Laode M Sabri
Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

ANALISIS AKURASI DEM dan FOTO TEGAK HASIL PEMOTRETAN dengan PESAWAT NIR AWAK DJI PHANTOM 4 (Studi Kasus : Bukit Perumahan Permata Hijau Tembalang Semarang) Dito Seno Aji; L.M. Sabri L.M. Sabri; yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.807 KB)

Abstract

ABSTRAK Pemetaan dan pengukuran tinggi diperlukan dalam perencanaan sebuah proyek pembangunan untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dalam pelaksanaan proyek pembangunan. Perencanaan sebuah proyek pembangunan tentunya sangat memperhatikan efisiensi waktu, tenaga dan biaya agar seluruh pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan lancar,  berhasil dan sesuai rencana. Perkembangan dalam dunia teknologi juga sangat berpengaruh pada dunia survei dan pemetaan. Teknologi harus dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan manusia agar mendapatkan hasil yang maksimal. Salah satu contoh perkembangan teknologi pemetaan adalah digunakannya Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk kegiatan survei dan pemetaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstraksi DEM dan foto tegak hasil pemotretan udara dengan UAV DJI PHANTOM 4. Proses ekstraksi DEM dan orthofoto dibagi menjadi 3 metode pengolahan yaitu pengolahan dengan densitas point cloud low, medium dan high. Hasil pengolahan foto udara dari ketiga metode ini dibandingkan dengan hasil pengukuran lapangan, kemudian dihitung signifikansi perbandingan dari ketiga metode tersebut menggunakan uji F.Berdasarkan perhitungan CE90 dan LE90 menurut Peraturan Kepala BIG Nomor 15 Tahun 2014 produk peta yang dihasilkan masuk dalam skala 1:1.000 kelas 3. Hasil perhitungan selisih jarak antara ukuran objek pada foto tegak hasil ekstraksi dengan pengukuran lapangan standar deviasi densitas low 0,0546, densitas medium 0,0183 dan densitas high 0,008. Hasil perhitungan selisih tinggi antara titik uji pada DEM hasil ekstraksi dengan pengukuran lapangan standar deviasi densitas low 0,563, densitas medium 0,380 dan densitas high 0,367.
SURVEI DEFORMASI DENGAN METODE GNSS TAHUN 2019 DI SEKITAR JEMBATAN PENGGARON Bagas Setia Aji; Andri Suprayogi; LM Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.247 KB)

