Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PENGARUH BAURAN PEMASARAN TERHADAP MINAT BELI KONSUMEN PRODUK KERIPIK PISANG ASKHA JAYA (STUDI KASUS PADA INDUSTRI KERIPIK PISANG ASKHA JAYA BANDAR LAMPUNG) Eka Windasari; Otik Nawansih; Harun Al Rasyid; Tanto Pratondo Utomo
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 2, No 1 (2023): JURNAL AGROINDUSTRI BERKELANJUTAN
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v2i1.7060

Abstract

Minat beli konsumen penting diperhatikan agar usaha industri dapat berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bauran pemasaran terhadap minat beli konsumen keripik pisang Askha Jaya. Penelitian ini dilakukan dengan cara survey menggunakan kuesioner terhadap 100 responden yang merupakan konsumen keripik Askha Jaya. Data yang didapat dianalisis menggunakan Uji kualitas data, Uji asusmsi klasik, Uji analisis data dan Uji hipotesis menggunakan Uji t dan Uji F Simultan. Hasil analisis Uji t menunjukkan bahwa variabel produk dan tempat berpengaruh secara signifikan terhadap minat beli konsumen, sedangkan variabel harga dan promosi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap minat beli konsumen. Kemudian hasil uji F menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel produk, harga, promosi, dan tempat mempunyai pengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen produk keripik pisang di Askha Jaya.
PENGARUH LAMA PENGERINGAN TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA DAN SENSORI SIMPLISIA TUMBUHAN CIPLUKAN (Physalis angulata L.) UNTUK MINUMAN FUNGSIONAL Khoiru Nasihin; Otik Nawansih; Puspita Yuliandri; Susilawati susilawati
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 3, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9553

Abstract

Simplisia ciplukan diolah melalui proses pengeringan, lama pengeringan dapat mempengaruhi kualitas simplisia yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu pengeringan terhadap karakteristik kimia dan sensori simplisia ciplukan (Physalis angulata L.) Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 (enam) perlakuan lama pengeringan dan 3 (tiga) kali pengulangan. Rancangan yang dilakukan adalah (P0) = 0 jam, (P1) = 6 jam, (P2) = 12 jam, (P3) = 18 jam, (P4) = 24 jam, dan (P5) = 30 jam. Metode pengeringan yang digunakan adalah pengeringan tidak langsung yaitu dijemur di bawah sinar matahari dan ditutup dengan kain kasa hitam. Tumbuhan ciplukan dicuci dan ditiriskan, kemudian dilakukan pengecilan ukuran dengan dirajang dan ditimbang 500 g untuk setiap perlakuan kemudian dikeringkan. Simplisia yang dihasilkan kemudian dilakukan uji kadar udara, uji aktivitas antioksidan, dan uji sensori. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu pengeringan berpengaruh terhadap karakteristik kimia dan sensori simplisia ciplukan. Perlakuan lama pengeringan 30 jam merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan nilai produktifitas (NP) tertinggi yaitu 0,66, kadar udara sesuai dengan SNI produk teh yaitu sebesar 8,7%, aktivitas antioksidan 48,26%, skor warna 4,82 (coklat tua ), skor aroma 4,77 (sangat tidak langu), dan skor rasa 4,91 (sangat pahit).
Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku dengan Metode Economic Order Quantity (EOQ) di Industri Kerupuk UD Citra Tradia Food Shelly Wahyuni; Harun Al Rasyid; Otik Nawansih; Erdi Suroso
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 3, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9109

