Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Penggunaan TikTok Sebagai Personal Branding Benjamin Master Adhisurya (iben_ma) Dwiki Johan Ardianto; Rahmawati Zulfiningrum
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 3 (2022): October 2022
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.796 KB) | DOI: 10.31316/jk.v6i3.4098

Abstract

Abstrak Personal branding pada umumnya digunakan seseorang untuk meningkatkan daya tarik atau nilai jual orang tersebut. Personal branding dibangun oleh individu itu sendiri melalui pekerjaan atau profesi yang sedang di tekuninya. Benjamin Master Adhisurya (iben_ma) merupakan content creator yang saat ini sedang membangun personal branding di TikTok. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis penggunaan TikTok sebagai personal branding Benjamin Master Adhisurya (iben_ma). Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan jenis penelitian kualitatif. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian menggunakan metode netnografi virtual yaitu merupakan ilmu yang dianggap memungkinkan peneliti dalam penelitian sehingga dapat melihat serta mengetahui isi konten TikTok yang dibuat oleh iben_ma. Hasil dari penelitian menggunakan elemen dari teori personal branding menunjukkan bahwa iben_ma tegas dalam menyampaiakan pesan ke followersnya, memiliki sifat yang ramah, selalu eksis membuat konten setiap hari dengan konten interview dan challenge di TikTok yang berhadiah uang tunai, dan selalu memperhatikan perkembangan trend yang terbaru atau viral di TikTok. Cerminan kepribadian iben_ma yang selalu berbagi diimplementasikan pada kontennya sehingga masyarakat memiliki persepsi bahwa konten yang dibuat iben_ma positif dan menghibur. Sebagai seorang content creator iben_ma terus berkarya dengan membuat konten yang menarik, variatif dan menghibur seperti media permainan yang interaktif dengan perantara media virtual, sehingga para followersnya dapat melakukan interaksi langsung secara virtual. Kata Kunci: Content, Creator, Personal Branding, TikTok Abstract Personal branding is generally used by someone to increase the attractiveness or selling point of that person. Personal branding is built by the individual himself through his work or profession. Benjamin Master Adhisurya (iben_ma) is a content creator who is currently building personal branding on TikTok. The purpose of this study is to analyze the use of TikTok as a personal branding of Benjamin Master Adhisurya (iben_ma). The method used in this study uses a descriptive approach to the type of qualitative research. Collecting data using in-depth interviews, observation, and documentation. The research uses the virtual netnography method, which is a science that is considered to allow researchers in research so that they can see and know the contents of TikTok content created by iben_ma. The results of the research using elements from personal branding theory show that iben_ma is firm in conveying messages to his followers, has a friendly nature, always exists to create content every day with interview and challenge content on TikTok with cash prizes, and always pays attention to the latest trend developments or trends. viral on TikTok. The reflection of iben_ma's personality that always shares is implemented in its content so that people have a perception that the content created by iben_ma is positive and entertaining. As a content creator, iben_ma continues to work by creating interesting, varied and entertaining content such as interactive game media with virtual media intermediaries, so that his followers can interact virtually directly. Keywords: Content, Creator, Personal Branding, TikTok
Strategi Komunikasi Pemasaran Sales Force Tupperware Sld. Kalyana Barra Restia, Eva; Rahmawati Zulfiningrum

Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/heritage.v10i2.3355

Abstract

Tupperware merupakan salah satu bisnis multilevel marketing yang berkembang pesat tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di kota Semarang. Mahalnya harga produk Tupperware sering kali menjadi hambatan dalam proses pemasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi dalam memasarkan produk Tupperware kepada konsumen, dimana terdapat pola penggunaan komunikasi langsung atau tatap muka yang menjadi ciri khas dari Tupperware dalam mengembangkan jaringan pemasarannya. Penelitian menggunakan teori proses penjualan atau sales cycle dari sales force yang terdiri dari planning, making appointment atau approaching, prospecting, fact finding, presentation, handling objection & negotiation, closing, dan after sales service. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Narasumber dalam penelitian diantaranya adalah para sales force, distributor, dan konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa training yang dilakukan perusahaan menjadi kunci utama dari keberhasilan strategi komunikasi pemasaran para sales force. Sales force perlu mengetahui detail dari produk yang akan ditawarkan, memiliki solusi atas pertanyaan dari para konsumen agar planning pemasaran yang sudah di susun dapat terealisasikan, sehingga konsumen menjadi lebih mengenal detail produk maupun beragam event Tupperware melalui komunikasi secara langsung yang dilakukan oleh sales force kepada konsumen.
Strategi Komunikasi Pemasaran Sales Force Tupperware Sld. Kalyana Barra Restia, Eva; Rahmawati Zulfiningrum
HERITAGE Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Heritage
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/heritage.v10i2.3355