Abstract

ABSTRAKJembatan Penggaron merupakan jembatan yang berada di ruas jalan tol Semarang-Solo kilometer 427. Jembatan Penggaron berada di Desa Susukan, Kabupaten Semarang. Panjang dari Jembatan Penggaron diperkirakan kurang lebih 400 m. Wilayah sekitar jembatan Penggaron teridentifikasi adanya suatu pergerakan tanah yang mengakibatkan jembatan dapat mengalami deformasi. Metode yang digunakan untuk penelitian ini yaitu pengamatan GNSS (Global Navigation Satellite System) karena memiliki akurasi yang cukup tinggi dalam pemantauan berbasis point. Pengamatan titik di sekitar jembatan diambil 2 kali pengamatan yaitu tahun 2018 dan 2019. Durasi pengamatan kurang lebihnya 8 jam. Data pengamatan diolah menggunakan software GAMIT 10.7 dengan titik 5 ikat regional (CORS BIG) diantaranya: CJPR, CMGL, CPKL, CPWD, dan CSEM. Hasil pengolahan berupa koordinat yang nantinya dapat dianalisis nilai pergeseranya. Pergeseran terbesar terjadi pada titik pengamatan BMDU dengan nilai resultan sebesar 0,051 m ke arah 89,537 derajat. Pergeseran terkecil terjadi pada titik pengamatan CPSA dengan resultan sebesar 0,006 m ke arah 164,251 derajat. Penurunan terbesar terjadi pada titik amat CPSA dengan nilai du=-0,044 m. Penurunan terendah terjadi pada titik amat BMSA dengan nilai du= -0,001 m.Konsistensi hasil koordinat geosentrik dengan 5 titik ikat dibandingkan dengan 1 titik ikat memiliki selisih kurang dari 5 mm. Perbandingan koordinat geosentrik tahun 2018 selisih rata-rata terbesar terdapat pada titik ikat CJPR. Perbandingan koordinat geosentrik tahun 2019 selisih rata-rata terbesar terdapat pada titik ikat CPWD.Kata Kunci   : CORS, Deformasi, GAMIT, GNSS, Sekitar Jembatan Penggaron  ABSTRACTThe Penggaron Bridge is a bridge on the Kilometer 427 Semarang-Solo toll road.  Penggaron Bridge is located in Susukan Village, Semarang Regency. The length of the Penggaron bridge is estimated of around 400 m. The area around the Penggaron Bridge is identified as a land movement that causes the bridge to be deforming. The method used for this research is the GNSS observation (Global Navigation Satellite System) because it has quite high accuracy in point-based monitoring. The point observation around the bridge was taken 2 observations, namely 2018 and 2019. Duration of observation is approximately 8 hours. Observation Data processed using GAMIT 10.7 software with point 5 stations (BIG CORS) include: CJPR, CMGL, CPKL, CPWD, and CSEM. The result of the processing of coordinates can be analyzed by the value of its alignment. The biggest shift occurs at the BMDU observation point with a resultant 0.051 m in direction 89.537 degree. The smallest shift occurs at the CPSA observation point with a value with a resultant 0.006 m in direction 164.251 degree. The biggest decline occurred at CPSA point with a value du =-0.044 m. The lowest decrease occurred at the BMSA point with a value du =-0.001 m. Consistency of geocentric coordinate results with 5 connective points compared with 1 binding point has a difference of less than 5 mm. The ratio of geocentric coordinates to 2018 the largest average difference is at CJPR's binding point. The ratio of geocentric coordinates in 2019 the largest average difference is at the CPWD connective point. Key Words      : CORS, Deformation, GAMIT, GNSS, The area around the Penggaron Bridge.
PEMBUATAN PETA JALUR EVAKUASI BENCANA GUNUNG API DAN PERSEBARAN LOKASI SHELTER MENGGUNAKAN METODE NETWORK ANALYST (STUDI KASUS : GUNUNG MERAPI, BOYOLALI-MAGELANG) Wahyudi Adri; L.M Sabri; Yasser Wahyuddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKGunung Merapi merupakan salah satu gunung api di pulau Jawa dengan ketinggian 2.968 mdpl dengan status masih aktif. Secara administratif, Gunung Merapi berada pada perbatasan antara Jawa Tengah dan Yogyakarta atau terletak pada Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, Klaten dan Yogyakarta. Posisi geografinya terletak pada 7° 32'30" Lintang Selatan dan 110° 26'30" Bujur Timur. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan aktivitas Gunung Merapi berada di tingkat waspada (level 2) sejak 21 Mei 2018 hingga 17 November 2019 disertai kolom asap setinggi 1.000 m dari puncak diikuti awan panas dengan jangkauan kurang dari 3.000 m. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jalur alternatif evakuasi bencana. Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan metode Network Analyst akan membantu dalam pemetaan jalur evakuasi dengan parameter dari Perka Badan Nasional Penanggulan Bencana No. 2 tahun 2012 dan parameter lainnya. Peta jalur evakuasi akan mempermudahkan dalam pengambilan keputusan untuk perencanaan evakuasi, membatu proses evakuasi saat terjadi bencana akibat aktivitas Gunung Merapi serta membatu dalam penempatan shelter atau posko pengungsian. Total pengungsi yang dapat dilayani berjumlah 30.990 jiwa. Shelter yang melayani pengungsi paling sedikit terdapat pada Gedung Perikanan Kelurahan Muntilan berjumlah 2 jiwa yang dapat dilayani dan pengungsi terbanyak adalah Balai Desa Kamongan Kecamatan Srumbung berjumlah 2.523 jiwa yang dapat dilayani. Terdapat 8 shelter yang menjadi tujuan evakuasi bencana Gunung Merapi. Rute evkuasi terpanjang adalah evakuasi dari SMPN 2 Selo ke Balai Desa Krogowanan dengan total jarak sejauh 18.823 m dan rute terpendek adalah evakuasi dari SDN 2 Ngagrong ke Bumi Perkemahan Indra Prastha dengan total jarak sejauh 3.536 m.
ANALISIS PERAMALAN DATA KOSONG BULANAN PASANG SURUT MENGGUNAKAN METODE ADAPTIVE NEURO FUZZY INFERENCE SYSTEM (ANFIS) (STUDI KASUS: STASIUN PASUT SURABAYA) Eka Yuliandany; L.M Sabri; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.993 KB)

