Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Humaniora

Penyihir Dalam The Scarlet Letter Karya Nathaniel Hawthorne: Tinjauan Ekofeminisme Juliasih Juliasih
Humaniora Vol 20, No 2 (2008)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jh.1265

Abstract

The term witchcraft can have positive or negative connotations depending on the cultural context. Amongst Puritans it has historically been associated with evil and the devil. Some people think when people say the word witch or witchcraft they think it is evil and traditionally stereotyped as being female. Ecofeminists who self-identify as “witches” see it as beneficent and morally positive.
EKSPRESIONISME DALAM KARYA FRANS KAFKA "A HUNGER ARTIST" Juliasih Juliasih
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.482 KB) | DOI: 10.22146/jh.2027

Abstract

Ekspresionisme ialah suatu airan dalam dunia seni khususnya seni lukis dan sastra yang menekankan pada kebebasan seorang seniman untuk melawan gejolak hati sepenuhnya. Emosi dimuntahkan secara irasional dan visioner (Hartoko, 1985,64)Aliran ini pertama kali muncul di Jerman pada tahun 1916-1925 yaitu periode sebelum dan sesudah Perang Dunia I. Van Gogh dan Paul Gauguin adalah pelopor aliran ini, sedangk n dalam bidang sastra pelopornya adalah penyair Baudelaire dan Rimbaud, novelis Dostoevsky, filusuf Niet zsche, dan dramawan August Strindberg. Dari karya Frans Kafka ini pertama kali yang menarik untuk dibicarakan adalah judul cerita itu sendiri yang mengundang beberapa pertanyaan. Siapakah sebenarnya si seniman terebut? Apakah seniman tersebut benar-benar kelaparan atau lapar akan sesuatu? Dan mengapa dia sampai kelaparan? Setelah ditelesuri dari awal sampai akhir cerita ternyata Frans Kafka sama sekali tidak memberi nama khusus pada si seniman. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa apa yang dialami oleh si seniman mungkin saja dapat terjadi pada setiap manusia, khususnya seniman. Sampai disini interpretasi itu dapat diterima, tetapi sampai pada kata "hunger" yang berarti lapar atau kelaparan maka interpretasi "A HungerArtis" yang dipakai sebagai judul menjadi tidak masuk akal, apalagi kalau dihubungkan dengan cerita secara keseluruhan.