Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Modifikasi Keranjang Biokomposter Sederhana untuk Sampah Organik Rumah Tangga I Komang Gede Habi Wijaya; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Ida Bagus Putu Gunadnya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p14

Abstract

Abstrak Modifikasi keranjang biokomposter sederhana dilakukan karena masih terdapat kekurangan yaitu tiang penyangga tidak kuat menopang jaring, jaring yang digunakan tidak kokoh, lubang jaring terlalu besar dan tidak adanya alas dudukan. Tujuan dari penelitian ini untuk memodifikasi keranjang biokomposter hasil rancangan sebelumnya, menguji kinerja keranjang biokomposter sederhana skala rumah tangga. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap memodifikasi bagian rangka dengan penambahan tiang penyangga, alas dudukan pada bagian bawah, selanjutnya mengganti jaring. Tahap kedua yaitu uji kinerja dengan pengomposan yang dilakukan selama 60 hari. Sampah organik rumah tangga dan sekam padi sebagai bahan baku dengan perlakuan: A1 (1:0), A2 (1:1), A3 (1:2). Kontruksi rangka dinyatakan aman karena dapat menopang beban kompos seberat 32 kg dengan tegangan (?) tarik rangka yaitu 0,275 N/mm2 yang lebih kecil dari tegangan (?) ijin bahan yaitu 48,1 N/mm2. Hasil modifikasi yaitu, memperkokoh rangka dengan menambah tiang penyangga sebanyak 4 buah, mengganti jaring dengan ukuran 0,5 mm, menambah alas dudukan berukuran 10 cm dari permukaan tanah. Berdasarkan hasil kinerja keranjang biokomposter hasil modifikasi menunjukkan bahwa ke 6 keranjang memiliki kinerja yang sama, untuk komposisi kompos yang paling baik dihasilkan pada perbandingan A1 (sampah rumah tangga tanpa campuran), karena bahan baku sampah rumah tangga sudah memenuhi syarat C/N rasio dari awal hingga akhir pengomposan. Abstract Modification of a simple biocomposter basket was carried out because there were still shortcomings i.e. the support poles were not strong enough to support the net, the net used was not sturdy, the net hole was too large and there was no seat base. The purpose of this study was to modify the previously designed biocomposter basket, to test the performance of a simple household-scale biocomposter basket. The research was carried out in two stages, namely the stage of modifying the frame with the addition of support poles, the base of the seat at the bottom, then replacing the net. The second stage is a performance test with composting carried out for 60 days. Household organic waste and rice hull as raw materials were treated with: A1 (1: 0), A2 (1: 1), and 3 (1: 2). The frame construction is declared safe because it can support a compost load of 32 kg with tensile stress (?) of the frame, which is 0.275 N/mm2 which is smaller than the allowable stress (?) of the material, which is 48.1 N/mm2. The result of the modification is to strengthen the frame by adding 4 support poles, replacing the net with a size of 0.5 mm, and adding a seat base measuring 10 cm from the ground. Based on the results of the performance of the modified biocomposter basket, it shows that the 6 baskets have the same performance, for the best compost composition is produced at a ratio of A1 (household waste without mixture) because the raw materials for household waste have met the requirements of the C/N ratio from the beginning to the end of composting.
Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Berbahan Sampah Buah-Buahan dan Sayuran pada Rasio Bahan dan Headspace yang Berbeda I Putu Yogi Krisnadi Rahardi; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Made Anom Sutrisna Wijaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p15