Abstract

ABSTRAKSebagai suatu fenomena yang terjadi secara periodik maka pasang surut (pasut) dapat diprediksi. Metode untuk mengkaji dan memprediksi tinggi pasut konvensional umumnya membutuhkan data dengan rentang data yang panjang. Data pasut yang lengkap dengan rentang waktu yang panjang masih sulit untuk ditemukan. Hal tersebut mendorong peneliti untuk mengaplikasikan berbagai metode untuk simulasi peramalan data kosong (fill gap) pada data pasut, salah satunya dengan metode ANFIS. Penelitian pasang surut ini menggunakan metode ANFIS (Adaptive Neuro Fuzzy Inference System) untuk melakukan peramalan data kosong (fill gap) pasut. Data yang digunakan adalah data pasut per jam kota Surabaya dari tahun 2000-2018. Model ANFIS untuk simulasi peramalan data kosong (fill gap) pada data pasut dibuat dengan panjang data pelatihan yang berbeda. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa panjang data masukan tidak berpengaruh langsung terhadap kinerja ANFIS dalam melakukan peramalan data kosong (fill gap) pasut. Nilai RMSE testing terkecil terdapat pada tahun 2001 yaitu sebesar 0,000029 m dengan panjang data pelatihan per input sebesar 48 jam, dan nilai RMSE terting terbesar trdapat pada tahun 2016 yaitu sebesar 0,122940 m dengan panjang data pelatihan per input sebesar 360 jam. Prediksi dengan data input tahunan diporoleh nilai standar deviasi terkecil pada tahun 2015 sebesar 0,099 m dan nilai standar deviasi terbesar pada tahun 2007 sebesar 0,183 m dengan rata-rata nilai korelasi sebesar 0,9650. Sedangkan untuk prediksi mengunakan panjang data input yang berbeda diperoleh hasil prediksi dengan nilai standar deviasi terkecil terdapat pada kelompok data taun 2007-2017 sesudah dilakukan proses fill gap yaitu sebesar 0,106 m dan nilai standar deviasi terbesar terdapat pada kelompok data tahun 2000-2017 sebelum dilakukan proses fill gap sebesar 0,332 m.                        Kata Kunci: ANFIS, Fill Gap, Pasang Surut, RMSE, Standar Deviasi ABSTRACTAs a phenomenon that occurs periodically, the tidal can be predicted. Methods for assessing and predicting conventional tidal height generally require data with a long range data. In practice, complete tidal data with a long time span is still difficult to find. This encourages researchers to apply various methods for simulating empty data forecasting (fill gap) on tidal data, one of them is the ANFIS method. This tidal research uses the ANFIS (Adaptive Neuro Fuzzy Inference System) method to forecast the tidal fill data. The data used is the hourly tidal data of the city of Surabaya from 2000-2018. ANFIS models for the simulation of empty data forecasting (fill gap) on tidal data are made with different training data lengths. From this study, the results obtained that the length of the input data does not directly affect the performance of ANFIS in forecasting empty data (tide gap). The smallest RMSE testing value was found in 2001 which was 0.000029 m with the length of training data per input of 48 hours, and the highest RMSE value was obtained in 2016 which was 0,122940 m with the length of training data per input of 360 hours. For predictions with annual input data, the smallest standard deviation value in 2015 was 0.099 m and the largest standard deviation in 2007 was 0.183 m, with an average correlation value of 0.9650. Predictions using different input data lengths obtained prediction results with the smallest standard deviation values are found in the 2007-2017 data group after the fill gap process is equal to 0.106 m and the largest standard deviation values are found in the 2000-2017 data group before the process fill gap of 0.332 m.
ANALISIS PENURUNAN MUKA TANAH KOTA SEMARANG METODE SURVEI GNSS TAHUN 2019 Lisa Nur Nur Istiqomah; L.M Sabri; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.32 KB)

