Claim Missing Document
Check
Articles

Climate Sensitive Urban Design pada Kawasan Pecinan Kota Semarang Rina Kurniati; Wakhidah Kurniawati; Diah Intan Kusumo Dewi; Talitha Zuleika Islamey
TATALOKA Vol 22, No 4 (2020): Volume 22 No. 4, November 2020
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.22.4.663-675

Abstract

The Chinatown area is a historic area that has a high building density and has a grid-shaped pattern due to its function as trade and services. The various designations of the area function so that the high activity is carried out outside the room, especially on weekends. This study aims to provide direction for environmental management in the Chinatown area of Semarang City as an effort to mitigate climate change disasters with the concept of Climate Sensitive Urban Design. Data obtained by field observations then identified the Building Coverage Ratio (BCR) and floor area Ratio (FAR). Measurement of air temperature, wind speed and humidity is carried out in the morning, afternoon and evening. Simulated data using ArcGis 10.3 to test the thermal comfort. Based on that, the Chinatown is classified as Uncomfortable area more than 27 ° C. The microclimate of the Chinatown area is influenced by landuse, building, and the frequency of traffic. So the concept of the climate sensitive urban design is suitable for the Chinatown area with optimization of the potted plants, hanging plants on the canopy, vine vegetation on walls and use public transportation modes to the area.
UPAYA PELESTARIAN KAMPUNG KAUMAN SEMARANG SEBAGAI KAWASAN WISATA BUDAYA Kartika Yuliana K; Rina Kurniati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1372.396 KB)

Abstract

Kawasan bersejarah merupakan suatu kawasan yang didalamnya terdapat berbagai peninggalan masa lampau dan membentuk suatu kota, baik berupa fisik historis maupun berupa nilai dan pola hidup masyarakatnya, serta kepercayaanya. Kauman merupakan salah satu cikal bakal pertumbuhan Kota Semarang. Dahulu kampung Kauman merupakan kampung para santri, kini telah mengalami perubahan menjadi kawasan perdagangan dan jasa dan semakin lama unsur hitoris dari Kauman hilang dan tergantikan oleh unsur modern. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan pelestarian pada Kampung Kauman Semarang sebagai kawasan wisata budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui pendekatan kualitatif yang berupa metode analisis deskriptif kualitatif untuk menggambarkan karakteristik kampung kauman dan sosial budaya masyarakat kampung Kauman yang akan dikaji lebih lanjut. Hasil dari penelitan ini yang berdasarkan dari analisis yang sudah dilakukan, diketahui bahwa kawasan Kampung Kauman beralih fungsi menjadi kawasan perdagangan dan jasa, yang dahulunya merupakan kawasan permukiman. Bangunan tradisional yang ada di permukiman sudah mulai berubah seiring dengan banyaknya pendatang yang datang dan memilih untuk membangun bangunan yang modern. Namun, ciri khas yang masih melekat pada Kauman ini adalah Masjid Besar Kauman yang menjadi pusat kegiatan keagamaan di Kauman maupun Kota Semarang. Masjid ini adalah satu-satunya bangunan yang kokoh berdiri dan merupakan peninggalan sejarah Kampung Kauman. Walaupun seperti itu, kegiatan sosial budaya di Kauman seperti dugderan masih dilakukan sampai sekarang dan kegiatan keagaman yang masih sangat kental di kampung ini. Dari analisis-analisis sebelumnya akan menghasilkan konsep keberlanjutan untuk Kampung Kauman agar tetap menjadi kampung kota bersejarah bagi Semarang dan wisata budaya untuk Semarang.
Strategi Pengembangan Potensi Jayengan Kampung Permata Sebagai Kawasan Wisata Budaya di Surakarta Josephin Fenatama Angel; Rina Kurniati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 10, No 3 (2021): Agustus 2021
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Jayengan was formed in the early 19th century, when the royal family asked the jewelers from Martapura to come to Surakarta. Craftsmen were asked to make jewelry for the royal family in collaboration with Chinese ethnic gold entrepreneurs. They settled and married with local residents, so that cultural events took place such as the distribution of ‘Samin’ porridge and "Jarwana" cultural parade”. The Surakarta government established Jayengan as a creative economy industrial area. Constraints that occur: lack of tourism promotion, cultural events only once a year, lack of availability of raw materials, lack of internal support, competition with other industries. The purpose of the research is to make the strategy of tourism development. The study was conducted with interviews and questionnaires to identify activities, authentic values and tourist infrastructure. The identification results are made into a questionnaire variable and then processed into an External Internal Matrix (IE). IE Matrix for Jayengan readiness in cell I, handicraft products in cell IV. It can be concluded that the right strategy is Grow and Build with the development of tourist activities, authentic values and tourist infrastructure. The benefits of this study provide direction in developing strategies for urban villages as tourist destination.
Kajian Perkembangan Penggunaan Lahan Akibat Perkembangan Aktivitas Industri di Kota Parakan Pratiwi Dwi Lestari; Rina Kurniati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 9, No 2 (2020): Mei 2020
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.371 KB)

