Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Nilai Indeks Aterogenik Plasma (IAP) Dan Indeks Castelli (IC) Mencit Model yang Diinduksi Minyak Trans Supiyani, Atin; Sukmawati, Dalia; Kusumorini, Nastiti; Santoso, Koekoeh; Satyaningtijas, Aryani Sismin
Jurnal MIPA Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jmuo.10.2.2021.34094

Abstract

dikembangkan melalui pendekatan hewan model untuk mempelajari tentang PJK. Minyak goreng yang digunakan secara berulang dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas yang berdampak negatif bagi kesehatan terutama jantung dan pembuluh. Tujuan dari penelitian ini mengukur indeks aterogenik plasma (IAP) dan indeks Castelli (IC) dari mencit model yang diinduksi minyak trans (MT). Sebanyak 16 ekor mencit galur DDY dibagi menjadi 4 kelompok yaitu mencit yang diinduksi 20% minyak trans (MT20), 40% minyak trans (MT40) dan 60% minyak trans (MT60) dan kontrol (K). Persentase minyak trans diberikan berdasarkan dari total energi konsumsi pakan harian. Minyak trans diberikan per oral sehari sekali selama 70 hari. Darah diambil pada hari ke-70 dari vena lateral ekor tikus untuk mengukur profil lipid plasma yaitu kolesterol total, trigliserida (TG), High Density Lippoprotein (HDL) dan Low Density Lipoprotein (LDL) plasma  menggunakan alat uji cepat Lipid Pro®. Nilai Indeks Aterogenik Plasma (IAP) yaitu log (TG/HDL) dan Indeks Castelli (IC) yaitu LDL/HDL. Hasil pengkuran profil lipid plasma menunjukkan kolesterol total, trigliserida, HDL dan LDL plasma pada kelompok MT meningkat secara nyata dibandingkan kontrol (sig<0,05). Nilai IA pada mencit yang diberi minyak trans berbeda nyata dari kontrol (sig<0,05) dan memiliki risiko tinggi. Nilai IC pada mencit yang diberi minyak trans berbeda nyata dari kontrol (sig<0,05) dan memiliki risiko sedang-tinggi. Minyak trans meningkatkan nilai indeks aterosklerosis dan indeks resiko koroner mencit.Coronary Heart Disease (CHD) is a "silent killer" disease. Various studies were developed through an animal model approach to studying CHD. Cooking oil that is used repeatedly can increase levels of free fatty acids which have a negative impact on health, especially the heart and vessels. The aim of this study was to measure the plasma atherogenic index (IAP) and Castelli index (IC) of trans oil-induced model mice (MT). A total of 16 DDY mice were divided into 4 groups, namely mice induced with 20% trans oil (MT20), 40% trans oil (MT40) and 60% trans oil (MT60) and control (K). The percentage of trans oil is given based on the total energy consumption of the daily feed. Trans oil is given orally once a day for 70 days. Blood was taken on the 70th day from the lateral vein of the rat tail to measure the plasma lipid profile, namely total cholesterol, triglycerides (TG), High Density Lippoprotein (HDL) and plasma Low Density Lipoprotein (LDL) using the Lipid Pro® rapid test kit. The Plasma Atherogenic Index (IAP) values are log (TG / HDL) and the Castelli Index (IC) is LDL / HDL. The results of measuring the plasma lipid profile showed that plasma total cholesterol, triglycerides, HDL and LDL in the MT group increased significantly compared to the control (sig<0,05). The IA value in mice treated with trans oil was significantly different from the control (sig<0.05) and had a high risk. The IC value in mice treated with trans oil was significantly different from the control (sig<0.05) and had a medium-high risk. Trans oil increased the atherosclerosis index and coronary risk index of mice.
Kesempurnaan Kematian Sapi setelah Penyembelihan dengan dan tanpa Pemingsanan Berdasarkan Parameter Waktu Henti Darah Memancar Herwin Pisestyani; Nadhear Nadadyanha Dannar; Koekoeh Santoso; Hadri Latif
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 3 No. 2 (2015): Juli 2015
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.717 KB) | DOI: 10.29244/avi.3.2.58-63

