Adi Santoso
Department Marine Science, Faculty Of Fisheries And Marine Science, Diponegoro University

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : Journal of Marine Research

Analisis Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) pada Air, Sedimen, dan Lamun Enhalus acoroides di Perairan Pantai Sanur Kota Denpasar Sasi Vita Aphrodita; Adi Santoso; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.31978

Abstract

Salah satu permasalahan lingkungan di laut adalah kandungan logam berat dalam perairan pesisir yang berasal dari kegiatan industri, maupun alam. Logam berat juga dapat membentuk senyawa toksik. Lamun merupakan tumbuhan laut yang dapat dijadikan sebagai indikator pencemaran logam berat di wilayah pesisir dengan kapasitas kemampuan bioakumulasinya logam logam berat Pb pada lamun. Hal ini karena lamun berinteraksi secara langsung dengan badan air dan substrat melalui daun dan akarnya untuk menyerap ion – ion logam berat. Enhalus acoroides merupakan salah satu lamun yang paling banyak ditemukan di kawasan perairan Pantai Sanur, Bali. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan pariwisata yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara serta kawasan lokasi pariwisata yang banyak terdapat bangunan perhotelan dan fasilitas pariwisata. Selain itu, wilayah ini dijadikan sebagai dermaga untuk kapal – kapal nelayan dan fast boat yang diduga menjadi sumber masukan logam berat Timbal (Pb) di perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam berat (Pb) pada air, sedimen, serta lamun Enhalus acoroides bagian akar, rhizome, dan daun. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif dimana dilakukan dengan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling yang dilakukan pada bulan Desember 2020 di Pantai Sanur. Selanjutnya analisis kandungan logam berat menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrofotometry). Berdasarkan hasil penelitain menunjukkan bahwa kandungan logam berat pada air sebesar 0,0035 – 2,62 mg/l, pada sedimen sebesar 3,23 – 5,67 mg/l, pada akar sebesar 1,12 – 1,98 mg/l, pada rhizoma sebesar 0,16 – 3,04 mg/l, dan pada daun lamun sebesar 0,49 – 3,48 mg/l. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandungan logam berat Pb di perairan Pantai Sanur, pada air dan lamun sudah melebihi nilai baku mutu PP Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021, sedangkan kandungan logam berat Pb pada sedimen masih di bawah baku mutu SEPA (Swedish Environmental Protection Agency) Tahun 2000. One of the environmental problems in the sea is the content of heavy metals in coastal waters originating from industrial activities and nature. Heavy metals can also form toxic compounds. Seagrass can be used as an indicator of metal accumulation capacity because it interacts directly with water bodies and substrates through their leaves and roots to absorb heavy metal ions. Enhalus acoroides is one of the most common seagrasses found in the waters of Sanur Beach, Bali. This tourism area visited both domestic and foreign tourists have hotel buildings and tourism facilities at the location. In addition, there is a dock for fishing boats and fast boats suspected to be a source of heavy metal Lead (Pb). The research aims to determine the Pb heavy metal content in water, sediment, and the seagrass' roots, stems, and leaves. The method used in this research is a descriptive method by taking a sample with a purposive sampling method in December 2020 on Sanur Beach, then analyzed using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Based on research results showed that the content of heavy metals in water was 0,0035 – 2,62 mg/l, in sediment was 3,23 – 5,67 mg/l, in root was 1,12 – 1,98 mg/l, in stem was 0,16 – 3,04 mg/l, and in leaves was 0,49 – 3,48 mg/l. The conclusion was Pb content both in the waters and seagrass at Sanur Beach has exceeded the quality standard of Republic of Indonesia Government Regulation Number 22 of 2021, while the content in the sediment is still below the 2000 SEPA (Swedish Environmental Protection Agency) quality standard.
Sebaran Spasial Mangrove di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi Bayu Aji Pratama; Ibnu Pratikto; Adi Santoso; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33765

