Miftahul Jannah, Siti Rozaina Kamsani, Nurhazlina Mohd. Ariffin
(Scopus 85084446652) Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Integrasi Ibadah dan Kesehatan Mental dalam Perspektif Psikologi Agama Islam Yunita Sari; Miftahul Jannah; Salami Mahmud
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.5363

Abstract

The growing prevalence of mental health issues in the digital era reflects a deepening spiritual void among modern individuals, especially younger generations. This study aims to analyze the relationship between Islamic worship and mental health from the perspective of modern Islamic psychology of religion. Using a qualitative descriptive approach through library research, data were collected from the Qur’an, Hadith, classical Islamic texts, and contemporary studies on psychology of religion and mental health. The findings indicate that acts of worship particularly prayer (shalat), remembrance (dhikr), and fasting (sawm) play a therapeutic role in maintaining psychological balance by regulating emotions, nurturing life meaning, and strengthening spiritual resilience. The holistic view of the unity of body, intellect, and soul found in classical Islamic thought remains consistent with modern theories such as Pargament’s religious coping and Frankl’s logotherapy. The study also highlights the importance of family, education, and spiritual communities as protective factors for digital generations vulnerable to stress and existential anxiety. Therefore, integrating Islamic worship values within the framework of modern psychology of religion offers both conceptual and practical solutions for enhancing mental health in contemporary society. Fenomena meningkatnya gangguan kesehatan mental di era digital menunjukkan adanya kekeringan spiritual yang dialami manusia modern, terutama di kalangan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ibadah dan kesehatan mental dalam perspektif psikologi agama Islam modern. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, data diperoleh dari Al-Qur’an, hadis, literatur klasik Islam, serta kajian kontemporer mengenai psikologi agama dan kesehatan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibadah terutama shalat, dzikir, dan puasa memiliki fungsi terapeutik yang nyata terhadap keseimbangan psikologis. Ibadah berperan dalam regulasi emosi, pembentukan makna hidup, dan penguatan resiliensi spiritual. Konsep kesatuan jasad, akal, dan jiwa yang diperkenalkan oleh pemikir Islam klasik tetap relevan dengan teori religious coping (Pargament) dan logoterapi (Frankl). Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya pendidikan dan komunitas spiritual sebagai benteng mental bagi generasi digital yang rentan terhadap stres dan kehilangan arah hidup. Dengan demikian, integrasi nilai-nilai ibadah dalam kerangka psikologi agama Islam menjadi solusi konseptual dan praktis dalam membangun kesehatan mental manusia modern.
Kematangan Dan Kesadaran Beragama Usia Dewasa Awal Syarifah Asma Shafira; Miftahul Jannah; Salami Mahmud
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i3.14730

Abstract

Masa dewasa awal merupakan fase penting dalam perkembangan kehidupan manusia yang ditandai dengan pencarian jati diri, kestabilan emosional, serta pembentukan pandangan hidup yang lebih matang, termasuk dalam aspek keberagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana proses pembentukan kematangan dan kesadaran beragama terjadi pada individu usia dewasa awal, serta faktor-faktor yang memengaruhi perkembangannya. Penelitian ini menggunakan metode library research atau kajian kepustakaan dengan menelaah berbagai sumber literatur seperti buku, jurnal ilmiah, dan artikel yang relevan dalam bidang psikologi agama. Hasil kajian menunjukkan bahwa kematangan beragama merupakan kemampuan individu untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam setiap aspek kehidupannya, tidak hanya pada tataran pengetahuan, tetapi juga pada penghayatan dan perilaku. Sementara itu, kesadaran beragama berkaitan dengan refleksi diri yang mendalam terhadap makna ajaran agama serta penerapannya dalam kehidupan sosial dan moral. Proses pembentukan kematangan dan kesadaran beragama berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu pengenalan kognitif terhadap ajaran agama, internalisasi nilai, pengalaman spiritual, dan integrasi transendensi. Faktor-faktor seperti pengalaman hidup, lingkungan sosial-budaya, serta pendidikan agama turut berperan besar dalam memperkuat atau melemahkan perkembangan religius individu. Namun demikian, individu dewasa awal juga menghadapi tantangan yang kompleks seperti krisis identitas, pengaruh sekularisasi, relativisme moral, serta minimnya pendampingan spiritual. Oleh karena itu, dibutuhkan bimbingan dan pembinaan spiritual yang berkelanjutan dari keluarga, lembaga pendidikan, dan komunitas keagamaan agar dewasa awal mampu mencapai kematangan spiritual yang seimbang antara aspek intelektual, emosional, dan moral.
ROLE MODEL (USWAH HASANAH) GURU DALAM PROSES PENDIDIKAN DI SEKOLAH Septimi Hartati Natalia; Miftahul Jannah; Salami Salami
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teacher.v6i2.10785

