Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Gambaran Resiliensi Perawat Instalasi Gawat Darurat di RSUD R. Syamsudin SH Lilla Zulfa Shofa Rahmania; Aat Sriati; Theresia Eriyani
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25050

Abstract

ABSTRACT Emergency Department (ED) nurses face significant psychosocial hazards that increase mental health problems such as work stress and burnout syndrome. High resilience is essential for nurses to adapt, recover, and bounce back from pressure, maintaining emotional stability and professional performance in the demanding Emergency Departement environment. This study aims to describe the level of resilience among emergency department nurses at RSUD R. Syamsudin, SH. This study used a quantitative descriptive design with total sampling technique. Of 48 Emergency Departement nurses, 45 nurses (93.75%) participated, while 3 nurses did not fill out the questionnaire due to work commitments and time constraints. The research instrument used the validated Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC 25) questionnaire, and data were analyzed univariately through frequency distribution and percentages.Most nurses demonstrated moderate resilience (77.8%), followed by high (15.6%) and low (6.7%). Moderate resilience was more prevalent among male nurses, those of productive age (26–45 years), married individuals, those with bachelor's/nursing degrees, and those with more than five years of service. Emergency Departement nurses have fairly good adaptive abilities in dealing with work pressure. However, it is recommended that hospitals develop stress management training programs including problem-oriented coping strategies and emotion regulation techniques, provide psychological counseling and special mentoring programs for nurses with low resilience, optimize nurses with high resilience as mentors, and address workloads by adding nursing staff and balancing shift distributions to improve nurses' mental resilience and maintain nursing service quality. Keywords: Emergency Department, Nurse, Resilience.  ABSTRAK Perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD) menghadapi bahaya psikososial di tempat kerja yang meningkatkan masalah kesehatan mental seperti stres kerja dan burnout syndrome. Resiliensi yang tinggi dibutuhkan untuk beradaptasi, pulih, dan bangkit kembali dari tekanan atau kesulitan, guna menjaga stabilitas emosional dan kinerja profesional di lingkungan IGD yang penuh tuntutan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran tingkat resiliensi perawat IGD di RSUD R. Syamsudin, SH. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling. Dari 48 perawat IGD, sebanyak 45 perawat (93,75%) bersedia berpartisipasi, sedangkan 3 perawat tidak mengisi kuesioner karena kesibukan kerja dan keterbatasan waktu. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC 25) yang telah tervalidasi, dan data dianalisis secara univariat melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar perawat memiliki tingkat resiliensi sedang (77,8%), diikuti tinggi (15,6%) dan rendah (6,7%), dengan resiliensi sedang lebih banyak ditemukan pada perawat laki-laki, berusia produktif (26–45 tahun), berstatus menikah, berpendidikan S1/Ners, dan memiliki masa kerja lebih dari lima tahun. Perawat IGD memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik dalam menghadapi tekanan kerja, namun disarankan agar rumah sakit mengembangkan program pelatihan manajemen stres yang mencakup strategi koping berorientasi masalah dan teknik regulasi emosi, menyediakan konseling psikologis dan program mentoring khusus bagi perawat dengan resiliensi rendah, mengoptimalkan perawat dengan resiliensi tinggi sebagai mentor, serta mengatasi beban kerja melalui penambahan tenaga perawat dan penyeimbangan distribusi shift untuk meningkatkan ketahanan mental perawat dan menjaga kualitas pelayanan keperawatan. Kata Kunci: Instalasi Gawat Darurat, Perawat, Resiliensi.
PENERAPAN MEDIA ORIENTASI REALITAS PADA PASIEN WAHAM DI RUMAH SAKIT JIWA: A CASE REPORT Novi Indriani; Iceu Amira; Aat Sriati
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 13, No 4 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.13.4.2025.749-760

Abstract

Waham adalah keyakinan keliru terhadap realitas, di mana individu yang mengalaminya sangat sulit diyakinkan untuk mengubah pandangannya. Waham dapat dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya. Salah satu intervensi yang dapat membantu pasien mengenali realitas adalah orientasi realitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan media orientasi realitas dalam mengatasi waham pada pasien skizofrenia. Desain yang digunakan adalah laporan kasus terhadap pasien Tn. D dengan waham kebesaran dan nihilistik. Penelitian dimulai dari tahap perkenalan, pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, penyusunan intervensi, implementasi, hingga evaluasi. Intervensi berupa penerapan media orientasi realitas yang diberikan selama enam hari, meliputi orientasi terhadap waktu, orang, tempat, lingkungan sekitar, serta isi waham. Hasil menunjukkan bahwa setelah enam hari implementasi, pasien mengalami penurunan intensitas waham, peningkatan orientasi terhadap realitas, dan mulai menyadari perbedaan antara waham dan kenyataan. Pasien juga menjadi lebih kooperatif, mampu mengikuti kegiatan harian, serta mengungkapkan harapan untuk sembuh. Kesimpulannya, penerapan media orientasi realitas efektif membantu pasien skizofrenia dengan waham dalam meningkatkan kesadaran terhadap realitas.