I. A. G. Bintang Madrini
Program Studi Teknik Pertanian Dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Analisis Teknis Penggunaan Sumber Daya Air Tanah Untuk Irigasi Tanaman Padi di Kabupaten Jembrana Angga Hendrayana S; Sumiyati Sumiyati; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.328 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2018.v06.i02.p06

Abstract

Air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan irigasi. Dengan keterbatasan ketersediaan air, maka diupayakan dengan memanfaatkan air tanah dengan menggunakan sumur pompa. Penggunaan sumur pompa belum maksimal dalam memenuhi kebutuhan air irigasi maka diperlukan penelitian lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) mengetahui teknis penggunaan sumber daya air tanah untuk irigasi menggunakan sumur pompa, dan (2) menganalisis kemampuan sumur pompa pada subak sampel di Kabupaten Jembrana terhadap kebutuhan air irigasi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif melalui metode survey. Data ini diperoleh menggunakan data primer dan sekunder. Data debit tersedia diperoleh melalui metode survei langsung ke lapangan dan perhitungan kebutuhan air irigasi dilakukan dengan bantuan software CROPWAT 8.0. Berdasarkan analisis neraca air irigasi dari selisih antara kebutuhan air irigasi dengan ketersediaan air irigasi terhadap 3 sampel subak, diperoleh hasil pada Subak Sari Merta terjadi kekurangan air pada selama 2 periode yaitu periode Juni I sebesar 171.900 l/hari, Januari I 149.700 l/hari, pada Subak Brawantangi terjadi kekurangan air sebanyak 4 periode yaitu periode Agustus I sebesar 123.900 l/hari, Agustus II 99.200 l/hari, Maret I 98.000 l/hari, Maret II 78.200, dan pada Subak Tegal Badeng terjadi kekurangan air sebanyak 8 periode yaitu periode Juni II sebesar 64.600 l/hari, Juni III 178.500 l/hari, Agustus III 35.600 l/hari, September I 35.100 l/hari, September II 38.400 l/hari, September III 32.900 l/hari, November I 48.400 l/hari, November III 149.700 l/hari. Defisit air terjadi karena pada periode bulan tersebut dilakukan pengolahan tanah sehingga kebutuhan air irigasi cenderung tinggi. Untuk dapat memenuhi kebutuhan air irigasi yang diperlukan untuk pengolahan tanah, pada 3 sampel subak dilakukan sistem giliran memakai air irigasi supaya aktifitas pertanian dapat berjalan baik. The Ground water is one of water resources that can be used to fullfill the needs of irrigation. With the limited availability of water, it is attempted by utilizing ground water using pump wells. The use of pump wells has not been maximal in fulfilling the irrigation water requirement so further research is needed. The objectives of this research are: (1) To know the technical use of groundwater resources for irrigation using pump wells, and (2) to analyze the ability of pump wells in subak samples in Jembrana Regency to irrigation water needs. This research uses descriptive analysis through survey method, taking data using primary and secondary data. Available discharge analysis is obtained through direct survey method of spaciousness and analysis of irrigation water needs carried out with the help of CROPWAT 8.0 software. Based on the irrigation water balance analysis, there is a reduction between the irrigation water demand and the availability of irrigation water to 3 subak samples. In Subak Sari Merta it is known that there is water shortage 2 periods that is the period of June I equal to 171.900 l / day, January I 149.700 l / day. Subak Brawantangi is known that there is water shortage as much as 4 periods that is the period of August I equal to 123.900 l / day , August II 99.200 l / day, March I 98,200 l / day, March II 78.200 l / day. Subak Tegal Badeng is known that there is water shortage for 8 periods that is June II period is 64.000 l / day, June III 178.500 l / day, August III 35.600, September I 35.100 l/day, September II 38.400 l/day, September III 32.900 l/ day, November I 48,400 l / day, November III 149.700 l / day. Water deficit occurs because in the period of the month is done so that the processing of irrigation water needs tend to be high. To be able to meet the needs of irrigation water needed for the processing of the soil, the Subak Sari is done by the turn system using irrigation water so that agricultural activities can run well.
Analisis Dinamika Suhu pada Proses Pengomposan Jerami dicampur Kotoran Ayam dengan Perlakuan Kadar Air Kadek Ardhi Krisnawan; I Wayan Tika; I A. Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.862 KB)

