Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Momentum

PERHITUNGAN KOORDINASI RELAY PROTEKSI OCR / GFR DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE MATHCAD PADA TRAFO DAYA UNIT II 20 MVA GI SALAK Zulkarnaini Zulkarnaini; Mohammad Iqbal
Jurnal Momentum ISSN 1693-752X Vol 17, No 2 (2015): Volume 17 No. 2 Tahun 2015
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.904 KB)

Abstract

Untuk menjamin kwalitas pelayanan listrik, dalam meningkatkan taraf kehidupan masyarakat maka diperlukan listrik yang andal. Maka salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan meminimalisir gangguan yang terjadi dalam sistem tenaga listrik. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan cara mengkoordinasi setting relay proteksi sisi 20 kV dan 150 kV di trafo daya unit 2 GI Salak yang mana sebelumnya GI Salak hanya menyuplai dengan 1 trafo daya berkapasitas 20 MVA. Disini adanya penambahan trafo daya unit 2 dikarenakan transformator daya unit 1 arus beban sudah mencapai hingga 552 Ampere atau sekitar 95.61% dari arus maksimum. Dengan demikian dibutuhkan suatu perencanaan perhitungan serta analisa dari perhitungan arus hubung singkat agar terciptanya koordinasi proteksi Over Current Relay (OCR) dan Ground Foult Relay (GFR) yang baik di sisi penyulang, inconing 20 kV dan sisi 150 kV. Dari tabel maupun grafik koordinasi setting relai OCR-GFR sisi 150 kV, incoming 20 kV dan penyulang untk gangguan phasa – phasa dan phasa – tanah diatas dapat dilihat bahwa waktu kerja relai di sisi penyulang lebih cepat dibanding waktu kerja di sisi incoming dan sisi 150 kV. Begitu juga semakin besar arus gangguan maka waktu kerja relai semakin cepat dan begitu pua sebaliknya. Ditinjau dari jarak lokasi gangguan mempengaruhi besar kecilnya selisih waktu (granding time). Semakin jauh jarak lokasi gangguan maka semakin lama waktu kerja relai di penyulang dan waktu kerja relai di incoming sisi 150 kV,
ANALISA PERANCANGAN FILTER HARMONIK PADA UNIT KILN INDARUNG II PT. SEMEN PADANG MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP Zulkarnaini Zulkarnaini; Dasman Dasman; Michel A.A
Jurnal Momentum ISSN 1693-752X Vol 19, No 1 (2017):
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Harmonik  merupakan suatu fenomena yang terjadi akibat dioperasikannya beban listrik nonlinier, beban listrik nonlinier adalah beban listrik yang memiliki sifat menyimpang dari hukum ohm. Yang menyebabkan bentuk gelombang arus tidak sinusoidal murni sebab sudah terdistorsi, peralatan beban non linear seperti motor listrik, komputer, printer, inverter dan sebagainya. Tingkat harmonik yang melewati standar dapat menyebabkan terjadinya tingkat panas pada peralatan. Penelitian harmonik ini dilakukan Unit Kiln Indarung II PT. Semen Padang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis harmonik yang ada pada sistem kelistrikan Unit Kiln Indarung II PT. Semen Padang, Untuk menentukan tingkat harmonik tertinggi pada Unit Kiln Indarung II PT. Semen Padang, dan untuk menentukan tipe filter harmonik pada orde tertentu yang memiliki pengaruh paling besar terhadap distorsi pada jaringan. Dari simulasi ETAP-Program Total Harmonik Distorsi Arus THDi bus incoming sebesar 64,15% kemudian di pasang filter harmonik orde ke-3 hingga ke-17 menjadi 3.25%. Maka THDi di Unit Kiln Indarung II. PT. Semen Padang melebihi dari standar IEEE 519-1992, setelah digunakan filter maka THDi dibawah standar IEEE 519-1992.
Analisa Hubungan Singkat Satu Fasa Ketanah Untuk Koordinasi Setting Ground Fault Relay (GFR) Pada Penyulang Feeder 20 Kv (GI Batu Sangkar Feeder Tigo Jangko ) Zulkarnaini Zulkarnaini; Samsul Bahri
Jurnal Momentum ISSN 1693-752X Vol 12, No 1 (2012): Volume 12 No 1 Februari 2012
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.833 KB)