Abstract

Parameter untuk mengetahui hewan sapi sempurna setelah disembelih yaitu dengan melihat refleks kelopak mata dan atau waktu henti darah memancar. Menurut EFSA (2004) kematian merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan respirasi fisiologis dan sirkulasi darah telah berhenti sebagai akibat dari pusat sistem tersebut di batang otak secara permanen kehilangan fungsi karena kekurangan oksigen dan energi. Waktu henti darah memancar merupakan indikasi bahwa jantung sudah tidak dapat memompa darah keluar dari tubuh karena tidak ada lagi asupan oksigen darah dalam jantung, sehingga hewan tersebut dapat dikatakan mati. Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung waktu henti darah memancar pada penyembelihan sapi dengan metode pemingsanan dan tanpa pemingsanan yang dipotong di rumah potong hewan ruminansia besar (RPHRB), sehingga diperoleh data rataan waktu hewan mati sempurna. Tiga puluh ekor sapi Brahman Cross dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu, sebanyak 15 ekor yang disembelih dengan pemingsanan (kelompok 1) dan sebanyak 15 ekor yang disembelih tanpa pemingsanan (kelompok 2). Waktu henti darah memancar dihitung sesaat setelah hewan disembelih sampai darah berhenti memancar. Hasil dari penelitian diperoleh rataan waktu henti darah memancar pada sapi yang dipingsankan sebelum disembelih adalah sebesar 3,02 menit dan rataan waktu henti darah memancar pada sapi yang disembelih tanpa pemingsanan adalah sebesar 2,13 menit. Selang waktu henti darah memancar antara sapi yang dipingsankan dengan sapi yang tidak dipingsankan sebelum disembelih adalah 53,4 detik. Waktu henti darah memancar dipengaruhi oleh perlakuan hewan sebelum pemotongan, yaitu dengan atau tanpa pemingsanan.Kata kunci: Pemingsanan, sapi, tanpa pemingsanan, waktu henti darah (The Perfect Cow Died after Slaughtered by Stunning and Non Stunning Methods According to Gushing Blood Downtime)Palpebra reflex and gushing blood downtime can be used as parameters to see animals death after slaughtered. Stop bleeding time was an indication that the heart is unable to pump blood out of the body due to no more oxygen in the blood of the heart, so that the cattle can be said has been dead perfectly. The aims of this study was to calculate the stop bleeding time of cattle slaughtered by stunning and non stunning methods, thus obtained the avaraging data of perfectly death time of animals. Thirty catlles’s Brahman Cross divided into two treatment groups, firstly 15 cattle’s were slaughtered by stunning method (group 1) and the second one 15 cattle’s were slaughtered by non stunning method (group 2). Blood gushing downtime was calculated immediately after the animal is slaughtered until the blood stops radiating. The results showed the average blood gushing downtime in cattles that were stunning before slaughtered is 3.02 minutes and the average time to stop blood gushing in cattles of non stunning group is 2.13 minutes. The interval blood gushing downtime between the cattles slaughtered by stunning and non stunning was 53.4 seconds. Blood gushing downtime was affected by the treatment of animals before they were slaughtered.Keywords: cattle, gushing blood downtime, non stunning, stunning.
Seroprevalensi Rabies Pascavaksinasi pada Populasi Anjing di Kawasan Endemik Rabies di Kabupaten Sukabumi Sri Murtini; Dordia Anindita Rotinsulu; Yusuf Ridwan; Denny Widaya Lukman; Abdul Zahid; Ardilasunu Wicaksono; Usamah Afiff; Asah Hilaliah; Risqika Akla Velayati; Etih Sudarnika; Koekoeh Santoso; Agus Wijaya
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 1 (2022): Maret 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.1.87-95

