Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search
Journal : tekno

Performa Dinding Penahan Tanah Tipe GRS (Geosynthetic Reinforced Soil) Pada Variasi Kekakuan Facing Pombu, Maria A.; Legrans, Roski R. I.; Ticoh, Jack H.
TEKNO Vol. 24 No. 95 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i95.67097

Abstract

Kekakuan lentur facing (EI) merupakan parameter penting yang memengaruhi respons mekanik dinding Geosynthetic Reinforced Soil (GRS), namun belum secara eksplisit diakomodasi dalam sebagian besar pendekatan desain konvensional. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh variasi EI terhadap kinerja dinding GRS dalam kerangka performance-based design, dengan indikator utama berupa deformasi lateral relatif (δh/H), regangan maksimum geosintetik (εmax), gaya tarik maksimum perkuatan (Tmax), dan faktor keamanan global (SF). Analisis dilakukan melalui studi parametrik berbasis metode elemen hingga (FEM) menggunakan PLAXIS 2D, serta dibandingkan dengan prediksi metode empiris K-Stiffness dan GRS–Non Load Bearing (GRS–NLB). Hasil menunjukkan bahwa peningkatan EI secara konsisten memperbesar deformasi lateral, regangan, dan gaya tarik perkuatan, sekaligus menurunkan faktor keamanan global. Meskipun demikian, seluruh kondisi tetap memenuhi batas stabilitas (SF ≥ 1,5), dan tidak teridentifikasi fenomena stiffness saturation dalam rentang EI yang dianalisis. Perbandingan metode mengindikasikan bahwa pendekatan numerik lebih sensitif terhadap variasi EI dibandingkan metode empiris, yang relatif kurang responsif terhadap perubahan kekakuan struktural. Secara berbasis kinerja, facing dengan kekakuan rendah hingga semi-kaku memberikan respons yang lebih optimal, menegaskan bahwa peningkatan kekakuan tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kinerja sistem. Kata kunci: Geosynthetic Reinforced Soil, kekakuan, deformasi lateral, Finite Element Method, K-Stiffness, GRS–NLB
Analisis Probabilitas Kestabilan Lereng Galian Pada Kawasan Penambangan Nikel Di Provinsi Sulawesi Selatan Ranni, Velin A.; Legrans, Roski R. I.; Mandagi, Agnes T.
TEKNO Vol. 24 No. 95 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i95.67529

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kestabilan lereng di Provinsi Sulawesi Selatan melalui pendekatan deterministik dan probabilistik, dengan menggunakan parameter faktor keamanan (FK) dan probabilitas kelongsoran (PK) sebagai dasar penilaian. Analisis dilakukan pada variasi sudut lereng 55°, 60°, 65°, 70°, 75°, dan 80° dengan tinggi bench 7 meter, serta dua alternatif lebar berm, yaitu 6 meter dan 3 meter. Metode analisis yang digunakan adalah Morgenstern-Price dan Bishop Simplified, baik pada kondisi statis maupun dinamis, dengan tinjauan terhadap tegangan efektif dan tegangan total. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode Morgenstern-Price menghasilkan nilai FK antara 1,45–5,40 pada berm 6 meter dan 1,44–6,13 pada berm 3 meter, sedangkan metode Bishop Simplified menghasilkan nilai FK antara 1,42–5,25 pada berm 6 meter dan 1,32–4,68 pada berm 3 meter. Secara deterministik, seluruh skenario memenuhi kriteria aman karena nilai FK > 1. Namun, hasil probabilistik memperlihatkan bahwa nilai PK pada berm 6 meter berada pada rentang 0%–75%, sedangkan pada berm 3 meter berada pada rentang 0%–32%. Temuan ini menegaskan bahwa penilaian kestabilan lereng tidak dapat hanya didasarkan pada FK, karena beberapa skenario dengan analisis tegangan efektif masih menunjukkan risiko kegagalan yang tinggi meskipun tergolong aman secara deterministik. Sebaliknya, sebagian besar skenario dengan analisis tegangan total memperlihatkan nilai PK mendekati 0%. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasi sudut lereng, lebar berm, metode analisis, kondisi pembebanan, dan jenis analisis berpengaruh signifikan terhadap kestabilan lereng. Oleh karena itu, evaluasi desain lereng perlu mempertimbangkan FK dan PK secara simultan agar keputusan teknis yang diambil lebih andal dan mampu meminimalkan risiko kegagalan. Kata kunci: studi pendahuluan, kestabilan lereng, faktor keamanan, probabilitas kelongsoran, analisis tegangan efektif, analisis tegangan total
Analisis Kestabilan Lereng Galian Pada Area PLTP Tawa Songa Halmahera Selatan Tandialo, Dika G.; Legrans, Roski R. I.; Sarajar, Alva N.
TEKNO Vol. 24 No. 95 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i95.67530