Abstract

Mangrove adalah vegetasi yang dijumpai di kawasan pesisir, khususnya di wilayah tropis dan mampu bertahan hidup di bawah lingkungan dengan salinitas yang lebar. Ekosistem mangrove sangat produktif dan memainkan peran penting secara ekologi, ekonomi, dan sosial. Masalah yang dihadapi mengenai konversi lahan serta dampak alam terhadap mangrove dapat dirasakan oleh ekosistem mangrove di wilayah pantai utara Jawa, tidak terkecuali di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran vegetasi mangrove, mengetahui luas vegetasi mangrove, dan mengetahui klasifikasi tutupan vegetasi mangrove di Desa Pantai Bahagia dengan menggunakan data citra Sentinel-2A melalui studi pengindraan jauh dan validasi di lapangan. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif dengan pendekatan pengindraan jauh untuk mengetahui sebaran mangrove menggunakan band composite serta analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Validasi dari analisis spasial dilakukan dengan hemispherical photography dan diuji akurasinya. Hasil dari penelitian ini adalah Mangrove di Desa Pantai Bahagia tersebar di dekat wilayah konservasi hutan lindung, di dekat sepanjang aliran sungai, di dekat wilayah pertambakan, area pantai, dan di dekat wilayah pemukiman. Luas sebaran mangrove di Desa Pantai Bahagia yakni sebesar 464,418 ha.  Klasifikasi kerapatan tutupan kanopi mangrove di Desa Pantai Bahagia yakni kerapatan padat dengan luas sebesar 451,91 ha (97%), 5,96 ha (1%) dari total luasan mangrove memiliki kondisi kerapatan kanopi mangrove sedang, dan 6,55 ha (2%) memiliki kondisi kerapatan kanopi jarang. Mangroves are a type of vegetation that grows along the coast, particularly in tropical areas, and can withstand a broad salinity range. The ecosystems of mangroves are very productive and perform an essential ecological, economic, and social role. Mangrove habitats on the northern coast of Java, including Pantai Bahagia Village, Muara Gembong District, Bekasi Regency, are dealing with the effects of land conversion and natural impacts on mangroves. The purpose of this research was to use Sentinel-2A image data to determine the distribution of mangrove vegetation, the extent of mangrove vegetation, and the classification of mangrove vegetation cover in Pantai Bahagia Village through remote sensing studies and field validation. The distribution of mangroves was determined using composite bands and analysis of the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) in this descriptive exploratory study. Hemispherical photography was used to verify the spatial analysis results and the accuracy was measured. Mangroves in Pantai Bahagia Village are distributed around protected forest conservation areas, rivers, fish ponds, coastlines, and residential areas. Pantai Bahagia Village has a mangrove distribution area of 464.418 ha. Pantai Bahagia Village's mangrove canopy cover density is classified as dense with 451.91 ha (97%) of the total mangrove area, 5.96 ha (1%) of the total mangrove area with a medium density of mangrove canopy, and sparse with 6.55 ha (2%) of the total mangrove area.
Studi Habitat Peneluran Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) di Pulau Menjangan Kecil Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara Jawa Tengah Tasha Iary; Adi Santoso; Raden Ario
Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.326 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v7i3.25913

