Erwin G. Kristanto
Department of Forensic and Medicolegal Science, Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi, Manado

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : JURNAL BIOMEDIK

PENENTUAN DERAJAT LUKA DALAM VISUM ET REPERTUM PADA KASUS LUKA BAKAR Kristanto, Erwin G.; Kalangi, Sonny J. R.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 3 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.3.2013.4346

Abstract

Kebutuhan masyarakat atas berbagai dokumen medikolegal kian meningkat seiring peningkatan kesadaran masyarakat atas hak hukumnya. Setiap dokter, dalam berbagai tingkat pelayanan kesehatan, diwajibkan mampu untuk memberikan pelayanan forensik dan medikolegal, khususnya visum et repertum. Visum et repertum yang dibuat seorang dokter harus dapat membantu penegakan hukum melalui kesimpulan yang sesuai dengan ilmu kedokteran dan kebutuhan penegakan hukum. Pada kasus dugaan penganiayaan yang mengakibatkan korban menderita luka bakar, maka amat penting bagi para penegak hukum untuk memperoleh pendapat ilmiah dokter mengenai derajat keparahan atau derajat luka dari korban tersebut. Pendapat ilmiah mengenai derajat luka ini akan membantu aparat penegak hukum dalam menentukan beratnya hukuman yang diancamkan pada pelaku. Kesimpulan dokter akan membawa dampak besar bagi pihak-pihak yang terlibat dalam tindak pidana tersebut, sehingga pengambilan kesimpulan yang tepat amatlah penting.
POLA CEDERA KASUS KEKERASAN FISIK PADA ANAK DI R. S. BHAYANGKARA MANADO PERIODE TAHUN 2013 Janise, Chriselya L.; Kristanto, Erwin G.; Siwu, James F.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 7, No 1 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.7.1.2015.7290

Abstract

Abstract: Child abuse in Indonesia shows a tendency to increase every year.This study aimed to detect the injury patterns in the living victims due to child abuse. This was a descriptive retrospective study. Data were obtained from the 2013 medical records of Bhayangkara Hospital in Manado. Variables of this study were types of violence, types of injuries, and locations of injuries. The results showed that the types of violence were oppression (66%) and sexual abuse (34%). The most frequent type of injuries was bruise (53%), followed by laceration (27%) and excoriation (20%). The location of injuries were mostly on the head (65%), especially on the left eye (19% of the head), followed by the other parts of the body. Conclusion: In this study, concerning child abuse, the most frequent type of violence was oppression. The most frequent type of injuries was bruise, and the location of injuries was mostly on the head, especially on the left eye. Keywords: injury pattern, physical violence, children.     Abstrak: Kekerasan pada anak di Indonesia memperlihatkan kecenderungan meningkat setiap tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola cedera pada anak (yang hidup) yang menjadi korban kekerasan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif. Pengambilan data dilakukan di R.S. Bhayangkara Manado periode tahun 2013 dengan memanfaatkan data sekunder dari rekam medis orang hidup, jenis kekerasan yang paling sering terjadi pada kasus kekerasan anak, jenis cedera, dan letak cedera sebagai variabel penelitian. Hasil penelitian memperlihatkan jenis kekerasan yang ditemukan ialah penganiayaan (66%) dan kekerasan seksual (34%). Jenis cedera yang tersering ditemukan ialah memar (53%), diikuti oleh luka robek (27%) dan luka lecet (20%). Lokasi cedera yang terbanyak di daerah kepala (65%) terutama mata kiri (19% dari bagian kepala), diikuti oleh bagian tubuh lainnya. Simpulan: Pada penelitian ini, jenis-jenis kekerasan yang tersering ditemukan pada anak berupa penganiayaan dengan jenis cedera tersering berupa memar. Lokasi cedera tersering pada daerah kepala, terutama mata kiri. Kata kunci: pola cedera, kekerasan fisik, anak.
PENDEKATAN BIOETIK TENTANG EUTANASIA Wakiran, Mutiara D. B. I.; Tomuka, Djemi Ch.; Kristanto, Erwin G.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2602