Abstract

Parakan is a small town of the old kadipaten menoreh in Dutch colonialism, which is having a strategic location, where the line between jogyakarta's line and the northern coast line of java island and also between line of semarang and purwakarta, made parakan became the centre of market for food and tobacco trade from ancient times until now. In 2008, Parakan experienced in structural changes in addition to change the economic structures. The conversion in parakan from 2005-2017 also increased because of industrial development. The presence of industrial growth certainly affects the change in the characteristic of parakan. The method of analysis that used is a qualitative method analysis with qualitative descriptive and overlay map analysis techniques using arcgis software 10.4. Based on the analysis development of the cities, from the 2005 and 2017, have a tendency to change, which the land functions have increased in the city from 1990 to 2017. The number of parakan city settlements in 1990 was 202.64 ha and then increased to 259.97 in 2005 and 311,57 in 2017. Therefore, this study deals with the impact of  the development of industrial activities on its use.
Tipologi Zona Desa-Kota dengan Pendekatan Transek di Lasem , Kabupaten Rembang Laras Sita Permata Puri; Rina Kurniati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lasem is the one of sub-district capital in Rembang regency which is developing in a strategic location because it is traversed by regional transportation route, Pantura Route. It affects on land use conversion and the pattern of physical development that spreads along the regional route so as it forms the physical characteristic of Lasem. The phenomenon is indicated by the crisis of urban form dan urban sprawl in Lasem. Transect planning is an approach which aims to create an immersive environment and integrate rural-to-urban continuum by promoting sustainable urban form and providing the logical pattern of  development from rural-to-urban, vice versa. This article aims to identify the transect from rural-to-urban continuum in Lasem by identify elements of urban form such as density, land use, building function, building layout (height building configuration), and transportation infrastructure. This research is analysed by scoring process and spatial analysis based on GIS, so that it results the transect from rural-to-urban in Lasem is discrete because the elements of urban form are diverse and complex. The research is expected can  provide recommendations to the Government in controlling spatial uses in Lasem which accordances to the intensity of the location (rural or urban).
KAJIAN PERKEMBANGAN KARAKTERISTIK AKIVITAS PERDAGANGAN DI KORIDOR KAUMAN KOTA SEMARANG Priyanto Wisnu W; Rina Kurniati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (918.666 KB)