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil vaksinasi rabies dan membandingkan kenaikan titer antibodi yang terbentuk di Kecamatan Cisolok dan Jampang Tengah sebagai Kawasan endemik rabies Kabupaten Sukabumi dan mengasosiasikan titer antibodi yang terbentuk dengan umur, jenis kelamin, dan cara pemeliharaan anjing yang diperiksa . Sebanyak 211 anjing diamati pada studi ini. Sampel serum prevaksinasi dan pascavaksinasi diambil dan selanjutnya diuji dengan uji ELISA tidak langsung untuk mengetahui titer antibodinya. Data titer antibodi dari masing-masing sampel dianalisis secara deskriptif, sedangkan asosiasi umur, jenis kelamin, dan cara pemeliharaan dengan titer antibodi yang terbentuk pascavaksinasi dihitung menggunakan uji chi-square. Hasil pengujian menunjukkan seroprevalensi rabies di Kecamatan Cisolok dan Jampang Tengah sebelum vaksinasi adalah 17,3% dan 2,6% dengan titer 0,58 EU/mL dan 0,55 EU/mL, sedangkan seroprevalensi setelah vaksinasi menjadi 62,5% dan 93% dengan titer 1,29 EU/mL dan 1,33 EU/mL. Variabel umur, jenis kelamin, dan cara pemeliharaan tidak berasosiasi nyata dengan peningkatan titer antibodi rabies setelah vaksinasi. Hasil studi menyimpulkan bahwa seroprevalensi rabies di kawasan endemik rabies di Kabupaten Sukabumi meningkat setelah dilakukan vaksinasi dari sebelumnya 11% menjadi 75,8%, dengan nilai peningkatan titer (Δ titer) sebesar 1,09 EU/mL.
Determining Image Opacity in Broiler Respiratory Radiographic Using ImageJ and Ansel Adam’s Zone System Ikhwan Wirahadikesuma; Koekoeh Santoso; Hera Maheshwari; Akhiruddin Maddu
Jurnal Riset Veteriner Indonesia (Journal of The Indonesian Veterinary Research) VOLUME 4 No. 1, JANUARY 2020
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jrvi.v4i1.8431

Abstract

The diagnosis of diseases of the respiratory, lung, and air sacs generally uses radiographic images by radiologists. Therefore, the results are very subjective, causing differences in the interpretation and diagnosis among different radiologists. A radiographic image reading needs to be made in the form of a simple, fast, and accurate algorithm. The study aimed to reduce subjectivity and be easily carried out by radiology medical personnel, especially veterinarians. This study carried out density measurements by image processing using ImageJ software on 14 radiographic images of broiler chickens. Furthermore, the density value is associated with the Ansel Adam's - grayscale system to determine the opacity of respiratory tract tissues/organs, which were previously inhaled by one of them with chitosan-iopamidol nanoparticles using a nebulizer. The results of density measurements for the category of opacity in radiographic images are that seven spot areas lead brighter (radiopaque) only in chickens that are inhaled mist maker of chitosan-iopamidol nanoparticles. Then the determination of the value range is obtained average value on two ventrodorsal radiographic images, which are inhaled by mist maker of chitosan-iopamidol nanoparticles and chitosan nanoparticle compressor. The conclusion of this study was only in chickens that were infested with mist maker chitosan-iopamidol, whose radiographic image had a radiopaque spot and middle-value area. 
Physiological Status of Stunned and Non-Stunned Broilers: Blood Profile, and Brain Histopathology Aryani Sismin Satyaningtijas; Niken Ulupi; Yulvian Sani; Koekoeh Santoso; Elok Budi Retnani; Hera Maheshwari; Desrayni Hanadhita; Jefri Naldi; Irwan Oktoni; David Anwar; Ainul Khadija Saleema
Jurnal Riset Veteriner Indonesia (Journal of The Indonesian Veterinary Research) VOLUME 4 No. 2, JULY 2020
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jrvi.v4i2.10501

Abstract

Stunning method before slaughtering is considered more animal welfare compared to a non-stunning method and also reduces stress levels in broilers. As for the bleed-out efficiency, testing was done indirectly by blood volume measurement which consists of erythrocyte count, leucocyte count, hemoglobin levels, hematocrit values, and erythrocyte index in broilers.   Brain histopathology was also carried out to see the effect of electrical stunning towards the brain tissues.  The stunning method used is electrical stunning via water bath with the capacity of 146 mAh.  The results showed that the stunning method before slaughtering caused smaller number of erythrocytes and hematocrit values, and the brain histopathology showed that stunning causes encephalopathy.
Pelatihan Masyarakat Lingkar Kampus: Kualitas dan Kuantitas Telur Burung Puyuh Yang Mengalami Cekaman Koekoeh Santoso; Athirah Rerana Fitrianthy; Aryani Sismin Satyaningtijas; Damiana Rita Ekastuti; Isdoni Isdoni; Maharani Salsabila
Jurnal Abdimas ADPI Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 4 (2021): Jurnal Abdimas ADPI Sains dan Teknologi
Publisher : Asosiasi Dosen Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47841/saintek.v2i4.168

