Claim Missing Document
Check
Articles

Mina Wisata Sebagai Alternatif Pengembangan Wisata Bahari di Kawasan Pesisir Buleleng, Bali Utara Gede Ari Yudasmara
Jurnal Segara Vol 12, No 1 (2016): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3461.41 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i1.7653

Abstract

Kawasan pesisir Kabupaten Buleleng saat ini telah dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan kepariwisataan, akan tetapi kegiatan tersebut masih belum memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan memiliki kecenderungan mengalami kejenuhan. Untuk itu, diperlukan suatu pengembangan wisata alternatif yang sesuai dengan kondisi dan potensi sumber daya alam yang ada serta saling  bersinergi dengan aktivitas wisata lainnya, seperti contohnya pengembangan mina wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kondisi dan potensi sumberdaya alam pesisir dan laut, tingkat kesesuaian kawasan pesisir Buleleng dalam menunjang pengembangan mina wisata dan menghasilkan model aktivitas mina wisata di kawasan pesisir Buleleng yang terpadu dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kesesuaian kawasan dengan rancangan penelitiannya berupa survei lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesisir Kabupaten Buleleng apabila dilihat dari kondisi dan potensi sumberdaya alamnya masih mampu untuk mendukung aktivitas mina wisata dengan tingkat kesesuaian kawasan berdasarkan indeks kesesuaian wisata, yaitu pesisir Buleleng timur terkategori cukup sesuai (76,92), pesisir Buleleng tengah terkategori cukup sesuai (61,53) dan pesisir Buleleng barat terkategori sangat sesuai (87,17). Rencana model mina wisata yang dapat dikembangkan antara lain pesisir Buleleng timur adalah mina wisata budidaya laut (ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (mancing dan spearfishing adventures), pesisir Buleleng tengah adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut) dan mina wisata perikanan tangkap (mancing dan spearfishing adventures), dan pesisir Buleleng barat adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut, Bandeng, Kerapu, Mutiara, ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (mancing dan spearfishing adventures).
Comparative Analysis The Effect of Iodine, Ozone, and Peracetic Acid as A Disinfectant of Cantang Grouper Egg Putu Justika Nirmala Ardhiana Puspanjali; Gede Ari Yudasmara; Kadek Lila Antara
Advances in Tropical Biodiversity and Environmental Sciences Vol 5 No 3 (2021): ATBES
Publisher : Institute for Research and Community Services Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.826 KB) | DOI: 10.24843/ATBES.2021.v05.i03.p04

Abstract

Problems in the fish hatchery sector often occur such as high egg mortality or low quality of fish eggs. Optimizing biosecurity is one of the efforts to improve the quality of fish eggs, for example by adding disinfectants such as iodine, ozone, and peracetic acid. The use of chemical disinfectants will produce good results if the right dose, time, and commodity are used. In this study. This research aims (1) to determine whether the use of chemicals including iodine, ozone, and peracetic acid had an effect as a disinfectant to increase the hatching rate of grouper fish, (2) to determine the level of effectiveness and efficiency of the use of chemicals as a disinfectant. This research is an experimental research type. The research subjects included in the study were cantang grouper fish eggs at PT. Pakarti Daksa Segara who used the exploratory sampling method. The conclusion of this study indicates that there is an influence on the growth rate of the use of iodine, ozone and, peracetic acid chemicals as disinfectants of cantang grouper eggs and there is a comparison of the effectiveness and efficiency of the use of the three chemicals which includes the percentage of the hatching rate, the cost of the disinfectant material and the time, which is needed in the use of the disinfectant. Iodine has the best level of effectiveness from the comparison of hatching eggs of cantang grouper and peracetic acid is the most efficient type of chemical.
Efek Pemberian Pakan Fermentasi Dan Campuran Probiotik Terhadap Pertumbuhan Dan Kelulushidupan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Putu Dicky Wahyudi; Alexander Kornius Marantika; Gede Ari Yudasmara
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 21, No 2 (2022): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v21i2.2191