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode peramalan terbaik, kuantitas pembelian optimal, safety stock, reorder point, maximum inventory, dan total inventory cost bahan baku UD Citra Tradia Food untuk tahun 2024 menggunakan metode EOQ. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode analisis kuantitatif dengan analisis sebab akibat dan deret waktu untuk peramalan permintaan, serta model EOQ untuk persediaan bahan baku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode regresi linier sederhana efektif untuk peramalan permintaan ikan giling mutu I sebesar 3.166,67 kg, sementara metode single moving average cocok untuk ikan giling mutu II sebesar 13.929 kg, tepung tapioka sebesar 240.250 kg, dan minyak goreng sebesar 131.245 L. Kuantitas pembelian optimal untuk tahun 2024 adalah 259 kg ikan giling mutu I, 1.140 kg ikan giling mutu II, 32.869 kg tepung tapioka, dan 17.956 L minyak goreng. Safety stock ikan giling mutu I sebesar 42,38 kg, ikan giling mutu II sebesar 26,16 kg, tepung tapioka 535,85 kg, dan minyak goreng 609,36 L. Reorder point untuk ikan giling mutu I sebesar 52,80 kg, ikan giling mutu II sebesar 74,18 kg, tepung tapioka sebesar 2.192,10 kg, dan minyak goreng sebesar 1.053,45 L. Maximum inventory ikan giling mutu I sebesar 360,51 kg, ikan giling mutu II sebesar 1.469,49 kg, tepung tapioka sebesar 33.404,86 kg, dan minyak goreng sebesar 18.565,21 L. Total inventory cost yang dihasilkan adalah Rp718.967,87 untuk ikan giling mutu I, Rp718.967,87 ikan giling mutu II, Rp1.041.577,74 untuk tepung tapioka, dan Rp1.041.577,74 untuk minyak goreng.Kata kunci: Economic Order Quantity, Peramalan, Safety stock, Reorder point, Maximum inventory, Total inventory cost
KAJIAN PENGOMPOSAN SLUDGE DIGESTER BIOGAS DENGAN CAMPURAN KULIT KOPI DAN ANALISIS FINANSIAL (STUDI KASUS BIOGAS SQUARE, DESA KEDIRI, KECAMATAN GADINGREJO, KABUPATEN PRINGSEWU, PROVINSI LAMPUNG) Otik Nawansih; Dani Faturrohman; Harun Al Rasyid; Tanto Pratondo Utomo
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 1, No 1 (2022): Jurnal Agroindustri Berkelanjutan
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v1i1.5640

Abstract

Digester biogas yang sudah terinstal di Desa Kediri berjumlah lebih kurang 20 buah dengan kapasitas mulai dari 4 m3 - 12 m3. Selain menghasilkan biogas, digester juga menghasilkan sludge. Salah satu cara yang dapat dilakukan agar sludge digester biogas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk melalui pengomposan dengan campuran kulit kopi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui 1) Rendemen dan mutu kompos sludge digester biogas yang dicampur kulit kopi; 2) Kelayakan usaha pembuatan kompos sludge digester biogas dengan campuran kulit kopi pada Biogas Square, Desa Kediri. Sludge 1020 kg dicampur dengan kulit kopi 120 kg dan kotoran sapi 210 kg, diatur kelembabanya, ditumpuk selama 60 hari, dan dilakukan pembalikan setiap 1 minggu sekali, diamati perubahan suhu untuk memastikan keberhasilan proses. Setelah proses selesai dilakukan pemanenan kemudian dihitung rendemen dan dianalisis mutunya. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis kandungan C-organik, N, P, K dan analisis rendemen untuk mutu kompos dan analisis Kriteria kelayakan finansial berupa NPV, IRR, PP, Net B/C dan BEP. Hasil menunjukan kompos memiliki kandungan C-organik sebesar 11,02 %, N total 1,41%, P total 1,60%, C/N rasio 7,82%, K total 1,18% dan rendemen sebesar 54,15%  dan hasil kriteria kelayakan finansial menunjukan nilai NPV sebesar Rp 68.726.533, nilai IRR sebesar 15%, nilai Net B/C sebesar 1,484, Pay Back Period sebesar 6,196 atau 6 tahun 3 bulan 13 hari. Sementara untuk BEP pada penelitian ini untuk BEP unit yaitu sebesar 5.032 kg kompos dan BEP rupiah sebesar Rp 25.158.694,00.
FORMULASI TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) DAN TEPUNG TERIGU TERHADAP MUTU SENSORI, FISIK, DAN KIMIA CUPCAKE Tri Okta Viani; Samsul Rizal; Siti Nurdjanah; Otik Nawansih
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 2, No 1 (2023): JURNAL AGROINDUSTRI BERKELANJUTAN
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v2i1.7191

