Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

GAMBARAN KELUHAN (CARPAL TUNNEL SYNDROME) PADA KARYAWAN URUSAN PELAYANAN MEDIS RUMAH SAKIT ROBERT WOLTER MONGISIDI MANADO Kaligis, Revanly S.; Kawatu, Paul A.T.; Langi, Fima L.F.G.
KESMAS Vol 9, No 7 (2020): VOLUME 9, NOMOR 7, DESEMBER 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keluhan musculoskeletal merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang paling umum diderita oleh pekerja. Salah satu jenis Musculoskeletal disorder adalah gangguan pergelangan tangan. Gangguan pergelangan tangan merupakan gangguan umum yang berhubungan dengan pekerjaan yang disebabkan gerakan berulang dan posisi yang menetap pada jangka waktu yang lama yang dapat mempengaruhi saraf, suplai darah ke tangan dan pergelangan tangan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui  gambaran gangguan pergelangan tangan secara umum berdasarkan keluhan subjektif yang dirasakan oleh karyawan Uryanmed di Rumah Robert Wolter Mongisidi Manado. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Juli 2020. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diperlukan gambaran bahwa  gejala/keluhan subjektif terkait gangguan pergelangan tangan yang paling banyak dialami responden yaitu  rasa kesemutan dan mati rasa yang tidak hilang setelah menggerak-gerakan tangan (90.6%). Keluhan subjektif yang paling sedikit dialami responden ialah parastesia/kesemutan, rasa sakit dan mati rasa (6.3%). Disampung itu, karyawan urusan pelayanan medis di Rumah Sakit Robert Wolter Monginsidi Manado yang memiliki masa kerja < 10 tahun lebih banyak mengalami keluhan subjektif gangguan pergelangan tangan daripada karyawan yang memiliki masa kerja ≥10 tahun. Karyawan yang memiliki jam kerja  ≥7 jam/hari lebih banyak mengalami gangguan pergelangan tangan berdasarkan keluhan subjektif yang dirasakan, dibandingkan dengan karyawan yang memiliki jam kerja yang sama namun tidak mengalami keluhan subjektif terkait gangguan pergelangan tangan. Bagi pekerja yang mengalami keluhan gangguan pergelangan tangan sebaiknya mempunyai inisiatif untuk memeriksakan keluhan di Poli rumah sakit agar keluhan mereka segera ditindak-lanjuti. Kata kunci : keluhan subjektif, gangguan pergelangan tangan, karyawan rumah sakit ABSTRACT Musculoskeletal complaints are one of the most common occupational diseases suffered by workers. One type of musculoskeletal disorder is a wrist disorder. Wrist disorders are a common work-related disorder caused by repetitive movements and positions that remain for long periods of time that can affect the nerves, blood supply to the hands and wrists. The purpose of this study was to determine the general description of wrist disorders based on subjective complaints felt by employees of Uryanmed at the Robert Wolter Mongisidi House, Manado. This type of research is a cross sectional descriptive study. This research was conducted in June-July 2020. Based on the results of the analysis, it is necessary to illustrate that the most common symptoms / complaints related to wrist disorders experienced by respondents are tingling sensations and numbness that do not disappear after moving the hands (90.6%). The least subjective complaints experienced by respondents were paraesthesia / tingling, pain and numbness (6.3%). In that area, employees of medical service affairs at the Robert Wolter Monginsidi Hospital Manado who have a service period of <10 years experience more subjective complaints of wrist disorders than employees who have a service life of ≥10 years. Employees who have working hours ≥7 hours / day experience more wrist problems based on perceived subjective complaints, compared to employees who have the same working hours but do not experience subjective complaints related to wrist problems. For workers who experience complaints of wrist problems, it is better if they have the initiative to have their complaints examined at the hospital clinic so that their complaints are immediately followed up. Keywords: subjective complaint, wrist disorder, hospital employee
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DAN LAMA KERJA DENGAN BEBAN KERJA FISIK PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA PEMBUATAN KERAMIK DI DESA PULUTAN KABUPATEN MINAHASA Pola, Priska Karla; Kawatu, Paul A.T.; Sumampouw, Oksfriani Jufri