Abstract

This study explores the vital role of teachers as primary role models, or uswah hasanah, in the process of internalizing moral values ​​in the school environment. The main focus of the study is directed at the influence of educators' personal integrity on the formation of character identity and the overall psychological development of students amidst the dynamics of the modern education ecosystem. This research uses a qualitative approach with a literature review method covering the publication period from 2020 to 2025. The research findings indicate that teachers function as behavioral reference centers through students' natural imitation mechanisms, with concrete exemplary manifestations that include aspects of religiosity, time discipline, democratic communication, and social concern. The success of this character transformation depends heavily on the consistency of program implementation and the synergy of cooperation between schools and parents. Despite several obstacles such as a lack of creative methods and interference from the external environment, educator integrity remains proven to be a far more effective pedagogical instrument than mere theoretical verbal instruction. The main conclusion emphasizes that optimizing the role of teachers as true role models is a fundamental key in building the ethical foundation of the next generation with noble morals. Educators are not only tasked with transferring knowledge, but also building souls through the power of consistent concrete actions to create a dignified and superior quality of national civilization for the sustainable and holistic advancement of Indonesian society. ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi peran vital guru sebagai figur teladan utama atau uswah hasanah dalam proses internalisasi nilai moral di lingkungan sekolah. Fokus utama kajian diarahkan pada pengaruh integritas personal pendidik terhadap pembentukan identitas karakter serta perkembangan psikologis siswa secara menyeluruh di tengah dinamika ekosistem pendidikan modern. Riset ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur yang mencakup periode publikasi dari tahun 2020 hingga 2025. Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru berfungsi sebagai pusat referensi perilaku melalui mekanisme imitasi alami siswa, dengan manifestasi keteladanan konkret yang meliputi aspek religiusitas, kedisiplinan waktu, komunikasi demokratis, serta kepedulian sosial. Keberhasilan transformasi karakter ini sangat bergantung pada konsistensi implementasi program serta sinergi kerja sama antara pihak sekolah dengan orang tua. Meskipun terdapat beberapa hambatan seperti kurangnya kreativitas metode dan gangguan dari lingkungan eksternal, integritas pendidik tetap terbukti menjadi instrumen pedagogis yang jauh lebih efektif dibandingkan sekadar instruksi verbal teoritis. Simpulan utama menegaskan bahwa optimalisasi peran guru sebagai role model sejati merupakan kunci fundamental dalam membangun fondasi etika generasi penerus yang berakhlak mulia. Pendidik tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga membangun jiwa melalui kekuatan tindakan nyata yang konsisten guna menciptakan kualitas peradaban bangsa yang bermartabat serta unggul bagi kemajuan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan dan holistik.  
NEGLECT OF CHILD CUSTODY RIGHTS POST JUDGMENT (AN ANALYSIS OF THE ROLE OF THE SIGLI SHARIA COURT) Miftahul Jannah; Muliadi Kurdi; Irwansyah Irwansyah
JURNAL HAKAM Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/jhi.v10i2.15204