Abstract

Global warming has caused heat stress in quail (Coturnix coturnix Japonica). Heat stress can cause an increase in free radicals, through increased production and secretion of glucocorticoid hormones, which exceed the ability of the body's antioxidant system, causing oxidation, especially of double bonded lipid compounds found in cell membranes. Long-term secretion of glucocorticoids can cause a decrease in reproductive function. Dexamethasone is a glucocorticoid drug. The purpose of this study was to determine the effect of giving dexamethasone, as an analogy to glucocorticoid secretion in quail, on the quantity and quality of eggs produced by quail. Egg quality observed was length, width, weight, yolk weight and percentage, Haugh unit, white weight and percent, white height, egg shell weight and thickness. This study used 16 quails which were divided into four groups, namely one control group and three dexamethasone groups. The doses of dexamethasone given were 1.25 mg/kg BW, 2.5 mg/kg BW, and 5 mg/kg BW. Dexamethasone was given orally for two weeks. Sampling was carried out every day since the start of the study. The results showed that the administration of dexamethasone caused a decrease in the quantity and quality of eggs produced by quail.
SYNTHESIS OF CARBON DOTS (CDS) AND DETERMINATION OF OPTICAL GAP ENERGY WITH TAUC PLOT METHOD Jumardin Jumardin; Akhiruddin Maddu; Koekoeh Santoso; Isnaeni Isnaeni
Jambura Physics Journal Vol 3, No 2 (2021): October 2021
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34312/jpj.v3i2.11235

Abstract

Carbon Dots (CDs) which have been synthesized using the laser ablation method show the presence of UV-Vis absorption in the wavelength range of 303 nm to 333 nm for absorbance and 495 nm to 503 nm for fluorescence. Changes in the time duration 1, 2, 3 hours of CDs resulted in changes in the optical energy gap. The optical energy gap valuesare distinguished by the type of indirect transition (n=2) is 3.40 eV (1 hour), 3.15 eV (2 hour), 2.85 eV (3 hour) and direct transition (n=1/2) is 2.58 eV (1 hour), 2.31 eV (2 hour), 1.70 eV (1 hour).
EFEKTIVITAS PEMBERIAN NANOPARTIKEL KITOSAN-IOPAMIDOL MENGGUNAKAN NEBULIZER PADA SALURAN PERNAPASAN AYAM BROILER BERDASARKAN HASIL PENCITRAAN SINAR-X ikhwan wirahadikesuma; Koekoeh Santoso; Hera Maheshwari; Akhiruddin Maddu
JCPS (Journal of Current Pharmaceutical Sciences) Vol 3 No 1 (2019): September 2019
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.369 KB)

