Laode M Sabri
Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN JALAN TOL TERHADAP LIMPASAN PERMUKAAN DI KECAMATAN PEMALANG Dyto Elang Narendrasastri; L.M Sabri; Yasser Wahyuddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKIndonesia adalah negara yang memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau dimana kedua musim tersebut memiliki waktu rata-rata ±6 bulan kalender. Selain memiliki dua musim, Indonesia juga merupakan negara berkembang ke arah maju sehingga pembangunan fisik selalu diutamakan setiap tahunnya. Salah satu bentuk pembangunan fisik adalah pembangunan jalan tol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan tutupan lahan jalan tol terhadap nilai limpasan permukaan di Kecamatan Pemalang serta mengidentifikasi bentuk arah aliran dan akumulasi aliran pada saat sebelum dan setelah adanya pembangunan jalan tol. Adapun metode yang digunakan adalah metode SCS-CN (Soil Conservation Service-Curve Number) untuk penghitungan nilai limpasan permukaan. Hasil penelitian berupa besar efek jalan tol terhadap nilai limpasan pada basin 4,5,dan 6 adalah  2.86% (10314.362 m3), 4.595% (1892.487 m3), dan 6.83% (5502.338 m3). serta perubahan aliran air sebelum dan seteah pembangunan jalan tol adalah sebesar 11.11% (1 titik dari 9 titik aliran air) dimana titik tersebut melebihi batas toleransi pergeseran yaitu 163.068 meter dari buffer 80 meter dan 143.068 meter dari buffer 100 meter.
ANALISIS AKURASI MODEL 3 DIMENSI BANGUNAN DARI FOTO SECARA TEGAK DAN MIRING (Studi Kasus : Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro) Christovel Natar Pardo; L.M Sabri; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.639 KB)

Abstract

Pemodelan tiga dimensi merupakan salah satu metode yang sangat dikembangkan beberapa tahun belakangan ini dalam menggambarkan secara kesuluruhan suatu objek. Salah satu manfaat dari metode merupakan merekonstruksi bangunan yang mengalami kerusakan akibat suatu kecelakaan atau bencana alam. Untuk membentuk pemodelan tiga dimensi diperlukan beberapa data foto udara yang overlap minimal 60% dan sidelap minimal 30%. penelitian ini menggunakan DJI Phantom 4 dan menggunakan dua metode pengambilan foto udara, yaitu secara vertikal (orto) dan miring (oblique). Kemiringan foto udara akan sebesar 45º dalam akuisisi foto oblique. Kedua metode tersebut akan diolah menggunakan software Pix4Dmapper dan menggunakan data GCP yang disebar secara merata. Kemudian akan diuji dengan uji akurasi ketinggian dan uji planimetrik guna mencari metode yang lebih baik. Akuisisi orthofoto menghasilkan kualitas data pemodelan yang lebih baik dibandingkan dengan hasil akuisisi oblique foto. Hasil perhitungan uji planimetrik, orthofoto memiliki nilai RMSE (root mean square error) sebesar 1,127 m dengan nilai rata-rata sebesar 1,271 m. Hasil perhitungan RMSE foto oblique sebesar 1,363 m dengan nilai rata-rata sebesar 3,175 m. Hasil uji akurasi tinggi, orthofoto memiliki RMSE sebesar 1,997 m dan oblique foto memiliki RMSE sebesar 4,247 m.Kata Kunci: Fotogrametri,  Pemodelan tiga dimensi, Pix4Dmapper, UAV   ABSTRACTThree-dimensional modeling is method that has been grown in recent years in describing the entire object. The benefits of this method is to reconstruct buildings that have been damaged due to an accident or natural disaster. To form a three-dimensional modeling requires some aerial photo data that overlaps at least 60% and sidelap at least 30%. In this study, researchers used DJI Phantom 4 and used two methods of capturing aerial photographs, vertical (ortho) and oblique. The slope of the aerial photograph will use 45º. Both methods will be processed using Pix4Dmapper software using GCP and ICP data. Then it will be tested with altitude accuracy test and planimetric test to find a better method. In results, orthophoto acquisition results in better data modeling quality compared to the results of the oblique photo acquisition. In the planimetric test calculation, orthophoto has a RMSE of 1.127 m with an average value of 1.277 m. For oblique photos, the RMSE calculation result is 1.363 with an average value of 3.175 m. In the high accuracy test, orthophoto has a RMSE of 1.997 m and oblique photos have a RMSE of 4.247 m.Keywords: Photogrammetry, Pix4Dmapper, Three-dimensional modeling, UAV
PEMETAAN SPASIAL TINGKAT RISIKO BENCANA TSUNAMI DI WILAYAH KABUPATEN SERANG MENGGUNAKAN CITRA SPOT-6 Izzudin Al Qossam; Arief Laila Nugraha; LM Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.111 KB)

