Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Prosiding Seminar Nasional MIPA

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA TEMPE KACANG HIJAU HASIL PROSES FERMENTASI MENGGUNAKAN INOKULUM TRADISIONAL Maryam, Siti
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tempe kacang hijau (Vigna radiata L) merupakan salah satu makanan tradisional indonesia dan juga pangan fungsional, yaitu suatu pangan yang apabila dimakan akan berdampak positif pada kesehatan yang disebabkan adanya komponen antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada tempe kacang hijua (Vigna radiata L) yang difermentasi menggunakan inokulum tradisional dengan lama waktu fermentasi selama empat puluh delapan jam. Analisis aktifitas antioksidan pada tempe kacang hijau diketahui dengan menggunakan uji DPPH. Data dianalisis dengan jalan mencari rata rata dari aktivitas antioksidan yang berasal dari lima kali pengulangan pembuatan tempe kacang hijau dengan menggunakan inokulum tradisional. Hasil penelitian mengatakan bahwa aktivitas antioksidan pada tempe kacang hijau sebesar 210,7372 mg/L. Disarankan untuk uji organoleptik pada tempe kacang hijau yang difermentasi dengan inokulum tradisional.Kata-kata kunci : tempe kacang hijau, inokulum tradisional, aktivitas antioksidanAbstract: Mung bean tempeh (Vigna radiata L) is one of Indonesian traditional food and functional food, a food that if eaten will have an impact on health due to the presence of antioxidant components. This study aims to determine the antioxidant activity in mung bean (Vigna radiata L) were fermented using traditional inoculum with longer fermentation time for forty-eight hours. Analysis of antioxidant activity in mung bean identified by using DPPH test. Data were analyzed by looking for an average of antioxidant activity derived from five repetitions mung bean tempeh using traditional inoculum. Research suggests that the antioxidant activity on green bean tempeh is 210.7372 mg/L. It is recommended for organoleptic test on mung bean tempeh is fermented with inoculum tradisionalKeywords : mung bean tempeh, inoculum traditional, actyvity antioxidant
UJI PEWARNAAN KAIN DAN BENANG MENGGUNAKAN PIGMEN MERAH DARI JAMUR YANG DIISOLASI DARI TANAH TERCEMAR LIMBAH SUSU Indrawasih, Ni Putu Meira; Sastrawidana, I Dewa Ketut; Maryam, Siti
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

-
KADAR ANTIOKSIDAN DAN IC50 TEMPE KACANG MERAH (Phaseulus vulgaris L) YANG DIFERMENTASI DENGAN LAMA FERMENTASI BERBEDA Maryam, Siti
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar antioksidan dan kekuatan antioksidan meredam radikal bebas (IC50) pada tempe kacang merah (Phaseulus vulgaris L) yang difermentasi dengan lama waktu fermentasi berbeda yaitu : 36 jam, 48 jam dan 60 jam. Uji aktivitas atioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan kadar antioksidan pada tempe kacang merah (Phaseulus vulgaris L) dengan lama fermentasi 36, 48 dan 60 jam berturut turut sebesar 37,17 ; 49,35 dan 47,03 sedangkan IC50 sebesar 90,84 ; 127,15 dan 124,99. Data kadar antioksidan dan aktivitas antioksidan dianalisis dengan uji anava satu jalur maka dapat dikatakan bahwa lama fermentasi akan mempengaruhi kadar antioksidan dan juga aktivitas antioksidan pada tempe kacang merah (Phaseulus vulgaris L). Disarankan untuk meneliti lebih lanjut tentang propil antioksidan yang terdapat pada tempe kacang merah (Phaseolus vulgaris L) yang difermentasi dengan berbagai lama fermentasi.Kata kunci : kacang merah, fermentasi , tempe, antioksidan, IC50.AbstractThis study aims to determine the levels of antioxidants and antioxidant powers reduce free radicals (IC50) in red beans (Phaseolus vulgaris L) fermented with different long fermentation time is: 36 hours, 48 hours and 60 hours. Test atioksidan activity using DPPH method. The results showed the levels of antioxidants in soybean red beans (Phaseolus vulgaris L) with a length of fermentation 36, 48 and 60 hours respectively at 37.17; 49.35 and 47.03, while IC50 is : 90.84; 127.15 and 124.99. Date levels of antioxidants and antioxidant activity was analyzed with ANOVA test, it can be said that the fermentation time will affect the levels of antioxidants and antioxidant activity in soybean red beans (Phaseolus vulgaris L). It is advisable to investigate more about characteristix antioxidants found in red beans (Phaseolus vulgaris L) fermented with various fermentation.Key word : red beans, fermentation, tempeh, antioxidant, IC50