KESMAS Vol 10, No 2 (2021): VOLUME 10, NOMOR 2, FEBRUARI 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beban kerja fisik merupakan kemampuan tubuh seseorang dalam menerima pekerjaannya yang diberikan. Gizi kerja adalah nutrisi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan yang ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan serta mengupayakan daya kerja tenaga kerja yang optimal. Lama kerja merupakan lama seseorang atau berapa jam seseorang bekerja dalam sehari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan lama kerja dengan beban kerja fisik pada industri rumah tangga pembuatan keramik di desa pulutan kabupaten minahasa. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Populasi yang digunakan yaitu seluruh pekerja pembuatan keramik industri pembuatan keramik yang ada di Desa Pulutan, dengan jumlah keseluruhan 83 orang. Jumlah sampel yang didapatkan yaitu 70 orang. Data penelitian diuji dengan menggunakan uji kolerasi Spearmen Rank. Hasil uji Spearmen Rank terdapat hubungan antara status gizi dengan beban kerja fisik mendapatkan nilai p=0,000 (<0,05) dan terdapat hubungan antara lama kerja dengan beban kerja fisik mendapatkan nilai p=0,003 (<0,05). Simpulan penelitian ini yaitu terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan lama kerja dengan beban kerja fisik pada industri rumah tangga pembuatan keramik di desa pulutan kabupaten minahasa. Kata kunci: Status gizi, Lama kerja, Beban kerja fisik ABSTRACTPhysical workload is the ability of a person's body to accept his or her given work. Working nutrition is a nutrient required by the workforce to meet the needs in accordance with the type of work intended to maintain and improve the degree of health and strive for optimal labor. The length of work is a person's length or how many hours a person works in a day. This study aims to find out the relationship between nutritional status and length of work and physical workload in the household industry of ceramic making in pulutan village minahasa district. This type of research is observational analytics with latitude cut design. The population used is all workers making ceramics industrial ceramics in Pulutan Village, with a total of 83 people. The number of samples obtained is 70 people. The research data was tested using Spearmen Rank collegiate test. Spearmen Rank test results have a relationship between nutritional status and physical workload get a value of p = 0.000 (<0.05) and there is a relationship between the length of work and the physical workload gets a value of p = 0.003 (<0.05). The conclusion of this research is that there is a meaningful relationship between nutritional status and length of work with physical workload in the household industry of ceramic making in pulutan village minahasa district. Keywords: Nutritional status, Length of work, Physical workload
GAMBARAN PELAKSANAAN PROGRAM KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA RUMAH SAKIT (K3RS) DI RSUD ANUGERAH KOTA TOMOHON Runtulalo, Deswi Moudi Elisabeth; Kawatu, Paul A.T.; Malonda, Nancy S.H.
KESMAS Vol 10, No 2 (2021): VOLUME 10, NOMOR 2, FEBRUARI 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah sakit yang merupakan salah satu tempat kerja dimana memiliki banyak fakto risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit akibat kerja (PAK) dan kecelakaan yang diakibatkan oleh pekerjaan. Untuk itu setiap rumah sakit diwajibkan untuk memenuhi setiap aspek yang berhubungan dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit (K3RS) dalam rangka menjamin setiap SDM rumah sakit dari bahaya yang akan memungkinkan terjadi. Penelitian ini berjenis penelitian Kualitatif menggunakan desain deskriptif dengan menganalisis pelaksanaan program K3RS yang diwawancarai secara mendalam terhadap 5 orang informan atau narasumber yang telah ditentukan, yaitu Direktur Rumah Sakit, Sekretaris Tim  K3RS, Dokter, 1 orang Perawat, dan Cleaning Service di RSUD Anugerah Tomohon. Berdasarkan  hasil wawancara yang dilakukan kepada informan terdapat program yang berjalan dengan baik yaitu pengobatan dan perawatan bagi karyawan rumah sakit  dan  pelaksanaan  pembinaan  serta  pengawasan terhadap sanitair. Program pelayanan  K3RS  yang belum terlaksana dengan baik yaitu pemeriksaan sebelum bekerja, pemeriksaan secara khusus, pendidikan dan pelatihan tentang K3  di rumah sakit. Ada juga program-program  yang berhubungan dengan keselamatan kerja yang belum terlaksana dengan baik seperti pelaksanaan pembinaan dan pengawasan kesehatan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan pembinaan dan pengawasan terhadap manajemen sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Dan progam pelayanan K3RS  yang belum dilaksanakan oleh rumah sakit yaitu pemeriksaan  kesehatan secara berkala kepada seluruh karyawan rumah sakit yang ada. Kata Kunci: Program K3RS ABSTRACT The hospital is one of the workplaces where there are many risk factors that cause occupational diseases (PAK) and work-related accidents. For this reason, every hospital is required to