Abstract

Dalam setiap sistem tenaga listrik selalu digunakan sistem proteksi atau pengaman untuk mengantisipasi apabila terjadi gangguan. Sistem proteksi ini diperlukan untuk memisahkan bagian yang mengalami gangguan dengan yang tidak mengalami gangguan sehingga sistem dapat menjalankan operasinya. Apabila peralatan proteksi atau pengaman memberikan respon yang salah terhadap gangguan maka terjadi tripping ikutan/palsu yaitu peristiwa yang menggambarkan kejadian ketika suatu peralatan proteksi merespon/menanggapi secara salah atau tidak diharapkan pada suatu kondisi atau keadaan sistem tenaga listrik yang sedang mengalami gangguan. Tripping ikutan ini dapat terjadi pada peralatan pengaman atau proteksi yang dihubungkan seri pada penyulang yang sama, sehingga apabila terjadi gangguan pada penyulang tersebut maka dua atau lebih peralatan pengaman pada penyulang itu akan mengalami tripping. Tripping ikutan juga dapat terjadi pada penyulang penyulang lainnya pada bus yang sama. Hasil Penelitian ini dapat meminimalkan trip yang terjadi pada penylang yang disebabkan oleh gangguan Tripping ikutan dengan menggunakan rele gangguan tanah inverse time pada gangguan satu saluran ke tanah dengan settingan relay pada Gardu Induk (GI) Batu Sangkar pada express feeder untuk jarak 0% 0,6805 dt dan untuk feeder Tigo Jangko 0,3detik. Begitu juga pada jarak 100 % maka settingan waktu relay untuk Exspress feeder adalah 2,1367 dan untuk feeder Tigo Jangko adalah 0,9431 dt.
EVALUASI KOORDINASI OVER CURRENT RELAY (OCR) DAN GROUND FAULT RELAY (GFR) PADA FEEDER GH LUBUK BUAYA Zulkarnaini Zulkarnaini; Ujang Rahman Hakim
Jurnal Momentum ISSN 1693-752X Vol 16, No 1 (2014): Volume 16 No 1 Februari 2014
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.139 KB)

Abstract

Tingkat keandalan distribusi tenaga listrik PT. PLN (Persero) Area Padang Rayon Tabing masih belum optimal. Hal ini disebabkan oleh: Pertama, pada tahun 2012 ini terjadi perubahan pada pembangkitan daerah sumatera bagian tengah sehingga berpengaruh terhadap nilai MVA short circuit yang ada di GI PIP. Kedua, adanya penambahan beban pada Feeder Adinegoro yang harus memikul beban Feeder Air Tawar sehingga beban meningkat dua kali lipat dari semula (70 A menjadi 134 A) dan panjang jaringan juga menigkat dari 11.87 kms menjadi 40.57 kms. Setelah dilakukan analisa terhadap perubahan arus gangguan yang muncul serta koordinasi setting relay proteksi GH Lubuk Buaya, didapati bahwa nilai setting arus OCR moment pada incoming dan masing-masing Feeder di outgoing GH perlu dilakukan perubahan karena kurang efektif. Setting arus instan terlalu kecil sehingga menyebabkan relay pada incoming akan sama-sama merasakan arus gangguan hubung singkat 2 untuk jarak gangguan kurang dari 30 % panjang masing-masing outgoing. Hasil Penelitian ini dapat meminimalkan trip (pemutusan) yang terjadi pada penyulang. Dimana Setting ulang waktu kerja pada rele outgoing di set 0,3 sec dan untuk setting waktu kerja incoming GH Lubuk Buaya di set 0,6 dimana ada grading time sebesar 0,3 sec. Setting ulang ini dimaksudkan agar rele tidak sampai trip lagi akibat arus Inrush dari trafo-trafo distribusi yang memang sudah tersambung di jaringan distribusi, sewaktu PMT penyulang tersebut dimasukkan. Sehingga untuk mengkoordinasikan kembali dapat digunakan setting relay hasil analisa yang terdapat pada tabel Incoming dan Outgoing Feeder GH Lubuk Buaya ,