Abstract

Abstrak Pengomposan pupuk organik cair (POC) perbedaan volume bahan dengan headspace bisa dipakai sebagai indeks untuk mengetahui efektivitas pengomposan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio bahan dan headspace terhadap laju pengomposan dan kualitas POC yang dihasilkan serta untuk menentukan rasio bahan dan headspace yang menghasilkan kualitas POC terbaik sesuai dengan persyaratan teknis minimal POC dari Menteri Pertanian Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.261/KPTS/SR.310/M/4/2019. Pengomposan menggunakan sistem anaerobik dan bahan yang digunakan berupa sampah buah-buahan dan sayuran. Pada penelitian ini memakai metode Rancangan Acak Lengkap satu faktor. Adapun faktor yang digunakan berupa rasio bahan dan headspace yaitu 1:5, 2:4, 3:3, 4:2, dan 5:1. Kelima perlakuan dilakukan 3 kali pengulangan sehingga didapat 15 unit percobaan. Parameter penelitian meliputi kadar awal bahan, total mikroba bioaktivator, suhu bahan dan POC, pH bahan dan POC, penyusutan ketinggian bahan, kadar nitrogen (N-total), fosfor (P), kalium (K), C-organik, C/N rasio, bahan organik (OM), electrical conductivity (EC), dan total bakteri POC. Data yang didapat dari hasil pengamatan dianalisis dengan uji ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Secara umum kualitas POC yang dihasilkan sesuai syarat teknis minimal dengan suhu POC 29,3°C-29,8°C, pH POC 5,3-6,3, kadar nitrogen 2,01%-2,15%, fosfor 2,02%-2,09%, kalium 2,03%-2,08%, C-organik 2,39%-3,69%, dan total bakteri POC 5,31×107-3,12×109cfu/ml. Rasio bahan dan headspace berpengaruh terhadap laju pengomposan dan kualitas POC yang dihasilkan. Perlakuan P2 (2:4) merupakan perlakuan terbaik berdasarkan hasil analisis data dan hasil dari parameter yang digunakan. Abstract Composting liquid organic fertilizer, composting efficiency may be gauged using the variation in material volume with headspace. The purpose of this study is to ascertain how the ratio of materials to headspace affects the rate of composting and the quality of the POC that results, as well as to identify the ratio of materials to headspace that yields the best POC quality in accordance with the minimal technical POC requirements based here on Decision of the Minister of Agriculture of the Republic of Indonesia No. 261/KPTS/SR.310/M/4/2019. Composting uses an anaerobic system and the materials used are fruit and vegetable waste. The method used is a one-factor Completely Randomized Design.The factor used is the ratio of material and headspace, namely 1:5, 2:4, 3:3, 4:2, and 5:1. The five treatment were repeated 3 times to obtain 15 experimental units. The research parameters include the initial content of the material, total microbial bioactivator, temperature, pH, material height shrinkage, nitrogen, phosphorus, potassium, and C-organic content, C/N ratio, organic matter, EC, and total POC bacteria. Data obtained from observations were analyzed by ANOVA test and continued with Duncan's test. In general, the quality of the POC produced complies with the minimum technical requirements with POC temperature 29,3°C-29,8°C, POC pH 5,3-6,3, nitrogen content 2,01%-2,15%, phosphorus 2,02%-2,09%, potassium 2,03%-2,08%, C-organic 2,39%-3,69%, and total POC bacteria 5,31×107-3,12×109cfu/ml. The ratio of materials and headspace affect the rate of composting and the quality of the resulting POC. Treatment P2 (2:4) is the best treatment based on results of data analysis and parameters used.
Laju Pengomposan Sampah Organik Rumah Tangga pada Berbagai Konsentrasi Mol Air Cucian Beras Kadek Agus Krisna Bayu; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Made Anom Sutrisna Wijaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p12