Abstract

Tupperware merupakan salah satu bisnis multilevel marketing yang berkembang pesat tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di kota Semarang. Mahalnya harga produk Tupperware sering kali menjadi hambatan dalam proses pemasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi dalam memasarkan produk Tupperware kepada konsumen, dimana terdapat pola penggunaan komunikasi langsung atau tatap muka yang menjadi ciri khas dari Tupperware dalam mengembangkan jaringan pemasarannya. Penelitian menggunakan teori proses penjualan atau sales cycle dari sales force yang terdiri dari planning, making appointment atau approaching, prospecting, fact finding, presentation, handling objection & negotiation, closing, dan after sales service. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Narasumber dalam penelitian diantaranya adalah para sales force, distributor, dan konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa training yang dilakukan perusahaan menjadi kunci utama dari keberhasilan strategi komunikasi pemasaran para sales force. Sales force perlu mengetahui detail dari produk yang akan ditawarkan, memiliki solusi atas pertanyaan dari para konsumen agar planning pemasaran yang sudah di susun dapat terealisasikan, sehingga konsumen menjadi lebih mengenal detail produk maupun beragam event Tupperware melalui komunikasi secara langsung yang dilakukan oleh sales force kepada konsumen.
Identitas Skena di Ruang Komunal Melalui Pemaknaan Lirik Lagu “Creep” Radiohead Shinta Eka Hakiki; Teguh Hartanto Patrianto; Rahmawati Zulfiningrum; Puri Kusuma Dwi Putri; Zahrotul Umami
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5610

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna lirik lagu “Creep” karya Radiohead sebagai simbol identitas skena ketika dipraktikkan dalam ruang komunal. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes dan perspektif etnomusikologi, penelitian ini menelaah transformasi makna lirik dari teks individual menjadi representasi budaya kolektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara tekstual, “Creep” memuat narasi personal tentang keterasingan dan kerentanan diri. Namun, ketika diperdengarkan dalam ruang komunal seperti kafe skena, lirik tersebut mengalami pergeseran makna melalui proses denotasi–konotasi–mitos, hingga menjadi simbol identitas outsider yang diterima dan dirayakan dalam budaya skena. Ruang komunal berfungsi sebagai mediator afektif yang memungkinkan pendengar mengalami pengalaman emosional bersama, terlihat dari fenomena nyanyi kolektif dan penguatan rasa kebersamaan meski antarindividu tidak saling mengenal. Temuan ini menegaskan bahwa musik bukan hanya teks, tetapi praktik budaya yang membentuk identitas melalui interaksi sosial dan atmosfer ruang. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis pada kajian etnomusikologi dan semiotika, serta implikasi praktis bagi pengelola ruang komunal, komunitas skena, dan pelaku industri kreatif dalam memahami peran musik sebagai media pembentuk identitas budaya.
STRATEGI BRAND IMAGE MOON CHICKEN BY HANGRY DALAM PEMASARAN DIGITAL Nur Isnaini Diva Aryanie; Rahmawati Zulfiningrum
Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 9, No 1 (2026): Lektur: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lektur.v9i1.27674

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi brand image Moon Chicken by Hangry dalam pemasaran digital dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, menggunakan teori brand image dan konsep pemasaran digital. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi konten, dan dokumentasi.  Data dianalisis dengan model Miles dan Huberman terdiri dari reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi berulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Moon Chicken menggunakan strategi emotional branding melalui narasi "Flavors of the Galaxy", gaya bahasa kasual, dan konsistensi visual. Brand image Moon Chicken menunjukkan unsur kreatif, otentik, dan profesional. Pendekatan emotional branding diterapkan melalui humor dan gaya bahasa yang santaidalam postingan konten instagram,untuk membangun persepsi positif dan loyalitas pada kelompok konsumen muda (Generasi Z).Tantangan utama yang dihadapi adalah perubahan cepat dalam tren media social, Moon Chicken menerapkan evaluasi dan inovasi dengan mengikuti konten yang sedang viral untuk mempertahankan brand image di media sosial instagram. Secara praktis, penelitian ini bisa menjadi rujukan yang strategis dalam industri FB untuk membentuk komunikasi digital yang adaptif, berbasis data, dan berfokus di audiens muda.
Penggunaan TikTok Sebagai Personal Branding Benjamin Master Adhisurya (iben_ma) Dwiki Johan Ardianto; Rahmawati Zulfiningrum
Jurnal Kewarganegaraan Vol 9 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i3.4098