Abstract

ABSTRAK : Penyu merupakan salah satu anggota reptil berkarapas yang hidup di laut. Keberadaan penyu saat ini semakin lama semakin berkurang. Hal ini menyebabkan Penyu terdaftar dalam Apendik I Konvensi Perdagangan Internasional Fauna dan Flora Spesies Terancam (Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora - CITES). Salah satu jenis penyu yang bersifat khas dan populasinya semakin berkurang adalah penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). Kepulauan Karimunjawa diketahui menjadi salah satu habitat peneluran penyu Sisik di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Menjangan Kecil Kepulauan Karimunjawa untuk mengetahui karakteristik habitat peneluran penyu Sisik (E. imbricata) yang ditinjau dari aspek biologi dan geofisik yang terdiri dari jenis vegetasi, jenis predator yang dijumpai, lebar pantai, kemiringan pantai, suhu pasir, kadar air dalam pasir, dan pengukuran butiran pasir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif eksploratif. Hasil penelitian menunjukan beberapa karakteristik geofisik habitat peneluran penyu sisik di Pulau Menjangan Kecil meliputi kemiringan pantai yang berkisar 2,51o - 4,85o, suhu pasir antara 27˚ – 28,˚C, kemudian kadar air sedimen rata-rata sebesar 4,94%, dan ukuran butir pasir didominasi oleh pasir halus. Sementara karakteristik biologi meliputi vegetasi yang didominasi oleh Kelapa (Cocos nucifera), Katang (Ipomoea pes-caprae), dan Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), dan predator yang dijumpai adalah Semut Merah (Oechophylla smaragdina), Kepiting (Ocypoda sp.), dan Biawak (Varanus salvator). ABSTRACT : Turtle is one of carapaced reptiles that live in the sea. Currently, the existence of turtles progressively reduced and has been listed in Appendix I of the Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora - CITES. One of the turtles that is unique and the population was reduced is Hawksbill Turtle (Eretmochelys imbricata). Karimun Islands is known to be one of the hawksbill turtle’s nesting habitat in Indonesia. This research was conducted in Menjangan Kecil Island, Karimunjawa Islands know the nesting site characteristics of Hawksbill turtle (E. imbricata) that evaluated from various aspects including biology, such as the type of vegetation and kinds of predators, and geophysics that consist coastal width, coastal slope, sand temperature, water content in the sand, and the measurement of grains of sand. The method used in this research is descriptive exploratory. The results showed some hawskbill turtle’s geophysical characteristics of nesting site in Menjangan Kecil Island include coastal slope in the range of 2.510 - 4.850, the sand temperature between 27-28˚C, the average of the water content of sediment is 4.94%, and the size of sand grains is dominated by fine sand. While the biological characteristics include vegetation that dominated by Coconut Tree (Cocos nucifera), Katang (Ipomoea pes-caprae), and Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), and the predator that encountered are red ants (Oechophylla smaragdina), crabs (Ocypoda sp.), and lizards (Varanus salvator).
Morfometri Portunus pelagicus, Linnaeus, 1758 (Malacostraca : Portunidae) dari Perairan Jobokuto, Jepara Yuftah Rizkasumarta; Adi Santoso; Endang Sri Susilo
Journal of Marine Research Vol 8, No 3 (2019): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.868 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v8i3.25264

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus) memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi keberadaannya secara alami berhadapan dengan tingkat penangkapan yang semakin meningkat. Pesatnya perkembangan perusahaan eksportir rajungan dengan bahan baku yang bersumber dari hasil tangkapan nelayan, mengakibatkan sangat banyaknya nelayan yang melakukan penangkapan. Penangkapan rajungan dengan frekuensi tinggi dan terus-menerus tanpa memperhatikan ukuran serta kondisi rajungan, berpotensi mengurangi stok rajungan di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran, serta hubungan lebar karapas dengan berat rajungan yang didaratkan dari perairan Jobokuto, Jepara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan, dari 1500 rajungan yang diamati diketahui bahwa distribusi lebar karapas berkisar 10,50-11,30 cm, dan berat berkisar  75-104 gram. Hubungan lebar karapas dengan  berat rajungan menghasilkan nilai b sebesar 1,68 untuk rajungan jantan dan 2,80 untuk rajungan betina, sehingga baik rajungan jantan maupun betina pertumbuhannya bersifat allometrik negatif. Sifat pertumbuhan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan lebar karapas lebih cepat dibandingkan pertumbuhan berat rajungan. Persentase penggunaan alat tangkap oleh nelayan rajungan Jepara adalah Bubu (91%), dan Jaring (9%).The blue swimming crab (Portunus pelagicus) has a high economic value, but its existence is naturally faced with increasing fishing rates. The rapid development of crab exporters with raw materials sourced from fishermen's catches has resulted in very many fishers making arrests. Catching the crab with high frequency and continuously without regard to the size and condition of the crab has the potential to reduce the crab stock in the waters. This research aimed to determine the size distribution, as well as the relationship of carapace width to the weight of the crab,  landed from the seas of Jobokuto, Jepara. The results of this study indicated that of the 1500 crabs observed, the distribution of carapace width ranged from 10.50 to 11.30 cm, and the weight ranged from 75 to 104 grams. The relationship between carapace width and crab weight had a value of b of 1.68 for male crabs and 2.80 for female crabs so that both male and female crabs have negative allometric growth. This growth characteristic showed that carapace width growth is faster than the growth of crab weight. The percentage of fishing gear used by Jepara crab fishermen is Bubu (91%), and Net (9%).
Evaluasi Kesesuaian Tambak Garam Ditinjau Dari Aspek Fisik Di Kecamatan Juwana Kabupaten Pati Renaldi Bahri Tambunan; Hariyadi Hariyadi; Adi Santoso
Journal of Marine Research Vol 1, No 2 (2012): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.972 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v1i2.2036