Abstract

Abstrak Pengomposan adalah salah satu solusi dalam mengolah sampah organik rumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui laju pengomposan sampah organik rumah tangga pada berbagai konsentrasi MOL air cucian beras dan untuk mendapatkan konsentrasi MOL air cucian beras yang menghasilkan kompos sampah organik rumah tangga terbaik sesuai dengan persyaratan teknis minimal kompos padat berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No.261/KPTS/SR.310/M/4/2019. Perlakuan dengan menggunakan 30 kg sampah organik rumah tangga untuk satu perlakuan dan masing-masing mengandung konsentrasi MOL air cucian beras 0 ml (kontrol), 30 ml, 60 ml, 90 ml, 120 ml, dan 150 ml. Ke-enam perlakuan tersebut dilakukan 2 kali pengulangan sehingga didapatkan 12 unit percobaan. Parameter pengamatan meliputi kadar awal bahan, Total Plate Count (TPC), suhu, pH, kadar air, electrical conductivity (EC), karbon, nitrogen, C/N rasio, bahan organik (OM). Data yang diperoleh dianalisis dengan Metode Analisis Statistik Deskriptif. Hasil penelitian pengomposan selama 1 bulan menunjukkan seluruh perlakuan memiliki laju pengomposan yang berbeda-beda. Kompos yang dihasilkan memiliki nilai pH 6,8-7,2, kadar air sebesar 25,97%-33,42%, C-organik 30,13%-34,14%, N-total 1,26%-2,21%, C/N rasio 13,63%-26,37%, dan OM 51,95%-58,86%. Perlakuan penambahan 120 ml MOL air cucian beras pada 30 kg sampah organik rumah tangga adalah perlakuan terbaik karena mencapai suhu lingkungan pada hari ke-25, serta mencapai pH netral pada hari ke-21 dan telah memenuhi syarat kompos padat berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No.261/KPTS/SR.310/M/4/ 2019. Abstract Composting is one of solutions in household organic waste processing. The purpose of the research was to determine the rate of household organic waste composting at different concentrations of rice water MOL and to obtain the concentration of rice water MOL that produce the best household organic waste compost that accordance with minimum technical requirements of solid compost based on Decree of the Minister of Agriculture of Republic Indonesia No.261/KPTS/SR.310/M/4/2019. The treatment used 30 kg of household organic waste for one treatment and each concentrations of rice water MOL was 0 ml (control), 30 ml, 60 ml, 90 ml, 120 ml, 150 ml. The six treatments were repeated 2 times so that obtain 12 experimental units. Observation parameters include initial material content, Total Plate Count (TPC), temperature, pH, water content, electrical conductivity, carbon, nitrogen, C/N ratio, organic matter (OM). The data obtained were analyzed using Descriptive Statistical Analysis Method. Result of the composting study for 1 month showed that all the treatments had different rates of composting. The result of compost has pH value 6,8-7,2, water content 25,97%-33,42%, C-organik 30,13%-34,14%, N-total 1,26%-2,21%, C/N ratio 13,63%-26,37%, and OM 51,95%-58,86%. The treatment of adding 120 ml rice water MOL to 30 kg of household organic waste is the best treatment because it can reached ambient temperature on the 25th day and reached neutral pH on the 21st day and has met requirements of solid compost based on the Decree of the Minister of Agriculture of the Republic Indonesia No.261/KPTS/SR.310/M/4/2019.
Efisiensi Kinerja Traktor Singkal dan Traktor Rotari pada Pengolahan Tanah di Subak I Wayan Tika; Sumiyati Sumiyati; Ni Nyoman Sulastri; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Mentari Kinasih
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p02

Abstract

Abstrak Sebelum petani Subak mengenal traktor, pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan cangkul atau bajak singkal yang ditarik oleh ternak. Pengolahan tanah dengan traktor yang dilengkapi dengan komplemen bajak singkal atau bajak rotari tidak dapat dihindari terjadinya kasus tumpang tindih (overlap) hasil pengolahan, sehingga hasil tanah olahan menjadi tidak efisien. Tumpang tindihnya hasil pengolahan tersebut terlihat dari perbedaan hasil tanah yang diolah. Berdasarkan kondisi tersebut diperlukan kajian efisiensi pengolahan tanah pada Subak dengan menggunakan traktor singkal dan traktor rotari pada pengolahan tanah tahap pertama. Efisiensi kerja traktor diukur berdasarkan perbandingan antara kerja teoritis dan kerja riil. Kerja teoritis diukur berdasarkan lebar komplemen alat olah baik bajak singkal maupun rotary serta rata-rata kecepatan gerak maju traktor saat mengolah tanah. Kerja riil diukur berdasarkan hasil kerja secara nyata di lapangan yaitu luasan lahan yang berhasil diolah dalam rentang waktu tertentu. Data kerja riil juga dikonfirmasi berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa operator traktor. Dari hasil analisis data diperoleh efisiensi kerja traktor singkal sebesar 77,3% dan traktor rotari 55,2%. Abstract Before Subak farmers were familiar with tractors, land preparation was carried out using hoes or single-handed plows pulled by cattle. Land preparation with a tractor equipped with a complementary or rotary plow cannot be avoided in cases of overlap of processing results so that the processed soil results become inefficient. The overlapping results of the processing can be seen from the differences in the results of the processed soil. Based on these conditions, it is necessary to study the efficiency of tillage in Subak using single-axle tractors and rotary tractors in the first stage of tillage. Tractor work efficiency is measured based on a comparison between theoretical work and real work. Theoretical work is measured based on the width of the complement of the tiller, both short and rotary plows, and the average speed of the tractor's advance when cultivating the land. Real work is measured based on real work results in the field, namely the area of ??land that has been successfully processed within a certain time span. Real work data was also confirmed based on the results of discussions with several tractor operators. From the results of the data analysis, it was obtained that the work efficiency of the short tractor was 77.3% and that of the rotary tractor was 55.2%.
Efisiensi Penggunaan Air Irigasi pada Saluran Sekunder di Daerah Irigasi Tungkub Mentari Kinasih; Ni Nyoman Sulastri; I Wayan Tika; Sumiyati Sumiyati; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Made Darmayasa
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p23