Abstract

Abstrak Personal branding pada umumnya digunakan seseorang untuk meningkatkan daya tarik atau nilai jual orang tersebut. Personal branding dibangun oleh individu itu sendiri melalui pekerjaan atau profesi yang sedang di tekuninya. Benjamin Master Adhisurya (iben_ma) merupakan content creator yang saat ini sedang membangun personal branding di TikTok. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis penggunaan TikTok sebagai personal branding Benjamin Master Adhisurya (iben_ma). Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan jenis penelitian kualitatif. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Penelitian menggunakan metode netnografi virtual yaitu merupakan ilmu yang dianggap memungkinkan peneliti dalam penelitian sehingga dapat melihat serta mengetahui isi konten TikTok yang dibuat oleh iben_ma. Hasil dari penelitian menggunakan elemen dari teori personal branding menunjukkan bahwa iben_ma tegas dalam menyampaiakan pesan ke followersnya, memiliki sifat yang ramah, selalu eksis membuat konten setiap hari dengan konten interview dan challenge di TikTok yang berhadiah uang tunai, dan selalu memperhatikan perkembangan trend yang terbaru atau viral di TikTok. Cerminan kepribadian iben_ma yang selalu berbagi diimplementasikan pada kontennya sehingga masyarakat memiliki persepsi bahwa konten yang dibuat iben_ma positif dan menghibur. Sebagai seorang content creator iben_ma terus berkarya dengan membuat konten yang menarik, variatif dan menghibur seperti media permainan yang interaktif dengan perantara media virtual, sehingga para followersnya dapat melakukan interaksi langsung secara virtual. Kata Kunci: Content, Creator, Personal Branding, TikTok Abstract Personal branding is generally used by someone to increase the attractiveness or selling point of that person. Personal branding is built by the individual himself through his work or profession. Benjamin Master Adhisurya (iben_ma) is a content creator who is currently building personal branding on TikTok. The purpose of this study is to analyze the use of TikTok as a personal branding of Benjamin Master Adhisurya (iben_ma). The method used in this study uses a descriptive approach to the type of qualitative research. Collecting data using in-depth interviews, observation, and documentation. The research uses the virtual netnography method, which is a science that is considered to allow researchers in research so that they can see and know the contents of TikTok content created by iben_ma. The results of the research using elements from personal branding theory show that iben_ma is firm in conveying messages to his followers, has a friendly nature, always exists to create content every day with interview and challenge content on TikTok with cash prizes, and always pays attention to the latest trend developments or trends. viral on TikTok. The reflection of iben_ma's personality that always shares is implemented in its content so that people have a perception that the content created by iben_ma is positive and entertaining. As a content creator, iben_ma continues to work by creating interesting, varied and entertaining content such as interactive game media with virtual media intermediaries, so that his followers can interact virtually directly. Keywords: Content, Creator, Personal Branding, TikTok
THE SEVEN COMMUNICATION DALAM PELESTARIAN GASTRONOMI NUSANTARA Sekar larasati Ayuningjagad; Rahmawati Zulfiningrum
JURNAL SIGNAL Vol 13 No 2 (2025): JURNAL SIGNAL
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/signal.v13i2.10760

Abstract

Kuliner tradisional nusantara menghadapi tantangan terancam punah di tengah arus modernisasi, hal ini diakibatkan oleh masuknya beragam kuliner dari negara lain serta pergeseran selera makanan generasi muda. Food influencer di media sosial seperti Instagram memiliki potensi sebagai agen pelestarian budaya yang efektif, dan dapat mempengaruhi preferensi audiens melalui konten visual yang menarik. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis autentisitas kuliner tradisional yang dikomunikasikan melalui food influencer Bundadidi. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah kerangka teori the seven communication, konsep autentisitas, dan konsep pelestarian budaya melalui platform Instagram. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi konten pada akun Instagram @bunda_didi, wawancara mendalam dengan pemilik akun dan pengikutnya, serta dokumentasi. Sementara itu, data sekunder diperoleh dengan teknik studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ketujuh elemen komunikasi pada akun @bunda_didi sebagai berikut: 1) Credibility, melalui riset kunjungan ke daerah asal dan kejujuran membagikan resep, 2) Context, melalui pemahaman food influencer mengenai peran pelestarian, 3) Content, konsisten pada resep kuliner tradisional, dan memberikan tips praktis, 4) Clarity, penggunaan bahasa yang santai, sopan, dan teknik storytelling, serta instruksi yang jelas, 5) Continuity and Consistency, menjaga unggahan secara teratur dan visual yang seragam, 6) Channels, optimalisasi penggunaan instagram reels, dan 7) Capability of Audiens, penyesuaian kompleksitas resep dengan memberikan alternatif bahan pengganti dan tetap menjaga keaslian resep. Pendekatan komunikasi yang dilakukan Bundadidi, dengan penekanan pada konsep autentisitas keaslian pada rasa, bahan, dan teknik pengolahan, dengan memberikan kontribusi kepada: 1) diseminasi culture experience, mendorong praktik memasak resep tradisional, dan 2) penyebaran culture knowledge, pengetahuan dan sejarah, filosofi, serta teknik pengolahan kuliner tradisional.
Bonding, Bridging, dan Linking sebagai Modal Sosial dalam Pemulihan dan Keberlanjutan Desa Wisata Pascapandemi Nadia Itona Siregar; Rahmawati Zulfiningrum; Candra Yudha Satriya
Komunikasiana: Journal of Communication Studies Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kjcs.v7i2.36519

