkan buah baga merah kering terbaik berdasarkan nilai perbedaan warna (color difference) antara daging buah segar dan kering, rendemen, kadar air, aktivitas air, padatan terlarut total, asam tertitrasi total, dan vitamin C. Kata kunci: aktivitas air, asam tertitrasi total, color difference, padatan terlarut total
Keragaman Unsur Hara Nitrogen pada Lahan Sawah di Desa Maduran, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan Jawa Timur Wahyuni Mawadatin Niklah; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Made Anom Sutrisna Wijaya
Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno Vol. 4 No. 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Gedung GA, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Jl. Raya Bukit Jimbaran, Jimbaran, Kuta Selatan, Bali Telp/Fax: (0361) 701801

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JITPA.2019.v04.i01.p03

Abstract

Informasi keragaman pada suatu daerah dapat dijelaskan dengan membagi daerah tertentu ke dalam zona homogen. Proses homogenitas dalam sistem informasi geografis dilakukan dengan menggunakan interpolasi. Interpolasi spasial adalah memperkirakan nilai sebuah variabel lapangan yang tidak termasuk dalam sampel penelitian dan berlokasi di dalam area yang dicakup oleh lokasi sampel. Tujuan dari penelitian ini untuk menggambarkan keragaman unsur hara nitrogen dengan sifat pendukung tanah seperti EC (Electrical Conductivity), pH (Derajat keasaman), kadar air, SOM (Soil Organic Matter) pada lahan sawah di Desa Maduran, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur dengan luas 142 ha. Penelitian ini menggunakan analisis spasial IDW atau jarak inverse tertimbang. Teknik IDW mengasumsikan setiap titik memiliki pengaruh lokal, yang berbanding terbalik dengan kekuatan yang dipilih dari kejauhan. Unsur hara nitrogen tersedia pada lahan menunjukkan keragaman yang memiliki range termasuk kategori rendah hingga sedang, nitrogen pada lahan memiliki rata-rata sedang sebesar 0,25 persen. Distribusi nitrogen pada lahan termasuk kategori significant cluster yaitu distribusi secara kelompok dan memiliki hubungan pada setiap lokasi. Rata-rata sifat pendukung tanah pH, EC, SOM, dan kadar air masing-masing sebesar (7,25; 0,852 mS/cm; 22,43% dan 10,70%). Keragaman unsur hara nitrogen yang rendah terdapat pada lahan yang memiliki kadar air rendah, SOM gambut rendah, EC sangat rendah dan pH netral. Sedangkan unsur hara nitrogen sedang terdapat pada lahan kadar air sedang, SOM gambut sedang, EC sangat rendah hingga rendah dan pH netral.
Peningkatan Efisiensi Penggunaan Air Irigasi dengan Aplikasi Jadual Tanam Secara “Nyorog” pada Subak I Wayan Tika; I. A. Bintang Madrini; Sumiyati .
Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno Vol. 4 No. 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Gedung GA, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Jl. Raya Bukit Jimbaran, Jimbaran, Kuta Selatan, Bali Telp/Fax: (0361) 701801

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JITPA.2019.v04.i01.p05

Abstract

Salah satu program penting dalam intensifikasi budidaya padi adalah pengelolaan air irigasi yang efisien. Pada subak di Bali pelaksanaan jadual tanam biasanya dilakukan secara serenpak sehingga terjadi puncak kebutuhan air yang tinggi. Akibatnya sangat berisiko terhadap kekurangan atau kelebihan air irigasai pada subak tersebut. Kondisi demikian menyebabkan efisiensi penggunaan air irigasi pada subak menjadi rendah. Salah satu solusi untuk meingkatkan efisiensi penggunaan air irigasi tersebut adalah dengan melakukan jadual tanam tidak serenpak yang pada subak dikenal dengan istilah nyorog. Dengan demikian perlu dikaji besarnya peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi jika jadual tanam dilakukan secara nyorog Berdasarkan data yang telah dikompilasi diperoleh efisiensi penggunaan air irigasi yang dilakukan saat ini sebesar 76,52%. Saat ini pada obyek penelitian jadual tanam dibagi menjadi dua kelompok dengan beda jadual tanam antar kelompok tersebut sekitar satu bulan, dengan awal jadual tanam mulai Pebruari I. Jika dilakukan jadual tanam secara serempak pada Pebruari II diperoleh efisiensi penggunaan air irigasi sebesar 69,05%. Jika jadual tanam dilakukan secara nyorog dengan membagi subak menjadi empat kelompok dan setiap kelompok perbedaan jadual tanam sekitar setengah bulan serta awal jadual tanam pada Bulan Pebruari I maka diperoleh efisiensi penggunaan air irigasinya 86,52%. Dengan demikian jadual tanam secara nyorog dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi dari 69,05% menjadi 86,52%.
Perbandingan Kualitas Pengeringan Biji Kopi Arabika (Coffea arabica L.) dengan Para-Para dan Pengeringan Konvensional: Comparison of Arabica Coffee Bean (Coffea arabica L.) Drying Quality using Para-Para and Conventional Drying Methods Noviera Inggrit Kurnia; Yohanes Setiyo; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p04