Abstract

Udang vaname merupakan salah satu komoditas budidaya unggulan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pemberian pakan fermentasi dengan dosis probiotik yang berbeda terhadap pertumbuhan (berat dan panjang) dan kelulushidupan udang vaname (L. vannamei). Penelitian ini dilakukan di Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangasem, Bali dengan model penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukan pemberian probiotik dengan dosis yang berbeda berpengaruh nyata pada laju pertumbuhan dan kelulushidupan udang vaname. Hasil terbaik untuk laju pertumbuhan (berat dan panjang) adalah perlakuan P3 (300 ml/kg pakan) dengan rata-rata berat 4.1873±0.234 g/ekor dan rata-rata panjang 7,7453±0.127 cm/ekor. Kemudian untuk kelulushidupan terbaik ditemukan pada perlakuan P2 (200 ml/kg pakan) dengan persentase kelulushidupan 98%. Untuk nilai parameter kualitas air selama masa penelitian cenderung stabil dengan nilai suhu berkisar antara 29-330C, salinitas 30-33 gr/l, oksigen terlarut 4.51-7.03 mg/l, dan pH berkisar antara 7.5-8.2. Kesimpulan yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah dosis pakan fermentasi dan probiotik terbaik untuk peningkatan laju pertumbuhan udang adalah 300 ml/kg pakan, kemudian dosis terbaik untuk peningkatan nilai kelulushidupan udang adalah 200 ml/kg pakan.
Development of Artificial Live Rock in Supporting Ornamental Coral Cultivation Activities Imam Safii; I Nyoman Dodik Prasetia; Gede Ari Yudasmara
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 27, No 3 (2022): October
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.27.3.272-279

Abstract

Artificial live rock is an artificial live rock that is shaped like living rock in nature. Artificial live rock is designed to mimic natural living rock which is capable of being a substrate for corals, a habitat for epibenthic and the biological filter of a saltwater aquarium.  The purpose of this research is to know the technique of making artificial live rock and the development of artificial live rock that are suitable for export on an export scale. The method used in this research is an experimental method with quantitative descriptive analysis. The level of suitability and product standards uses a simultaneous regression coefficient test analysis or the F test.  The manufacture of artificial live rock does not have a special pattern, but artificial live rock is made as attractive as possible and resembles the shape in nature. Product standardization is carried out by using artificial live rock materials consisting of: 1 kg of pumice stone, ½ kg of cement, ½ kg of sand, 500 grams of calcium and 1.5 liters of water. The type of substrate that is good and ideal for algae on the surface of artificial live rock is an area with a bottom of coral sand mixed with coral rubble. Artificial live rock can be harvested for 3 months in water, with the characteristics of the surface of the artificial live rock covered algae which is then cleaned and placed in a treatment pond before being exported
Pengaruh Perbedaan Pakan dan Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan Cacing Sutera (Tubifex sp.) Ni Nyoman Dian Martini; Gede Ari Yudasmara
Wahana Matematika dan Sains: Jurnal Matematika, Sains, dan Pembelajarannya Vol. 16 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.64 KB) | DOI: 10.23887/wms.v16i2.51945

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan pakan dan pemberian pupuk organik cair terhadap pertumbuhan cacing sutera, serta mengetahui pakan kultur dan media yang tepat untuk digunakan dalam budidaya cacing sutera (Tubifex sp.). Kelompok perlakuan penelitian ini antara lain kelompok positif yaitu penggunaan pupuk organik cair (POC): media dengan pakan substitusi ampas tahu fermentasi (PT), media tanpa pakan substitusi ampas tahu fermentasi (PA), dan kelompok negatif yaitu tanpa penggunaan POC: media dengan pakan substitusi ampas tahu fermentasi (ST), media tanpa pakan substitusi ampas tahu fermentasi (SA) dengan sistem resirkulasi yang diberi pakan pupuk kotoran ayam fermentasi. Hasil uji One Way Anova diperoleh hasil nilai probabilitas p (0,000) < α (0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan nilai rata-rata biomassa Tubifex sp. yang signifikan antara kelompok perlakuan positif (431,93 g/m2) dan perlakuan negatif (265,47 g/m2). Media dengan penambahan POC lebih efektif dalam meningkatkan pertumbuhan Tubifex sp. jika dibandingkan dengan media tanpa penambahan POC. Budidaya cacing sutera (Tubifex sp.) dengan pemberian POC dan pakan susulan baik berupa pupuk kotoran ayam maupun ampas tahu fermentasi dapat digunakan untuk memperoleh pertumbuhan dan produktivitas cacing sutera yang lebih baik. Kata kunci: Tubifex sp., pupuk organik cair, ampas tahu fermentasi, pupuk kotoran ayam
PENGELOLAAN KAWASAN PESISIR KABUPATEN BULELENG MELALUI PENGEMBANGAN MINA WISATA BAHARI (Management of Buleleng Coastal Areas Through the Marine Fisheries Tourism Development) Gede Ari Yudasmara
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 23, No 3 (2016): September
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18810