fulfill every aspect related to Health and Safety at the Hospital (K3RS) in order to ensure every hospital's human resources from the dangers that might occur. This research is a qualitative research type using descriptive design by analyzing the implementation of the K3RS program which was interviewed in-depth with 5 predetermined informants or sources, namely the Hospital Director, the Secretary of the K3RS Team, a Doctor, 1 Nurse, and Cleaning Service at Anugerah Tomohon Hospital. Based on the results of interviews conducted with informants, there is a program that is running well, namely medication and care for hospital employees and the implementation of guidance and supervision of sanitation. The K3RS service program that has not been implemented properly is pre-work checks, special examinations, education and training on K3 in hospitals. There are also programs related to work safety that have not been implemented properly, such as the implementation of health guidance and supervision of facilities, infrastructure and health equipment, guidance and supervision of the management of fire prevention and control systems. And the K3RS service program that has not been implemented by the hospital, namely periodic health checks for all existing hospital employees. Keywords: K3RS Programs
HUBUNGAN ANTARA VARIABILITAS IKLIM DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA MANADO Landu, Febrian Fredrik; Kaunang, Wulan P.J; Kawatu, Paul A.T.
KESMAS Vol 10, No 3 (2021): VOLUME 10, NOMOR 3, MARET 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam Berdarah Dengue yang lebih dikenal dengan istilah DBD ialah jenis penyakit berbasis vektor umum terjadi area hangat yakni daerah-daerah tropis. Epidemi DBD cenderung memiliki motif musim, di mana penularan banyak muncul saat atau setelah musim penghujan. Kondisi terbaik berkembangbiaknya nyamuk-nyamuk yakni ketika curah hujan tinggi tapi belum cukup untuk membanjiri suatu daerah, menjadikannya ideal untuk vektor melangsungkan hidup pula berkembangbiak. Kejadian di provinsi Sulawesi utara terus menemukan adanya kasus DBD tersebar di berbagai Kabupaten/Kota. Penelitian bertujuan guna mengidentifikasi antara faktor iklim dan hubungannya terhadap Kejadian DBD yang ada di Kota Manado, periode 2017-2019. Metode yang digunakan yakni penelitian kuantitatif, model studi ekologi. Analisis dilakukan dengan dua cara yakni yang pertama analisis univariat dipakai guna mengidentifikasi nilai Mean, Min, Max, Standar Deviasi, kedua analisis bivariat dilakukan guna menidentifikasi hubungan dengan menggunakan statistik korelasi dan dilanjutkan ke model prediksi regresi linier. Hasil analisis bivariat menunjukan hasil variabilitas iklim terhadap Kejadian DBD yakni Curah Hujan (p=0,040, r=0,348 dan R2=0,121), Kelembaban (p=0,016, r=0,40 dan R2=0,16), Suhu (p=0,000, r=-0,586 dan R2=0,343). Kesimpulanya yang ditarik ialah variabilitas iklim memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DBD. Curah hujan dan Kelembaban memiliki derajat hubungan sedang kearah positif terhadap kejadian DBD sedangkan suhu memiliki derajat hubungan kuat kearah negatif terhadap DBD.
Hubungan Pengetahuan Potensi Bahaya dengan Tindakan Pencegahan Kecelakaan Kerja pada Pekerja Bagian Produksi di PT Royal Coconut Airmadidi Lesirollo, Nancy A.; Kawatu, Paul A.T.; Tucunan, Ardiansa A.T.
Jurnal Lentera Sehat Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Lentera Sehat Indonesia
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/y0s2h836

Abstract

Potensi bahaya didefinisikan dengan hal yang berpotensi mengakibatkan adanya kerusakan, kerugian, cedera, sakit, kecelakaan dan dapat mengakibatkan kematian yang berkaitan dengan proses kerja yang dilangsungkan tersebut. Mesin, peralatan dan tempat kerja dalam tiap proses produksi ini nantinya akan menghasilkan produk yang senantiasa berpotensi mengakibatkan bahaya dan bisa menyebabkan kecelakaan kerja jika tidak diperhatikan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui hubungan pengetahuan potensi bahaya dengan tindakan pencegahan kecelakaan kerja pada pekerja bagian produksi di PT. Royal Coconut Airmadidi. Jenis penelitian menggunakan survey analitik kuantitatif dengan desain cross sectional study serta instrumen penelitiannya menggunakan kuesioner penelitian. Subjek penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian produksi di PT. Royal Coconut Airmadidi dengan jumlah sampel sebanyak 55 responden. Pengolahan data menggunakan uji statistik Fisher’s Exact Test dengan nilai α= 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan potensi bahaya dengan tindakan pencegahan kecelakaan kerja dengan p-value=0,017 yang berarti nilai p <0,05.