Abstract

ABSTRAKPenurunan muka tanah (land subsidence) telah banyak terjadi di berbagai kota termasuk Kota Semarang. Kota Semarang merupakan kota yang mempunyai peran penting yaitu sebagai ibukota yang menjadi pusat pembangunan, pemerinahan, perekonomian di provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar penurunan muka tanah yang terjadi di Kota Semarang dengan melakukan survei menggunakan metode pengamatan GNSS. Penurunan tanah adalah salah satu fenomena deformasi permukaan bumi secara vertikal di samping terjadi fenomena uplift. Penurunan tanah dapat berlangsung dalam kurun waktu yang lama, sehingga jika terjadi terus menerus, daerah yang mengalami penurunan tanah akan mengalami dari penurunan itu sendiri, sedangkan penurunan tanah itu sendiri tidak merata di setiap daerah. Penelitian ini memanfaatkan patok-patok pengamatan yang berada di sekitar objek penelitian. Pengamatan GNSS ini dilakukan dengan metode statik selama kurang lebih 6 jam di 9 titik di Kota Semarang. Nilai penurunan muka tanah diperoleh dengan pengolahan data survei tahun 2018 dan tahun 2019 metode survei GNSS yang diolah menggunakan perangkat lunak ilmiah GAMIT yang titik pengamatnnya diikatkan dengan 5 stasiun CORS. Nilai laju penurunan muka tanah yang paling besar terdapat pada titik B061 sebesar 7,796 cm/tahun dan yang paling kecil yaitu titik T447 sebesar 1,795 cm/tahun. Kata Kunci : Semarang, Penurunan Muka Tanah, GNSS, GAMIT   ABSTRACTLand subsidence has occurred in many cities including Semarang City. Semarang City is a city that has an important role, namely as the capital which is the center of development, government and economy in the province of Central Java. This study aims to determine how much land subsidence occurred in the city of Semarang by conducting a survey using the GNSS observation method. Land subsidence is one of the phenomena of vertical surface deformation in addition to the uplift phenomenon. Land subsidence can take place over a long period of time, so that if it occurs continuously, areas that experience land subsidence will experience a decline itself, whereas land subsidence itself is uneven in each region. This study utilizes observational benchmarks that are around the research object. This GNSS observation was carried out by the static method for approximately 6 hours at 9 points in the city of Semarang. Land subsidence value was obtained by processing survey data in 2018 and in 2019 the GNSS survey method which was processed using GAMIT scientific software whose observation points were tied to 5 CORS stations. The highest land subsidence rate is at point B061 of 7,796 cm / year and the smallest point is T447 point of 1,795 cm / year. Keywords: Semarang, Land Subsidence, GNSS, GAMIT
ANALISIS SURFACE URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN DATA SENTINEL-3 SLSTR (STUDI KASUS: KOTA SEMARANG) Wening Aisyah Fauziana Koman; L.M Sabri; Firman Hadi
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 2025 diprediksi 68% populasi akan tinggal di Kawasan perkotaan, tak hanya di kota utama seperti Kota Jakarta, namun merambah di kota lapis kedua seperti Kota Semarang.Peningkatan aktivitas pembangunan menyebabkan peningkatan suhu permukaan di perkotaan yang dapat membentuk fenomena Surface Urban Heat Island (SUHI). Tujuan penelitian ini adalah memperoleh peta SUHI Kota Semarang tahun 2020 pada data pagi dan malam hari berdasarkan tiga metode identifikasi SUHI untuk mengetahui metode identifikasi SUHI terbaik. Karakteristik SUHI ditentukan oleh nilai suhu permukaan atau Land Surface Temperature (LST), data area urban, dan metode identifikasinya. Data LST diperoleh dari Sentinel-3 SLSTR dengan metode Split Window Algorithm. Data LST dengan RMSE terbaik adalah Sentinel-3 SLSTR Level 2 terhadap true value LST Landsat 8, dengan nilai RMSE berturut-turut 1,76 °C dan 2,23 °C untuk Sentinel-3 SLSTR Level 2 dan Level 1. Penentuan area urban dan sekitarnya menggunakan Boundaries Buffer Concept. Data urban diperoleh dari Peta Tutupan Lahan Climate Change Initiative (CCI), selain itu juga menggunakan hasil ekstraksi data SAR Sentinel-1B. Resolusi spasial area urban terbaik adalah hasil ekstraksi SAR Sentinel-1B yang mencapai 14 meter dan memiliki kemiripan dengan Peta Tutupan Lahan CCI. Identifikasi SUHI menggunakan tiga metode berdasarkan Fawzi (2017), Urban Thermal Field Variance Index (UTFVI), dan Khomarudin (2004) yang akan dilakukan pada data pagi dan malam. Luas data urban mempengaruhi hasil buffer dan area sekitarnya yang mempengaruhi perhitungan ambang batas pada tiap metode identifikasi SUHI. Metode terbaik untuk mengidentifikasi SUHI adalah UTFVI karena paling sederhana, dapat mengklasifikasikan intensitas SUHI, dan memiliki konsistensi hasil pada pagi dan malam hari yang baik terhadap metode lain.
ANALISIS DESAIN JARING GNSS BERDASARKAN FUNGSI PRESISI (STUDI KASUS : TITIK GEOID GEOMETRI KOTA SEMARANG) Reza Nur Hidayat; L M Sabri; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.682 KB)

