Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : journal of marine research

Jenis dan Kelimpahan Mikroplastik Pada Sedimen di Gili Ketapang, Probolinggo Ika Pibria Ningrum; Nor Sa’adah; Mahmiah Mahmiah
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.35467

Abstract

Gili  Ketapang  merupakan  pulau  kecil  yang  secara  administratif  masuk  dalam  wilayah Kecamatan  Sumberasih  Kabupaten  Probolinggo,  dengan mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian  sebagai  nelayan. Pengelolaan sampah di lingkungan sekitar dianggap masih minim sehingga terlihat jelas banyaknya sampah yang berserakan di bibir pantai yang berjarak dekat dengan pemukiman. Sampah plastik akan mengalami degradasi menjadi plastik yang lebih kecil dari ukuran semula yang disebut dengan mikroplastik. Mikroplastik merupakan jenis sampah plastik yang berukuran lebih kecil dari 5 mm, dapat mengapung atau tenggelam karena berat massa jenis mikroplastik lebih ringan daripada air laut. Jenis mikroplastik yang banyak ditemukan di perairan yaitu fragment,fiber,dan film. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis, warna, ukuran dan kelimpahan mikroplastik pada sedimen di Gili Ketapang, Probolinggo. Metode yang digunakan diawali dengan pengambilan sampel air secara purposive random sampling. Sampel sedimen digunakan untuk mengidentifikasi mikroplastik menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10 kali. Jenis mikroplastik yang ditemukan pada sedimen di Gili Ketapang, Probolinggo adalah fiber, fragmen dan film. Pada sedimen ditemukan beberapa warna untuk fiber yaitu biru, hijau dan merah, untuk jenis fragmen berwarna kuning, biru, merah, dan hijau, sedangkan pada jenis filamen ditemukan hanya satu warna yaitu putih bening. Ukuran mikroplastik pada sedimen 0,025 – 2,975 mm. Kelimpahan mikroplastik pada sedimen di 3 stasiun paling banyak pada jenis film sebanyak 1635 partikel/kg dan paling sedikit adalah 1180 partikel/kg dengan jenis mikroplastik fiber. Gili Ketapang is a small island that is administratively included in the Sumberasih District of Probolinggo Regency, with the majority of the people living as fishermen. Waste Management in the surrounding environment is considered to be still minimal so that it is clear that there is a lot of garbage scattered on the shoreline close to settlements. Plastic waste will degrade into plastic that is smaller than its original size called microplastics. Microplastics are a type of plastic waste that is smaller than 5 mm, can float or sink because the weight of the density of microplastics is lighter than sea water. The types of microplastics found in water are fragments,fibers, and films. This study aims to determine the type, color, size and abundance of microplastics in sediments in Gili Ketapang, Probolinggo. The method used begins with water sampling called purposive random sampling. Sediment samples were used to identify microplastics using a microscope with a magnification of 10 times. The types of microplastics found in sediments in Gili Ketapang, Probolinggo are fibers, fragments and films. In the sediment found several colors for fiber such as blue, green and red, for the type of fragments are yellow, blue, red, and green, while in the type of filaments found only one color is clear white. The size of microplastics in sediments is 0.025-2.975 mm. The abundance of microplastics in sediments at 3 stations in the type of film as much as 1635 particles/kg and at least 1180 particles/kg with the type of microplastics fiber mostly.
Profil Metabolit Ekstrak Etanol Enhalus acoroides (L.F.) Royle,1839 dari Nusa Tenggara Timur Mahmiah Mahmiah; Nor Sa’adah; Heronima Natalia Sunur; Nani Wijayanti
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.35076