Abstract

ABSTRAKKawasan pesisir Kabupaten Buleleng saat ini telah dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan kepariwisataan, akan tetapi kegiatan tersebut masih belum memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan memiliki kecenderungan mengalami kejenuhan. Untuk itu, diperlukan suatu pengembangan wisata alternatif yang sesuai dengan kondisi dan potensi sumber daya alam yang ada serta saling bersinergi dengan aktivitas wisata lainnya, seperti contohnya pengembangan mina wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kondisi dan potensi sumberdaya alam pesisir dan laut, tingkat kesesuaian kawasan pesisir Buleleng dalam menunjang pengembangan mina wisata dan menghasilkan model aktivitas mina wisata di kawasan pesisir Buleleng yang terpadu dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kesesuaian kawasan dengan rancangan penelitiannya berupa survei lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesisir Kabupaten Buleleng apabila dilihat dari kondisi dan potensi sumberdaya alamnya masih mampu untuk mendukung aktivitas mina wisata dengan tingkat kesesuaian kawasan berdasarkan indeks kesesuaian wisata, yaitu pesisir Buleleng timur terkategori cukup sesuai (76,92), pesisir Buleleng tengah terkategori cukup sesuai (61,53) dan pesisir Buleleng barat terkategori sangat sesuai (87,17). Rencana model mina wisata yang dapat dikembangkan antara lain pesisir Buleleng timur adalah mina wisata budidaya laut (ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (pemancingan dan spearfishing adventures), pesisir Buleleng tengah adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut) dan mina wisata perikanan tangkap (pemancingan dan spearfishing adventures), dan pesisir Buleleng barat adalah mina wisata budidaya laut (rumput laut, Bandeng, Kerapu, Mutiara, ikan hias dan karang) dan mina wisata perikanan tangkap (pemancingan dan spearfishing adventures).  ABSTRACTBuleleng coastal area has been used for various tourism activities, however, the activities have not given an optimum benefit for the community and tend to experience saturation. This study was aimed at investigating the condition and potentiality of the coastal area and the sea, the degree of fit of Buleleng coastal area in supporting the development of fisheries tourism and at producing a model of the coastal area tourism activities that are integrated and sustainable. This study used the approach of area suitability with field survey design. The results showed that Buleleng regency coastal area, viewed from the point of the condition and the potentiality of the natural resources still has the capacity to support fisheries tourism. The model plannings of fisheries tourisms that can be developed, among others, are: the East Buleleng coastal area is suitable for marine culture fisheries tourism (ornamental fish and coral) and fished fisheries tourism (fishing and spearfishing adventures); the central Buleleng coastal area for marine culture fisheries tourism (seaweed) and fished fisheries tourism (fishing and spearfishing adventures), and the West Buleleng coastal area for marine culture fisheries tourism (seaweed, milk fish, grouper, pearl, ornamental fish and coral) and fished fisheries tourism (fishing and spearfishing adventures).
Analisis Storet Kualitas Sumber Air Pada Kegiatan Pembenihan Di Balai Perbenihan Ikan (BPI) Buleleng, Bali Putu Yogi Saputra; Gede Ari Yudasmara; I Made Dwipa Kusuma Maharani
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 22, No 2 (2023): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v22i2.2236