Abstract

Cupcake daun kelor pada penelitian ini adalah cupcake yang berbahan baku tepung terigu dengan penambahan tepung daun kelor.  Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh formulasi tepung daun kelor dan tepung terigu terhadap mutu sensori, fisik, dan kimia cupcake mendekati SNI 01-4309-1996 tentang standar mutu kue basah.  Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 4 ulangan menggunakan faktor tunggal yang terdiri dari 6 taraf formulasi tepung daun kelor dan tepung terigu yaitu P0 (0%:100%), P1 (5%:90%), P2 (10%:90%), P3 (15%:75%), P4 (20%:80%), dan P5 (25% :75%).  Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji Barlett dan Tukey dilanjutkan dengan uji ANOVA dan uji BNT pada taraf 5%.  Hasil penelitian menunjukan bahwa formulasi tepung daun kelor dan tepung terigu terbaik ditemukan pada perlakuan P1 (5%:95%) yang menghasilkan cupcake dengan kadar air sebesar 23,50%, kadar lemak sebesar 16,93%, kadar protein sebesar 16,35%, kadar karbohidrat sebesar 27,37%, kadar abu sebesar 1,35%, kadar serat kasar sebesar 5,40%, warna agak hijau, tekstur lembut, aroma tidak langu khas kelor, aftertaste yang tidak pahit, dan penerimaan keseluruhan yang disukai oleh panelis
PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP PENGEMBANGAN PRODUK CAMILAN KOPI Hanifa Warda; Otik Nawansih; Neti Yuliana; Samsu Udayana Nurdin
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 2, No 1 (2023): JURNAL AGROINDUSTRI BERKELANJUTAN
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v2i1.7136

Abstract

Camilan kopi terbuat dari biji kopi asli yang disangrai dan disalut dengan sirup gula aren. Penggunaan biji kopi yang diolah langsung menjadi camilan membuat produk ini masih perlu dilakukan pengembangan agar dapat lebih diterima konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atribut-atribut produk camilan kopi yang dianggap penting dalam pengembangan produk, membuat produk pengembangan guna memperbaiki produk sebelumnya, serta mengetahui preferensi konsumen terhadap camilan kopi. Tahapan dalam penelitian ini yaitu dengan penyiapan kuisioner, uji validitas dan reliabilitas, formulasi produk pengembangan, serta uji kesukaan. Kuisioner dilakukan kepada 30 responden pada survei pendahuluan dan 100 responden pada survei uji kesukaan. Analisis data menggunakan metode importance performance analysis (IPA) dan model sikap fishbein. Hasil survei pendahuluan menunjukkan bahwa kinerja atribut camilan kopi yang masuk ke dalam kuadran I (prioritas utama) adalah tekstur/kerenyahan, mouthfeel, kemudahan untuk ditelan, dan aftertaste. Kuadran II (pertahankan prestasi) yaitu atribut aroma kopi. Kuadran III (prioritas rendah) yaitu rasa pahit kopi. Kuadran IV (berlebihan) yaitu rasa manis gula aren dan aroma gula aren. Formulasi produk pengembangan dilakukan dengan memodifikasi penggunaan biji kopi menjadi ekstrak kopi yang disalut dengan kacang sangrai dan sirup gula aren. Berdasarkan preferensi konsumen melalui uji kesukaan, responden lebih menyukai produk pengembangan camilan kopi dibandingkan dengan camilan kopi yang sudah ada sebelumnya dengan nilai sikap (Ao) sebesar 16,31 yaitu positif.
Karakteristik Biodegradable Film Berbasis Selulosa Bungkil Inti Sawit (BIS) dengan Variasi Konsentrasi Plasticizer Gliserol dan Filler Glukomanan Dinda Dwi Jessica; Zulferiyenni -; Fibra Nurainy; Otik Nawansih
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 3, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9298