Abstract

Kadar air merupakan salah satu faktor penting dalam proses pengomposan jerami yang dicampur dengan kotoran ayam. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui dinamika suhu pada proses pengomposan bahan baku kompos dengan perlakuan kadar air 2) dan mengetahui kadar air campuran bahan baku kompos yang menghasilkan kualitas kompos terbaik. Penelitian ini menggunakan perlakuan kadar air dengan persentase: 30±2% (P1), 40±2% (P2), 50±2% (P3), 60±2% (P4), dan 70±2% (P5). Perbandingan komposisi jerami dan kotoran ayam yaitu 3:4. Parameter yang diukur selama proses pengomposan adalah suhu, pH, dan rendemen. Sedangkan parameter untuk kualitas kompos yaitu pH, kadar air akhir, kadar bahan organik, karbon, nitrogen, dan C/N rasio. Secara umum, suhu selama proses pengomposan untuk setiap perlakuan cenderung seragam dengan suhu maksimal berkisar antara 49,4 - 49,6oC, kecuali pada perlakuan P1 yang memiliki suhu maksimal 34,8oC. P4 dengan kadar air campuran bahan kompos 60±2% adalah perlakuan terbaik dengan C/N rasio 15,68 dan kualitas kompos yang dihasilkan sesuai kriteria SNI 19-7030-2004, yaitu memiliki warna cokelat kehitaman, tekstur remah, mempunyai bau seperti tanah, dengan kadar air akhir 35,55%, pH 7,2, serta kandungan bahan organik 56,50%. The moisture content is an important factor in composting process of rice straw with chicken manure. This research aimed to 1) determine the temperature dynamics in the composting process of compost raw materials with moisture content treatment 2) and to determine moisture content of raw compost material that produced the best compost quality. This research used moisture content treatment with percentage: 30±2% (P1), 40±2% (P2), 50±2% (P3), 60±2% (P4), dan 70±2% (P5). The composition of straw and chicken manure was 3:4. The parameters measured during the composting process were temperature, pH, and decreasing ratio. While the parameters for compost quality were pH, final moisture content, volatile solid, carbon, nitrogen, and C/N ratio. In general, the temperature dynamics for each treatment were uniform with a maximum temperature range from 49.4 – 49.6oC, except for treatment P1 which has a maximum temperature 34.8oC. P4 which has moisture content of compost materials 60 ± 2% was the best treatment with C/N ratio 15,68 and compost produced met to the compost quality based on SNI 19-7030-2004, which has a blackish brown color, crumb texture, has a smell like soil with final moisture content 35.55%, pH 7.2, and volatile solid 56.50%.
Analisis Profil Suhu dan Kadar Air Tanah Pada Budidaya Cabai Rawit (C. frutescens L) Menggunakan Beberapa Macam Mulsa Ni Made Dea Kanikayani; Sumiyati Sumiyati; Ida Ayu Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.811 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p02