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kestabilan lereng galian di area PLTP Tawa Songa, Halmahera Selatan, baik pada kondisi awal maupun setelah penerapan perkuatan. Analisis dilakukan menggunakan metode Bishop Simplified dan Morgenstern-Price dengan bantuan perangkat lunak Rocscience Slide V.6, mencakup empat kondisi: (1) lereng dalam kondisi undrained (φ = 0) tanpa muka air tanah (MAT), (2) lereng dalam kondisi undrained (φ = 0) dengan MAT, (3) kondisi drained dengan MAT, serta (4) kondisi drained dengan pengaruh beban gempa. Hasil analisis pada kondisi awal tanpa perkuatan menunjukkan bahwa nilai Faktor Keamanan (FK) berdasarkan metode Bishop Simplified berada pada rentang 0,749–1,400, sedangkan metode Morgenstern-Price menghasilkan nilai FK 0,753–1,571. Nilai tersebut belum sepenuhnya memenuhi kriteria stabilitas yang disyaratkan oleh SNI 8460:2017, yaitu FK statis ≥ 1,5 dan FK dinamis ≥ 1,1. Setelah penerapan perkuatan dengan metode soil nailing, nilai FK mengalami peningkatan signifikan. Pada kondisi statis, nilai FK menggunakan metode Bishop Simplified dan Morgenstern-Price masing-masing mencapai 1,885 dan 1,822 pada lereng H1, 1,780 dan 1,785 pada lereng H2, serta 2,209 dan 2,216 pada lereng H3. Pada kondisi dinamis dengan pengaruh beban gempa, nilai FK meningkat menjadi 1,223 dan 1,250 pada lereng H1, 1,148 dan 1,180 pada lereng H2, serta 1,455 dan 1,506 pada lereng H3. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan perkuatan soil nailing mampu meningkatkan stabilitas lereng sehingga seluruh lereng memenuhi standar keamanan statis dan dinamis sesuai SNI 8460:2017. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan perkuatan lereng dalam mendukung keberlanjutan operasional PLTP serta meminimalkan risiko kegagalan geoteknik. Kata kunci: stabilitas lereng, faktor keamanan, soil nailing, PLTP
Kestabilan Timbunan Tanah Untuk Pengembangan Rest Area Kawasan Agrowisata Rurukan Tomohon Palobo', Firalensia; Legrans, Roski R. I.; Rondonuwu, Steeva G.
TEKNO Vol. 24 No. 95 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i95.67631