KOMPONEN ISOFLAVON TEMPE KACANG MERAH (Phaseolus Vulgaris L) PADA BERBAGAI LAMA FERMENTASI Maryam, Siti
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tempe kacang merah (Phaseolus vulgaris L) merupakan hasil modifikasi kacang kedele (Glycine max) sebagai bahan dasar tempe dengan menggunakan kacang merah (Phaseolus vulgaris L). Tujuan penelitian ini menentukan komponen isoflavon tempe kacang merah (Phaseolus vulgaris L) yang dibuat dengan berbagai macam lama fermentasi, yaitu 36, 48 dan 60 jam. Metoda yang digunakan adalah memaserasi tepung tempe kacang merah dengan menggunakan pelarut etanol selanjutnya dipekatkan dan pada akhirnya komponen isoflavon diuji menggunakan alat HPLC. Hasil penelitian menyatakan bahwa komponen isoflavon pada tempe kacang merah yang difermentasi dengan lama fermentasi 36, 48 dan 60 jam berturut turut : 104,38 mg/100 gr ; 126, 33 mg/100 gr dan 135,76 mg/100 gr. Dari data penelitian ini, disarankan dalam proses pembuatan tempe kacang merah memperhatikan lama waktu fermentasi, untuk menghasilkan tempe yang mengandung isoflavon tinggi. Kata kata Kunci : tempe kacang merah, lama fermentasi, isoflavon AbstractTempe red beans (Phaseolus vulgaris) is one of tempe modified soybean (Glycine max) as the base material tempe with red beans (Phaseolus vulgaris). The purpose of this study determines component isoflavon of tempe red beans (Phaseolus vulgaris) are made with a wide variety of fermentation time are 36, 48 and 60 hours. The methods used are maceration tempe red beans poweder using ethanol solvent subsequently concentrated and eventually component isoflavone tested using HPLC instrument . The study states that the components of isoflavones in read beans fermented with 36 , 48 and 60 hours respectively : 104.38 mg / 100 g ; 126 , 33 mg / 100 g and 135,76 mg / 100 g . From these data suggested in the process of making tempe red beans attention to the length of time of fermentation , to produce tempe hight containing isoflavones . Keywords : tempe red beans , fermentation , isoflavones
PERBANDINGAN TAMPILAN PITA PENANDA DNA (DEOXYRIBONUCLEIC ACID) STANDAR DAN PENENTUAN PANJANG DNA KROMOSOM Y YANG DIISOLASI DARI DARAH MANUSIA PADA PEMISAHAN DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA BERBEDA Widiyanti, Ni Luh Putu Manik; Maryam, Siti; Parwata, I Putu; Mulyadiharja, Sanusi
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebelum ahli biologi mengetahui struktur dari Deoxyribonucleic acid (DNA), mereka mengenal bahwa DNA diturunkan dan gen yang menentukan berasosiasi dengan kromosom. Sekarang diketahui bahwa DNA membawa informasi keturunan dari sel, dan fungsi sebagian besar komponen protein terkemas dan terkontrol sepanjang molekul DNA. Oleh karena itu, semua sel dari semua bagian tubuh akan memberikan profil DNA yang sama bila dilakukan analisis DNA untuk mengkaitkan hubungan kekerabatan seseorang dengan lainnya. Kromosom Y diturunkan dari ayah hanya ke anak laki-laki tidak ke anak perempuan, oleh karena itu pewarisan gen pada kromosom Y bersifat paternal, sedangkan DNA ekstra kromosomal yaitu DNA mitokondria diwariskan secara maternal yaitu dari ibu ke semua anaknya baik laki-laki maupun perempuan. Di dalam analisis DNA, media pemisahan sangat menentukan tampilan pita DNA marka dan pita DNA yang dianalisis. Media pemisahan DNA yang biasa digunakan adalah agarose. Dalam studi ini, menggunakan media pembanding yaitu Sodium Dedocyl Sulfate Poliacrylamid Gel Electroforesis (SDS PAGE) untuk membandingkan tampilan pita DNA penanda standar dan DNA kromosom Y yang diisolasi dari darah manusia. Hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa media SDS PAGE menampilkan pita DNA yang lebih jelas pada proses pemisahan untuk kedua DNA. Sedangkan pita DNA yang diisolasi dari darah sampel dengan panjang lebih dari 200 pasangan basa yaitu 225 pasangan basa, menggunakan agarose maupun SDS PAGE.Kata-kata kunci : pita DNA, penentuan panjang molekul DNA, sampel darah, media pemisahan agarose dan Sodium Dedocyl Sulfate Polyacrylamid Gel Electroforesis.Abstract: Before biologist understood the structure of DNA, they had recognized that DNA is inherited traits and the genes that determine them were associated with the chromosomes. Now, the DNA carries the heredity information of the cell, and that the protein components of chromosomes function largest to package and control the long DNA molecule. So that, all of cells from all of part of body will take the same DNA profil if DNA analyzing have done for relationship inherited one person and another. Y chromosome is inherited from father to boys not woman, so that the inherited of gen in Y cromosome is paternality, while extrachromosomal DNA is mitochondria DNA is maternal inherited from mother to all of her children both boys or woman. In DNA analyzing, agarose medium is usually used for separate of DNA. In this study, used another medium for compare the agarose medium is Sodium Dodecyl Sulfate Polyacrylamid Gel Electroforesis (SDS PAGE) for appear bands of standar marker DNA (DYS-19) and chromosome Y DNA were isolated from human blood. The result showed the SDS PAGE medium had more clear of appear DNA bands in separated process for both of DNA. While band of DNA were isolated from human blood have long more than 200 bp is 225 bp, both using agarose and SDS PAGE.Keywords : bands of DNA, determine long of DNA molecule, human blood sample, separate medium are agarose and Sodium Dodecyl Sulfate Polyacrylamid Gel Electroforesis
TEMPE MENINGKATKAN KAPASITAS ANTIOKSIDAN TOTAL DAN MENURUNKAN KERUSAKAN JARINGAN KULIT PADA TIKUS YANG TERADIASI SINAR ULTRAVIOLET Maryam, Siti
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2011: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2011
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tempe merupakan pangan fungsional dan dapat digunakan sebagai zat anti radikal bebas akibat radiasi sinar ultraviolet ditandai dengan  peningkatan kapasitas antioksidan total. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tempe dalam meningkatkan kapasitas antioksidan total dan juga menurunankan kerusakan jaringan kulit akibat radiasi sinar ultraviolet. Penelitian ini menggunakan rancangan the randomized post test only control group design dengan variabel bebas berupa tempe  0, 1, 2 dan 3 gr/kg BB/hari dan variabel terikat berupa kapasitas antioksidan total dan kerusakan jaringan kulit pada tikus. Analisis data menggunakan anova satu arah yang dilanjutkan dengan uji Tukey HSD. Hasil penelitian menyatakan adanya peningkatan kapasitas antioksidan total pada kelompok kontrol dibandingkan P1, P2 dan P3 berturut-turut sebesar 5,02 %, 11,16 % dan 14,09 % dan terjadi penurunan kerusakan jaringan kulit. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tempe  dapat meningkatkan kapasitas antioksidan total darah dan menurunkan kerusakan jaringan kulit akibat radiasi sinar ultraviolet.
TEMPE MENINGKATKAN KAPASITAS ANTIOKSIDAN TOTAL DAN MENURUNKAN KERUSAKAN JARINGAN KULIT PADA TIKUS YANG TERADIASI SINAR ULTRAVIOLET Siti Maryam
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2011: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2011
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tempe merupakan pangan fungsional dan dapat digunakan sebagai zat anti radikal bebas akibat radiasi sinar ultraviolet ditandai dengan  peningkatan kapasitas antioksidan total. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tempe dalam meningkatkan kapasitas antioksidan total dan juga menurunankan kerusakan jaringan kulit akibat radiasi sinar ultraviolet. Penelitian ini menggunakan rancangan the randomized post test only control group design dengan variabel bebas berupa tempe  0, 1, 2 dan 3 gr/kg BB/hari dan variabel terikat berupa kapasitas antioksidan total dan kerusakan jaringan kulit pada tikus. Analisis data menggunakan anova satu arah yang dilanjutkan dengan uji Tukey HSD. Hasil penelitian menyatakan adanya peningkatan kapasitas antioksidan total pada kelompok kontrol dibandingkan P1, P2 dan P3 berturut-turut sebesar 5,02 %, 11,16 % dan 14,09 % dan terjadi penurunan kerusakan jaringan kulit. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tempe  dapat meningkatkan kapasitas antioksidan total darah dan menurunkan kerusakan jaringan kulit akibat radiasi sinar ultraviolet.