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu memperoleh profil suhu dan kadar air tanah pada budidaya tanaman cabai rawit menggunakan beberapa macam mulsa. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok, masing-masing terdiri dari lima perlakuan dan tiga ulangan yaitu perlakuan tanpa mulsa, perlakuan mulsa plastik perak, plastik hitam, plastik bening dan perlakuan mulsa jerami padi. Untuk pengukuran suhu tanah menggunakan alat sensor suhu DS18B20 sedangkan untuk kadar air tanah menggunakan metode gravimetri. Pengukuran suhu dan kadar air tanah dilakukan 3 kali yaitu pada 3 hari, 30 hari dan 60 hari setelah tanam. Analisis data suhu dan kadar suhu dan kadar air tanah dalam mulsa menggunakan metode garis kontur. Hasil penelitian suhu tanah menunjukan kontur profil pada saat 3 hari profil sebaran tanpa mulsa 29-33?C, mulsa plastik perak 28-32?C, mulsa plastik hitam 29-34?C, mulsa plastik bening 31-37?C dan mulsa jerami 26-31?C. Pada saat 30 hari profil sebaran tanpa mulsa 26-33?C, mulsa plastik perak 26-31?C, mulsa plastik hitam 27-33?C, mulsa plastik bening 28-32?C dan mulsa jerami 25-30?C dan pada saat 60 hari profil sebaran tanpa mulsa 26-31?C, mulsa plastik perak 25-30?C, mulsa plastik hitam 27-32?C, mulsa plastik bening 31-37?C dan mulsa jerami 26-29?C, sedangkan dari hasil pengukuran suhu tanah yang didapatkan berhubungan dengan hasil kadar air tanahnya. The purpose of this research was to water content and soil temperature profile content on mulch for cultivation of cayenne pepper plants with different types of mulch. This research use random design group, every each concist of five treatment and three repetation. Which is a treatment without mulch treatment, silver plastic mulch treatment, black plastic mulch treatment, clear plastic mulch treatment , and rice straw mulch treatment. The variable observed of soil temperature using a temperature sensor DS18B20 while for soil water content using the gravimetric method. Measurement of temperature and soil water content was carried out 3 times, namely at the 3 days, 30 days , and 60 days after planting . The result of the temperature and soil water content is made a profile of the temperature and soil water content in the mulch using the contour line method. The results of the soil temperature research show the profile contour when the at 3 days, without mulch distribution profile is 29-330C, silver plastic mulch 28-320C, black plastic mulch 29-340C, clear plastic mulch 28-320C and rice straw mulch 25-300C. At 30 days, without mulch distribution profile is 26-330C, silver plastic mulch 26-310C, black plastic mulch 27-330C, clear plastic mulch 28-320C and rice straw mulch 25-300C. At 60 days, without mulch distribution profile is 26-310C, silver plastic mulch 25-300C, black plastic mulch 27-320C, clear plastic mulch 31-370C and rice straw mulch 26-290C. The results of measurements of the soil temperature obtained in relation to the results of the soil water content.
Kajian Efektivitas Beberapa Model Tumpukan pada Pengomposan Kotoran Sapi dan Jerami I Wayan Krispedana; Yohanes Setiyo; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 1 (2022): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i01.p01

Abstract

ABSTRAK Sisa panen padi berupa limbah jerami yang dapat dihasilkan dalam satu kali panen mencapai 25 ton/ha dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian model tumpukan pengomposan kotoran sapi dan jerami yang berbeda, dan mengethui model tumpukan yang sesui agar proses pengomposan kotoran sapi dan jerami menghasikan kompos yang terbaik. Penelitian ini menggunakan 3 pelakuan yaitu: P1 (perlakuan menggunakan model tumpukan open windrow), P2 (perlakuan menggunakan model tumpukan static pile), P3 (perlakuan menggunakan model tumpukan china). Berat bahan untuk masing-masing perlakuan adalah 35 kg menggunakan perbandingan berat jerami dan kotoran sapi 2:1 parameter yang diamati adalah suhu, kadar air, Ph, nitrogen, karbon dan rasio C/N. Proses pengomposan dari perlakuan P3 dengan menggunakan perlakuan tumpukan model china memerlukan waktu selama 48, hari perlakuan P2 dengan menggunakan tumpukan static pile memerlukan waktu selama 51,hari dan P1 menggunkaan tumpukan open windrow memerlukan waktu 45 hari, kualitas kompos yang dihasilkan dari bahan baku jerami dan kotoran sapi pada ketiga perlakuan sudah sesuai dengan standar SNI No. 19-70302004 digunakan sebagai acuan kualitas kompos. ABSTRACT The biomass of the rice harvest is in the form of straw waste produced in one harvest season reaching 25 tons/ha and can be used as raw material for making compost. This research was conducted to determine the effect of different composting pile models of cow manure and straw, and to know the appropriate pile model so that the composting process of cow manure and straw produces compost in accordance with SNI No. 19-70302004. This study used 3 treatments, namely: P1 (treatment using an open windrow pile model), P2 (treatment using a static pile model), P3 (treatment using a Chinese pile model). The materials used in each treatment have a weight of 35 kg with a ratio of straw and cow manure of 2: 1. The observed parameters are pH, moisture content, temperature, nitrogen, carbon, and C/N ratio. The composting process with P3 treatment using the china model pile treatment took 48 days, P2 treatment days using a static pile was take 51 days and P1 using an open windrow pile was take 45 days, the results of composted straw and cow manure on the three treatments had met the SNI No. 19-70302004 which is used as a reference for assessing the quality of compost.
Efek Penambahan Limbah Makanan Terhadap C/N Ratio Pada Pengomposan Limbah Kertas Ni Ketut Rai Wulandari; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Made Anom Sutrisna Wijaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 1 (2020): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.3 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i01.p13

