Miftahul Jannah, Siti Rozaina Kamsani, Nurhazlina Mohd. Ariffin
(Scopus 85084446652) Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Integrasi Ibadah dan Kesehatan Mental dalam Perspektif Psikologi Agama Islam Yunita Sari; Miftahul Jannah; Salami Mahmud
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.5363

Abstract

The growing prevalence of mental health issues in the digital era reflects a deepening spiritual void among modern individuals, especially younger generations. This study aims to analyze the relationship between Islamic worship and mental health from the perspective of modern Islamic psychology of religion. Using a qualitative descriptive approach through library research, data were collected from the Qur’an, Hadith, classical Islamic texts, and contemporary studies on psychology of religion and mental health. The findings indicate that acts of worship particularly prayer (shalat), remembrance (dhikr), and fasting (sawm) play a therapeutic role in maintaining psychological balance by regulating emotions, nurturing life meaning, and strengthening spiritual resilience. The holistic view of the unity of body, intellect, and soul found in classical Islamic thought remains consistent with modern theories such as Pargament’s religious coping and Frankl’s logotherapy. The study also highlights the importance of family, education, and spiritual communities as protective factors for digital generations vulnerable to stress and existential anxiety. Therefore, integrating Islamic worship values within the framework of modern psychology of religion offers both conceptual and practical solutions for enhancing mental health in contemporary society. Fenomena meningkatnya gangguan kesehatan mental di era digital menunjukkan adanya kekeringan spiritual yang dialami manusia modern, terutama di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ibadah dan kesehatan mental dalam perspektif psikologi agama Islam modern. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, data diperoleh dari Al-Qur’an, hadis, literatur klasik Islam, serta kajian kontemporer mengenai psikologi agama dan kesehatan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibadah terutama shalat, dzikir, dan puasa memiliki fungsi terapeutik yang nyata terhadap keseimbangan psikologis. Ibadah berperan dalam regulasi emosi, pembentukan makna hidup, dan penguatan resiliensi spiritual. Konsep kesatuan jasad, akal, dan jiwa yang diperkenalkan oleh pemikir Islam klasik tetap relevan dengan teori religious coping (Pargament) dan logoterapi (Frankl). Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya pendidikan dan komunitas spiritual sebagai benteng mental bagi generasi digital yang rentan terhadap stres dan kehilangan arah hidup. Dengan demikian, integrasi nilai-nilai ibadah dalam kerangka psikologi agama Islam menjadi solusi konseptual dan praktis dalam membangun kesehatan mental manusia modern.
Kematangan Dan Kesadaran Beragama Usia Dewasa Awal Syarifah Asma Shafira; Miftahul Jannah; Salami Mahmud
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i3.14730

Abstract

Masa dewasa awal merupakan fase penting dalam perkembangan kehidupan manusia yang ditandai dengan pencarian jati diri, kestabilan emosional, serta pembentukan pandangan hidup yang lebih matang, termasuk dalam aspek keberagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana proses pembentukan kematangan dan kesadaran beragama terjadi pada individu usia dewasa awal, serta faktor-faktor yang memengaruhi perkembangannya. Penelitian ini menggunakan metode library research atau kajian kepustakaan dengan menelaah berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal ilmiah, dan artikel yang relevan dalam bidang psikologi agama. Hasil kajian menunjukkan bahwa kematangan beragama merupakan kemampuan individu untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam setiap aspek kehidupannya, tidak hanya pada tataran pengetahuan, tetapi juga pada penghayatan dan perilaku. Sementara itu, kesadaran beragama berkaitan dengan refleksi diri yang mendalam terhadap makna ajaran agama serta penerapannya dalam kehidupan sosial dan moral. Proses pembentukan kematangan dan kesadaran beragama berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu pengenalan kognitif terhadap ajaran agama, internalisasi nilai, pengalaman spiritual, dan integrasi transendensi. Faktor-faktor seperti pengalaman hidup, lingkungan sosial-budaya, serta pendidikan agama turut berperan besar dalam memperkuat atau melemahkan perkembangan religius individu. Namun demikian, individu dewasa awal juga menghadapi tantangan yang kompleks seperti krisis identitas, pengaruh sekularisasi, relativisme moral, serta minimnya pendampingan spiritual. Oleh karena itu, dibutuhkan bimbingan dan pembinaan spiritual yang berkelanjutan dari keluarga, lembaga pendidikan, dan komunitas keagamaan agar dewasa awal mampu mencapai kematangan spiritual yang seimbang antara aspek intelektual, emosional, dan moral.
ROLE MODEL (USWAH HASANAH) GURU DALAM PROSES PENDIDIKAN DI SEKOLAH Septimi Hartati Natalia; Miftahul Jannah; Salami Salami
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i2.10785

Abstract

This study explores the vital role of teachers as primary role models, or uswah hasanah, in the process of internalizing moral values ​​in the school environment. The main focus of the study is directed at the influence of educators' personal integrity on the formation of character identity and the overall psychological development of students amidst the dynamics of the modern education ecosystem. This research uses a qualitative approach with a literature review method covering the publication period from 2020 to 2025. The research findings indicate that teachers function as behavioral reference centers through students' natural imitation mechanisms, with concrete exemplary manifestations that include aspects of religiosity, time discipline, democratic communication, and social concern. The success of this character transformation depends heavily on the consistency of program implementation and the synergy of cooperation between schools and parents. Despite several obstacles such as a lack of creative methods and interference from the external environment, educator integrity remains proven to be a far more effective pedagogical instrument than mere theoretical verbal instruction. The main conclusion emphasizes that optimizing the role of teachers as true role models is a fundamental key in building the ethical foundation of the next generation with noble morals. Educators are not only tasked with transferring knowledge, but also building souls through the power of consistent concrete actions to create a dignified and superior quality of national civilization for the sustainable and holistic advancement of Indonesian society. ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi peran vital guru sebagai figur teladan utama atau uswah hasanah dalam proses internalisasi nilai moral di lingkungan sekolah. Fokus utama kajian diarahkan pada pengaruh integritas personal pendidik terhadap pembentukan identitas karakter serta perkembangan psikologis siswa secara menyeluruh di tengah dinamika ekosistem pendidikan modern. Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur yang mencakup periode publikasi dari tahun 2020 hingga 2025. Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru berfungsi sebagai pusat referensi perilaku melalui mekanisme imitasi alami siswa, dengan manifestasi keteladanan konkret yang meliputi aspek religiusitas, kedisiplinan waktu, komunikasi demokratis, serta kepedulian sosial. Keberhasilan transformasi karakter ini sangat bergantung pada konsistensi implementasi program serta sinergi kerja sama antara pihak sekolah dengan orang tua. Meskipun terdapat beberapa hambatan seperti kurangnya kreativitas metode dan gangguan dari lingkungan eksternal, integritas pendidik tetap terbukti menjadi instrumen pedagogis yang jauh lebih efektif dibandingkan sekadar instruksi verbal teoritis. Simpulan utama menegaskan bahwa optimalisasi peran guru sebagai role model sejati merupakan kunci fundamental dalam membangun fondasi etika generasi penerus yang berakhlak mulia. Pendidik tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga membangun jiwa melalui kekuatan tindakan nyata yang konsisten guna menciptakan kualitas peradaban bangsa yang bermartabat serta unggul bagi kemajuan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan dan holistik.