Abstract

ABSTRAKUpaya untuk mengurangi kerugian akibat bencana tsunami salah satunya yaitu dengan memetakan tingkat risiko bencana tsunami. Risiko bencana berguna untuk melihat potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah, pada kasus ini dikhususkan untuk bencana tsunami. Peta risiko bencana tsunami dapat dibuat dengan Metode Crunch, yaitu dengan mengalikan tingkat  kerentanan dan tingkat ancaman suatu wilayah. Pemetaan daerah kerentanan pada penelitian ini dilakukan dengan metode pembobotan dan tumpang susun (overlay) dengan menggunakan lima parameter, yaitu jarak dari pantai, jarak dari sungai, ketinggian permukaan, kelerengan dan tutupan lahan. Peta ancaman dibuat menggunakan metode Hloss dengan ketinggian tsunami setinggi 10 meter. Hasil dari penelitian risiko bencana tsunami ini bahwa terdapat 11 Desa yang terkena risiko bencana tsunami pada wilayah pesisir Kabupaten Serang di antaranya yaitu Desa Anyar (35,3%), Desa Bandulu (6,4%), Desa Bulakan (6,7%), Desa Cikoneng (3,6%), Desa Cinangka (2,4%), Desa Kemasan (0,8%), Desa Karangsuraga (7,8%), Desa Pasauran (5,5%), Desa Sindanglaya (5,7%), Desa Tambangayam (2,6%), dan Desa Umbul Tanjung (2,7%). Persentase wilayah terdampak dengan wilayah total desa sebesar 4,74% dengan total luas wilayah terdampak sebesar 385,217 Ha. Adapun desa yang sangat tinggi tingkat risiko terhadap bencana tsunami yaitu Desa Anyar dengan luas tingkat risiko sangat tinggi sebesar 41,026 Ha. Total penduduk yang terancam pada risiko bencana tsunami sebanyak 7.836 jiwa dengan luas total pemukiman pada tingkat risiko sangat tinggi sebesar  36,938 Ha. Adapun desa yang memiliki tingkat penduduk terbanyak akibat risiko bencana tsunami adalah Desa Anyar sebanyak 2.590 jiwa. Kata Kunci: Bencana Tsunami, Metode Hloss, Kab. Serang, Model Crunch, Peta Risiko ABSTRACT One of the efforts to reduce losses due to the tsunami disaster is to map the level of tsunami risk. Disaster risk is useful to see the potential losses incurred due to disasters in an area, in this case specifically for the tsunami disaster. Tsunami disaster risk maps can be made using the Crunch Method, namely by multiplying the level of vulnerability and the level of threat of an area. Mapping the area of vulnerability in this study was carried out by the method of weighting and overlapping (overlay) with five parameters, namely distance from the coast, distance from the river, surface height, slope and land cover. While making a threat map using the Hloss method with a tsunami height as high as 10 meters. The results of this tsunami disaster risk study show that there are 11 villages affected by the tsunami disaster in the Serang Regency, including Anyar Village (35.3%), Bandulu Village (6.4%), Bulakan Village (6.7%) , Cikoneng Village (3.6%), Cinangka Village (2.4%), Packaging Village (0.8%), Karangsuraga Village (7.8%), Pasauran Village (5.5%), Sindanglaya Village (5 , 7%), Tambangayam Village (2.6%), and Umbul Tanjung Village (2.7%). Percentage of area affected by the total area of villages is 4.74% with a total area of affected area of 385,217 Ha. The village with a very high level of risk from the tsunami disaster is Anyar Village with a very high level of risk of 41,026 Ha. The total population threatened by the tsunami disaster is 7,836 people with a total area of settlements at a very high risk level of 36,938 Ha. The village that has the highest population level due to the risk of tsunami disaster is Anyar Village with 2,590 people. Key Words: Crunch Model, Hloss Method, Risk Map, Serang District, Tsunami Disaster
PENGAMATAN PENURUNAN MUKA TANAH KOTA SEMARANG METODE SURVEI GNSS TAHUN 2018 Adzindani Reza Wirawan; Bambang Darmo Yuwono; L M Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.312 KB)