Abstract

Balauring, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu wilayah yang berada di bagian Timur Indonesia yang terdapat banyak ekosistem lamun salah satu jenisnya adalah Enhalus acoroides. Pengembangan potensi lamun jenis ini oleh masyarakat masih kurang dimanfaatkan hanya sebagai sampah laut di perairan. Secara kemotaksonomi, daun tanaman lamun Enhalus acoroides mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi untuk dijadikan alternatif pengobatan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kandungan senyawa bioaktif daun tanaman lamun Enhalus acoroides dari Balauring Nusa Tenggara Timur. Adapun metode ekstraksi maserasi dengan pelarut etanol 96%, parameter standardisasi non spesifik, skrining fitokimia, dan analisis FTIR (Fourier Transform InfraRed) dan GC/MS. Hasil penelitian menunjukkan Enhalus acoroides dari keluarga Hydrocharitaceae memiliki nilai kadar air, susut pengeringan dan kadar abu berturut-turut sebesar 6%, 12,9280% dan 14,7173%. Hasil identifikasi senyawa metabolit sekunder ekstrak etanol 96% Enhalus acoroides didapatkan gugus ikatan senyawa seperti gugus -OH atau -NH (ⱱ 3329.958 dan 3252.176 cm-1), -CH (ⱱ 2921.204 dan 2851.486 cm-1), -C=O (ⱱ 1641.169 cm-1), -C=C (ⱱ 1517.243 cm-1). Hasil GC/MS menunjukkan adanya 9 senyawa yang didominasi golongan alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan polifenol.Balauring, East Nusa Tenggara, is one of the areas in eastern Indonesia with many seagrass ecosystems, one of which is Enhalus acoroides. The community's potential development of this type of seagrass is still underutilized, serving only as marine debris in the waters. According to chemotaxonomic analysis, the leaves of the seagrass plant Enhalus acoroides contain bioactive compounds that have the potential to be used as alternative treatments. Research objective: to identify the content of bioactive compounds in the leaves of the seagrass plant Enhalus acoroides from Balauring, East Nusa Tenggara. Methods: maceration extraction method with 96% ethanol solvent, non-specific standardization parameters, phytochemical screening, and FTIR (Fourier Transform InfraRed) and GC/MS analysis. Results: Enhalus acoroides, a member of the Hydrocharitaceae family, had moisture content, drying loss, and ash content values of 6%, 12.9280%, and 14.7173%, respectively. Secondary metabolites of Enhalus acoroides 96 percent ethanol extract were identified as-OH or-NH groups (3329,958 and 3252.176 cm-1),-CH (2921,204 and 2851,486 cm-1),-C=O (1641,169 cm-1), and-C=C (1517,243 cm-1). The GC/MS results revealed 9 compounds that were dominated by alkaloids, flavonoids, terpenoids, and polyphenols.
Aktivitas Antibakteri Dari Ekstrak Kappaphycus alvarezii Pada Musim Peralihan II terhadap Bakteri Patogen Aeromonas hydrophila Rheamyta Carissa Siregar; Mahmiah Mahmiah; Nirmalasari Idha Wijaya
Journal of Marine Research Vol 14, No 3 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i3.45407

