Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Veteriner

Ekstrak Daun Singkong Baik Sebagai Antioksidan pada Burung Puyuh Dewasa yang Mendapat Paparan Panas Singkat (EXTRACT OF CASSAVA LEAVES IS A GOOD ANTIOXIDANT FOR MATURE QUAIL WHICH EXPOSED TO HEAT IN SHORT TIME) La Jumadin; Aryani Sismin Satyaningtijas; Koekoeh Santoso
Jurnal Veteriner Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.588 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.1.135

Abstract

The aims of this study was to investigate the potential use of chlorophyll extracted form cassava leaves as antioxidant for quail (Coturnix coturnix japonica). The experimental design adopted in this study was simple randomized design consisting of six treatments. The six treatments consist of chlorophyll extract at the dose 5,29 mg/168 g body weight (KL), animal exposed to 40oC for 8 hours daily (P), animal exposed to 40oC for 8 hours daily treated with chlorophyll extract at the dose of 5,29 (P+KL1), at the dose of 10,58 (P+KL2, and at the dose of 21,16 mg/168 g (P+KL3). The treatment was conducted for 28 days following 7 days adaptation period. Parameters observed in this study was feed consumption, feed digestibility, body weight, the number of eggs, egg weight, the level of yolk, the level of albumin, the weight of ovaries and uterus, and the thickness of egg shell. The results showed that quail exposed to 40oC for 8 hours daily (P) had a lower level of feed consumption as compared to those of animal unexposed to 40oC heat (P0). The highest level of feed digestibility was observed in KL treatment group. The average body weight tended to increase in quail treated with chlorophyll (KL) as compared to those of K0 and P treatment groups. The number of eggs and egg weight increased in quail exposed to 40oC and treated with chlorophyll extract. The level of yolk and albumin tend to increase in quail treated chlorophyll (P+KL) as compared to those of K0 and P. The average weights of ovary and uterus were not significantly different among all treatment groups (P>0,05). The thinnest egg shell was observed in P treatment group. The result of this study shows that the chlorophyll has antioxidant potential for adult quail exposed briefly to heat. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi ekstrak klorofil daun singkong sebagai antioksidan pada burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) dewasa yang dipapar panas singkat. Adapun peubah yang diamati adalah konsumsi pakan, kecernaan pakan, bobot badan, jumlah telur, bobot telur, tinggi kuning telur, tinggi putih telur/albumen, bobot ovarium, bobot uterus, dan tebal kerabang telur. Penelitian ini terdiri dari enam kelompok perlakuan. Kelompok kontrol (K0), kelompok hewan uji hanya diberi ekstrak klorofil daun singkong 5,29 mg/168 g bobot badan/oral (KL). Kelompok hewan uji dipapar suhu 40oC selama delapan jam tiap hari (P). Kelompok P+KL1, P+KL2, dan P+KL3 masing-masing dipapar suhu 40oC selama delapan jam tiap hari, kemudian diberi ekstrak klorofil daun singkong 5,29, 10,58, dan 21,16 mg/168 g bobot badan per oral selama 28 hari setelah diadaptasikan satu minggu. Parameter seperti konsumsi pakan, kecernaan pakan, jumlah telur, dan bobot telur dihitung setiap hari selama penelitian. Parameter lain diukur pada akhir perlakuan, kecuali bobot badan dilakukan setiap minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung puyuh yang mendapatkan paparan panas (P) konsumsi pakannya cenderung menurun dibandingkan kelompok K0. Rataan kecernaan pakan tertinggi dijumpai pada kelompok KL. Rataan bobot badan burung puyuh yang mendapatkan ekstrak klorofil daun singkong cenderung meningkat dibandingkan dengan perlakuan K0 dan P. Rataan jumlah dan bobot telur pada kelompok yang mendapatkan paparan panas dan ekstrak klorofil daun singkong cenderung meningkat dibandingkan kelompok K0, kecuali pada kelompok P+KL3. Rataan tinggi kuning telur/yolk dan albumen dari kelompok burung puyuh yang mendapat ekstrak klorofil daun singkong cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok K0 dan P. Rataan bobot ovarium dan uterus pada semua kelompok perlakuan tidak menunjukkan perbedaan (P>0,05). Rataan tebal kerabang telur pada kelompok P paling tipis dibandingkan yang lain. Simpulan pada penelitian ini adalah ekstrak daun singkong memiliki potensi sebagai antioksidan pada burung puyuh dewasa yang diberikan paparan panas singkat.
Kadar Glukosa, Kolesterol dan Kadar Asam Urat Darah Puyuh pada Fase Starter, Grower, dan Layer La Jumadin; Aryani Sismin Satyaningtijas; Wasmen Manalu; Damiana Rita Ekastuti; Chairun Nisa; Mohamad Yogie Hendrawan; Yuvensius Yuvensius; Resi Milna
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.4.494

Abstract

Puyuh dikenal sebagai penghasil protein hewani berupa telur dan daging yang sangat baik. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data dasar beberapa parameter biokimiawi darah, yang meliputi kadar glukosa darah, kadar kolesterol darah, dan kadar asam urat darah serta bobot badan pada puyuh fase starter (umur 18 hari), grower (umur 25 hari), dan layer (umur 330 hari). Pengambilan darah dilakukan melalui rute intravena (vena brachialis) terhadap 120 ekor burung puyuh. Setiap fase terdiri atas 10 ekor puyuh. Hasil analisis statistika menunjukkan tidak ada pengaruh nyata antara fase dengan kadar glukosa darah puyuh, namun nilai kadar glukosa tertinggi terdapat pada fase starter. Kadar glukosa darah semakin menurun dengan semakin bertambahnya umur dan semakin bertambahnya bobot badan. Kadar kolesterol darah pada berbagai fase pemeliharaan/umur puyuh menunjukkan hasil berbeda nyata (p<0,05), nilai kolesterol darah tertinggi diperoleh pada fase layer. Kadar asam urat menunjukkan tidak terdapat pengaruh umur pemeliharaan (p>0,05). Kadar asam urat tertinggi terdapat pada puyuh fase grower. Simpulan penelitian ini adalah kadar glukosa darah dan kadar asam urat tidak menunjukkan perbedaan pada setiap umur pemeliharaan, sedangkan pada kadar kolesterol darah memberikan pengaruh yang nyata.