Abstract

Abstrak Distribusi air irigasi yang baik akan menghasilkan produksi yang baik dan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Efisiensi sebagai faktor yang sangat penting dalam skema irigasi karena menentukan kinerja jaringan irigasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan efisiensi penggunaan air irigasi di DI Tungkub pada saluran sekunder. Penelitian ini mengambil data debit langsung di 11 titik di saluran sekunder. Data iklim diperolah dari NASA POWER dan BMKG Wilayah III Denpasar. Data curah hujan dari 3 stasiun hujan (tibubeneng, kapal, dan mengwi gede). Luas areal sawah yang diamati adalah seluas 416 Ha (Hulu), 349 Ha (Tengah), dan 164 Ha (Hilir). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zona A memiliki tingkat efisiensi penggunaan tertinggi sebesar 68% terjadi di Mei I dan terendah 14,1% di Maret I. Zona B memiliki efisiensi penggunaan tertinggi sebesar 100% (terjadi di periode April I, April II, Juni II, dan Juli I) dan terendah 0% pada periode Mei I dan Mei II. Zona C memiliki efisiensi penggunaan tertinggi sebesar 100% terjadi pada Juni I dan Juni II, sedangkan efisiensi penggunaan yang terendah terjadi di Maret I sebesar 35%. Abstract Good distribution of irrigation water will produce abundant harvests. It will improve the welfare of farmers. The efficiency of water utilization is important in irrigation schemes because it determines the performance of the irrigation network. This research aims to obtain the efficiency of irrigation water in DI Tungkub in secondary channels. This research took direct debit data at 11 points in the secondary channel. Climate data was obtained from NASA POWER and BMKG Region III Denpasar. Rainfall data was obtained from 3 rain stations (Tibubeneng, Kapal, and Mengwi Gede). The area of ??rice fields observed was 416 Ha (Upstream), 349 Ha (Central), and 164 Ha (Downstream). The research results show that Zone A has the highest usage efficiency level of 68% which occurred in May I and the lowest 14.1% in March I. Zone B has the highest usage efficiency of 100% (occurring in the periods April I, April II, June II, and July I), and the lowest was 0% in the May I and May II periods. Zone C had the highest usage efficiency of 100% which occurred in June I and June II, while the lowest usage efficiency occurred in March I at 35%.
Analisis Kinerja Distribusi Air Irigasi pada Temuku di Subak I Wayan Tika; Mentari Kinasih; Ni Nyoman Sulastri; Sumiyati Sumiyati; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p27