Abstract

Kawasan Agrowisata Rurukan, Tomohon direncanakan akan dilakukan pengembangan. Permasalahan utama terletak pada kondisi lereng yang curam sehingga diperlukan penanganan melalui perancangan timbunan dengan perkuatan geogrid serta dinding penahan tanah tipe gabion. Analisis yang dilakukan meliputi evaluasi daya dukung tanah dasar, stabilitas geser rotasional, stabilitas lateral, kestabilan lereng, serta penurunan dan displacement. Data yang digunakan berasal dari hasil penyelidikan tanah dengan metode CPT (Cone Penetration Test) yang kemudian dikorelasikan untuk memperoleh parameter tanah yang digunakan dalam analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor keamanan daya dukung tanah pada kondisi jangka pendek sebelum perkuatan adalah 1,926 (≥1,5) dan meningkat menjadi 2,102 setelah perkuatan. Faktor keamanan stabilitas geser rotasional timbunan sebelum perkuatan hanya 0,474, namun meningkat signifikan menjadi 1,52 (≥1,3) setelah perkuatan. Untuk stabilitas lateral, dilakukan analisis terhadap tahanan putus dan tahanan cabut, dan dengan penggunaan tiga lapis geogrid, perkuatan yang dipasang memenuhi kedua kriteria tersebut. Lereng timbunan yang diperkuat memiliki faktor keamanan beban statis sebesar 2,475 dan pada kondisi beban gempa sebesar 1,198. Analisis deformasi menggunakan perangkat lunak PLAXIS 2D menunjukkan nilai displacement sebesar 0,3048 m. Secara keseluruhan, hasil analisis membuktikan bahwa kombinasi perkuatan geogrid dan dinding penahan tanah gabion mampu meningkatkan stabilitas lereng secara signifikan, sehingga mendukung rencana pembangunan Rest Area pada kawasan tersebut dengan tingkat keamanan yang memenuhi standar teknis. Kata kunci: stabilitas lereng, timbunan tanah, gabion, geogrid, faktor keamanan, deformasi, rest area, Rurukan Tomohon
Evaluasi Kapasitas Fondasi Dangkal Terhadap Perubahan Desain Gedung Perkantoran Di Kabupaten Minahasa Tenggara Ihsan, Yusril; Legrans, Roski R. I.; Ticoh, Jack H.
TEKNO Vol. 24 No. 95 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i95.67650

Abstract

Perubahan desain pada Gedung Perkantoran di Kabupaten Minahasa Tenggara mengakibatkan peningkatan beban struktur yang harus dipikul oleh fondasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi daya dukung dan penurunan fondasi dangkal akibat perubahan desain tersebut. Data tanah yang digunakan berupa data sekunder hasil uji Cone Penetration Test (CPT) yang diperoleh dari Dinas PUPR Kabupaten Minahasa Tenggara. Analisis daya dukung dilakukan dengan pendekatan teoritis menggunakan metode Meyerhof (1963), Vesic (1973, 1975), dan Hansen (1970). Hasil perhitungan menunjukkan daya dukung ultimit masing-masing sebesar 1452,38 kN, 1558,12 kN, dan 1450,32 kN. Beban izin yang diperoleh lebih besar dibandingkan beban struktur, yaitu 1089,28 kN > 1028,94 kN (Meyerhof), 1168,59 kN > 1028,94 kN (Vesic), dan 1085,88 kN > 1028,94 kN (Hansen). Analisis penurunan fondasi menggunakan perangkat lunak Settle3D menunjukkan bahwa setelah dimensi fondasi diperbesar, penurunan maksimum mencapai 115,93 mm. Beberapa fondasi masih mengalami penurunan diferensial melebihi batas L/300, sehingga kondisi ini belum memenuhi kriteria keamanan. Sebagai alternatif perkuatan, direkomendasikan penggunaan mini pile tiang kelompok untuk mengurangi risiko penurunan diferensial dengan meneruskan beban ke lapisan tanah keras. Hasil analisis menunjukkan penurunan maksimum pada mini pile dengan panjang 3,7 m, 2,9 m, dan 2,5 m masing-masing sebesar 16,22 mm, 15,55 mm, dan 14,2 mm. Kata kunci: daya dukung, fondasi dangkal, mini pile, penurunan diferensial, CPT
Kestabilan Lereng Pada Pekerjaan Timbunan Waterpond Di Proyek PLTP Tawa Songa Wayaua Halmahera Selatan Matheos, Tessi V.; Sarajar, Alva N.; Legrans, Roski R. I.
TEKNO Vol. 24 No. 95 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i95.67726