Pelatihan Pengukuran Antropometri Balita pada Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Tombulu Kabupaten Minahasa: (Training on Anthropometric Measurement of Toddlers for Posyandu Cadres in the Working Area of Tombulu Health Center, Minahasa Regency) Malonda, Nancy Swanida; Kawatu, Paul A.T.; Magfirah, Andi N
JPAI: Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia (JPAI)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35801/jpai.6.2.2025.64495

Abstract

Monitoring children's growth is crucial for determining their nutritional status. This is useful for improving nutritional status if a child is found to be malnourished. One way to monitor the growth of infants and toddlers is through integrated health service post (Posyandu) activities. Active community participation, through the role of health cadres, is necessary to support the achievement of Posyandu activities' objectives. Active, agile, and knowledgeable cadres can contribute to the success of improving the nutritional status of infants and toddlers. Anthropometric measurements on infants and toddlers must be performed correctly to avoid measurement deviations that could lead to nutritional misdiagnosis. Tombulu Community Health Center in Minahasa Regency has 11 Posyandus with 79 cadres. In recent years, these cadres have not received assistance in anthropometric measurements and determining the nutritional status of toddlers. The purpose of this activity is to improve the knowledge and skills of Posyandu cadres regarding anthropometric measurements and assessing the nutritional status of toddlers. The methods implemented include outreach, counseling, and training. The tools and materials used are Child Growth Monitoring Leaflets, Presentation Slides, LCD, toddler scales for weight training, infantometer and microtoise for height and length measurement training. Pretests and posttests were conducted to determine changes in the knowledge and skills of Posyandu cadres. The results showed that the training had a positive impact on improving the knowledge and skills of Posyandu cadres. Successful monitoring of toddler growth requires the support and active role of the government, through Community Health Centers (Puskesmas) and Posyandu Operational Working Groups (Pokjanal), to facilitate the implementation of various community health activities at Posyandu. ABSTRAK  Pemantauan pertumbuhan anak adalah hal penting untuk mengetahui bagaimana status gizinya. Hal ini berguna untuk memperbaiki status gizi apabila ditemukan anak dengan keadaan gizi yang tidak baik. Salah satu cara pemantauan pertumbuhan bayi dan balita adalah melalui kegiatan posyandu. Partisipasi aktif Masyarakat melalui peran kader kesehatan,  diperlukan untuk menunjang tercapainya tujuan pada kegiatan posyandu.  Kader yang aktif, cekatan, dan berpengetahuan luas dapat membantu keberhasilan dalam meningkatkan status gizi bayi dan balita. Pengukuran antropometri pada bayi dan balita harus dilakukan dengan benar agar tidak terjadi penyimpangan pengukuran yang mengakibatkan kesalahan diagnosis gizi.  Puskesmas Tombulu di kabupaten Minahasa, memiliki 11 posyandu dengan jumlah kader 79 orang. Dalam beberapa tahun terakhir para kader belum mendapatkan pendampingan pengukuran antropometri dan penentuan status gizi balita. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu mengenai pengukuran antropometri dan penilaian status gizi balita. Jenis metode yang dilaksanakan adalah  kegiatan sosialisasi penyuluhan dan petatihan. Alat dan bahan yang digunakan adalah Leaflet Pemantauan Pertumbuhan pada Anak, Slide Presentasi, LCD, timbangan balita untuk pelatihan penimbangan berat badan, infantometer dan microtoise untuk pelatihan pengukuran tinggi badan dan panjang badan. Kegiatan pretest dan posttest dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan pengetahuan dan keterampilan pada kader posyandu.  Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu. Keberhasilan dalam pemantauan pertumbuhan balita, diperlukan dukungan dan peran aktif pemerintah melalui Puskesmas dan Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Posyandu  dalam memfasilitasi pelaksanaan berbagai kegiatan kesehatan masyarakat di posyandu.