Abstract

ABSTRAK Kopi Arabika Kintamani merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang memiliki karakteristik khas dan telah memperoleh status indikasi geografis. Namun, mutu biji kopi dari wilayah ini masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kadar air maksimum 12,5% sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI 01-2907-2008). Pengeringan merupakan tahapan krusial dalam proses pascapanen karena secara langsung memengaruhi kadar air dan kualitas akhir biji kopi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya, serta kadar air pada biji kopi Arabika yang dikeringkan menggunakan metode para-para dan metode konvensional. Perlakuan yang digunakan yaitu P0 (konvensional), P1 (rak atas), P2 (rak tengah), dan P3 (rak bawah). Analisis data dilakukan dengan pendekatan statistik deskriptif dan regresi linier sederhana. Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk mendukung interpretasi hubungan antara variabel lingkungan dan kadar air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu rata-rata pada P1 sebesar 37,5°C, kelembaban udara 49,8%, dan intensitas cahaya 136,5 lux, menghasilkan kadar air akhir sebesar 11,2%. Pada P3, suhu rata-rata tercatat 34,9°C, kelembaban udara 57,2%, dan intensitas cahaya 63,0 lux, dengan kadar air akhir 16,9%. Perlakuan P0 dan P2 masing-masing menunjukkan kadar air akhir sebesar 8,5% dan 10,0%. Analisis regresi menunjukkan adanya hubungan kuat antara waktu pengeringan dan penurunan kadar air pada semua perlakuan. Metode para-para, khususnya pada P1 (rak atas), menunjukkan pengeringan yang lebih stabil dan sesuai standar mutu, sehingga dapat direkomendasikan sebagai metode alternatif dalam menjaga kualitas kopi Arabika.   ABSTRACT Kintamani Arabica coffee is one of Indonesia’s flagship commodities, recognized with a Geographical Indication status due to its distinctive flavor and regional characteristics. However, coffee beans from this region still face challenges in meeting the maximum moisture content requirement of 12.5% as stated in the Indonesian National Standard (SNI 01-2907-2008). Drying is a critical post-harvest stage that directly affects the moisture level and final quality of coffee beans. This study aims to compare temperature, humidity, light intensity, and moisture content of Arabica coffee beans dried using two methods: the para-para drying rack system and conventional sun drying. The treatments applied were P0 (conventional method), P1 (top rack), P2 (middle rack), and P3 (bottom rack). Data analysis was carried out using descriptive statistics and simple linear regression. The results were presented in tables and graphs to support the interpretation of relationships among environmental variables and moisture content. The study found that P1 recorded an average temperature of 37.5°C, relative humidity of 49.8%, and light intensity of 136.5 lux, resulting in a final moisture content of 11.2%. In comparison, P3 recorded a temperature of 34.9°C, humidity of 57.2%, and light intensity of 63.0 lux, with a final moisture content of 16.9%. P0 and P2 had final moisture contents of 8.5% and 10.0%, respectively. Regression analysis indicated a strong correlation between drying time and moisture reduction across all treatments. Drying at P1 (upper rack) demonstrated greater stability and compliance with quality standards, thus it can be recommended as an alternative method to preserve Arabica coffee quality.
Kajian Keterlibatan Family Restaurant Dalam Pengelolaan Sisa Hasil Produksi/Limbah Restaurant Ni Kadek Sita Natasha Dewi; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Yohanes Setiyo
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): INPRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dinamika timbulan sampah, komposisi jenis sampah, keterlibatan restoran, serta konsistensi praktik pengelolaan limbah di Kota Denpasar berdasarkan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui kuesioner berbasis skala Likert dan Guttman yang disebarkan kepada sejumlah restoran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar restoran menghasilkan sampah setiap hari dengan dominasi sampah organik. Pemilahan sampah telah dilakukan secara terbatas, namun masih belum menyeluruh dan berstandar. Praktik pengelolaan seperti penggunaan ulang bahan kemasan, penyediaan pelatihan kepada karyawan, dan kerja sama dengan bank sampah juga belum sepenuhnya merata. Berdasarkan analisis mean score dan distribusi frekuensi, diketahui bahwa keterlibatan dalam kegiatan 3R berada pada kategori cukup baik, meskipun terdapat aspek-aspek yang memerlukan peningkatan. Sementara itu, hasil analisis skala Guttman menunjukkan indeks reproducibility sebesar 0.767 dan scalability sebesar 0.812, menandakan bahwa konsistensi jawaban responden cukup tinggi dan skala yang digunakan memiliki daya diskriminasi yang kuat. Temuan ini memberikan gambaran bahwa meskipun sebagian restoran telah menunjukkan inisiatif dalam pengelolaan sampah, implementasi prinsip 3R belum sepenuhnya optimal dan masih membutuhkan dukungan kelembagaan serta penguatan pada level operasional.
Pengaruh Pelapisan Gel Aloe Vera (Aloe barbadensis Miller) dengan Campuran Karagenan terhadap Karakteristik Buah Pepaya (Carica papaya L) Potong Segar selama Penyimpanan Reka Evelina Gultom; Ida Ayu Rina Pratiwi Pudja; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i01.p10