Abstract

ABSTRAK. Penyakit pernapasan khususnya pada ayam, diperlukan penghantaran obat yang langsung ke organ target dengan cara diinhalasi menggunakan alat nebulizer. Alat ini menghasilkan aerosol mampu mencapai paru-paru dan langsung berefek, dengan berbasis nanopartikel dapat meningkatkan bioavaibilitas. Penelitian ini bertujuan melihat efektivitas inhalasi nebulizer termodifikasi dikombinasi dengan nanopartikel kitosan-iopamidol terhadap organ target di saluran pernapasan ayam broiler. Sintesis nanopartikel metode gelasi ionik, dipreparasi dengan kitosan 0,1% dan natrium tripolifosfat 0,1% dalam cup nozzle 0,3 mm, rasio volume 5:1, ditambah 150 ml iopamidol 30,6 mg/ml dan diaduk 1300-1500 rpm. Partikel diukur dengan alat: Particle Size Analizer dan Scanning Electron Microscope. Nebulizer ultrasonik dan kompresor dipasang pada chamber 35 cm x 24 cm x 29 cm. Pemeriksaan radiologi tujuh ekor ayam umur 2 minggu, enam ekor masing-masing diinhalasi satu dari dua nebulizer dengan satu dari tiga macam larutan (nanopartikel kitosan, nanopartikel kitosan-iopamidol, dan iopamidol konsentrasi 30,6 mg/ml) sebanyak 3 ml. Kemudian dilakukan pemindaian dengan sinar-x. Hasil pengukuran partikel didapat z-avarage: 409,3 nm, indek polidisperitas 0,53 dan bentuk cenderung bulat. Citra radiograf menunjukkan radiopaque pada saluran pernapasan terutama kantong hawa yang diinhalasi nanopartikel kitosan-iopamidol. Kesimpulan, aerosol yang dihasilkan kedua jenis nebulizer termodifikasi yang dikombinasi dengan media kontras formulasi nanopartikel dapat mencapai saluran pernapasan ayam broiler. Kata kunci: ayam broiler, inhalasi, nebulizer, nanopartikel, sinar-x ABSTRACT. Respiratory diseases, especially in chickens, need proper treatment to deliver drugs directly to the target organs by means of inhalation using a nebulizer. This tool produces aerosols capable of reaching the lungs and having a healer effect immediately, with nanoparticles-based administration which can increase bioavailability. This study aimed to look at the effectiveness of modified inhalation nebulizer in combination with chitosan-iopamidol nanoparticles on target organs in the respiratory tract of broiler chickens. The nanoparticle synthesis of ionic gelation method was prepared with 0.1% chitosan and 0.1% sodium tripolyphosphate in 0.3 mm cup nozzle, with volume ratio 5: 1, plus 150 mL iopamidol 30.6 mg / mL then centrifuged on 1300-1500 rpm. Particles were measured by means of: Particle Size Analizer and Scanning Electron Microscope. Ultrasonic Nebulizer and compressor were installed in chamber with the size of 35 cm x 24 cm x 29 cm. Radiology examination of seven chickens with 2-week-old age was conducted by inhaling one of two nebulizers with one of three solutions (chitosan nanoparticles, chitosan-iopamidol nanoparticles, and iopamidol with the concentrations of 30.6 mg / mL) in the amount of 3 mL to six chickens (1 chicken was the control). Then x-ray scanning was carried out. The results of particle measurement obtained z-avarage in the amount of 409.3 nm, index of polydisperity of 0.53 and form tend to be spherical. Radiographic images revealed the existance of radiopaque in the respiratory tract, especially the bag of air inhaled chitosan-iopamidol nanoparticles. Therefore, the aerosols produced by the two types of modified nebulizers in combination with the nanoparticle formulation contrast media can reach the respiratory tract of broiler chickens. Keywords: broiler chicken, inhalation, nanoparticles, nebulizer, x-rays
Analisis Kolorimetri Kadar Hemoglobin Darah dengan Metode Pencitraan Digital Menggunakan Desktop Scanner Koekoeh Santoso; Muhammad Agil; Ridzky Pratama
ARSHI Veterinary Letters Vol. 1 No. 2 (2017): ARSHI Veterinary Letters - November 2017
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.571 KB) | DOI: 10.29244/avl.1.2.19-20

Abstract

Spektrofotometer adalah sistem baku berbasis kolorimetri dalam pengukuran kadar Hemoglobin (Hb). Penggunaan scanner untuk mengukur kadar Hb berbasis kolorimetri telah dilakukan sebagai sistem alternatif. Kurva baku kanal warna scanner yang paling curam adalah blue. Perbandingan kurva baku spektrofotometer dengan kanal warna blue menunjukan nilai y = 0.3131x + 0.0565 dengan R2 = 0.9954 dan angka konversi nilai absorbansi desktop scanner menjadi kadar Hb adalah 73.6. Hasil uji Pasangan T menghasilkan nilai p sebesar 0.325 atau tidak berbeda nyata pada p ˃ 0.05.
Profil hematologi anjing lokal di wilayah endemik rabies Agus Wijaya; Ronald Tarigan; Koekoeh Santoso; Yusuf Ridwan; Etih Sudarnika; Abdul Zahid Ilyas; Denny Widaya Lukman; Ardilasunu Wicaksono; Arifin Budiman Nugraha; Usamah Afiff; Sri Murtini; Edi Sukmawinata; Annisa Madyanti Geminastiti Parampasi
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.224 KB) | DOI: 10.29244/avl.2.1.1-2