Abstract

Divorce rulings often result in a battle for child custody, driven merely by a desire to satisfy a momentary ego, and consequently fail to grant the child their rightful custody. This study examines the phenomenon of the neglect of custody rights (child custody) that occurs following a final legal ruling by the Sigli Sharia Court. This study employs a qualitative approach using an empirical legal research methodology. Data were collected through in-depth interviews, observation, documentation and document analysis. The data were subsequently analysed and presented qualitatively. The findings indicate that the neglect of custody rights is driven by the parents’ self-interest, a lack of understanding regarding the enforceability of the ruling, and psychological barriers faced by the child. The role of the Sigli Sharia Court in addressing this issue includes post-judgment mediation efforts and the implementation of actual enforcement. The court adopts a passive stance and cannot carry out active supervision without a request from the parties involved. However, it was found that the enforcement of custody rights often reaches an impasse due to its personal and sensitive nature, thus requiring stronger coordination with child protection agencies and other law enforcement authorities. This study concludes that strengthening the functions of oversight and legal education for the community in Pidie Regency is crucial to safeguarding the best interests of the child, alongside optimal coordination between the DP3A/P2TP2A, village officials and child protection agencies in ensuring that custody rights are upheld.
Perkembangan Jiwa Keagamaan Remaja: Peran Pendidikan Agama Dan Keluarga Dalam Mencegah Kenakalan Remaja Anisa Misrida; Miftahul Jannah; Salami Mahmud
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i2.4250

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas peran perkembangan agama dalam pembentukan akhlak remaja serta kaitannya dengan fenomena kenakalan remaja di era digital, yang dilatarbelakangi oleh meningkatnya perilaku menyimpang akibat ketidakseimbangan antara pertumbuhan fisik dan perkembangan psikospiritual. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap berbagai literatur dalam bidang psikologi perkembangan, psikologi agama, dan pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa masa remaja merupakan fase krisis identitas yang ditandai oleh pencarian makna hidup dan internalisasi nilai keagamaan, di mana lemahnya perkembangan jiwa keagamaan berkontribusi pada rendahnya kontrol diri dan meningkatnya kenakalan remaja, baik konvensional maupun digital. Sebaliknya, internalisasi nilai agama yang sehat berfungsi sebagai faktor protektif dalam pembentukan akhlak dan perilaku moral. Pendidikan agama yang kontekstual serta peran keluarga yang suportif dan komunikatif terbukti memiliki kontribusi signifikan dalam mencegah kenakalan remaja, sehingga penguatan perkembangan psikospiritual melalui sinergi pendidikan agama dan keluarga menjadi strategi penting dalam membentuk remaja yang berkarakter dan bertanggung jawab.
Analisis Uji Kelayakan E-Booklet Identifikasi Anggrek (Orchidaceae) Sebagai Referensi Matakuliah Taksonomi Tumbuhan Tinggi Erna Diana; Mulyadi; Nurdin Amin; Miftahul Jannah
Educator Development Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Educator Development Journal
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/edj.005

Abstract

Pemanfaatan objek tumbuhan lokal sebagai sumber belajar kontekstual masih belum optimal dalam pembelajaran Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Anggrek merupakan kelompok tumbuhan berbunga yang memiliki karakter morfologi khas dan mudah dijumpai di lingkungan perkotaan, termasuk di garden bunga Kota Banda Aceh. Namun, anggrek lokal tersebut belum banyak dimanfaatkan sebagai objek identifikasi dan referensi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil uji kelayakan E-booklet sebagai referensi mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui pengembangan E-booklet dari hasil identifikasi Anggrek selanjutnya diuji kelayakannya oleh validator ahli media dan ahli materi. E-booklet yang dikembangkan memuat deskripsi morfologi, dokumentasi visual, dan penyajian materi yang sistematis. Hasil uji kelayakan E-booklet memperoleh persentase nilai rata-rata kelayakan sebesar 75% dengan kriteria layak. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa E-booklet identifikasi anggrek yang dikembangkan layak digunakan sebagai referensi mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Tinggi