Abstract

Abstract: Generally, a patient desires a ‘normal’ death free from pain and fear which is called in medical terms: euthanasia. Nowadays, euthanasia is a dilemmatic issue among doctors. Medical ethics has become a broader consideration which has developed quite rapidly in the last three decades; therefore, ethical considerations have become major concerns in the medical profession. They are often found in conflict especially between a doctor and a patient, and these can not be solved by using the traditional rules of medical ethics. In such cases, the rules of law, depending on region or nation, can be enforced, so that the problem under discussion (euthanasia) can not be separated from the issues of the rights and obligations of the involved parties. The rapid development in medical science and biology creates more complex problems which can not be solved by long-standing medical ethics; therefore, bioethics has been developed in the expectation of providing more available and logical solutions. Keywords: euthanasia, death, conflict.   Abstrak: Kematian yang diidamkan oleh para penderita ialah kematian yang normal, jauh dari rasa sakit dan mengerikan yang dalam istilah medis disebut eutanasia. Eutanasia merupakan suatu persoalan yang dilematik baik di kalangan dokter. Etika telah menjadi suatu bagian dari dunia kedokteran yang cukup pesat perkembanganya dalam tiga dekade terakhir dan pertimbangan etika menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan profesi kedokteran. Dalam profesi ini seringkali dijumpai konflik antara dokter dan pasien yang tidak dapat dipecahkan oleh kaidah-kaidah etika. Dalam hal seperti ini maka kaidah-kaidah hukum dapat dapat diberlakukan, sehingga pembicaraan tidak dapat dilepaskan dari masalah hak dan kewajiban dari pihak-pihak yang yang terlibat dalam permasalahan tersebut. Perkembangan yang pesat dalam ilmu kedokteran dan biologi serta permasalahan yang mengiringinya semakin kompleks sehingga kajian tentang etika kedokteran yang membahas mengenai bidang medis dan profesi kedokteran saja tidak cukup; untuk itu dikembangkan bioetika (etika biomedis) yang diharapkan dapat menghasilkan solusi yang lebih dapat diterima dan logik. Kata kunci: euthanasia, etika, konflik.
Analisis distribusi obat pada pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Liwu, Irene; Kristanto, Erwin G.; Tambun, Jerry G.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 9, No 1 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.1.2017.15383

Abstract

Abstract: The increasing quantity of BPJS patients (Social Security Administrator) leads the frequency of service for this program to increase. This study was aimed to analyze whether the drug distribution service reached the patients needs accurately (as prescribed), fast, and could reach the maximum level of cost efficiency in drug distribution process. This study was conducted at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in Manado, a referral center hospital in East Indonesia. In this study, we used qualitative method. Data were obtained from several resources: BPJS’s patients, doctors, nurses, pharmacy assistants, pharmacy helper, and head of the Department of Pharmacy. The qualitative data were obtained based on the comprehensive monitoring of the interview results and were further incorporated into the transcription by using snowballing sampling technique and triangulation. The results showed that the standard procedure of drug delivery regulation was not covered thoroughly due to the lack of time and perception of the pharmacy staff about the patient’s need for information. Management of informative data is needed to support the distribution pathway including the order planning, eficiency of drug stock quantity, and handling of administrative data. Conclusion: The availability of drugs for BPJS patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital included in the distribution cycle was supported by optimum internal communication in acordance with accreditation standard and Permenkes pelayanan kefarmasian no.72 tahun 2016.Keywords: accuration, distribution, efficiency, frequency, procedureAbstrak: Meningkatnya kuantitas pasien yang masuk program Badan Penyelenggara Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) menjadikan frekuensi layanan untuk program ini ikut meningkat, khususnya untuk pelayanan obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis layanan distribusi yang mampu menjangkau kebutuhan obat pasien dengan akurat (sesuai resep), cepat, dan dapat mencapai tingkat maksimum efisiensi biaya dalam proses distribusi obat. Penelitian dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang merupakan pusat rujukan rumah sakit di Wilayah Indonesia Timur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang diambil dari sumber informasi: pasien BPJS, dokter, perawat, asisten farmasi, tenaga bantu farmasi, dan kepala Departemen Farmasi. Data kualitatif diperoleh berdasarkan pemantauan komprehensif dari hasil wawancara yang dimasukkan ke dalam transkripsi dengan teknik sampel snowballing dan triangulasi. Hasil penelitian memperlihatkan adanya prosedur standar pemberian obat dari regulasi yang tidak tercakup menyeluruh dikarenakan faktor waktu dan persepsi tingkat kebutuhan informasi pasien dari tenaga farmasi. Diperlukan adanya penanganan data informasi yang mendukung jalur distribusi mulai dari perencanaan pemesanan obat, efesiensi kuantitas stok obat, dan pengelolaan data administrasi. Simpulan: Ketersediaan obat pada pasien BPJS di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou merupakan hasil rangkaian yang termasuk dalam siklus distribusi obat dengan dukungan komunikasi internal yang cukup dalam proses distribusi selaras dengan standar akreditasi dan Permenkes pelayanan kefarmasian no.72 tahun 2016.Kata kunci: akurasi, distribusi, efisiensi, frekuensi, prosedur
Informed consent di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Wagiu, Christilia G.; Kristanto, Erwin G.; Lumunon, Theo
Jurnal Biomedik : JBM Vol 9, No 1 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.1.2017.15321