Abstract

Salt is one of the national strategic commodities in the field of marine. Effort to increase the quantity and quality of salt production has not been a priority for farmers in Juwana. It examined regarding evaluated the suitability of the physical land of salt embankment in Pati Juwana to approach some of the factors are soil permeability, climatology, soil type and topography of the form. The purpose of this research is to know and study the suitability of the salt level land embankment in district Juwana, Pati. This research using several physical analysis of the permeability of soil, land forms and types, climatic conditions and scoring physical suitable of salt embankment. The results of this study indicate that the suitability of physical salt embankment in Juwana, Pati has a physical suitability class is very suitable (S1) to produce a national salt.
Kajian Kesesuaian Dan Daya Dukung Kawasan Pesisir Pantai Nglambor Kab. Gunungkidul Yogyakarta Sebagai Kawasan Wisata Bahari Fery Surya Nugraha; Adi Santoso
Journal of Marine Research Vol 7, No 3 (2018): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.257 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v7i3.25905

Abstract

ABSTRAK : Dalam perkembangan dunia pariwisata sekarang ini, jenis pariwisata di Indonesia yang sedang digemari adalah pariwisata yang berbasis lingkungan (alam) dan pariwisata yang berbasis sejarah. Obyek wisata Pantai Nglambor merupakan sebuah pantai yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Pantai Nglambor berada dalam satu kawasan dengan Pantai Siung. Pantai Nglambor memiliki berbagai potensi alam dan budaya yang cukup menarik, namun potensi yang ada belum dikelola secara maksimal oleh pemerintah desa maupun masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi yang sesuai untuk pengembangan kegiatan wisata bahari, mengetahui luasan area pengembangan kegiatan wisata bahari, mengetahui luasan area pengembangan kegiatan wisata pantai. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-November 2016. Metode penelitian ini digunakan dalam bentuk metode deskriptif. Untuk analisis data penelitian ini menggunakan metode non parametrik yaitu indeks kesesuaian wisata (IKW) dan analisis daya dukung kawasan (DDK). Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, seluruh stasiun pengamatan (stasiun 1, 2, dan 3) memiliki nilai Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) diatas 80% dengan rincian sebagai berikut: di stasiun 1 dengan nilai IKW sebesar 98,85%; di stasiun 2 nilai IKW 94,25%; serta stasiun 3 memiliki nilai IKW sebesar 90,804%, yang artinya bahwa di semua stasiun pengamatan (stasiun 1,2 dan 3) masuk kedalam kategori kesesuaian wisata sangat sesuai (S1) sebagai kawasan wisata pantai. Kegiatan wisata yang dapat dikembangkan antara lain, Snorkeling, Berjemur dan Susur pantai. Luas area yang dapat dimanfaatkan adalah sekitar 159,798 m2 dan memiliki daya tampung maksimal 392 orang untuk melakukan kegiatan wisata pantai efektif harian. ABSTRACT : In the development of world tourism, the environmental and hystorical based tourism are most popular tourism in Indonesia right now. Tourism of Nglambor Beach is a beach located in the village of Purwodadi, Tepus sub-Regency, Gunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta. Nglambor beach is located in an area with Siung beach. Nglambor Beach has a variety of natural and cultural potential which is interesting enough, but the potential has not yet been managed optimally by the Government of the village as well as the local community. This Study inteded to assign suitable location for development marine tourism activity, know extents area development and capacity unit area that intended of tourism activity beach tourism. The research has been done from March till November 2016. This research methods used tourism compliance index (IKW) and carrying capacity analysis (DDK). Based on the calculations that have been done, the whole observation station (station 1, 2, and 3) has an suitability analysis of the area (IKW) above 80% with details as: at station 1 with a value of IKW 98,85%; at station 2 value of IKW 94.25%; as well as the station 3 has a value of 90,804%, the IKW. This area has a category S1 (very suitable). Other tourism activities that can be developed are Snorkeling, Sun bathing, and Fringing the beach. The area can be promoted is 159.798 m2 and has capacity of maximum 392 person tourist effective daily.
Simpanan Karbon Enhalus acoroides LF. Royle 1839 (Angiosperms: Hydrocharitaceae) di Pantai Gelaman dan Pantai Alang-Alang, Karimunjawa Jepara Viny Ratnasari; Ali Djunaedi; Adi Santoso
Journal of Marine Research Vol 9, No 1 (2020): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.555 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v9i1.25303