Abstract

Penurunan muka tanah atau land subsidence merupakan fenomena perubahan ketinggian muka tanah yang berlangsung dalam kurun waktu singkat atau lama yang persebarannya tidak merata di setiap lokasi. Penelitian penurunan muka tanah di Kota Semarang telah dilakuan secara berkelanjutan karena masih terjadi penurunan yang signifikan. Berdasarkan penelitian terdahulu, besarnya penurunan muka tanah di Kota Semarang bervariasi pada tiap tahunnya dan berbeda di setiap lokasi penelitian sehingga titik pengamatan harus tersebar merata di Kota Semarang. Pengamatan penurunan muka tanah pada penelitian tugas akhir ini menggunakan pengamatan GNSS metode statik selama ± 6 jam di 9 titik yang terdiri dari 8 titik pengamatan dan titik ikat. Penelitian ini juga didukung dengan data pengamatan titik yang sama pada tahun 2013, 2015, 2016 dan 2017. Data pengamatan diolah menggunakan software scientific GAMIT 10.7 yang diikatkan dengan titik ikat IGS sebagai titik ikat global dan titik TTG447 sebagai titik ikat lokal. Koordinat hasil pengolahan kemudian dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu yang akan didapatkan perubahan ketinggian titik pengamatan. Nilai laju penurunan muka tanah pada titik SMK3 sebesar 2,95269 cm/tahun; titik N259 sebesar 4,59026 cm/tahun; titik K371 sebesar 0,40994 cm/tahun dan titik KOP8 sebesar 6,17139 cm/tahun. Hasil analisa laju penurunan muka tanah menyatakan bahwa adanya korelasi yang signifikan antara penurunan muka tanah dengan pengambilan air tanah di Kota Semarang.
ANALISIS PENGARUH MULTIPATH DARI TOPOGRAFI TERHADAP PRESISI PENGUKURAN GNSS DENGAN METODE STATIK Indira Nori Kurniawan; Bambang Darmo Yuwono; L M Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.515 KB)