Abstract

Proyek PLTP Tawa Songa Wayaua di Halmahera Selatan berada pada kawasan dengan kondisi geoteknik kompleks akibat formasi vulkanik aktif dan topografi perbukitan, sehingga evaluasi kestabilan lereng pada pekerjaan timbunan waterpond menjadi aspek krusial dalam menjamin keamanan konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Faktor Keamanan (FK) lereng pasca konstruksi, menilai pengaruh rembesan air terhadap stabilitas dan deformasi, serta merumuskan rekomendasi perkuatan sesuai kriteria SNI 8460:2017. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui analisis numerik terintegrasi, yaitu GeoStudio (metode Bishop dan Morgenstern–Price) untuk analisis keseimbangan batas, serta Plaxis (metode elemen hingga) untuk analisis deformasi. Data tanah diperoleh dari hasil uji SPT dan pengujian laboratorium pada titik bor BH12 dan BH13. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi jangka pendek (undrained), lereng memiliki FK sebesar 1,619–2,967, memenuhi syarat aman FK ≥ 1,5. Namun pada kondisi jangka panjang (drained) dengan muka air penuh, FK menurun menjadi 0,965–1,338, dan pada kondisi gempa (kh = 0,24) turun lebih lanjut menjadi 0,610–0,872, yang mengindikasikan ketidakstabilan lereng (FK < 1,5). Rembesan air dari waterpond meningkatkan deformasi, dengan total displacement maksimum 0,1424 m pada titik H2. Pada kondisi rapid drawdown, FK berada pada rentang 1,509–1,578, masih memenuhi batas aman FK ≥ 1,3. Penerapan perkuatan kombinasi gabion dan geogrid Miragrid GX 400/50 terbukti efektif meningkatkan stabilitas lereng, dengan FK statis mencapai 2,105–2,332 dan FK gempa mencapai 1,209–1,411. Evaluasi stabilitas internal menunjukkan bahwa tahanan putus dan tahanan cabut geogrid memenuhi persyaratan dengan FK > 20, sementara stabilitas eksternal terhadap guling, geser, dan daya dukung tanah juga memenuhi ketentuan SNI. Perbandingan hasil GeoStudio dan PLAXIS menunjukkan variasi nilai FK akibat perbedaan pendekatan analisis (LEM vs FEM), namun keduanya konsisten menyimpulkan bahwa perkuatan gabion–geogrid secara signifikan meningkatkan kestabilan lereng. Kata kunci: PLTP Tawa Songa Wayaua, stabilitas lereng, timbunan waterpond, rembesan, geogrid, gabion, faktor keamanan
Analisis Daya Dukung Fondasi Bored Pile Pada Pembangunan Tower Transmisi Line 150 kV Donggala, Sulawesi Tengah Putri, Dwi I.; Legrans, Roski R. I.; Manaroinsong, Lanny D. K.
TEKNO Vol. 24 No. 95 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i95.67773

Abstract

Pembangunan jaringan transmisi 150 kV memerlukan sistem fondasi yang mampu menahan beban aksial, tarik (uplift), dan lateral secara aman. Penelitian ini menganalisis kapasitas daya dukung dan penurunan fondasi bored pile pada Tower T.180 tipe BB+15 pada jalur transmisi 150 kV Tambu–Bangkir I di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Analisis dilakukan menggunakan data uji sondir (CPT), pemodelan struktur dengan Ms Tower v.6.2, serta evaluasi kapasitas fondasi dengan variasi diameter bored pile 0,4 m, 0,6 m, dan 0,8 m pada kedalaman 6 m dengan konfigurasi 4 tiang kelompok. Hasil analisis menunjukkan bahwa daya dukung aksial izin kelompok berdasarkan metode De Ruiter–Beringen, Schmertmann, dan Ensoft Shaft meningkat seiring bertambahnya diameter tiang. Diameter 0,4 m dinyatakan tidak aman karena kapasitas aksialnya lebih kecil dari beban tekan rencana, sedangkan diameter 0,6 m dan 0,8 m memenuhi kriteria. Kapasitas uplift dan daya dukung lateral seluruh variasi diameter berada di atas beban rencana, sehingga aman terhadap gaya tarik dan lateral. Analisis penurunan menggunakan Settle 3D menghasilkan nilai penurunan maksimum 2,63–5,52 mm, masih di bawah batas izin. Evaluasi stabilitas terhadap guling menunjukkan bahwa diameter 0,4 m pada salah satu kaki tower tidak memenuhi syarat, sedangkan seluruh variasi diameter aman terhadap geser. Secara keseluruhan, fondasi bored pile dengan diameter minimum 0,6 m direkomendasikan karena memenuhi seluruh persyaratan kapasitas aksial, uplift, lateral, penurunan, serta stabilitas eksternal untuk menopang Tower T.180 pada proyek transmisi 150 kV Tambu–Bangkir I. Kata kunci: bored pile, daya dukung aksial, uplift, daya dukung lateral, tower transmisi line