Abstract

ABSTRAK: Perubahan iklim disebabkan oleh berbagai aktifitas kegiatan manusia yang menghasilkan gas karbon diokasida ke atmosfer bumi yang akan berdampak pada pemanasan global. Ekosistem padang lamun memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar dari atmosfer yang dapat mengurangi emisi karbon. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kerapatan, tutupan lamun, biomassa dan simpanan karbon pada lamun Enhalus acoroides di Pantai Gelaman dan Pantai Alang-Alang. Penelitian menggunakan metode survei dan penentuan lokasi dipilih dengan menggunakan metode line transect quadrant yang mengacu pada metode LIPI. Sampling dilakukan pada titik 50 m setiap substasiun dengan metode pencuplikan. Pengukuran karbon pada sampel lamun menggunakan metode LOI.Kerapatan lamun di Stasiun 1 sebesar 1235 ind/m2 dan nilai tutupan lamun sebesar 68,76%. Kerapatan Stasiun 2 sebesar 1135 ind/m2 dan tutupan lamun sebesar 51,78%. Nilai rata-rata estimasi simpanan karbon lamun Enhalus acoroides di Stasiun 1sebesar 119.27 gC/m2 dan di Stasiun 2 sebesar 91.57 gC/m2. ABSTRACT: Climate change is caused by various human activities that produce carbon dioxide gas into the earth atmosphere which will have an impact on global warming. Seagrass ecosystem is able to absorb and store large number of carbon from the atmosphere that can reduce carbon emissions. This research were to determine the density, seagrass cover, biomass and carbon storage in seagrasses at Gelaman Beach (Station 1) and Alang-Alang Beach (Station 2). Survey and sampling. Were conducted using quadrant transect referring to LIPI method. Observation of the density value, the percentage of seagrass coverage was conducted in all points, while the sampling was conducted at the point 50 m on each substation by sampling method. Carbon measurement in seagrass sample used LOI method. Total seagrass density in Station 1 was 1235 ind/m2 and the total value of seagrass percentage cover was 68,76%. Total seagrass density in Station 2 was 1135 ind/m2 and total value of seagrass percentage cover was 51,78%. Average value for carbon savings estimated seagrass Enhalus acoroides in Station 1 was 119.27 gC/m2 and Station 2 was 91.57 gC/m2.
Potensi Risiko Kesehatan Manusia Akibat Konsumsi Perna viridis yang Mengandung Kadmium Farhan Ghifari; Adi Santoso; Jusup Suprijanto
Journal of Marine Research Vol 11, No 1 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i1.32338