Abstract

Aeromonas hydrophila merupakan bakteri patogen yang dapat menimbulkan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia). Keberadaan bakteri A. hydrophila yang melimpah pada suatu perairan sangat membahayakan bagi kultivan yang berada pada perairan tersebut khususnya pada ikan. Bakteri A. hydrophila tersebut termasuk kedalam bakteri patogen yang saat menginfeksi tubuh ikan akan menghasilkan toksin atau racun. Untuk itu perlu adanya pencegahan dengan menggunakan bahan alami yang ramah lingkungan, seperti rumput laut karena memiliki komponen bioaktif potensial sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak rumput laut merah K. alvarezii dan potensi antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri patogen A. hydrophila dengan larutan etanol 96%. Pengambilan sampel dilakukan pada Musim Peralihan II di bulan Oktober 2023. Uji fitokimia dilakukan secara kualitatif dengan skrining fitokimia, sementara uji antibakteri menggunakan metode difusi agar (paper dics) dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 10%, 20%, dan 40%. Hasil uji fitokimia rumput laut K. alvarezii menghasilkan senyawa alkaloid, tanin, saponin, dan steroid. Uji antibakteri menunjukkan zona hambat pada stasiun 1 lebih besar daripada stasiun 2 dengan hasil berturut-turut 7,35 mm; 7,68 mm;  7,97 mm; 9,32 mm; 10,08 mm pada stasiun 1. Kualitas perairan di stasiun 1 lebih baik yang dapat mempengaruhi metabolit rumput laut dan menghasilkan zona hambat yang besar dibandingkan stasiun 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas perairan mempengaruhi kandungan metabolit bioaktif dalam rumput laut, yang selanjutnya berdampak pada potensi antibakterinya. Selain itu, rumput laut K. alvarezii dapat menjadi solusi alternatif yang efektif dan ramah lingkungan untuk penyakit pada budidaya ikan yang disebabkan oleh A. hydrophila.
Potensi Daya Hambat Ekstrak Daun Mangrove (Sonnearatia casseolaris dan Avicennia alba blume) Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophylla di Muara Sungai Jagir, Wonorejo, Surabaya Alifia Putri Rahmadani; Mahmiah Mahmiah; Rudi Siap Bintoro
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.45421

Abstract

Aeromonas hydrophylla merupakan bakteri yang dapat menimbulkan penyakit pada ikan dan manusia. pada ikan bekteri ini menyebabkan penyakit Motil Aeromonas Speticia, sedangkan pada manusia menyebabkan penyakit Gastrointestinal Aeromonas. Upaya yang dapat diakukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri salah satunya dengan menggunakan antibiotik alami dari bahan mangrove. Metode yang digunakan yaitu metode uji fitokimia secara kualitatif dan uji antibakteri dengan menggunakan metode difusi cakram. Pelarut yang digunakan adalah metanol dengan konsentrasi 125 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 1000 ppm. Kontrol positif menggunakan kloramfenikol dan kontrol negatif menggunakan aquades. Hasil uji fitokimia menunjukkan daun mangrove Sonneratia caseolaris dan Avicennia alba blume positif mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid. Hasil uji antibakteri pada daun S. caseolaris berturut turut sebesar 6 mm; 6,33 mm; 7,78 mm; 9,51 mm. Sedangkan pada daun A. alba blume sebesar 8,67 mm; 9.51 mm; 9,68 mm. Metabolit sekunder yang terdapat pada kedua stasiun yaitu flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid. Hasil uji antibakteri terbesar yaitu 11,11 mm dan 9,68 mm sehingga mampu dijadikan sebagai antibakteri terhadap bakteri A.hydrophylla.  Aeromonas hydrophylla merupakan bakteri yang dapat menimbulkan penyakit pada ikan dan manusia. pada ikan bekteri ini menyebabkan penyakit Motil Aeromonas Speticia, sedangkan pada manusia menyebabkan penyakit Gastrointestinal Aeromonas. Upaya yang dapat diakukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri salah satunya dengan menggunakan antibiotik alami dari bahan mangrove. Metode yang digunakan yaitu metode uji fitokimia secara kualitatif dan uji antibakteri dengan menggunakan metode difusi cakram. Pelarut yang digunakan adalah metanol dengan konsentrasi 125 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 1000 ppm. Kontrol positif menggunakan kloramfenikol dan kontrol negatif menggunakan aquades. Hasil uji fitokimia menunjukkan daun mangrove Sonneratia caseolaris dan Avicennia alba blume positif mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid. Hasil uji antibakteri pada daun S. caseolaris berturut turut sebesar 6 mm; 6,33 mm; 7,78 mm; 9,51 mm. Sedangkan pada daun A. alba blume sebesar 8,67 mm; 9.51 mm; 9,68 mm. Metabolit sekunder yang terdapat pada kedua stasiun yaitu flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid. Hasil uji antibakteri terbesar yaitu 11,11 mm dan 9,68 mm sehingga mampu dijadikan sebagai antibakteri terhadap bakteri A.hydrophylla.