Abstract

Topografi dengan kondisi curam pasti memiliki tebing di sekitar daerah tersebut. Faktor topografi yang memiliki karakter daerah bertebing memungkinkan akan muncul adanya gangguan multipath yang akan mempengaruhi kualitas dan ketelitian data hasil pengukuran topografi menggunakan GNSS. Pengukuran GNSS pada sekitar daerah bertebing rentan dengan adanya efek multipath yang ada dalam data hasil pengukuran. Multipath sendiri merupakan fenomena dimana sinyal dari satelit tiba di antena GNSS melalui dua atau lebih lintasan yang berbeda, tentunya faktor ini akan mengurangi keakuratan dari hasil pengukuran. Teknologi receiver GNSS milik Topcon memiliki pengaturan alat anti multipath dan mengasumsikan dapat mengurangi efek multipath yang ada. Penelitian ini melakukan analisis pengaruh multipath dari topografi terhadap presisi pengukuran GNSS sesi 1 menggunakan pengaturan alat menyalakan anti multipath serta pengukuran GNSS sesi 2 mematikan anti multipath metode statik dengan base station CORS UDIP. Tingkat presisi posisi horizontal (X,Y) dari pengukuran topografi dengan survei GNSS metode statik pada daerah sekitarnya bertebing yang diikatkan pada stasiun CORS UDIP pada titik observasi dan titik simulasi pengukuran sesi 1 dan pengukuran sesi 2 dengan pengamatan 1 jam. Presisi horizontal pada pengukuran sesi 1 pengamatan 1 jam diperoleh nilai rata-rata 0,00146 m sedangkan presisi horizontal pada pengukuran sesi 2 pengamatan 1 jam diperoleh nilai rata-rata 0,00172 m. Presisi horizontal pada pengukuran sesi 1 pengamatan 1 jam titik simulasi diperoleh nilai rata-rata 0,00357 m sedangkan presisi horizontal pada pengukuran sesi 2 pengamatan 1 jam titik simulasi diperoleh nilai rata-rata 0,00444 m. Data diatas dilakukan pengujian statistik data dengan uji Fisher untuk mengetahui tingkat presisi diantara pengukuran sesi 1 dan sesi 2,  karena uji Fisher diterima maka dapat disimpulkan tidak dapat perbedaan presisi horizontal yang signifikan antara pengukuran sesi 1 dan pengukuran sesi 2 baik titik observasi ataupun titik simulasi.
ANALISIS AKURASI MODEL 3 DIMENSI BANGUNAN DARI FOTO SECARA TEGAK DAN MIRING (Studi Kasus : Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro) Christovel Natar Pardo; L.M Sabri; Moehammad Awwaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.639 KB)

Abstract

Pemodelan tiga dimensi merupakan salah satu metode yang sangat dikembangkan beberapa tahun belakangan ini dalam menggambarkan secara kesuluruhan suatu objek. Salah satu manfaat dari metode merupakan merekonstruksi bangunan yang mengalami kerusakan akibat suatu kecelakaan atau bencana alam. Untuk membentuk pemodelan tiga dimensi diperlukan beberapa data foto udara yang overlap minimal 60% dan sidelap minimal 30%. penelitian ini menggunakan DJI Phantom 4 dan menggunakan dua metode pengambilan foto udara, yaitu secara vertikal (orto) dan miring (oblique). Kemiringan foto udara akan sebesar 45º dalam akuisisi foto oblique. Kedua metode tersebut akan diolah menggunakan software Pix4Dmapper dan menggunakan data GCP yang disebar secara merata. Kemudian akan diuji dengan uji akurasi ketinggian dan uji planimetrik guna mencari metode yang lebih baik. Akuisisi orthofoto menghasilkan kualitas data pemodelan yang lebih baik dibandingkan dengan hasil akuisisi oblique foto. Hasil perhitungan uji planimetrik, orthofoto memiliki nilai RMSE (root mean square error) sebesar 1,127 m dengan nilai rata-rata sebesar 1,271 m. Hasil perhitungan RMSE foto oblique sebesar 1,363 m dengan nilai rata-rata sebesar 3,175 m. Hasil uji akurasi tinggi, orthofoto memiliki RMSE sebesar 1,997 m dan oblique foto memiliki RMSE sebesar 4,247 m.Kata Kunci: Fotogrametri,  Pemodelan tiga dimensi, Pix4Dmapper, UAV   ABSTRACTThree-dimensional modeling is method that has been grown in recent years in describing the entire object. The benefits of this method is to reconstruct buildings that have been damaged due to an accident or natural disaster. To form a three-dimensional modeling requires some aerial photo data that overlaps at least 60% and sidelap at least 30%. In this study, researchers used DJI Phantom 4 and used two methods of capturing aerial photographs, vertical (ortho) and oblique. The slope of the aerial photograph will use 45º. Both methods will be processed using Pix4Dmapper software using GCP and ICP data. Then it will be tested with altitude accuracy test and planimetric test to find a better method. In results, orthophoto acquisition results in better data modeling quality compared to the results of the oblique photo acquisition. In the planimetric test calculation, orthophoto has a RMSE of 1.127 m with an average value of 1.277 m. For oblique photos, the RMSE calculation result is 1.363 with an average value of 3.175 m. In the high accuracy test, orthophoto has a RMSE of 1.997 m and oblique photos have a RMSE of 4.247 m.Keywords: Photogrammetry, Pix4Dmapper, Three-dimensional modeling, UAV
ANALISIS PENGUKURAN METODE RAPID STATIC DENGAN SINGLE BASE DAN MULTI BASE (STUDI KASUS: TITIK GEOID GEOMETRI DI KOTA SEMARANG) ORY ANDRIAN APSANDI; Bambang Darmo Yuwono; L M Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.254 KB)