Abstract

Tambak Lorok merupakan salah satu Kawasan yang padat penduduk dan terdapat banyak aktivitas seperti industri, Pelabuhan dan menjadi pusat penjualan hasil laut dengan adanya TPI Tambak Lorok. Limbah hasil kegiatan industri, Pelabuhan dan rumah tangga diduga menyebabkan terjadinya pencemaran logam berat kadmium (Cd) di perairan dan mempengaruhi biota laut seperti kerang hijau ( Perna viridis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Cd pada air, sedimen, dan kerang hijau (Perna viridis) serta mengetahui potensi risiko Kesehatan yang timbul   apabila   mengkonsumsi kerang hijau (Perna viridis) tersebut. Penelitian ini   dilaksanakan pada   bulan Desember 2020, Januari 2021, dan Maret 2021 dengan metode deskriptif. Analisis kandungan logam berat kadmium (Cd) pada air, sedimen dan kerang hijau dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil analisis kandungan logam berat pada air berkisar <0,001-0,696 mg/L, sedimen <0,001-1,931 mg/kg, dan jaringan lunak kerang hijau (Perna viridis) 0,070-1,693 mg/kg. Berdasarkan perhitungan Estimasi Asupan Harian (EDI) untuk laki-laki dewasa menunjukkan nilai berkisar 0,000026-0,000626 mg/kg/hari dan pada perempuan dewasa berkisar 0,000035-0,000835 mg/kg/hari. Sedangkan nilai tingkat risiko (THQ) untuk laki-laki dewasa menunjukkan nilai berkisar 0,026-0,626. Dan untuk perempuan berkisar 0,035-0,835. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa di perairan Tambaklorok Semarang di air, sedimen dan jaringan lunak kerang hijau sudah terindikasi tercemar logam berat Cd. Kewaspadaan mengkonsumsi kerang hijau perlu dilakukan meskipun dari aspek kesehatan berdasarkan perhitungan EDI dan THQ masih aman dan belum menunjukkan tingkat bahanya. Tambak Lorok Semarang is one of the densely populated areas. There are many activities such as industry, ports, and becoming a center for selling marine products with the Tambak Lorok TPI. The waste resulted is suspected of causing heavy metal cadmium (Cd) pollution in the waters and affecting marine biota such as green mussels (Perna viridis). This study aimed to determine the content of Cd in water, sediment, and green mussels (Perna viridis) and to determine the potential health risks that arise when consuming the mussels. The field study occurred in December 2020, January 2021, and March 2021 with a descriptive method. Analysis of the Cd content was conducted at the Environmental Engineering Laboratory Diponegoro University by the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) method. The results of the heavy metal content in water, sediment, and mussels' soft tissue respectively ranged from <0.001-0.696 mg/L, <0.001-1.931 mg/kg, and 0.070-1.693 mg/kg. The Estimated Daily Intake (EDI) for adult males' values ranged from 0.000026-0.000626 mg/kg/day, and for adult females from 0.000035-0.000835 mg/kg/day. While the value of the risk level (THQ) for adult males showed a value ranging from 0.026-0.626. And for females, it ranged from 0.035 to 0.835. It showed that Cd contaminated the water, the sediment, and soft tissue of green mussels in Tambaklorok Waters. Even though a health aspect is still safe and has not shown the danger, people have to be precaution in consuming the mussels.
Kandungan Logam (Pb) pada Air, Sedimen, dan Jaringan Lunak Kerang Darah (Anadara granosa) di Perairan Bandengan, Kabupaten Kendal Serta Batas Aman Konsumsi untuk Manusia Arya Fernandes; Adi Santoso; Ita Widowati
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.35251

Abstract

Kegiatan pembangunan industri yang berkembang cukup pesat di kawasan industri Kabupaten Kendal diduga menjadi penyebab meningkatnya limbah buangan industri yang didalamnya terkandung logam berat timbal (Pb), sehingga limbah tersebut berkontribusi menurunkan kualitas perairan Bandengan, Kabupaten Kendal. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar logam (Pb) pada air, sedimen, dan kerang darah (A. granosa) serta batas maksimal konsumsi mingguan kerang darah (A. granosa) yang mengandung logam timbal (Pb) di Perairan Bandengan, Kabupaten Kendal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret dan April 2022. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deksriptif sedangkan penentuan lokasi penelitian dengan metode purposive sampling. Analisis konsentrasi logam berat Pb dilakukan di Laboratorium Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry), sedangkan untuk analisis batas aman konsumsi mingguan dihitung dengan MTI (Maximum Tolerable Intake). Hasil penelitian ditemukan konsentrasi logam Pb di perairan Bandengan sebesar <0,003 mg/l, sedimen berkisar 15,32-24,21 mg/kg, dan kerang darah berkisar 0,209-0,731 mg/kg. Berat maksimal mengkonsumsi kerang darah (A. granosa) perminggu dari perairan Bandengan, Kabupaten Kendal individu dengan berat badan 60 kg sebesar 2,051-7,177 kg/minggu. Sedangkan, individu dengan berat 45 kg yaitu 1,538-5,382 kg/minggu. Industrial development activities have been developing quite rapidly in the Kendal Regency industrial area and are suspected to be the cause of the increase in the waste containing lead (Pb) heavy metal. It might contribute to reducing the quality of Bandengan waters. This study was to know the levels of metal (Pb) in water, sediment, and blood cockles (A. granosa) and the maximum weekly consumption of the cockles containing lead (Pb) in the waters. The study conducted in March and April 2022 used the descriptive method and purposive sampling to determine the locations. Analysis of Pb concentration was at the Laboratory of the Center for Industrial Pollution Prevention Technology (BBTPPI) using the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) method. The analysis of the safe limit for weekly consumption was using the formula of MTI (Maximum Tolerable Intake). The results showed that Pb concentrations in water, sediment, and tissue in Bandengan waters were <0.003 mg/l, 15.32 - 24.21 mg/kg, and 0.209 - 0.731 mg/kg, respectively. The maximum weight of consuming blood cockles (A. granosa) per week from Bandengan waters, Kendal Regency of 60 kg individuals weighing was 2,051 - 7,177 kg/week. Meanwhile, individuals weighing 45 kg were 1,538 - 5.382 kg/week.
Nilai Simpanan dan Harga Karbon Ekosistem Mangrove Desa Pasar Banggi, Rembang, Jawa Tengah Fifi Nur Hidayah; Subagiyo Subagiyo; Adi Santoso
Journal of Marine Research Vol 12, No 2 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i2.34616