Abstract

Abstract: According to the Minister of Health regulation No. 290 Year 2008 article 1 which is relevant to medical intervention issues, informed consent has to be signed by the patient prior to any medical intervention after the patient has been informed completely about the purpose and the risk of certain intervention. In general, medical doctors already admits that informed consent is an important part of the ethical code of their profession. Albeit, in certain circumstances such as in emergency cases with life or physical handicap threatening, the medical doctors are demanded to do medical intervention ‘ignoring’ the informed consent. This study was aimed to obtain the implementation of informed consent in Emergency Care Unit at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado, the central referral hospital in East Indonesia. In this study, we used qualitative method through interview, direct field observation, and document observation as secondary data. The results showed that informed consent was implemented at the Emergencey Care Unit, however, in emergency cases, informed consent was given orally, followed by signing it as soon as the intervention had been completely performed. Conclusion: Informed consent was implemented in every medical intervention at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital including the Emergency Care Unit.Keywords: informed consent, emergency care unitAbstrak: Menurut ketentuan Permenkes No. 290 tahun 2008 pasal 1 yang mengatur tentang tindakan medik disebutkan bahwa ijin melakukan tindakan medik diberi oleh pasien setelah terlebih dahulu pasien mendapat penjelasan tentang tujuan dan manfaat maupun risiko dari tindakan medik tersebut. Umumnya dokter telah mengetahui dan mengakui bahwa persetujuan tindakan medik atau informed consent ialah bagian kode etik profesi sebelum diatur dalam ketentuan undang-undang tentang rumah sakit, praktik kedokteran, maupun peraturan menteri kesehatan. Dalam keadaan tertentu dokter juga dituntut untuk dapat segera melaksanakan tindakan medis dan mengesampingkan informed consent antara lain dalam keadaan gawat darurat dimana terdapat ancaman kematian atau kecacatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaran persetujuan tindakan medik di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou yang merupakan rumah sakit pusat rujukan di Indonesia Timur. Pada penelitian ini digunakan metode kualitatif melalui wawancara, pengamatan langsung di lapangan, dan observasi dokumen sebagai data sekunder. Hasil penelitian mendapatkan bahwa informed consent di Instalasi Gawat Darurat masih tetap dipakai, walaupun pada keadaan gawat darurat persetujuan diberikan secara lisan baru setelah selesai tindakan baru dimintakan tanda tangan pada lembar informed consent. Simpulan: Informed consent tetap diperlukan untuk setiap tindakan kedokteran yang dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou termasuk pada Instalasi Gawat Darurat.Kata kunci: informed consent, emergency unit care
POLA CEDERA TORAKS PADA KECELAKAAN LALU LINTAS YANG MENYEBABKAN KEMATIAN DI BAGIAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL RSUP PROF. Dr. R.D. KANDOU PERIODE JANUARI 2013- JANUARI 2014 Labora, Jessica R.; Kristanto, Erwin G.; Siwu, James F.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 7, No 1 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.7.1.2015.7291

Abstract

Abstract: Traffic accident is the most frequent cause of death. Chest injury is the third rank in traumatic cases due to traffic accident. This study aimed to obtain chest injury pattern due to traffic accident that led to death in the Forensic and Medicolegal Departement at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from Januari 2013 to Januari 2014. This was a retrospective descriptive study. Data were collected from the medical record of traffic accident cases. The results showed that there were 85 cases of traffic accidents during the time period, however, only 23 cases had visum et repertum. There were 7 death cases due to chest injuries. Their ages ranged from 17 to >65 years, mostly at the age of 17-25 years.  Males were the most frequent (71.43%).  The most commonly found wounds were opened wounds and blisters (each was 28.58%), followed by bruises and fractures (each was 14.28%). Pattertns of left and right injuries of the chest did not differ much. Most victims were drivers (42.8%). Conclusion: Chest injuries that led to deaths were more frequent among drivers, males, and aged 17-25 years. Keywords: chest injury, traffic accident.   Abstrak: Kecelakaan lalu lintas (KLL) masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dengan angka kejadian yang cukup tinggi. Cedera toraks menduduki peringkat ketiga terbanyak pada kasus trauma akibat kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola cedera toraks pada kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan kematian di Bagian Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2013-Januari 2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif. Data dikumpulkan dari rekam medik seluruh kasus kecelakaan lalu lintas di tahun 2013-2014. Hasil penelitian memperlihatkan dari 85 kasus korban KLL hanya 23 kasus yang dilakukan visum et repertum, dan terdapat 7 kasus yang meninggal dengan cedera toraks. Usia korban berkisar 17 sampai dengan >65 tahun, terbanyak pada usia 17-25 tahun serta jenis kelamin laki-laki (71,43%).  Pola luka yang tersering terjadi ialah luka terbuka dan luka lecet (masing-masing 28,58%), diikuti oleh luka memar, dan patah tulang (masing-masing 14,28%). Pola cedera pada toraks sebelah kiri dan kanan tidak banyak berbeda. Peran korban terutama sebagai pengemudi (42,8%). Simpulan: Korban KLL dengan cedera toraks yang menyebabkan kematian paling banyak terjadi pada pengemudi, jenis kelamin laki-laki, dan berusia 17-25 tahun. Kata kunci: cedera toraks, kecelakaan lalu lintas.
PELAYANAN KARDIOLOGI DI INDONESIA DAN PROBLEMATIKA MEDIKO-LEGAL Kristanto, Erwin G.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 6, No 2 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Juli 2014
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.2.2014.5546