Abstract

Abstrak Gangguan distribusi air juga kadang-kadang disebabkan oleh adanya sampah dan faktor pemias (penyusutan debit) serta mengabaikan aliran numbak (aliran lurus) dan ngerirun (aliran berbelok). Dengan pemahaman seperti itu maka petani (krama subak) yang lahannya terletak di hilir cendrung mendapatkan kuota air yang kurang dari seharusnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja manajemen distribusi air irigasi sesuai nilai dan kriteria RPM pada subak tradisional dan subak semi teknis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kuantitaif yang menjelaskan peristiwa berdasarkan nilai RPM dari 30 bangunan bagi (temuku) pada subak di Kabupaten Gianyar. Hasil penelitian menunjukkan 30% memiliki kinerja distribusi air irigasi yang sangat kurang, 30% dengan kriteria kinerja kurang, 13% dengan kriteria kinerja cukup, dan 27% dengan kriteria kinerja baik. Dari hasil tersebut juga dapat diperoleh dimensi baru dari bangunan bagi pada subak dengan pendekatan formula proporsional yang melibatkan variabel luasan subak yang diberikan air irigasi, luasan subak di hilir, serta koefisien gangguan aliran air sekitar 1,05 sampai 1,1. Abstract Disturbances in water distribution are also sometimes caused by the presence of rubbish and biasing factors (decreased discharge) also ignoring the flow of numbak (straight flow) and ngerirun (curved flow). With this understanding, farmers (krama subak) whose land is located downstream tend to get less water quota than they should. This research aims to determine the performance of irrigation water distribution management according to RPM values ??and criteria in traditional subak and semi-technical Subak. This research uses a descriptive-quantitative method that explains events based on the RPM values ??of 30 buildings for (temuku) in Subak in Gianyar Regency. The research results showed that 30% had very poor irrigation water distribution performance, 30% had poor performance criteria, 13% had sufficient performance criteria, and 27% had good performance criteria. From these results, it is also possible to obtain a new dimension of the subak building using a proportional formula approach involving variables of the area of ??the subak provided with irrigation water, the area of ??the subak downstream, as well as a water flow disturbance coefficient of around 1.05 to 1.1.
Aplikasi Medan Elektromagnetik Solenoida terhadap Pertumbuhan Selada dalam Sistem Hidroponik Rakit Apung Maulana, Arya; Budisanjaya, I Putu Gede; Madrini, Ida Ayu Gede Bintang
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 1 (2024): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p21

Abstract

Selada merupakan sayuran yang banyak dikonsumsi di Indonesia. Salah satu cara membudidayakan selada adalah menggunakan hidroponik dengan sistem rakit apung dan pemanfaatan teknologi lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang lebih baik adalah menggunakan paparan medan elektromagnetik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan hasil terbaik dari variasi paparan medan elektromagnetik pada pertumbuhan selada berupa jumlah daun, panjang akar, berat segar, dan berat kering. Penelitian ini menggunakan perangkat solenoida sebagai sumber medan elektromagnetik. Perlakuan pada penelitian ini disajikan sebanyak tiga, yaitu T0 (merupakan variabel tanpa perlakuan medan elektromagnetik), T1 mempunyai medan elektromagnetik 0,00027 Tesla, dan (T2) mempunyai medan elektromagnetik 0,00047 Tesla. Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 5 kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA dan Uji BNT 5%. Perlakuan dengan menggunakan paparan medan elektromagnetik pada pertumbuhan salada dapat berpengaruh nyata pada variabel pengamatan. Hasil yang signifikan didapatkan oleh variabel (T2) yang mendapatkan hasil rata-rata jumlah daun sebanyak 11,7 helai, rata-rata panjang akar sepanjang 35,8 cm, jumlah total berat segar seberat 114,53 gram, dan jumlah total berat kering seberat 12,56 gram. ABSTRACT Lettuce is vegetable that is widely consumed in Indonesia. One way to cultivate lettuce is using hydroponics with floating raft system and further technology utilisation to get better results is using electromagnetic field. The purpose of this study is to get best results from variations in electromagnetic field on lettuce growth in the form of number of leaves, root length, fresh weight, and dry weight. This research uses solenoid as a source of electromagnetic field. The treatments in this study are presented as three, namely (T0) without electromagnetic field, (T1) has an electromagnetic field 0.00027 Tesla, and (T2) has an electromagnetic field 0.00047 Tesla. The research design used in this study was completely randomised design with 3 treatments and 5 replications. The data obtained were analysed using ANOVA and LSD 5% test. Treatment using electromagnetic field on lettuce growth can significantly affect the observation variables. Significant results were obtained by the (T2) which obtained average number of leaves of 11.7 strands, average root length of 35.8 cm, total fresh weight of 114.53 grams, and the total dry weight of 12.56 grams.
Efisiensi Kinerja Traktor Singkal dan Rotari pada Proses Nyacahin Di Subak Tika, I Wayan; Madrini, Ida Ayu Gede Bintang; Sumiyati, Sumiyati; Sulastri, Ni Nyoman; Kinasih, Mentari
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p17