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan karbon dan nitrogen pada pengomposan limbah makanan dengan limbah kertas sehingga didapatkan komposisi campuran bahan yang menghasilkan kualitas kompos sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-7030-20014. Bahan baku yang digunakan dalam pengomposan dalam penelitian ini yaitu limbah makanan dan limbah kertas. Proses pengomposan pada penelitian ini mengunakan bioreaktor Tahiron New Garden Bag 2 dengan perbandingan komposisi bahan limbah makanan dan limbah kertas yaitu: 1:1, 1:2, 1:3 dan 0:1 dimana limbah kertas sebagai kontrol. Pada proses pengomposan suhu dan pH diamati setiap hari selama 60 hari. Kadar air diamati setiap 4 hari sekali dan kadar C-organik (%), kadar Nitrogen (%) diamati setiap 7 hari sekali. Pada perlakuan 1:1 mengalami peningkatan suhu termofilik sebanyak 2 kali masing-masing pada hari ke 14 dan 34 sebesar 46 dan 46,3 oC. Sedangkan pada perlakuan 1:2 dan 1:3 hanya mampu mencapai suhu mesofilik. Perbandingan kandungan C/N ratio pada bahan baku limbah makanan dengan limbah kertas yaitu 1:1 sebesar 24,44, 1:2 sebesar 40,60, 1: 3 sebesar 52,06 dan 0:1 sebesar 71,81. Sedangkan kandungan C/N ratio pada kompos limbah makanan dengan limbah kertas yaitu 1:1 sebesar 12,06, 1:2 sebesar 37,00, 1:3 sebesar 42,85 dan 0:1 sebesar 104,84. Komposisi campuran bahan limbah makanan dan limbah kertas yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-7030-20014 yaitu perlakuan 1:1 dengan kadar air akhir 35%, suhu akhir 23,3oC, pH akhir 7,2, dan ratio C/N akhir 12,6%.
Pengaruh Penambahan EM-4 Terhadap Kualitas Pupuk Kompos Kotoran Gajah Irfan Fadel; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Sumiyati Sumiyati
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 1 (2021): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i01.p14

