Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : journal of marine research

Karakteristik Morfometrik Lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii di Pesisir Pulau Bintan Sarinawaty, Pratiwi; Idris, Fadhliyah; Nugraha, Aditya Hikmat
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i4.28432

Abstract

ABSTRAK: Lamun merupakan satu-satunya tumbuhan berbiji (angiospermae) yang mampu hidup terendam di dalam air laut dan beradaptasi pada lingkungan dengan salinitas tinggi serta memiliki rhizome, daun dan akar sejati. Kajian terkait karakteristik morfometrik menekankan pada keadaan karakter morfologi suatau spesies yang mendiami suatu wilayah tertentu. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan karakteristik morfometrik lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii pada ekosistem lamun di beberapa wilayah pesisir di Pulau Bintan. Penentuan lokasi penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling sedangkan pengambilan data lamun menggunakan transek kuadran ukuran 50x50cm. Karakteristik bagian lamun yang diukur yaitu panjang daun, lebar daun, diameter rhizome, panjang akar dan jumlah daun. Karakteristik morfometrik lamun di ketiga lokasi memiliki perbedaan. Lamun E. acoroides di lokasi Pantai Impian memiliki panjang daun yang terpanjang dan diameter rhizome yang paling besar dari lokasi lainnya. Sedangkan lokasi pengudang memiliki lebar daun tertinggi. Morfometrik Lamun jenis T. hemprichii yang mempunyai nilai panjang daun, lebar daun dan diameter rhizome tertinggi terdapat di lokasi Pantai Impian. Sedangkan panjang daun terendah terdapat di Pengudang.  ABSTRACT: Seagrass is the only seed plant (angiosperms) that can live submerged in seawater and adapt to environments with high salinity and has rhizomes, leaves, and tree roots. Studies related to morphometric characteristics emphasize the morphological character of a species that inhabits a particular area. This research was conducted in October 2019 to March 2020 in Dompak, Pengudang Village, and Pantai Impian to compare the morphometric characteristics of the seagrass Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii in seagrass ecosystems in some coastal areas of Bintan Island. The determination of the location of the study was determined by a purposive sampling method while seagrass data collection using a 50x50cm quadrant transect size. Morphometric characteristics of seagrasses in the three locations have differences. Seagrass E. acoroides at the Impian Beach location has the longest leaf length and the largest rhizome diameter than other locations. Whereas the storage location has the highest leaf width. Morphometrics of seagrass T. hemprichii which has the highest value of leaf length, leaf width, and rhizome diameter is at the Dream Beach location. While the lowest leaf length is found in Pengudang. 
Respon Pertumbuhan dan Sintasan Benih Enhalus acoroides Terhadap Pengkayaan Nutrien Menggunakan Limbah Budidaya Udang Aditya Hikmat Nugraha; Tri Apriadi; Fadhliyah Idris; Widia Kartika Di Sari Putri
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.42850

Abstract

Dilaporkan bahwa luasan ekosistem lamun di dunia terus mengalami penurunan. Salah satu faktor diantaranya adalah tingginya konsentrasi nutrien di perairan pesisir yang berasal dari aktivitas masyarakat. Benih lamun merupakan salah satu fase penting di dalam awal perkembangan kehidupan lamun. Selain itu juga nutrien menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan benih lamun. Pada penelitian ini sumber nutrien yang akan digunakan dalam proses pembenihan lamun berasal dari limbah budidaya udang.  Tujuan Penelitian ini untuk mengukur respon pertumbuhan dan tingkat sintasan benih lamun Enhalus acoroides yang dikultivasi pada media limbah budidaya udang dan mengukur perubahan konsentrasi nutrien pada limbah budidaya udang sebagai media tumbuh benih lamun Enhalus acoroides. Benih lamun Enhalus acoroides ditumbuhkan pada tiga perlakuan yaitu : jumlah tegakan lamun jarang (perlakuan A), jumlah tegakan lamun sedang (perlakuan B) dan jumlah tegakan lamun rapat (perlakuan C). Proses kultivasi dilakukan selama 4 minggu. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya benih lamun mengalami penurunan pertumbuhan. Tingkat sintasan benih lamun tertinggi terdapat pada perlakuan C dengan nilai sebesar 90%. Penyerapan nutrien (amonia, nitrat, dan fosfat) yang terdapat pada limbah budidaya udang optimal terjadi pada perlakuan C. Konsentrasi nutrien pada seluruh perlakuan cenderung mengalami penurunan It is reported that the area of seagrass ecosystems worldwide continues to decline. One of the factors is the high concentration of nutrients in coastal waters originating from community activities. Seagrass seedling are one of the critical phases in the early development of seagrass life. In addition, nutrients are also one of the factors that influence the development of seagrass seeds. In this study, the nutrients used in the seagrass seeding process come from shrimp farming waste. The purpose of this study was to measure the growth response and survival rate of seagrass seeds Enhalus acoroides cultivated in shrimp farming waste media and to measure changes in nutrient concentration in shrimp farming waste as a growing medium for seagrass seeds Enhalus acoroides. Seagrass seeds Enhalus acoroides were grown in three treatments, namely: the number of sparse seagrass stands (treatment A), the number of medium seagrass stands (treatment B) and the number of dense seagrass stands (treatment C). The cultivation process was carried out for 4 weeks. The study results showed that seagrass seeds generally experienced a decrease in growth. The highest survival rate of seagrass seeds was found in treatment C, with a value of 90%. The absorption of nutrients (ammonia, nitrate, and phosphate) in shrimp farming waste was optimally achieved in treatment C. Nutrient concentrations in all treatments tended to decrease.