Abstract

Biodegradable film berbasis selulosa berpotensi sebagai bioplastik yang dapat terurai oleh mikroorganisme di dalam tanah. Bungkil inti sawit memiliki kandungan selulosa sebesar 23,36%.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh penambahan gliserol dan glukomanan terhadap karakteristik biodegradable film berbasis selulosa bungkil inti sawit, serta mengetahui pengaruh interaksi antara gliserol dan glukomanan terhadap karakteristik biodegradable film berbasis selulosa bungkil inti sawit. Penelitian inidisusundalamRancanganAcakKelompokLengkap(RAKL)dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi gliserol dengan kode (G) yang terdiri dari tiga konsentrasi (0%, 0,2% dan 0,4%) (v/v). Faktor kedua adalah konsentrasi glukomanan denngan kode (L) yang terdiri dari tiga konsentrasi (1%, 2% dan 3%) (b/v). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda terhadap karakteristik biodegradable film berbasis selulosa bungkil inti sawit.Karakteristik biodegradable film menghasilkan nilai kuat tarik dan laju transmisi uap air yang sudah memenuhi standar JIS 1975, dapat terdegradasi selama 3 minggu dan memiliki ketahanan suhu ruang selama 3 minggu. Namun nilai persen pemanjangan dan ketebalan belum memenuhi standar JIS 1975. A cellulose-based biodegradable film has the potential to be used as bioplastic that can decompose by microorganisms in the soil. Palm kernel expeller contains 23.36% cellulose. This research aims to determine the effect of adding glycerol and glucomannan on the characteristics of cellulose-based biodegradable film from palm kernel cake, as well as to understand the interaction effects between glycerol and glucomannan on these characteristics. The study was designed using a Completely Randomized Block Design (CRBD) with two factors and three replications. The first factor is the concentration of glycerol coded (G), which consists of three concentrations (0%, 0.2%, and 0.4%) (v/v). The second factor is the concentration of glucomannan coded (L), which consists of three concentrations (1%, 2%, and 3%) (b/v). The research results showed significant differences in the characteristics of the cellulose-based biodegradable film from palm kernel expeller. The characteristics of the biodegradable film produced tensile strength and water vapor transmission rate values that met the JIS 1975 standard, could degrade within 3 weeks, and maintained room temperature stability for 3 weeks. However, the elongation percentage and thickness values did not meet the JIS 1975 standard. CHARACTERISTICS OF BIODEGRADABLE FILM BASED ON PALM KERNEL CELLULOSE (BIS) WITH VARIED CONCENTRATIONS OF GLYCEROL PLASTICIZER AND GLUCOMANNAN FILLER
FORMULASI TEPUNG JAGUNG DAN IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) PADA PEMBUATAN NUGGET FORMULATION OF CORN FLOUR AND AFRICAN CATFISH (Clarias gariepinus) IN THE MAKING OF NUGGETS Widoretno Indah; Otik Nawansih; Neti Yuliana
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 2, No 2 (2023): Jurnal Agroindustri Berkelanjutan
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v2i2.8019

Abstract

The study aimed to determine the effect of the formulation of corn meal and catfish on the sensory and chemical characteristics of fish nuggets and to obtain the best formulation of corn flour and catfish on fish nugget products. This study was arranged in a Completely Randomized Block Design with a single factor of six levels and four replications. The formulations of corn flour and catfish in the manufacture of fish nuggets were P0 (10 g and 190 g as controls), P1 (10 g and 190 g), P2 (20 g and 180 g), P3 (30 g and 170 g), P4 (40 g and 160 g), and P5 (50 g and 150 g). Sensory observations were carried out by scoring, hedonic, and chemical properties tests. The Bartlett test and the addition of the data by the Tuckey test tested the homogeneity of the data. The data were analyzed by variance to determine the effect between treatments. If there was a significant effect, the data was further analyzed with the Least Significant Difference (L.S.D.) test at a 5% level. The results showed that the formulation of corn flour and catfish significantly affected sensory properties (texture, taste, and overall acceptability) and chemical properties (ash, fibre, fat, protein, and carbohydrate content) but not significantly on colour parameters alongside the scent and moisture content of the nuggets. The formulation of corn flour and catfish that produced the best fish nuggets was the P3 treatment (30 g corn flour and 170 g catfish) on cooked nuggets having a texture score of 7.62 (slightly dense and somewhat compact, taste score 7.08 (typical of fish), score colour 6.64 (yellow-brown) aroma score 6.88 (less typical of fish) and overall acceptance of 7.27 (like), and the best half-cooked nugget chemical properties resulted in water content of 74.70%, ash content of 1.27%, 8.61% protein content, 2.08% fat content, 1.22% crude fibre content and 12.09% carbohydrate content.
PENGARUH LAMA PEMASAKAN TERHADAP SIFAT SENSORI, SIFAT KIMIA, DAN SIFAT FISIK PERMEN JELLY SUSU KAMBING THE EFFECT OF COOKING LENGTH ON THE SENSORY PROPERTIES, CHEMICAL PROPERTIES, AND PHYSICAL PROPERTIES OF GOAT'S MILK JELLY CANDY Alfi Syahriyah Majidah; susilawati -; Otik Nawansih
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 3, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i1.8855