Abstract

Abstrak Kegiatan pengolahan tanah di subak dapat mengurangi perkembangan tanaman pengganggu (gulma), dapat menggemburkan tanah, dan mengondisikan sifat biofisik tanah. Pengolahan tanah pada kedalaman tertentu mampu memberikan hasil yang cocok bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Saat ini pengolahan tanah sawah pada subak di Bali umumnya menggunakan traktor tangan baik yang berkomplemen bajak singkal maupun bajak rotari. Jika menggunakan bajak singkal tahapan pengolahan tanah meliputi makal (pembalikan tanah), nyacahin (memperkecil ukuran bongkahan tanah), dan selanjutnya ngasahan (meratakan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi pengolahan tanah pada pengolahan tanah tahap kedua di subak dengan menggunakan traktor singkal dan traktor rotari. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan pengukuran kapasitas keja riil (lapangan) dari traktor yang digunakan pada saat pengolahan tanah. Beberapa asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kondisi teknis dari traktor-traktor yang digunakan, komplemen-komplemen traktor yang digunakan, dan keterampilan operator diasumsikan sama. Hasil penelitian menunjukkan kinerja teoritis dan kinerja riil diperoleh efisiensi kinerja traktor rotari pada proses nyacahin (pengolahan tanah tahap kedua) pada subak sebesar 41% dan efisiensi kinerja traktor singkal sebesar 17,8%. Salah satu penyebab rendahnya efisiensi kinerja traktor singkal pada proses nyacahin adalah olahan tanah dalam sekali lintasan mendapatkan hasil yang kurang halus, sedangkan olahan tanah dengan traktor rotari menghasilkan tanah yang halus. Topografi lahan dan ketersediaan air merupakan faktor yang juga besar pengaruhnya terhadap nilai efisiensi kinerja traktor, selain faktor alat dan operator. Abstract Land processing activities in Subak can reduce the development of weeds, loosen the soil, and condition the biophysical properties of the soil. Subak in Bali is generally processed using hand tractors (either equipped with singkal plows or rotary plows). If using a singkal plow, the stages of tillage include makal (turning the soil), nyacahin (reducing the size of the chunks of soil), and then ngasahan (leveling). This research aims to determine the efficiency of land processing in the second stage of land processing in Subak using singkal tractors and rotary tractors. This research uses the observation method and measures the real (field) working capacity of the tractor used during land processing. Some of the assumptions used in this research are that the technical condition of the tractors used, the tractor accessories used, and the operator's skills are assumed to be the same. The results showed that the performance efficiency of the rotary tractor in the nyacahin process (second stage of tillage) in Subak was 41% and the performance efficiency of the singkal tractor was 17.8%. The low-performance efficiency of single tractors in the nyacahin process causes processing the soil in one pass to produce results that are less than fine, whereas processing the soil with a rotary tractor produces fine soil. Land topography and water availability are factors that also influence the efficiency value of tractor performance, apart from equipment and operator factors.
Pengaruh Variasi Ukuran Partikel dan Persentase Perekat terhadap Karakteristik Briket Kulit Kopi Robusta (Coffea canephora) laheba, Dea; Yulianti, Ni Luh; Madrini, Ida Ayu Gede Bintang
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 12 No 2 (2024): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2024.v12.i02.p16