Abstract

Fresh-cut papaya fruit (Carica papaya L) is one of the minimally processed products that has gonethrough the process of cutting and peeling so that it tends to be easily damaged and physiologicalchanges due to peeling and cutting compared to whole fruits. This study aims to determine the effect ofaloe vera gel with carrageenan mixture on the shelf life of freshly cut papaya fruits during storage. Thisstudy used a Simple Complete Random Design with a level of 6 treatments, namely aloe vera gel withconcentrations of 0%, 10, 15%, 20%, and 30% mixed with 2% carrageenan. The experiment wasrepeated three times and the storage temperature (10±1°C) was stored for 12 days, the parametersobserved were weight loss, hardness, moisture content, vitamin C content, total dissolved solids, colorand cooling rate. The results of the study showed that the interaction of aloe vera gel had a real effecton the change in the quality of freshly cut papaya. Aloe vera gel coating with carrageenan mixture asan edible coating material has a real effect compared to freshly cut papaya fruit without treatment forweight loss, fruit hardness, total titrated acid, total dissolved solids, vitamin C content, moisture content,color, and cooling rate, The best concentration of aloe vera gel coating with carrageenan mixture thatcan maintain the freshness condition of freshly cut papaya fruit is 2% carrageenan with 30% aloe veragel extract.
Pengujian Kapasitas Kerja Mesin Pencacah Sampah Organik Hasil pada Berbagai RPM Erni Yanti Friska Zagoto; I Nyoman Sucipta; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i01.p11

Abstract

The Reduce, Reuse, Recycle Waste Management Site (TPS 3R) is an important facility in supportingsustainable waste management. One of them is at TPS 3R PUNGGUL Hijau, Ambiansemal District, BadungRegency, Bali Province. Previously, the waste shredder at TPS 3R Punggul Hijau Ambiansemal had aproblem where the engine capacity was not known at various engine rotation speeds and there was astagnation. For that, it is necessary to obtain a different RPM treatment capacity, for the stagnation problem,treat a different hopper angle. The purpose is to compare the engine capacity at RPM 800, 1000, 1600, 2000,and 2400 RPM with a hopper tilt angle of 40 degrees, 60 degrees, and to find out the size of the shreddedresults. To solve the problem, testing is needed using measuring instruments, namely tachometers,stopwatches, and scales. Treatment of 40 degree and 60-degree angles where RPM 800,1000,1600,2000,2400is repeated 3 times. The shredding process for each RPM has a duration of 1 hour, the material is put into theshredder machine differently at each speed. The 40-degree angle of the waste is put into the hopper in stageswith an amount of 5 kg, until the organic waste in the hopper is half gone. After the hopper is changed to 60degrees, the amount of waste is put in 7 kg in stages. The results of the good 40-degree angle test RPM 1600produces a shredding of 294.13 kg / hour, with a standard deviation of 0.30. After the angle is changed to 60degrees by increasing the capacity which causes the hopper to grow larger and is tried at different RPMs, theresults are also different. Then the highest test at RPM 2000, produces a shredding of 400, 96 kg / hour, witha standard deviation of 0.13. The smallest size of the chopped result for 40 degrees is 7 cm at 2400 RPM.And 60 degrees the smallest size is 2400 RPM, which is 3 cm.
Karakteristik Larutan Mikroorganisme Lokal (MOL) Berbasis Kotoran Kelelawar: Charateristics of Bat Dung-Based Local Microorganism (MOL) Solution Irwansyah Irwansyah; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Nyoman Sucipta; Hertiyana Nur Annisa; Mentari Kinasih
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p12