Abstract

ABSTRAK Kotoran gajah kaya akan selulosa dan lignin. Kotoran gajah memiliki warna yang bervariasi mulai dari kehijauan hingga kehitaman, tergantung dari makanan yang dikonsumsi (Mathew and Mary 2015). Sementara ini kotoran gajah belum banyak dimanfaatkan Maka dari itu kotoran gajah belum dimanfaatkan secara maksimal. kotoran gajah belum banyak dimanfaatkan secara maksimal. Pengomposan menjadi salah satu pilihan untuk menjadikan kotoran gajah lebih bermanfaat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan bioaktivator EM-4 terhadap suhu, pH, kadar air, ratio C/N, bahan organik yang dihasilkan dan untuk menentukan konsentrasi larutan bioaktivator EM-4 yang menghasilkan kualitas kompos yang terbaik dari kotoran gajah dan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-7030-2004). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan dengan menggunakan 50 kg kotoran gajah untuk satu perlakuan dan masing masing konsentrasi EM-4 0 ml (kontrol), 50 ml, 100 ml dan 150 ml. Keempat perlakuan tersebut dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali sehingga didapatkan 8 unit percobaan. Parameter pengamatan meliputi suhu kompos, pH, Kadar Air, Bahan Organik, Karbon, Nitrogen,C/N ratio. Hasil pengomposan kotoran gajah dengan larutan EM-4 selama 2 bulan, maka dapat dilihat penambahan larutan EM-4 berpengaruh terhadap suhu, kadar air, ratio C/N dan bahan organik sedangkan pH tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Pada perlakuan penambahan 150 ml EM-4 pada 50 kg kotoran gajah, suhu mencapai termofilik pada hari ke 28 yaitu 46,1 ?C, ratio C/N 19,63 dan bahan organik 35%. Semua perlakuan memenuhi SNI 19-7030-2004. ABSTRACT Elephant dung is rich in cellulose and lignin. Elephant dung has a color that varies from greenish to blackish, depending on the food consumed (Mathew & Mary, 2015). Meanwhile, elephant dung has not been used much. Therefore, elephant dung has not been fully utilized. elephant dung has not been fully utilized. Composting is an option to make elephant dung more useful. The purpose of this study was to determine the effect of the addition of EM-4 bioactivator on temperature, pH, moisture content, C / N ratio, organic matter produced and to determine the concentration of the EM-4 bioactivator solution which produces the best quality compost from elephant dung and in accordance with Indonesian National Standard (SNI) 19-7030-2004). This study used a completely randomized design (CRD). The treatment used 50 kg of elephant dung for one treatment and each concentration of EM-4 0 ml (control), 50 ml, 100 ml and 150 ml. The four treatments were repeated 2 times in order to obtain 8 experimental units. Observation parameters include compost temperature, pH, moisture content, organic matter, carbon, nitrogen, C / N ratio. The results of composting elephant dung with EM-4 solution for 2 months, it can be seen that the addition of EM-4 solution has an effect on temperature, water content, C / N ratio and organic matter while pH does not show a significant effect. In the treatment of adding 150 ml of EM-4 to 50 kg of elephant manure, the temperature reached thermophilic on day 28, namely 46.1 ?C, C / N ratio 19.63 and 35% organic matter. All treatments comply with SNI 19-7030-2004.
Analisis Rasio Prestasi Manajemen Irigasi pada Distribusi Air di Subak Kabupaten Tabanan Yuda Arnanda; I Wayan Tika; Ida Ayu Luh Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 2 (2020): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.515 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i02.p13