Abstract

Abstrak Kulit kopi adalah bahan baku yang sangat potensial apabila dimanfaatkan dalam bentuk bahan bakar padat. Kulit kopi tergolong dalam limbah suatu pertanian dan dilakukan pengolahannya dijadikan bahan bakar padat buatan dipergunakan untuk menggantikan sumber energi alternatif yang dinyatakan sebagai briket biorang. Tujuan penelitian ini yaitu mendapatkan pengaruh variasi ukuran partikel bahan baku serta persentase yang merekatkan dengan baik kepada karakteristik briket yang diciptakan, serta mendapatkan perlakuan yang menghasilkan briket dengan karakteristik yang paling baik menurut SNI. Rancangan uji coba dalam riset ini memakai RAK faktorial melalui 2 faktor yang terdiri dari ukuran partikel sejumlah 3 level (S1: 30 mesh, S2: 40 mesh, S3: 60 mesh) dan faktor ke dua adalah persentase perekat yang sejumlah 3 level (L1:30%, L2:35%, L3: 40%). Gabungan perancangan uji coba riset melalui 2 kali pengulanhan mendapat 18 unit uji coba. Parameter yang dilakukan pengamatannya dalam riset ini yakni kandungan air, kadar abu, kuat penekanan, kerapatan massa, volatile matter, karbon yang diikat serta kecepatan dalam pembakarannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa interaksi antara ukuran partikel dan persentase perekat briket kulit kopi memberi kontribusi yang signifikan kepada parameter mutu briket yang diciptakan. Perlakuan briket dengan ukuran partikel 60 mesh dan persentase perekat 40% (S3L3) dinyatakan perlakuan yang menciptakan briket melalui mutu terbaik. Kriteria melalui briket hasil perlakuan S3L3 ini yakni mempunyai kadar air senilai 4,43%bb, kadar abu senilai 4,69%, nilai kuat tekan sebesar 202,81 kgf/cm2, kerapatan massa senilai 0,64 g/cm3, volatile matter sebesar 53,68%, nilai karbon yang diikat senilai 51,01 %, dan laju pembakaran sebesar 0,032 gr/menit. Abstract Coffee is a very potential raw material when utilized in the form of solid fuel. Coffee husk is classified as an agricultural waste and its processing is made into artificial solid fuel used to replace alternative energy sources expressed as briquettes. The research objectives expected in this study are to get the effect of variations in the particle size of raw materials and the percentage that glues well to the characteristics of the briquettes created, and to get the treatment that produces briquettes with the best characteristics according to SNI. The experimental design in this research uses factorial RAK through 2 factors consisting of particle size with 3 levels (S1: 30 mesh, S2: 40 mesh, S3: 60 mesh) and the second factor is the percentage of adhesive with 3 levels (L1: 30%, L2: 35%, L3: 40%). The combined design of the research trial through 2 trials obtained 18 trial units. The parameters observed in this research are water content, ash content, compressive strength, mass density, volatile matter, bound carbon and combustion speed. The results showed that the interaction between particle size and percentage of coffee skin briquette adhesive contributed significantly to the quality parameters of the briquettes created. The treatment of briquettes with a particle size of 60 mesh and a percentage of adhesive of 40% (S3L3) was declared the treatment that created the best quality briquettes. The briquettes from the S3L3 treatment had a moisture content of 4.43%(bb), ash content of 4.69%, compressive strength of 202.81 kgf/cm2, mass density of 0.64 g/cm3, volatile matter of 53.68%, bound carbon value of 51.01%, and burning rate of 0.032 g/min.
RESPON KENTANG BIBIT AKIBAT DAMPAK DEFORMASI DENGAN BEBERAPA TINGKAT BEBAN MEKANIS Semaraputri, Jessica Heidy Tiku; Pudja, Ida Ayu Rina Pratiwi; Madrini, Ida Ayu Gede Bintang
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): IN PRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kentang adalah tanaman pangan utama keempat dunia setelah gandum, padi, dan jagung. Deformasi adalah perubahan bentuk dari suatu benda akibat menerima gaya atau pada saat benda itu bekerja. Tension and Compression Testing Machine adalah Universal Testing Machine (UTM) dikonfigurasi secara khusus untuk menentukan kekuatan bahan dan perilaku deformasi di bawah beban tekan (menekan). Secara otomatis, alat tersebut akan menghasilkan nilai kekuatan pecah dan deformasi dari produk yang diuji yang ditampilkan dalam bentuk hubungan antara kekuatan pecah dan deformasi. Dalam penelitian ini, alat tersebut akan digunakan dengan kentang sebagai bahan ujinya. Dari digunakannya alat tersebut, kentang yang diuji akan dapat dilihat kemampuannya dalam menahan variasi beban yang diberikan. Setelah diuji, kentang akan disimpan dan selanjutnya akan ditanam untuk melihat perkembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi beban yang diberikan terhadap kentang, menentukan mampu atau tidaknya kentang yang dideformasi untuk tumbuh tunas selama masa penyimpanan, dan menentukan mampu atau tidaknya kentang bibit untuk tumbuh setelah ditanam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 1 faktorial. Variasi beban yang digunakan adalah beban 0 kg, 10 kg, 20 kg, 30 kg, 40 kg, dan 50 kg yang diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diukur adalah luas permukaan, jumlah tunas, kerusakan kentang bibit, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, dan berat umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berat beban 0 kg mampu menghasilkan produktivitas terbaik dengan nilai rata-rata tinggi tanaman 8,06 cm, jumlah daun 28,3 cm, dan luas daun 8 cm.