Abstract

Sungai Ume Mayong merupakan salah satu sungai yang memiliki peran vital untuk kegiatan pembenihan ikan di Balai Perbenihan Ikan Seririt Bali. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji status kualitas air Sungai Ume Mayong apakah memiliki standar baku mutu untuk kegiatan budidaya dengan menggunakan metode storet. Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan mengamati parameter fisika, kimia, dan biologi perairan. Selanjutnya data dianalisis dengan metode storet. Hasil pengukuran parameter fisika, kimia, dan biologi di sumber air Balai Perbenihan Ikan Seririt tergolong masih sesuai denga baku mutu dan layak untuk kehidupan ikan air tawar dengan konsentrasi pH, fosfat, dan DO masih sesuai ambang batas Baku Mutu Air PP Nomor 22 Tahun 2021. Nilai parameter fisika, kimia, dan biologi hasil pengukuran adalah suhu 26,2-26,3˚C, kekeruhan berkisar antara 319-357 NTU, dan TDS berkisar antara 204,9 mg/l -316,1 mg/l. Nilai parameter kimia pada perairan Ume Mayong yaitu pH air berkisar antara 5,5-5,7, oksigen terlarut (DO) berkisar antara 5,08-7,4 mg/l, Biochemical oxygen Demand (BOD) berkisar antara 0,51 mg/l-0,58 mg/l, fospat berkisar antara 0,5-0,74 mg/l, dan amoniak (NH₃) berkisar antara 0,005-0,067 mg/l. Nilai Parameter mikrobiologi yaitu total coliform berkisar antara 240 MPN/100 ml. Hasil dari metode storet berdasarkan data kualitas air sungai yang dipadukan dengan standar air sungai dalam kelas II yaitu dengan nilai skor -22 (tercemar sedang). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perairan di sungai Ume Mayong masuk dalam kategori tercemar sedang, artinya masih dapat digunakan sebagai media budidaya ikan dan kegiatan agrokompleks lainnya di sekitar wilayah tersebut.
Tingkat Konsumsi Oksigen Benih Ikan Mas Koki (Carrasius auratus) Pada Volume Air Yang Berbeda Luh Mayda Ruspita Sari; Gede Ari Yudasmara; Ida Bagus Jelantik Swasta
Juvenil Vol 4, No 3: Agustus (2023)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v4i3.20286

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat konsumsi oksigen benih ikan mas koki (Carassius auratus) pada volume air yang berbeda. Ikan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah benih ikan berumur 2 bulan. Penelitian yang digunakan berjenis penelitian eksperimen dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) 4 perlakuan volume air yang berbeda dan 3 kali ulangan sebagai berikut : (A) 10 liter, (B) 15 liter, (C) 20 liter, dan (D) 25 liter dengan kepadatan 2 individu/liter. Wadah yang digunakan adalah ember 28 liter sebanyak 12 unit. Analisis statistik dilakukan dengan uji One Way ANOVA dan untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan satu dengan lainnya dilakukan uji lanjut Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume air yang berbeda berpengaruh terhadap tingkat konsumsi oksigen benih ikan mas koki (Carassius auratus). Tingkat konsumsi oksigen selama 4 minggu penelitian pada perlakuan A : 0,08 ± 0,03 mgO2/g/jam, perlakuan B : 0,09 ± 0,02 mgO2/g/jam, perlakuan C : 0,11 ± 0,02mgO2/g/jam dan perlakuan D : 0,13 ± 0,02 mgO2/g/jam. Hasil uji Tukey menunjukkan bahwa perlakuan A berbeda nyata dengan C dan D, namun, tidak berbeda nyata dengan perlakuan B. Nilai parameter kualitas air yang diperoleh selama penelitian adalah DO 4,93 – 5,46 mg/L, suhu 26,34 – 27,05°C, dan pH 7,57 – 8,20.Kata Kunci: Carassius auratus, Ikan Mas Koki, Tingkat Konsumsi Oksigen, Volume AirABSTRACTThe research aim was to analyze the oxygen consumption level of goldfish (Carassius auratus) juvenile in different water volume. The fish used in this research was juvenile of 2 months. Experimental method was used, completely random design with 4 treatments and 3 replications of different water volumes as follow: (A) 10 liters, (B) 15 liters, (C) 20 liters, and (D) 25 liters with stocking densities 2 individual/liter. The container used is chamber 28 liters as many as 12 pieces. Statistical analysis used One Way ANOVA and to know the difference between a single treatment with other treatments performed advanced test which used Tukey Test. The results showed that different water volume had significant effect on oxygen consumption of goldfish (Carassius auratus) juvenile. The oxygen consumption level for 4 weeks of research in treatment A : 0,08 ± 0,03 mgO2/g/hour, treatment B: 0,09 ± 0,02 mgO2/g/hour, treatment C : 0,11 ± 0,02mgO2/g/hour and treatment D : 0,13 ± 0,02 mgO2/g/hour. Tukey test results showed that treatment A was significantly different from C and D, but not significantly different from treatments B. The water quality values obtained during the research were DO 4,93 – 5,46 mg/L, temperature 26,34 – 27,05°C, and pH 7,57 – 8,20.Keywords: Carassius auratus, Goldfish, Oxygen Consumption, Water Volume
Development of Artificial Live Rock in Supporting Ornamental Coral Cultivation Activities Imam Safi’i; I Nyoman Dodik Prasetia; Gede Ari Yudasmara
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 27 No. 3 (2022): October
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.27.3.272-279