Abstract

Abstract: This article shows the extent of needs in health services especially cardiology clinics in Indonesia, medico-legal risks that may come up, dan principled steps to decrease the risks. The evolving changes in health regulation have also been discussed, along with cases that occured in Indonesia. Lack or withholding information, failure in diagnosis and therapy, and lack of caution were problems that must be addressed properly. Recommendations that come with this article are expected to benefit the cardiologists in health service with lower risks of legal sue. Keywords: Cardiology, medico-legal, health services   Abstrak: Artikel ini menunjukkan kebutuhan layanan kesehatan khususnya di bidang Kardiologi di Indonesia, risiko medikolegal yang dapat timbul dari pelayanan tersebut, dan langkah prinsip untuk mengurangi risiko tersebut. Bergeraknya tata aturan dalam pelayanan kesehatan dan dampaknya bagi pelayanan kesehatan di bidang Kardiologi juga menjadi titik bahasan, dengan merujuk pada kasus yang terjadi di Indonesia. Penyampaian informasi yang kurang baik, kegagalan  diagnosis dan terapi, kurangnya kehati-hatian, merupakan hal yang harus menjadi perhatian dalam praktik kedokteran khususnya di bidang Kardiologi. Rekomendasi yang dipaparkan dalam tulisan ini diharapkan juga mampu membawa manfaat bagi pelayanan di bidang Kardiologi yang lebih baik dengan risiko medikolegal yang lebih kecil. Kata kunci: Kardiologi, medikolegal, pelayanan kesehatan
EVALUASI KEPATUHAN RSU GMIM BETHESDA TOMOHON DALAM PENEMPATAN TENAGA KESEHATAN SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2014 Tuladhani, Endah; Kristanto, Erwin G.; Pongoh, Jantje
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 9, No 1 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.1.2017.15384

Abstract

Abstract: Recruitment of health personnels is included in the purpose of UU Nomor 36 tahun 2014. This UU states that all health personnels should have the STR and SIP. Moreover, SPK graduated medical assistants are not longer accepted as professional workers. As one of the type C hospitals in Tomohon, the numbers and types of competence of health personnels at GMIM Bethesda Hospital have to meet the requirement set out in PERMENKES no 56 RI 2014, which is about the permission of hospital operation. This study was aimed to evaluate the compliance of GMIM Bethesda Hospital in recruitment of health personnels and medical assistants in their respective fields of health services, in accordance with its competence and authority based on UU Nomor 36 tahun 2014. This study used a qualitative method. Thorough interviews and document observation were performed to obtain information about the the management of GMIM Bethesda Hospital in placing their health personnels in accordance with the UU No 36 tahun 2014. The results showed that the recruitment of health personnels of GMIM Bethesda Hospital was in accordance with UU No 36 2014 except for clinical pathologists, dental specialists, and pharmacists that are still lacking, and also for the great numbers of SPK graduated personnels who were still working at the hospital. Conclusion: In general, health personnels of GMIM Bethesda hospital were in accordance with UU No 36 tahun 2014.Keywords: health personnels, recruitmentAbstrak: Penempatan tenaga kesehatan termasuk dalam salah satu tujuan dari UU Nomor 36 tahun 2014. RSU GMIM Bethesda sebagai salah satu rumah sakit di Kota Tomohon harus memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam Permenkes RI No 56 tahun 2014 terkait dengan izin operasional rumah sakit dan sebagai persyaratan rumah sakit yang telah terakreditasi tipe C. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kepatuhan RSU GMIM Bethesda dalam menempatkan tenaga kesehatan dan asisten tenaga kesehatan di masing-masing bidang pelayanan kesehatan sesuai kompetensi dan kewenangannya berdasarkan UU No 36 tahun 2014. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi dokumen untuk mendapatkan informasi mengenai manajemen rumah sakit Bethesda dalam menempatkan tenaga kesehatan sesuai ketentuan UU No 36 tahun 2014 yaitu setiap tenaga kesehatan harus memiliki STR dan SIP dan tidak adanya lagi asisten tenaga kesehatan lulusan SPK yang menjadi tenaga profesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penempatan tenaga kesehatan di RSU GMIM Bethesda sudah sesuai dengan UU No 36 tahun 2014 kecuali tenaga dokter spesialis patologi klinik, dokter spesialis gigi, dan apoteker masih kurang, juga masih terdapat banyak tenaga lulusan SPK yang masih bekerja di rumah sakit ini. Simpulan: Penempatan tenaga kesehatan di RSU GMIM Bethesda telah sesuai dengan UU No 36 tahun 2014.Kata kunci: tenaga kesehatan, penempatan tenaga kesehatan
IDENTIFIKASI IRIS OPSI IDENTIFIKASI BIOMETRIK Kristanto, Erwin G.; Rompas, Elisa; Wangko, Sunny
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 5, No 3 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.3.2013.4343