Abstract

Pengukuran GNSS pada saat ini sudah mengalami perkembangan yang pesat. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan penentuan posisi secara teliti dan cepat. Pengamatan GNSS dapat digunakan untuk melakukan pengukuran bidang tanah, gcp, dan pengukuran titik orde 1 sampai 3. Untuk memenuhi kebutuhan pengukuran posisi yang semakin berkembang, diperlukan efektifitas dalam penentuan posisi, yaitu dengan mempersingkat waktu pengamatan. Metode rapid static dapat dilakukakan untuk menghemat waktu dan biaya dengan ketelitian yang dihasilkan mencapai milimeter. Untuk mencapai ketelitian milimeter diperlukan titik kontrol unutuk melakukan proses post-processing.  Penelitian ini adalah pengukuran GNSS metode rapid static dengan single base dan multi base. Pengukuran dilakukan pada 20 titik geoid dan geometri di Kota Semarang. Titik kontrol yang digunakan dalam pengukuran ini adalah GRAV11, CORS BIG Kota Semarang, dan CORS Universitas Diponegoro. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan hasil pengukuran rapid static 20 menit dan satu jam, serta perbandingan hasil pengolahan pada sampling rate satu detik, lima detik, 15 detik, dan 30 detik. Pengolahan dilakukan secara post –processing dengan single base dan multi base. Pengukuran rapid static dengan menggunakan receiver yang menerima sinyal dari satelit GPS dan GLONASS dengan lama pengamatan 1 jam pada panjang baseline 0-13,5 km dan nilai PDOP <10 menghasilkan nilai simpangan baku horizontal sebesar 0,002-0,020 meter, dan nilai simpangan baku vertikal sebesar 0,004-0,026 meter. Pengukuran rapid static dengan menggunakan receiver yang menerima sinyal dari satelit GPS dan GLONASS dengan lama pengamatan 1 jam pada multi base (GRAV11, CSEM, dan UDIP) menghasilkan nilai simpangan baku horizontal sebesar 0,002-0,010 meter dan nilai simpangan baku vertikal sebesar 0,003-0,017 meter. Nilai simpangan baku horizontal pada pengukuran rapid static 20 menit pada multi base sebesar 0,002-0,092 meter dan nilai simpangan baku vertikal sebesar 0,002-0,96 meter. Pengukuran rapid static multibase menghasilkan nilai presisi yang lebih bak dibandingkan dengan single base.
SISTEM INFORMASI FASILITAS KESEHATAN DAN PENUNJANGNYA BERBASIS SIG DAN CARRYMAP (STUDI KASUS KABUPATEN BOYOLALI, JAWA TENGAH) Try Jokosantoso; Bambang Sudarsono; LM Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.547 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Boyolali terdiri atas 19 kecamatan dan 267 desa/kelurahan merupakan salah satu dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah dengan jumlah penduduk ± 974.579 jiwa pada tahun 2017 (BPS Kabupaten Boyolali) dan luas wilayah ± 101.510,20 Ha (www.boyolali.go.id). Kebutuhan pelayanan kesehatan khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah sangat dibutuhkan apalagi dengan jumlah penduduk Kabupaten Boyolali yang cukup besar sehingga perlu diperhatikan oleh instansi atau dinas terkait.Persebaran sarana fasilitas kesehatan di Kabupaten Boyolali masih tersebar di pelosok daerah sehingga jarang diketahui oleh masyarakat baik masyarakat setempat maupun luar daerah tersebut. Hal tersebut berakibat masih sulitnya memperoleh informasi fasilitas kesehatan yang lebih mendukung selain yang terdapat di daerah masing-masing. Peran teknologi saat ini memungkinkan masyarakat dalam mengakses internet, namun untuk beberapa daerah masih terkendala dalam memperoleh konektivitas yang lancar.Berdasarkan uraian yang telah disebutkan sebelumnya, melatarbelakangi penulis dalam membuat sebuah aplikasi informasi sebaran fasilitas kesehatan di Kabupaten Boyolali yang bisa diakses walaupun tanpa konetivitas internet menggunakan aplikasi CarryMap.Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan metode buffer untuk seluruh fasilitas puskesmas dapat melayani sebanyak 89 % dari jumlah penduduk Kabupaten Boyolali sehingga masih perlu ditingkatkan sebanyak 11 %. Seluruh fasilitas klinik dapat melayani 36 % dari jumlah penduduk Kabupaten Boyolali sehingga perlu ditingkatkan lagi sebanyak 64 %, namun untuk seluruh rumah sakit sudah melayani 100%  untuk cakupan satu kabupaten. Hasil dari aplikasi yang dibuat menggunakan aplikasi CarryMap dapat dijalankan pada platform desktop pc dan smartphone. Ketelitian presisi dari aplikasi adalah 2,015 meter. Uji usability didasarkan dari hasil penyebaran kuesioner dengan jumlah responden sebanyak 20 orang. Hasil uji usability tersebut antara lain komponen efektifitas dengan nilai 85, komponen efisiensi dengan nilai 80, dan komponen kepuasan dengan nilai 79,5.Kata Kunci : CarryMap, Fasilitas Kesehatan, Kabupaten Boyolali  ABSTRACTBoyolali Regency consists of 19 sub-districts and 267 villages is one of 35 regencies / cities in Central Java with a population of ± 974,579 inhabitants in 2017 (BPS Boyolali Regency) and an area of ± 101,510.20 Ha (www.boyolali.go .id). The need for health services, especially for the middle to lower class is very much needed especially with the population of Boyolali Regency which is large enough so that it needs to be considered by the relevant agencies or agenciesThe distribution of health facilities in Boyolali Regency is still scattered in remote areas so that it is rarely known by the community both local and outside the area. This results in the difficulty of obtaining information on health facilities that are more supportive than those found in their respective regions. The current role of technology enables the public to access the internet, but in some areas it is still constrained in obtaining smooth connectivity.Based on the description previously mentioned, the background of the author in making an information application of the distribution of health facilities in Boyolali Regency that can be accessed even without internet connectivity using the CarryMap application. Based on the analysis conducted by the buffer method for all puskesmas facilities, it can serve as much as 89% of the population of Boyolali Regency so that it still needs to be increased by 11%. All clinical facilities can serve 36% of the population of Boyolali District so that it needs to be increased again by 64%, but for all hospitals already serving 100% for the coverage of one district. The results of applications created using the CarryMap application can be run on desktop pc and smartphone platforms. The precision of application precision is 2,015 meters. Usability test is based on the results of the distribution of questionnaires with the number of respondents as many as 20 people. The usability test results include an effectiveness component with a value of 85, an efficiency component with a value of 80, and a satisfaction component with a value of 79.5.
GENERATING BOUGUER ANOMALY MAP FROM AIRBORNE GRAVITY DATA (A CASE STUDY IN SOUTH EAST SULAWESI) Laode M Sabri; Bambang Sudarsono; Jamal Jamal; Sonny Mawardi
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 3, No 02 (2020): Volume 03 Issue 02 Year 2020
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/elipsoida.2020.9213