Abstract

Pemanasan global merupakan salah satu fenomena alam  yang sedang berlangsung dan disebabkan oleh adanya peristiwa efek rumah kaca. Penyebab terjadinya efek rumah kaca diantaranya adalah meningkatnya konsentrasi gas Karbondioksida (CO2) di atmosfer. Hutan mangrove berperan sebagai upaya mitigasi akibat dari pemanasan global karena salah satu fungsi dari hutan mangrove adalah sebagai penyimpan karbon (C). Tujuan dari peneitian ini secara umum dilakukan untuk mengevaluasi simpanan karbon pada rehabilitasi mangrove desa Pasar Banggi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif yang dilakukan pada tiga stasiun. Masing-masing stasiun dibagi menjadi tiga plot yang bertujuan untuk menghitung nilai biomassa menurut rumus alometrik. Estimasi simpanan karbon pada substrat didapat dari pengambilan sampel sedimen di setiap stasiun yang selanjutnya dilakukan analisis kandungan bahan organik dengan metode LOI (Loss on Ignation) di Laboratorium Nutrisi dan Pakan Universitas Diponegoro. Setelah mendapatkan hasil nilai simpanan karbon pada tegakan dan substrat kemudian dilakukan perhitungan nilai ekonomi karbon. Berdasarkan hasil penelitian di Ekosistem Mangrove Desa Pasar Banggi didapatkan nilai simpanan karbon pada tegakan sebesar 74.986,95 ton/ha pada substrat sebesar 202,61 ton/ha. dan untuk nilai ekonomi sebesar Rp 6.302.937 untuk harga pasar sukarela dan untuk harga pasar wajib sebesar Rp 16.476.737.063,5. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai simpanan karbon dan nilai ekonomi mangrove di Desa Pasar Banggi Jumlahnya sangat Besar dan mampu menjadi salah satu solusi untuk perubahan iklim.Global warming is an ongoing natural phenomenon caused by the greenhouse effect. One of the causes of the greenhouse effect is the increased concentration of carbon dioxide (CO2) in the atmosphere. Mangrove forests act as mitigation efforts due to global warming because one of the functions of mangrove forests is to store carbon (C). The purpose of this research is generally to evaluate carbon storage in the mangrove rehabilitation of the Pasar Banggi Village. The method used in this study is a descriptive method which was carried out at three stations with different mangrove conditions. Each station is divided into three plots which aim to calculate the biomass value according to the allometric formula. Estimation of carbon deposits on the substrate was obtained from sediment sampling at each station which was then analyzed for organic matter content using the LOI (Loss on Ignation) method in the Nutrition and Feed Laboratory of Diponegoro University. After getting the results of the carbon storage value in the stand and substrate, then the calculation of the economic value of carbon is carried out. Based on the results of research in the Mangrove Ecosystem of Pasar Banggi Village, the value of carbon stored in the stands was 74,986.95 tons/ha on a substrate of 202.61 tons/ha. And for the economic value of Rp. 6,302,937 in the voluntary market and for the mandatory market, it is Rp. 16,476,737,063.5. These results indicate that the value of carbon storage and the economic value of mangroves in the Pasar Banggi Village is very large and can be one of the solutions for climate change.