Abstract

Kampung Kauman sebagai salah satu kampung kota yang memiliki sejarah di kota Semarang telah mengalami perkembangan yang pesat, hal ini dapat dilihat dari adanya jumlah bangunan fisik yang menyebabkan adanya suatu pola ruang dan aktivitas yang ditimbulkan, seperti pada kawasan Kampung Kauman yang sebagian besar tumbuh dalam suatu kawasan ditengah kota yang menimbulkan berbagai aktivitas didalamnya. Aktivitas yang timbul pun sangat beragam, salah satunya adalah aktivitas perdagangan. Layaknya di kampung Pecinan, di Kampung Kauman terdapat pula beberapa jenis aktivitas perdagangan yang sudah ada sejak lama, keadaan ini diperjelas dengan adanya jenis aktivitas perdagangan yang merupakan kegiatan usaha keluarga yang sudah menjadi turun temurun sejak lama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali, mengumpulkan serta mengidentifikasi permasalahan yang ada serta merumuskan permasalahan tersebut untuk memperoleh solusi yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan Ruang Pedestrian pada Lahan Privat Kawasan Kampung Kauman. Hasil analisis yang telah dilakukan terhadap 3 variabel yang meliputi variabel perkembangan kampung Kauman sebagai embrio kota Semarang, variabel karakteristik kawasan secara fisik, menggunakan beberapa analisis dalam teori perancangan kota, dan variabel non fisik yang meliputi karakteristik aktivitas masyarakat koridor Kauman secara khusus dan kawasan kampung Kauman secara umum dan kampung Kauman sebagai kampung Islam di kota Semarang. Dalam proses analsis yang dilakukan penulis menemukan beberapa karakteristik seperti perkembangan kampung Kauman merupakan embrio dan cikal bakal kota Semarang dan perkembangan aktivitas perdagangannya masih turun temurun dari keluarga. Karakteristik fisik dan non fisik kawasan ditentukan dengan adanya Masjid Agung Kauman sebagai poros maupun pusat dari keteraturan bangunan dan aktivitas masyarakat Kauman. Karakteristik lain dari kampung Kauman adalah sebagai kampung santri atau kampung Islam dengan budaya perkembangan dan penyebaran agama Islam yang masih begitu kental didalamnya serta didukung oleh beberapa karakteristik fisik dan non fisik yang berhubungan erat dengan agama Islam yang ada di kampung Kauman kota Semarang.
KEGIATAN KOPI SEMAWIS PADA RUANG PUBLIK DI KAWASAN PECINAN SEMARANG Y. Wiwik; Rina Kurniati
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1067.737 KB)

Abstract

Kawasan Pecinan merupakan salah satu kawasan bersejarah di Kota Semarang yang memiliki sejarah panjang dengan tradisi yang telah berkembang dan dilakukan secara turun temurun. Sebagian besar dari tradisi tersebut masih dijalankan, hal ini membuktikan bahwa Kawasan Pecinan merupakan kawasan yang kaya akan Living Heritage (Suara Merdeka, 4 Februari 2005). Oleh karena itu diperlukan adanya pelestarian budaya supaya keberadaan Pecinan tidak hilang. Hal ini menarik perhatian beberapa pihak untuk lebih mengembangkan kawasan Pecinan seperti kelompok Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata). Kelompok ini berusaha untuk melakukan revitalisasi terhadap kawasan Pecinan. Revitalisasi ini dilakukan dengan melakukan berbagai macam kegiatan dan kegiatan ini dilakukan diruang publik. Hal ini ternyata menimbulkan dampak atau permasalahan. Permasalahan-permasalahan yang timbul dari adanya kegiatan Kopi Semawis yang berdampak pada aktivitas masyarakat ini perlu dikaji lebih lanjut. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mengetahui apa persepsi dan preferensi masyarakat  terhadap kegiatan-kegiatan Kopi Semawis di kawasan Pecinan, pemanfaatan ruang publik dan kegiatan Kopi Semawis diruang publik. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dan distribusi frekuensi. Nantinya metode tersebut digunakan sebagai alat untuk mengetahui preferensi masyarakat terkait dengan pemanfaatan ruang publik sebagai lokasi kegiatan. Adapun hasil dari analisis ini adalah: peningkatan partisipasi masyarakat dan perbaikan manajemen pelaksanaan kegiatan kopi semawis; perbaikan kondisi sarana prasarana; perbaikan dan penambahan elemen pendukung seperti papan penunjuk arah serta lampu jalan; pemaksimalan penggunaan ruang publik dikawasan Pecinan dengan melakukan pengaturan lalu lintas, penyediaan lahan parkir, penataan PKL dan pengoptimalan kawasan waterfront.
PERUBAHAN POLA RUANG HUNIAN AKIBAT DARI KEGIATAN KOMERSIAL DI KAWASAN PECINAN KOTA SEMARANG Febri Ratno Erlambang; Rina Kurniati
Ruang Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.162 KB)