Abstract

Terrestrial measurements can provide accurate gravity data, but it is costly and time-consuming for large and remote area. Airborne gravity measurements have actually been carried out in Indonesia since 2008 by Technical University of Denmark (DTU) in collaboration with the Geospatial Information Agency (BIG). Purpose of the project was to develop a geoid model used for converting elevations from GPS/GNSS measurements that refers to ellipsoid to orthometric elevations that refer to sea level. The data can actually be explored so that it can be used for geophysical and other geoscience purposes, but the data must be carefully treated and extracted into observational gravity data. This study aims to improve the accuracy of gravity airborne data to produce an accurate complete Bouguer anomaly map. The data used in this study were airborne gravity data over Province of Southeast Sulawesi collected on September 29, 2008 to October 1, 2008.  Variation in flight height at the time of consecutive data introduced new horizontal acceleration vector. It must be treated as a noise in the measurement of gravity data. The first stage of processing was to eliminate noise due to aircraft acceleration. Gravity data measured in aircraft conditions accelerating more than 5 m.s-2 were eliminated. In this stage, the gravity data were reduced from 64481 observation points to 4900 observation points. The second stage of processing was low pass filtering to eliminate the remaining surges in gravity data. Airborne gravity data that have been snooped and filtered were then applied to calculate the complete Bouguer anomaly. Visually, a complete Bouguer anomaly map through the enhancement process produced a finer map compared to maps from airborne gravity data without enhancement. Comparison of airborne Bouguer anomaly map and terrestrial Bouguer anomaly maps of Kendari sheet showed a correlation of more than 83%. The conclusion of this study was that the enhancement of the airborne data significantly increases the accuracy and reliability of the airborne gravity data for generating a complete bouguer anomaly map. The results of this study also indicated that the airborne archive data has the potential to be used for geophysical and geosciences purposes in Southeast Sulawesi and Indonesia.
PENGUKURAN LUAS METODE TERESTRIS MENGGUNAKAN ALAT UKUR GPS DAN METODE FOTOGRAMETRI MENGGUNAKAN FOTO UDARA UAV DI KOLAM RETENSI MUKTIHARJO KIDUL SEMARANG Bambang Sudarsono; L M Sabri; Tjiong Susilo Dinoto
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 3, No 02 (2020): Volume 03 Issue 02 Year 2020
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/elipsoida.2020.9312

Abstract

Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah yang perkembangan kotanya sangat pesat. Selain itu Semarang juga merupakan pusat perdagangan dan bisnis, pusat pendidikan dan lain-lain. Di sisi lain karena kepadatan penduduknya tinggi, maka timbul berbagai masalah antara lain terdapat kawasan kumuh, kawasan terdampak genangan banjir air pasang (rob)  dan lain-lain. Kemudian untuk menanggulangi banjir Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah secara bersama-sama melakukan berbagai pembangunan prasarana fisik antara lain membangun Kolam Retensi yang terletak di wilayah Muktiharjo Kidul. Tujuan pembangunan Kolam Retensi adalah untuk menampung air ketika terjadi hujan besar di sekitar Muktiharjo Kidul, sehingga diharapkan dapat mengurangi banjir di sekitar wilayah kolam retensi. Pembangunan Kolam Retensi Muktiharjo Kidul sangat penting, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian luas area yang akan digunakan untuk menghitung kemampuan daya tampung volume kolam retensi. Pengukuran luas dilakukan dengan metode terestris menggunakan alat ukur GPS dan metode fotogrametri menggunakan foto udara UAV. Data hasil perhitungan luas Kolam Retensi dapat digunakan untuk keperluan evaluasi terhadap pembangunan Kolam Retensi Muktiharjo Kidul. Dari hasil pengukuran menggunakan alat ukur GPS metode RTK luas Kolam Retensi sebesar 53.198 m2 , sedangkan dari hasil pengukuran dengan menggunakan data foto udara UAV diperoleh luas sebesar 53.196 m2. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, maka pengukuran luas menggunakan foto udara UAV hasilnya cukup bagus dan mendekati pengukuran dengan alat ukur GPS