Abstract

Sektor pariwisata berkontribusi signifikan terhadap devisa dan pendapatan nasional, namun mengalami penurunan tajam akibat pandemi COVID‑19. Artikel ini menganalisis bagaimana bonding, bridging, dan linking sebagai modal sosial dalam pemulihan dan keberlanjutan desa wisata pascapandemi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di Desa Wisata Wanurejo, Kabupaten Magelang. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan dokumentasi dengan melibatkan pemerintah desa, pengelola desa wisata, pelaku usaha pariwisata, serta tokoh masyarakat. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial bonding berperan dominan pada fase awal pemulihan melalui penguatan solidaritas, kepercayaan, dan praktik gotong royong sebagai jaring pengaman sosial informal. Modal sosial bridging berfungsi memperluas jejaring lintas kelompok dan membuka akses terhadap informasi, inovasi, serta peluang ekonomi, namun pemanfaatannya cenderung tidak merata. Sementara itu, modal sosial linking berperan penting dalam pemulihan jangka panjang melalui akses terhadap kebijakan, program bantuan, dan dukungan kelembagaan, sekaligus memperlihatkan relasi kuasa yang berpotensi memarginalkan kelompok rentan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan modal sosial yang inklusif dan berkeadilan dalam pemulihan desa wisata.
Motherhood Dalam Perspektif Teori Feminisme Pada Akun Tiktok @Megakenichiro_official Aulia Salsabilla; Rahmawati Zulfiningrum
Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Communique Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Communique
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62144/jikq.v8i1.631

Abstract

Media sosial telah menjadi ruang bagi para ibu dalam menampilkan pengalaman serta nilai-nilai pengasuhan anak kepada publik. Para ibu muda atau perempuan yang telah memasuki usia siap menikah, mulai aktif mencari referensi mengenai pola asuh yang dianggap tepat dan sesuai untuk diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana motherhood dalam konten tiktok @Megakenichiro_official yang dikelola oleh Erna Megawati atau Uma Mega dalam menampilkan kehidupan sehari-hari bersama anak-anakny di Jepang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Teori yang digunakan dalam penelitian yaitu teori feminisme dan konsep motherhood serta pola asuh. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi konten, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah perempuan generasi Z berusia 21–26 tahun yang merupakan pengikut aktif akun @Megakenichiro_official. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas khalayak memaknai motherhood Uma Mega sebagai bentuk keibuan yang autentik, memberdayakan, dan inspiratif. Terdapat pembagian peran antara suami dan istri serta kerjasama yang adil dalam mengasuh anak. Hal tersebut memberikan pemahaman tentang pengasuhan anak dalam motherhood yang ditampilkan. Konten motherhood di TikTok tidak hanya menjadi media ekspresi pengasuhan anak, tetapi juga menjadi ruang afirmasi bagi perempuan dalam membangun identitas ibu yang mandiri dan modern dalam pengasuhan anak di era digital.
Pemaknaan Audiens Pada Seniman Cross-Gender Dalam Dokumenter Lelaki Ayu Primadona Jawa: Lengger Lanang Afinada Aulia Agani Agani; Safira Nur Ujiningtyas; Rahmawati Zulfiningrum
INTELEKTUAL ( E-Journal Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi ) Vol 13 No 1 (2026): Jurnal Intelektual: Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55499/intelektual.v13i1.5

Abstract

This documentary film entitled Lelaki Ayu Primadona Jawa: Lengger Lanang discusses the artist Lengger Lanang who changes his appearance into a woman while dancing. This dance is usually called cross-gender, but Lengger Lanang is threatened with extinction because of public stereotypes about LGBT or the sexual orientation of Lengger Lanang dancers, even though they are two different things. This study aims to describe the audience's reception of cross-gender artists in the documentary using Stuart Hall's encoding-decoding. Informants are divided into three groups of reader positions: dominant, negotiating and opposition. This type of research is descriptive qualitative which focuses on the reading position by analyzing the audience's understanding of cross-gender artists through documentary film scenes. The data were obtained from in-depth interviews. The results showed from seven informants, there were four informants were in a dominant position and three informants were in a negotiating position, also there was no audience in an opposition position. The reading position of the audience is influenced by the background of the audience who watched the documentary. The audience interprets this documentary as an understanding of cross-gender artists but also discusses the preservation of culture, history, and values ​​owned by Lengger Lanang dancers in Banyumas