Abstract

Provinsi Jawa Barat merupakan satu dari 24 provinsi di Indonesia yang dilaporkan belum bebas Rabies. Usaha pembebasan wilayah Jawa Barat dari penyakit Rabies sangat strategis mengingat posisi Jawa Barat berada di antara daerah bebas Rabies. Jampang Tengah menjadi salah satu kecamatan di Sukabumi yang pada tahun 2016 dilaporkan telah terjadi 13 kasus gigitan Rabies. Penelitian ini menggunakan 81 sampel darah anjing lokal yang dikoleksi dari enam desa di kecamatan Jampang Tengah dan diperiksa dengan menggunakan alat Rayto® hematology analyzer. Parameter profil hematologi dikelompokkan berdasarkan perbedaan umur dan jenis kelamin anjing. Hasil pemeriksaan hematologi secara umum berdasarkan umur menunjukkan nilai rataan yang lebih besar pada anjing lokal umur ≥1 tahun dan konsentrasi leukosit menunjukkan nilai statistik yang signifikan berbeda (p<0.05). Berdasarkan jenis kelamin, nilai rataan parameter hematologi secara umum lebih tinggi pada anjing lokal betina dan adanya perbedaan signifikan (p<0.05) pada konsentrasi leukosit dan granulosit.
Co-Authors A.S. Satyaningtijas Abdul Zahid Abidah, Puri Adzrok ACHMAD FARAJALLAH Afiff , Usamah Agik Suprayogi Agung Eru Wibowo Agus Wijaya Ainul Khadija Saleema Akhiruddin Maddu Aldo Febriano Tarigan Alfarisi, Hamzah Amrozi Andayani, Prawita Lintang Anindita Sista Widyadhari Anindita Sista Widyadhari Annisa Madyanti Geminastiti Parampasi Ardilasunu Wicaksono Asah Hilaliah Athirah Rerana Fitrianthy Aziz, Sandra Cintiyah, Farida Dalia Sukmawati Damhuri Damhuri Damiana Rita Ekastuti Daryanti, Edhita Putri David Anwar Denny Widaya Lukman Denny Widya Hikman Desrayni Hanadhita Dhani S. Wibawa Dwi Nurhidayah Zubaidah Edi Sukmawinata Edi Sukmawinata Elok Budi Retnani Etih Sudarnika Fauziah, Kholidah Gandasari, Ira Agustina Dewi Gilang Kala Maulana, Gilang Kala Hadri Latif Hapsari, Afrilia Bagus Putri heny Nitbani HERA MAHESHWARI Herwin Pisestyani Huda Shalahudin Darusman I wayan Teguh Wibawan Ika Mayasari, Ni Luh Putu Ikhwan Wirahadikesuma ikhwan wirahadikesuma Irfan Nurhidayat, Irfan Irwan Oktoni Isdoni Bustaman Isnaeni Isnaeni Isnaeni Jefri Naldi Jumadin, La Jumardin jumardin jumardin Khairina, Amalia Komariah komariah komariah Kudang Boro Seminar Kusnandar Anggadiredja La Jumadin La Jumadin La Jumadin La Jumadin Lili Darlian Lili Darlian MADE ASTAWAN Made Darawati Maharani Salsabila Mahendra, Arindina Maneewong, Sattabongkoch Maria, Joanita Maryce Agusthinus Walukou Mawali, Maharja Mokhamad Fakhrul Ulum, Mokhamad MUHAMMAD AGIL Mutaqqin, M. Ichwan Nadhear Nadadyanha Dannar NASTITI KUSUMORINI Nenis Rahma Wulandari Niken Ulupi Noor, Muhammad Primadevan Pascaharchana Nugraha, Arifin Budiman Nuri Ardiani Nurul Masyita, Nurul Okta Irviana Muminin Okti Nadia Poetri Ong Huey, Lynette Pudji Achmadi Putri, Anisya Saeila Putri, Fatimatus Sa’diyah Putri, Maritrana Rachmani, Ratasha Zahwanda Rahmadhani, Elsi Rani Audona Rasyida Ulfa Ridi Arif Ridzky Pratama Risqika Akla Velayati Rivangga Yuda Hendika Ronald Tarigan Rotinsulu, Dordia Anindita Sadiah, Siti Santoso, Hera Sasmita, Annissa Nuridfi Satvika, Fadhila Simanjuntak, Imelda Yanti Lumongga Simanjuntak, Saut Renato Rahmat sri murtini . Supiyani, Atin Tarigan, Ronald Tutik Wresdiyati Ulfatin Khoiriyah Herowati Umi Cahyaningsih Warysatul Ummah Wasmen Manalu Wijaya, Yanuar Restu Yulvian Sani Yusuf Ridwan Zora, Nelda Fliza Zulvia Maika