Abstract

Goat's milk jelly candy is a snack made from a mixture of sugar, goat's milk, thickening agents and other permitted food additives, which of course can increase consumption of goat's milk. Factors that can influence the quality of jelly candy include gelling ingredients, cooking temperature, cooking length, choice of mixed ingredients, addition of sugar, etc. The aim of this research is to determine the effect of cooking length on the sensory properties, chemical properties and physical properties of goat's milk jelly candy in accordance with SNI 3547-2-2008 concerning jelly candy. This research was structured in a Completely Randomized Block Design (CRBD) with a single factor and four replications. The factor used is the cooking length. Fresh goat's milk, carrageenan, gum arabic, glucose syrup, sugar, and water are mixed and cooked for a cooking length according to the treatment after the mixture boils, starting from 15, 20, 25, 30, 35, and 40 minutes. The research results show that the cooking length for jelly candy affects the sensory properties, chemical properties and physical properties of goat's milk jelly candy. The best cooking length for goat's milk jelly candy is 20 minutes with texture characteristics of 4.00 (chewy), color 4.38 (brownish yellow), taste 4.23 (like), aroma 3.87 (rather like), water content 11.28%, ash content of 0.82%, reducing sugar content of 5.70%, sucrose sugar content of 42.79%, and springiness level of 2.925 mm have met the jelly candy quality standards according to SNI No. 3547-2-2008 regarding jelly candy.
PELATIHAN PEMBUATAN GULA SEMUT BERBAHAN BAKAR BIOGAS SEBAGAI UPAYA PENGOPTIMALAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA PEDESAAN Damayanti, Sri Ismiyati; Otik Nawansih; Br Ginting, Simparmin; Fajriyanto; Dyah Putri Larassati; Darmansyah; Donny Lesmana; Herti Utami
Nemui Nyimah Vol. 5 No. 1 (2025): Nemui Nyimah Vol. 5 No. 1 2025
Publisher : FT Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/nm.v5i1.165

Abstract

Kegiatan pengabdian bertujuan memperkenalkan dan memberi keterampilan kepada masyarakat terkait produksi gula semut dari nira kelapa berbahan bakar biogas. Target khususnya, masyarakat mampu memasang dan mengoperasikan instalasi kompor biogas industri kecil, serta memiliki keterampilan membuat gula semut dari nira kelapa berbahan bakar biogas. Hal lain yang juga diharapkan adalah berkurangnya jumlah nira yang digunakan untuk produksi tuak karena harga beli nira untuk produksi gula semut akan kompetitif akibat penggunaan biogas “gratis”. Metode yang digunakan adalah : (1) Sosialisasi rencana kegiatan, (2) Pelatihan pemasangan dan pengoperasian instalasi kompor biogas industri kecil, (3) Sosialisasi materi pembuatan gula semut dari nira kelapa mulai dari pemanenan nira hingga pengemasan gula semut yang sesuai standar, (4). Pelatihan dan pendampingan pembuatan gula semut dari nira kelapa serta penyimpanan dan pengemasannya, (5). Evaluasi kegiatan bersama masyarakat. Sasaran kegiatan adalah masyarakat yang mempunyai digester biogas, petani nira kelapa, dan Ibu-Ibu KWT. Lokasi kegiatan di Desa Kediri, Kecamatan Gadingrejo, Pringsewu, Lampung. Peran mitra pengabdian adalah menyiapkan bahan baku nira, menyiapkan stok biogas pada kapasitas maksimal, dan menyediakan tenaga dan konsumsi saat kegiatan. Seluruh kegiatan pengabdian berlangsung lancar. Masyarakat antusias mengikuti kegiatan. Sinergi yang baik juga terjalin antara tim dosen, mahasiswa, dan warga dari mulai persiapan, uji coba, hingga sosialisasi dan pelatihan pembuatan gula semut. Luaran pengabdian telah tercapai yaitu : (1). iptek yang didiseminasikan dapat dikenal, dipahami, dan masyarakat mempunyai keterampilan terkait iptek tersebut, (2). tersedianya 2 unit instalasi kompor biogas industri kecil, (3). Satu buah video kegiatan yang diupload di Youtube, (4). Satu buah poster kegiatan.