PENGARUH TEMPE KEDELAI TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT TIKUS DALAM KONDISI STRES OKSIDATIF Siti Maryam
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2012: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2012
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tempe kedelai yang mengandung antioksidan berupa isoflavon, SOD dan vitamin E terhadap kadar SGOT dan SGPT dan kerusakan hati tikus dalam kondisi stress oksidatif secara imunohistokimia. Penelitian ini dilakukan pada 24 ekor tikus putih strain Wistar . Tikus dibagi dalam tiga kelompok : kelompok kontrol (tanpa tempe dan tanpa disinar) kelompok perlakuan 1 (tanpa tempe dan dan disinar) dan perlakuan 2 (tempe 2 gram / kg BB/ hari dan disinar). Penyinaran (stress oksidatif) dilakukan selama 60 hari dengan lama penyinaran tiap hari sebanyak 5 jam. Data dianalisis menggunakan anova satu jalur dengan taraf signifikansi 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tempe kedelai dapat menurunkan kadar SGOT sebesar 17 % dan kadar SGPT sebesar 16,64 %. Penurunan kerusakan hati tikus secara immunohistokimia sebesar 90,7 %.
KOMPONEN ISOFLAVON TEMPE KACANG MERAH (Phaseolus Vulgaris L) PADA BERBAGAI LAMA FERMENTASI Siti Maryam
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2016: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tempe kacang merah (Phaseolus vulgaris L) merupakan hasil modifikasi kacang kedele (Glycine max) sebagai bahan dasar tempe dengan menggunakan kacang merah (Phaseolus vulgaris L). Tujuan penelitian ini menentukan komponen isoflavon tempe kacang merah (Phaseolus vulgaris L) yang dibuat dengan berbagai macam lama fermentasi, yaitu 36, 48 dan 60 jam. Metoda yang digunakan adalah memaserasi tepung tempe kacang merah dengan menggunakan pelarut etanol selanjutnya dipekatkan dan pada akhirnya komponen isoflavon diuji menggunakan alat HPLC. Hasil penelitian menyatakan bahwa komponen isoflavon pada tempe kacang merah yang difermentasi dengan lama fermentasi 36, 48 dan 60 jam berturut turut : 104,38 mg/100 gr ; 126, 33 mg/100 gr dan 135,76 mg/100 gr. Dari data penelitian ini, disarankan dalam proses pembuatan tempe kacang merah memperhatikan lama waktu fermentasi, untuk menghasilkan tempe yang mengandung isoflavon tinggi. Kata kata Kunci : tempe kacang merah, lama fermentasi, isoflavon AbstractTempe red beans (Phaseolus vulgaris) is one of tempe modified soybean (Glycine max) as the base material tempe with red beans (Phaseolus vulgaris). The purpose of this study determines component isoflavon of tempe red beans (Phaseolus vulgaris) are made with a wide variety of fermentation time are 36, 48 and 60 hours. The methods used are maceration tempe red beans poweder using ethanol solvent subsequently concentrated and eventually component isoflavone tested using HPLC instrument . The study states that the components of isoflavones in read beans fermented with 36 , 48 and 60 hours respectively : 104.38 mg / 100 g ; 126 , 33 mg / 100 g and 135,76 mg / 100 g . From these data suggested in the process of making tempe red beans attention to the length of time of fermentation , to produce tempe hight containing isoflavones . Keywords : tempe red beans , fermentation , isoflavones
UJI PEWARNAAN KAIN DAN BENANG MENGGUNAKAN PIGMEN MERAH DARI JAMUR YANG DIISOLASI DARI TANAH TERCEMAR LIMBAH SUSU Ni Putu Meira Indrawasih; I Dewa Ketut Sastrawidana; Siti Maryam
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

-