Abstract

Artificial live rock is an artificial live rock that is shaped like living rock in nature. Artificial live rock is designed to mimic natural living rock which is capable of being a substrate for corals, a habitat for epibenthic and the biological filter of a saltwater aquarium. The purpose of this research is to know the technique of making artificial live rock and the development of artificial live rock that are suitable for export on an export scale. The method used in this research is an experimental method with quantitative descriptive analysis. The level of suitability and product standards uses a simultaneous regression coefficient test analysis or the F test. The manufacture of artificial live rock does not have a special pattern, but artificial live rock is made as attractive as possible and resembles the shape in nature. Product standardization is carried out by using artificial live rock materials consisting of: 1 kg of pumice stone, ½ kg of cement, ½ kg of sand, 500 g of calcium and 1.5 L of water. The type of substrate that is good and ideal for algae on the surface of artificial live rock is an area with a bottom of coral sand mixed with coral rubble. Artificial live rock can be harvested for 3 months in water, with the characteristics of the surface of the artificial live rock covered algae which is then cleaned and placed in a treatment pond before being exported
ANALISA PERFORMA DAN EFISIENSI PAKAN PADA IKAN LELE SANGKURIANG MELALUI PENAMBAHAN PROBIOTIK Rima Dara; Gede Ari Yudasmara; Ni Nyoman Dian Martini
Jurnal Perikanan Unram Vol 12 No 2 (2022): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v12i2.296

Abstract

Kebutuhan pakan dalam satu siklus budidaya mencapai 60-70% dari total biaya produksi khususnya pada penggunaan pakan komersil. Tingginya biaya dan rendahnya kualitas pakan merupakan hambatan dalam proses budidaya. Oleh karena itu, diperlukan bahan tambahan (feed additive) yang ditambahkan ke pakan agar diperoleh pertumbuhan ikan dan efisiensi pakan yang lebih baik, sehingga dapat mengurangi biaya produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh beberapa merk probiotik di pasar dalam memberikan performa pada pakan pelet bibit lele sangkuriang terkait dengan laju pertumbuhan bobot spesifik dan efisiensi pakan. Digunakan 2 merek dagang probiotik A dan B. Sampelnya adalah bibit lele sangkuriang sejumlah 20 ekor tiap-tiap wadah perlakuan dengan rerata panjang dan bobot awal 6-7 cm, 1,6-1,8 g. Terdapat tiga perlakuan yang dikenakan pada pakan yaitu pakan tanpa probiotik, pakan dengan probiotik A, dan pakan dengan probiotik B. Tiap-tiap perlakuan terdapat tiga pengulangan. Dengan menggunakan derajat signifikansi 0,05, terdapat perbedaan rerata laju pertumbuhan bobot spesifik (kontrol 3,29 %/hari; probiotik A 4,00 %/hari; probiotik B 4,16 %/hari) dan efisiensi pakan (kontrol 75,36 %; probiotik A 94,17 %; probiotik B 98,56 %) yang signifikan terutama antara pakan tanpa probiotik dengan pakan dengan probiotik. Namun demikian probiotik B menunjukkan pengaruh terbaik terhadap performa laju pertubuhan spesifik dan efisiensi pakan. Fungsi dan peruntukan probiotik adalah spesifik. Ada yang universal untuk perikanan dan pertanian, ada yang khusus perikanan atau pertanian saja. Probiotik untuk perikanan kandungan bakterinya lebih pekat dan sudah diaktifkan sejak dalam kemasan. Probiotik yang spesifik ini dapat memberikan pengaruh lebih baik terhadap laju pertumbuhan ikan dan efisiensi daripada yang universal.