Abstract

Salah satu tahapan untuk mendapatkan jaring GNSS yang optimal adalah melakukan desain jaring.  Terdapat empat tahapan dalam desain jaring GNSS yaitu Zero Order Design, First Order Design, Second Order Design, dan Third Order Design.  First Order Design merupakan desain jaring untuk mendapatkan bentuk geometri jaring GPS yang optimal. Pada First Order Design terdapat 2 kriteria untuk menentukan tingkat optimal jaring yaitu presisi dan kehandalan, penelitian ini berfokus pada analisis desain jaring dari fungsi presisi. Penelitian ini menggunakan pengukuran GNSS metode rapid static yang dilakukan pada 20 titik geoid dan geometri di Kota Semarang. Titik control yang digunakan dalam pengukuran ini adalah titik GRAV 11, CORS BIG Kota Semarang, dan CORS Universitas Diponegoro. Penelitian ini dilakukan dengan mendesain lima buah jaring pengukuran GNSS untuk kemudian dihitung tingkat presisi jaring dari nilai simpangan baku dan fungsi presisinya. Desain jaring yang optimum dari segi presisi dilihat dari nilai kriteria yang dimiliki dimana jaring dikatakan lebih optimum dari segi presisi jika nilai simpangan baku dan fungsi presisinya semakin kecil. Desain jaring yang paling presisi berdasarkan analisis fungsi presisi dan standar deviasi adalah desain jaring nomor 1 dengan jumlah baseline 60. Desain jaring nomor 1 memiliki nilai fungsi tujuan akurasi A-optimality paling kecil 17,6095 yang menggunakan baseline paling banyak dan desain jaring nomor 1 memiliki nilai fungsi tujuan akurasi E-optimality 4,6567, ini menunjukkan bahwa desain jaring nomor 1 memiliki jaring yang paling isotropik. Desain jaring nomor 1 memiliki nilai standar deviasi paling kecil sebesar 0,03845m dibanding dengan desain lainnya, hal ini menunjukan desain jaring 1 merupakan desain jaring paling presisi.
ANALISIS DESAIN JARING GNSS BERDASARKAN FUNGSI KEHANDALAN INTERNAL DAN KEHANDALAN EKSTERNAL (STUDI KASUS : TITIK GEOID GEOMETRI KOTA SEMARANG) Kurniawan Adi Widiyanto; L M Sabri; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.518 KB)