Abstract

Sistem subak adalah merupakan salah satu bentuk sistem irigasi yang mampu mengakomodasikan dinamika sistem sosio-teknis masyarakat setempat. Air irigasi dikelola dengan prinsip-prinsip keadilan, keterbukaan, harmoni dan kebersamaan, melalui suatu organisasi yang fleksibel yang sesuai dengan kepentingan masyarakat. Sistem irigasi erat kaitannya tentang pendistribusian air irigasi pada subak yang berdasarkan luas lahan. Salah satu aspek yang akan dinilai dalam sistem irigasi adalah Rasio Prestasi Manajemen (RPM) irigasi Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui klasifikasi RPM di suatu subak dengan pemberian skor pada masing-masing klasifikasi RPM. Perolehan data sekunder dilakukan dengan metode survey, pengamatan secara langsung dan pengukuran. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis menggunakan metode Rasio Prestasi Manajemen (RPM) Irigasi. RPM irigasi setiap subak dinilai dengan menggunakan empat rentang nilai yaitu Baik bila 0.75 < RPM <1.25, Cukup bila 0.60 < RPM < 0.75 atau 1.25 < RPM < 1.40, Kurang 0.40 < RPM< 0.60 atau 1.40 <RPM<1.60 dan Sangat kurang bila RPM < 0.40 atau RPM >1.60 Hasil metode analisis rasio prestasi manajemen irigasi pada distribusi air di subak diperoleh RPM daerah hulu yaitu Pama Palian, Aya I dan Aya II memiliki RPM yang Baik yaitu rata-rata 100%. Ketersediaan air yang begitu melimpah karena subak daerah hulu, subak yang pertama kali mengambil air di daerah irigasi. Dan yang paling penting adalah sistim pengaturan pemberian air yang sudah optimal. Untuk subak daerah tengah RPM sedikit berbeda dengan di daerah hulu. Rata-rata RPM daerah irigasi tengah yang mempunyai kreteria Cukup yaitu sebesar 15,5% sedangkan Baik 84,5%. Untuk daerah irigasi tengah yang memiliki kriteria RPM cukup dengan nilai 15,5% disebabkan oleh pendistribusian air tidak seoptimal seperti daerah irigasi hulu. Untuk Subak daerah irigasi hilir rata-rata RPM secara keseluruhan yaitu 100% baik, ini disebabkan karena pembagian pendistribusian air daerah irigasi hilir sudah optimal sesuai dengan luas lahan. Subak system is one form of irrigation system that is able to accommodate the dynamics of the socio-technical system of the local community. Irrigation water is managed with the principles of justice, openness, harmony and togetherness, through a flexible organization that is in accordance with the interests of the community. Irrigation systems are closely related to the distribution of irrigation water in subaks based on land area. One aspect that will be assessed in an irrigation system is the Irrigation Management Achievement Ratio (RPM). The purpose of this study is to determine the RPM classification in a subak by scoring in each RPM classification. Secondary data acquisition is done by survey method, direct observation and measurement. The collected data will then be analyzed using the Irrigation Management Achievement Ratio (RPM) method. Irrigation RPM for each subak is assessed using four ranges of values, namely Good if 0.75 <RPM <1.25, Enough if 0.60 <RPM <0.75 or 1.25 <RPM <1.40, Less 0.40 <RPM <0.60 or 1.40 <RPM <1.60 and Very less if RPM <0.40 or RPM> 1.60 The results of the analysis method of irrigation management achievement ratio in the distribution of water in the subak obtained by the upstream area RPM namely Pama Palian, Aya I and Aya II have a good RPM that is an average of 100%. The availability of water is so abundant due to the upstream subak, the first subak to take water in an irrigation area. And the most important thing is the optimal water supply management system. For the subak area the RPM is slightly different from the upstream area. The average RPM of the central irrigation area that has sufficient criteria is 15.5% while 84.5% is good. For the central irrigation area which has sufficient RPM criteria with a value of 15.5% caused by the distribution of water is not as optimal as the upstream irrigation area. For Subak downstream irrigation areas the overall average RPM is 100% good, this is because the distribution of downstream irrigation water distribution is optimal according to the area of ??land.
Analisis Profil Iklim Mikro Pada Budidaya Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L) Menggunakan Bahan Sungkup Plastik, Paranet, dan Kombinasi Wahyu Guna Arta; Sumiyati Sumiyati; I. A. Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.871 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p04