Abstract

Perkembangan teknologi dalam kehidupan sehari-hari membuat timbulnya kebutuhan untuk membuktikan pada mesin dan sistem bahwa seorang individu ialah pemilik identitas yang ditampilkan oleh mesin dan sistem tersebut. Aktivitas membuka pintu, absensi, membuka komputer, hingga membuat dokumen, membutuhkan verifikasi bahwa kegiatan tersebut dilakukan oleh orang yang tepat. Kebutuhan ini dijawab dengan suatu metode identifikasi yang disebut identifikasi biometrik. Penggunaan identifikasi biometrik membantu peningkatan keamanan sistem komputer dengan menggantikan penggunaan kata kunci (password) yang dapat diretas. Password yang terdiri dari 6 karakter tanpa karakter khusus walau memiliki 2,25 miliar kemungkinan kombinasi, ternyata dapat diretas dalam beberapa detik dengan menggunakan sebuah server komputer. Akun media sosial yang memiliki pengaman yang cukup baik, ternyata banyak yang diretas dan kemudian disalahgunakan. Identifikasi iris dianggap merupakan salah satu metode identifikasi biometrik yang ideal dan lebih stabil karena iris adalah organ internal yang terproteksi oleh kornea. Beberapa kekurangan metode ini ialah pada pengguna kacamata, lensa kontak, atau cadar, serta peminum alkohol.
IDENTIFIKASI JENAZAH PADA KORBAN BENCANA Welong, Frelly; Kristanto, Erwin G.; Tomuka, Djemi Ch.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2601

Abstract

Abstract: Disasters in our country have become very important issues. It is said that our country is a disaster supermarket due to the quantity and quality of disasters in Indonesia from 2000-2010. Disasters claimed both material and human lives. Disasters such as earthquakes and tsunamis often resulted in the findings of unidentified bodies (the disaster victims). Identification of a dead body is very important in a disaster. The method used to identify the dead body must be standarized - according to forensic identification methods and standard DVI procedures (Disaster Victim Identification) in reference to Interpol. Additionally, the methods can also assist the police in the personal identification of cases whose identities are still questionable. Victim identifications in turn will help to determine the perpetrators. Keywords: disaster, identification, identification methods, DVI     Abstrak: Isu bencana di negara kita Indonesia ini sudah sangat sering didengar karena cuku banyak bencana yang telah terjadi di negara kita. Negara kita bahkan disebut ‘supermarket bencana’ akibat banyaknya bencana yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu 2000-2010. Bencana tidak hanya memakan korban material saja tetapi juga korban jiwa. Pada bencana- bencana seperti gempa bumi dan tsunami sering didapati jenazah-jenazah yang identitasnya tidak diketahui. Penentuan identitas jenazah disini sangat penting; untuk itu dapat digunakan metode-metode identifikasi menurut forensik dan juga prosedur-prosedur standard DVI (Disaster Victim Identification) yang mengacu pada Interpol. Selain itu, metode-metode tersebut bisa membantu pihak kepolisian dalam penyidikan kasus-kasus dimana identitas korban masih diragukan; dan juga untuk menentukan pelaku kejahatan pada kasus-kasus  pembunuhan, pemerkosaan, dan lainnya yang berhubungan dengan masalah identifikasi. Kata kunci: bencana, identifikasi, metode identifikasi, DVI