Abstract

Pekerjaan pengukuran tidak lepas dari tahap pembuatan desain jaring pemetaan. Desain jaring dirancang sedemikian rupa agar dapat mencakup semua wilayah pengamatan dengan pemilihan penempatan titik yang dipertimbangkan dengan baik. Oleh karena itu, optimalisasi jaring kontrol pemetaan perlu dilakukan pada tahap perancangan jaring kontrol. Optimalisasi jaring perlu memperhatikan tiga aspek, yaitu biaya, kehandalan dan keakurasian. Dalam penelitian ini metodologi yang digunakan adalah pengukuran GNSS metode rapid static. Pengukuran menggunakan base station titik GRAV11, CORS BIG Kota Semarang, dan CORS Universitas Diponegoro. Titik penelitian yang digunakan yaitu 20 titik geoid geometri di Kota Semarang.. Penelitian ini dilakukan dengan membuat 5 desain jaring GNSS yang optimum ditinjau dari geometri jaring berdasarkan kriteria kehandalan (redudansi individu, kehandalan luar, dan kehandalan dalam). Desain jaring yang paling optimal berdasarkan analisis fungsi kehandalan dan standar deviasi adalah desain jaring nomor 1 dengan jumlah baseline 51. Desain jaring nomor 1 memiliki nilai fungsi kehandalan dengan nilai kehandalan luar paling kecil yaitu sebanyak 4,1099, nilai kehandalan dalam paling kecil yaitu sebanyak 0,1209 dan nilai redudansi individu paling maksimal yaitu 0,7777. Ini menunjukkan bahwa desain jaring nomor 1 memiliki sensitivitas tinggi terhadap kesalahan acak dan kesalahan kasar. Desain jaring nomor 1 memiliki nilai standar deviasi paling kecil sebesar 0,0163 dibanding dengan desain lainnya, hal ini menunjukan desain jaring 1 merupakan desain jaring paling presisi.
ANALISIS HUBUNGAN BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT PROVINSI KEPULAUAN RIAU DENGAN BATAS MARITIM NEGARA INDONESIA MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-1A Panusunan Nauli Siregar; Bambang Sudarsono; LM Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKProvinsi Kepulauan Riau merupakan daerah yang terdiri dari ribuan pulau yang membentuk gugusan pulau sehingga menjadi satu kesatuan. Provinsi Kepulauan Riau berbatasan langsung dengan negara Malaysia dan Singapura. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luas batas pengelolaan wilayah laut Provinsi Kepulauan Riau menggunakan citra Sentinel-1A. Penelitian ini juga bertujuan untuk memperlihatkan dan mengetahui perbedaan batas wilayah laut Provinsi Kepulauan Riau dan batas maritim Indonesia berdasarkan titik awal penarikan garis batas serta mengetahui selisih luas setelah dilakukan overlay antara kedua batas. Batas wilayah laut Provinsi Kepulauan Riau ditarik dari garis pantai pada saat pasang tertinggi sedangkan batas maritim pada saat pasang tertinggi. Penentuan batas pengelolaan wilayah laut Provinsi Kepulauan Riau dilakukan dengan metode kartometrik di atas citra satelit Sentinel-1A. Citra satelit tersebut dikoreksi radiometrik, speckle filtering, dan koreksi geometrik. Deliniasi batas dilakukan setelah menentukan titik dasar, penarikan garis dasar, serta klaim 12 mil laut. Penarikan batas wilayah laut antara dua pulau yang berhadapan dilakukan dengan menggunakan metode median line (garis tengah). Setelah melakukan penarikan batas maka akan diketahui batas dan luas pengelolaan wilayah laut Provinsi Kepulauan Riau. Overlay batas pengelolaan wilayah laut Provinsi Kepulauan Riau menggunakan citra Sentinel 1-A dengan batas maritim Indonesia menggunakan batas eksistensi dari Badan Informasi Geospasial memperlihatkan selisih luas sebesar 55,814 km². Kata Kunci : batas wilayah laut, garis dasar, median line, titik pangkal, Sentinel-1A. ABSTRACTRiau Islands Province is an area consisting of thousands of islands that form a cluster of islands to become one unit. Riau Islands Province is directly adjacent to Malaysia and Singapore. This study aims to determine the extent of the management boundaries of the Riau Islands Province using Sentinel-1A imagery. This study also aims to show and determine the differences in the maritime boundaries of the Riau Islands Province and Indonesia's maritime boundaries based on the starting point of the boundary draw and to find out the difference in area after overlaying the two boundaries. The maritime boundary of the Riau Islands Province is drawn from the coastline at the highest tide while the maritime boundary is at the highest tide. The determination of the boundaries of the management of the marine area of the Riau Islands Province is carried out by using the cartometric method over the Sentinel-1A satellite imagery. The satellite image is corrected radiometric, speckle filtering, and geometric correction. Boundary delineation is carried out after determining the base point, drawing the baseline, and claiming 12 nautical miles. The drawing of the sea boundary between the two opposite islands is carried out using the median line method. After delineating the boundaries, it will be known the boundaries and extent of the management of the marine area of the Riau Islands Province. The overlay of the management boundaries of the marine area of the Riau Islands Province using the Sentinel 1-A image with the Indonesian maritime boundaries using the existing boundaries of the Geospatial Information Agency shows a wide difference of 55,814 km².
KAJIAN AKURASI CITRA SATELIT WORLDVIEW 4 PADA PEMBUATAN PETA DASAR PENDAFTARAN TANAH Naufal Ilyas Abdul Hakim; L M Sabri; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.098 KB)

