Endang Sri Widiyanti
Departemen Obstetri Dan Ginekologi, RSUP Sanglah-Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : E-Journal Obstetric

PERANAN PROCALCITONIN DALAM DIAGNOSTIK INFEKSI INTRAUTERIN Widiyanti, Endang Sri
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 5 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan preterm yang menjadi kelahiran preterm merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas perinatal di dunia. Komplikasi persalinan preterm terhadap janin dapat melibatkan berbagai sistem organ tubuh, hematologi, endokrin, dan sistem saraf pusat. Dimana komplikasi yang ditimbulkan tentunya akan mengakibatkan dampak merugikan dari segi ekonomi, sosial, dan terutama kualitas hidup janin yang dapat bertahan hidup.1 Penyebab pasti persalinan preterm tidak diketahui, namun infeksi intrauterin dianggap sebagai penyebab terbanyak terjadinya persalinan preterm. Diagnosa infeksi intrauterin pada neonatus sulit ditegakkan oleh karena tanda-tanda klinis yang muncul tidak spesifik, selain itu pemeriksaan laboratorium rutin memiliki sensitifitas yang rendah.2 Procalcitonin (PCT) merupakan prohormon calcitonin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid dan terdiri dari 116 asam amino dengan berat molekul 13kDa protein. PCT tidak selalu dapat dideteksi pada serum orang sehat, namun konsentrasi serum akan meningkat saat terjadi infeksi bakteri, oleh karena itu PCT digunakan sebagai alat diagnostik infeksi bakteri. Konsentrasi serum PCT akan meningkat secara cepat dalam  2-6 jam sebagai respon tubuh terhadap stimulasi endotoksin. Serum PCT memiliki waktu paruh 25-30 jam.32 Dari karakteristik seperti yang tersebut diatas, konsentrasi serum PCT dapat digunakan sebagai penanda sepsis bakterial perinatal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa PCT dapat digunakan sebagai penanda infeksi intrauterin dan terjadinya persalinan preterm. Penggunaan PCT dalam praktek klinis modern terus meningkat, namun hanya sedikit data tentang PCT dalam kehamilan dan atau komplikasi kehamilan dan masa tumbuh kembang, oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai peranan PCT dalam diagnostik infeksi intrauterin dan terjadinya persalinan preterm.
RENDAHNYA KADAR IL-4 SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA ABORTUS IMINEN Widiyanti, Endang Sri
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 5 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Kehamilan merupakan keadaan patologis fisiologi dimana ekspresi antigen paternal janin di dalam tubuh ibu tentu dapat memicu reaksi penolakan sistem imun maternal. Sistem imun memegang peranan dalam kejadian abortus iminen akibat tidak adanya keseimbangan Th1 dan Th2, yang menyebabkan kehamilan mendapatkan penolakan dari sistem maternal. IL-4 memegang peran yang penting dalam menjaga keseimbangan tersebut.   Tujuan : Untuk mengetahui peran rendanya IL-4 sebagai faktor risiko kejadian abortus iminen.   Rancangan Penelitian : Penelitian ini merupakan studi kasus-kontrol. Dari 60 orang ibu hamil, didapatkan 30 ibu hamil dengan abortus iminen dan 30 dengan kehamilan normal. Dan telah dilakukan pemeriksaan kadar serum IL-4 di bagianoratorium Prodia Denpasar. Dari data yang terkumpul dilakukan pengujian normalitas data dengan Kolmogorov-Smirnov, kemudian dilakukan analisa data dengan independent sample test dengan tingkat kemaknaan ? = 0,05. Untuk mengetahui kadar IL-4 terhadap abortus iminen dipakai uji Chi-Squere.   Hasil : Dari penelitian ini didapatkan kadar rerata IL-4 pada abortus iminen 0,04±0,01 pg/ml lebih rendah dari kehamilan normal dengan kadar rerata IL-4 0,22±0,31 pg/ml. Analisa kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan bahwa nilai t = 3.198 dan nilai p = 0.002. Hal ini berarti bahwa rerata kadar IL-4 pada kedua kelompok berbeda secara bermakna (p < 0,05). Berdasarkan nilai titik potong 0,052 pg/ml, didapatkan bahwa risiko relatif terjadinya abortus iminen adalah 6 kali (RO = 6,42, IK 95% = 2,08-19,76, p=0,001) Kesimpulan : Kadar IL-4 pada abortus iminen berbeda secara bermakna dibandingkan dengan kadar IL-4 kehamilan normal. Dan adanya kadar serum IL-4 yang lebih rendah berisiko terjadinya abortus iminen sebesar 6 kali dibandingkan dengan kadar IL-4 yang lebih tinggi . Kata kunci : Abortus iminen, kehamilan normal, IL-4