Abstract

Kotoran kelelawar kaya akan mikroba, termasuk bakteri pelarut fosfat yang mendukung ketersediaan fosfat bagi tanaman. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh konsentrasi dan lama fermentasi terhadap pembuatan larutan MOL dari kotoran kelelawar. Dalam penelitian ini, dilakukan perlakuan dengan dua faktor utama: konsentrasi kotoran kelelawar dan lama fermentasi. Kotoran kelelawar dilarutkan dalam air kelapa dan ditambahkan gula aren, dengan variasi konsentrasi 150 g, 300 g, 450 g, dan 600 gram. Fermentasi dilakukan selama 1 minggu, 3 - 5 minggu. Tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali, hingga total terdapat 36 unit percobaan. Parameter pengamatan meliputi Total Plate Count (TPC) dan Bakteri Asam Lactat (BAL). Data diperoleh dianalisis mengunakan analisis ragam Analysis of Varriance (Anova) dengan analisis uji F sesuai perlakuan pengolahan data dengan Software IBM SPSS Statistic versi 25. Hasil uji menyatakan bahwasanya kombinasi perlakuan terbaik untuk pembuatan MOL dari kotoran kelelawar adalah pada perlakuan konsentrasi 300 gram kotoran kelelawar dan lama fermentasi 5 minggu dengan jumlah koloni bakteri terbanyak sebesar 7.28 x 1010cfu/ml dan jumlah Bakteri asam laktat (BAL) sebesar 3.67 x 108 Penelitian ini memberikan informasi penting dalam mengoptimalkan pembuatan MOL dari kotoran kelelawar untuk meningkatkan kesehatan tanah dan pertumbuhan tanaman.
Dinamika Suhu Pengomposan Sampah Organik Rumah Tangga dengan Keranjang BioKomposter Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Ni Nyoman Sulastri
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i18.

Abstract

The objective of this study was to find the content of macro nutrients and micro household waste which is varied with rice hulls in bio composter or bioreactor garden bag. The windrow system composting method was used in this study. Household organic waste material act ed as a source of nitrogen and rice hulls as a carbon source or as a bulking agent so that C: N ratio of material meets the composting requirements. Analysis results of several parameters of household organic waste material and rice hulls i.e.moisture content (%): 76. 29 and 9.48, organic matter (%): 98.17 and 77.92, pH: 4.32 and 6.56, Salinity (mS / cm):4.03 and 0.21, C: N ratio: 15.72 and 112.57, total N (%): 0.87 and 3.81, fat content (% BB): 13.27 and 9.48, vitamin C (mg /100 g):65.11 and 92.99 for each ingredient respectively. Analysis of macro and micro nutrient parameters of organic household waste and rice husk material showed that each material was suitable for composting. The temperature observed from day 2 to day 14. Thermophilic phase was achieved on the 2nd day of com posting which the temperature reached 43 OC after the acclimation process. The 55 OC of optimum temperature achieved ed on the day 9 ~10 of composting and then decreased the temperature over the next day, the observations made for 14 days to see the dynamics of temperature changes from the thermophilic stage to the mesophilic stage
Pengaruh Penambahan EM-4 Terhadap Kualitas Kompos Kotoran Gajah Irfan Fadel; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Sumiyati Sumiyati
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 1 (2021): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i01.p14

Abstract

Elephant dung is rich in cellulose and lignin. Elephant dung has a color that varies from greenish to blackish, depending on the food consumed (Mathew & Mary, 2015). Meanwhile, elephant dung has not been used much. Therefore, elephant dung has not been fully utilized. elephant dung has not been fully utilized. Composting is an option to make elephant dung more useful. The purpose of this study was to determine the effect of the addition of EM-4 bioactivator on temperature, pH, moisture content, C / N ratio, organic matter produced and to determine the concentration of the EM-4 bioactivator solution which produces the best quality compost from elephant dung and in accordance with Indonesian National Standard (SNI) 19-7030-2004). This study used a completely randomized design (CRD). The treatment used 50 kg of elephant dung for one treatment and each concentration of EM-4 0 ml (control), 50 ml, 100 ml and 150 ml. The four treatments were repeated 2 times in order to obtain 8 experimental units. Observation parameters include compost temperature, pH, moisture content, organic matter, carbon, nitrogen, C / N ratio. The results of composting elephant dung with EM-4 solution for 2 months, it can be seen that the addition of EM-4 solution has an effect on temperature, water content, C / N ratio and organic matter while pH does not show a significant effect. In the treatment of adding 150 ml of EM-4 to 50 kg of elephant manure, the temperature reached thermophilic on day 28, namely 46.1 ͦC, C / N ratio 19.63 and 35% organic matter. All treatments comply with SNI 19-7030-2004.