Abstract

Sungkup merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi intensitas cahaya matahari yang tinggi. Pada penelitian ini perlakuan jenis bahan sungkup dibedakan menjadi 3 jenis bahan sungkup yaitu jenis bahan sungkup plastik, paranet dan kombinasi. Untuk pengukuran iklim mikro, digunakan alat temperature and humidity meter dan light meter. Pengukuran iklim mikro dilakukan pada pukul 12.00 WITA, pada tanaman cabai rawit dari umur 7 hari sampai dengan berumur 35 HTS. Analisis data iklim mikro dilakukan dengan cara interpolasi untuk memperoleh garis kontur profil. Pada hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beda bentuk dan sebaran kontur profil iklim mikro yang berbeda khususnya pada intensitas cahaya. Pada suhu udara dan kelembaban udara tidak dapat memperoleh garis kontur, dikarenakan hasil data dari penelitian yang dilakukan tidak berbeda jauh. Tingkat pertumbuhan tanaman pada masing-masing perlakuan menunjukkan produktivitas yang berbeda-beda. Pada jenis bahan sungkup paranet menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan jenis bahan sungkup plastik dan kombinasi. Pada jenis bahan sungkup paranet menghasilkan rata-rata berat kering 247,9 gram. The hood is an alternative to overcome the high intensity of sunlight. In this study the type of containment material treatment can be divided into 3 types of containment material, namely the type of plastic lid material, paranet and combination. For microclimate measurements, a temperature and humidity meter and a light meter are used. Microclimate measurements were carried out at 12.00 WITA, on cayenne pepper from 7 days to 35 HTS. Micro climate data analysis is done by interpolation to obtain the profile contour lines. The results of the study showed that there were different shapes and distribution of different micro-climate profile contours, especially in light intensity. At air temperature and air humidity can not obtain contour lines, because the results of the data from the research conducted are not much different. Plant growth rates in each treatment showed different productivity. In this type of paranet lid material shows better results compared to the type of plastic hood and combination material. In this type of paranet lid material produces an average dry weight of 247.9 grams.
Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan terhadap Mutu Organoleptik Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Semi Kering Indri Novia Santi; I Made Supartha Utama; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 2 (2021): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i02.p12

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu pengeringan terhadap mutu organoleptik buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) semi kering, serta menemukan kombinasi terbaik dari kedua perlakuan tersebut. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor yaitu suhu (40°C, 50°C dan 60°C) dan waktu (15 jam, 20 jam dan 25 jam) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan suhu dan waktu pengeringan berinteraksi dan secara sangat nyata berpengaruh terhadap mutu visual, tekstur, aroma, rasa dan penerimaan secara keseluruhan. Kombinasi terbaik adalah perlakuan suhu 60°C dan waktu pengeringan 20 jam dengan nilai organoleptik yaitu mutu visual 3.84 (suka), tekstur 3.96 (suka), aroma 3.69 (suka), rasa 4.04 (suka) dan penerimaan secara keseluruhan 4.24 (suka). ABSTRACT This study aims to determine the effect of temperature and drying time on the organoleptic quality of semi-dry red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) and to find the best combination of the two treatments. The study was designed with a completely randomized design with two factors, namely temperature (40°C, 50°C, and 60°C) and time (15, 20, and 25 hours) with three replications. The results showed that the treatment temperature and drying time interacted and significantly affected the visual quality, texture, aroma, taste, and overall acceptance. The best combination is a temperature treatment of 60°C and drying time of 20 hours with organoleptic values ??such as the visual quality value of 3.84 (favorable), texture value of 3.96 (favorable), aroma value of 3.69 (favorable), taste value of 4.04 (favorable) and overall acceptance of 4.24 (favorable).
Penghematan Air Irigasi Saat Olah Tanah dengan Tanaman Sela pada Subak I Wayan Tika; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Sumiyati Sumiyati; Ni Nyoman Sulastri
Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JITPA.2020.v05.i02.p07

Abstract

One of the significant programs in paddy rice cultivation is the management of irrigation water efficiently and effectively. Commonly, the planting schedule for the subak system in Bali is performed simultaneously, which leads to the highest peak of irrigation water demand. The high demand for water causes a high risk of water shortage, especially during soil tillage. One of the solutions to save irrigation water is to use the intercropping farming method. This method allows farmers to cultivate more than a single crop in a given field area (Monoculture). Based on recent field observation, approximately 10% of the rice paddy field was chili pepper field as a second crop for the intercropping farming method. The result shows by using the intercropping farming method; the water-saving was not significant, which is less than 7 %. It is important to note that the data was collected during the chili pepper growing season from July to August. Additionally, during that time, the soil tillage period was quite long, which was 50 days.