Abstract

Tanah merupakan suatu sumber daya alam yang dapat dimiliki. Persediaan tanah yang terbatas dapat menimbulkan konflik kepentingan atau sengketa atas tanah. Pada tahun 2017 pemerintah memulai lagi pemetaan lengkap melalui PTSL. Metode pengukuran dan pemetaan yang digunakan dalam PTSL telah mengakomodir metode penginderaan jauh untuk mempercepat proses pengukuran di lapangan maupun proses pemetaan lengkap dalam suatu wilayah desa atau kelurahan. Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengkaji akurasi citra WorldView 4 dalam pembuatan peta dasar pendaftaran tanah. Proses pengolahan citra dilakukan dengan menggunakan metode Toutin’s , Thine plate spline, dan Polynomial. Hasil orthorektifikasi ketiga metode tersebut dibandingkan akurasinya berdasarkan Perka BIG Nomor 15 Tahun 2014 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar  dan PNMA Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pedoman Teknis Ketelitian Peta Dasar Pendaftaran. Citra dengan akurasi terbaik digunakan untuk menganalisis perbedaan luas dan pergeseran bidang tanah antara gambar ukur dengan delineasi luas pada citra. Nilai akurasi horizontal (CE90) hasil ortorektifikasi metode Toutin’s , Thine plate spline, dan Polynomial masing-masing yaitu 0,438 meter, 0,559 meter dan 0,565 meter sedangkan, nilai RMSE ketelitian planimetrisnya 0,183, 0,206 dan 0,210. Dari pengujian yang dilakukan, seluruh metode orthorektifikasi yang dihasilkan memenuhi standar ketelitian geometri peta RBI serta ketelitian planimetrik peta dasar pendaftaran. Pada uji luas bidang terdapat 7 sampel bidang pada permukiman, 7 sampel bidang pada persawahan dan semua sampel bidang pada kebun yang tidak memenuhi toleransi. Rata-rata pergeseran nilai X permukiman sebesar ±1,759 meter, sedangkan rata-rata pergeseran nilai Y sebesar ±1,463 meter. Pada kategori persawahan didapatkan hasil pergeseran rata-rata nilai X sebesar ± 1,876 meter dan pergeseran nilai Y sebesar ±1,719 meter. Pada kategori kebun pergeseran rata-rata nilai X sebesar ± 1,017 meter dan pergeseran nilai Y sebesar ±1,738 meter.