Abstract

Abstrak: Kawasan Pecinan merupakan area permukiman bagi masyarakat etnik China yang berada di Kota Semarang. Kegiatan yang dominan di Kawasan Pecinan adalah kegiatan komersial. Masyarakat etnik China sangat identik dengan penggunaan bangunan rumah-toko sebagai kegiatan komersial sekaligus tempat tinggal. Hunian yang berada di lantai dua dan bergabung dengan aktivitas komersial di lantai satu menjadi ciri khas bangunan yang terdapat di Kawasan Pecinan. Perkembangan saat ini memperlihatkan kegiatan komersial sudah berkembang seiring dalam memenuhi kebutuhan masyarakat kota. Perubahan ruang-ruang yang dulunya tidak digunakan sebagai kegiatan komersial sekarang telah berubah menjadi kegiatan komersial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan pada ruang hunian yang diakibatkan dari kegiatan komersial yang terjadi di Kawasan  Pecinan sekarang ini. Kegiatan yang dilakukan oleh penghuni yang menempati ruang sebagai tempat tinggal dan tempat usaha menjadikan permasalahan yang menarik sebagai obyek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif serta overlay peta. Hasil yang diperoleh dari penelitian tentang perubahan pola ruang hunian akibat dari kegiatan komersial yaitu perubahan NJOP yang makin meningkat dari tahun ke tahun sehingga mempengaruhi nilai PBB juga tinggi yang menyebabkan dulunya ruang-ruang hunian berubah fungsi menjadi bangunan komersial, perkembangan ruang-ruang kegiatan komersial merubah bentuk dalam bangunan di 5 gang yang menjadi wilayah studi yaitu Gang Beteng, Gang Warung, Gang Pinggir, Gang Wotgandul Timur dan Gang Baru.Kata Kunci : Pola Ruang, Ruang Privat, Kegiatan Komersial, Kawasan PecinanAbstract: Chinatown is the settlement local area for the Chinese ethnic in Semarang. The dominant activity in Chinatown is a commercial activity. The Chinese people are synonymous by using the house-market buildings as a place commercial activity and also a home stay. The dwelling located in the second floor which joined the commercial activity in the first floor is typical building located in Chinatown. The current development showed commercial activity has been grown into completing of urban society. Traditionally, the changing of many spaces which did not use anymore as commercial activity has been turned into a commercial activity. This study is purposing to determine the changing of residential space  pattern resulted by commercial activities in Chinatown Area, Semarang lately. The activities undertaken by the residents who occupied the space as a residence and business place and it became interested problem as a research object. This research was conducted by using qualitative and descriptive qualitative analysis aspect as well as a map overlay. Lastly, the research results in the changing of residential space pattern resulted by commercial activities NJOP values are increasing each year, so that affect the value of PBB also lead to high occupancy spaces once converted into commercial buildings, the development of commercial activity spaces change shape of the building in the alley into five study areas are Gang Beteng, Gang Warung, Gang Pinggir, Gang Wotgandul Timur and Gang Baru.Keywords: Pattern Space, Privat Space, Commercial Activity, Chinatown Area
Konservasi Tamansari Yogyakarta Pasca Gempa Rina Kurniati
Ruang Vol 2, No 2 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.366 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.2.581-590

Abstract

Dewasa ini banyak kota-kota besar di Indonesia merencanakan kota baru. Adanya kota baru tersebut seringkali mengesampingkan perhatian terhadap kota-kota lama yang menjadi embrio awal perkembangan suatu kota. Oleh karena itu konservasi/pelestarian sangat dibutuhkan dalam mempertahankan dan melestarikan ciri khas dari kota tersebut. Kota Yogyakarta masih sangat kental dengan kebudayaan asli Jawa. Seni dan budaya merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Disamping tradisi yang kental dengan budaya masyarakat Yogyakarta, disana juga terdapat bangunan-bangunan kuno yang menjadi simbol kebudayaan terdahulu. Salah satu obyek wisata yang memiliki nilai historis yang cukup tinggi adalah Tamansari (Water Castle). Gempa yang terjadi di Yogyakarta menyebabkan sebagian bangunan Tamansari mengalami kerusakan, selain itu perkembangan aktivitas di sekitar kawasan juga mempengaruhi kondisi kompleks Tamansari. Hal inilah diperlukan penanganan konservasi dan pengendalian lingkungan sekitar agar tidak merusak kawasan bangunan bersejarah ini. Upaya konservasi mulai dari proses tahapan konservasi, teknis pelaksanaan konservasi dan peran stakeholder yang terlibat dalam upaya konservasi ini sangat penting untuk keberlanjutan kompleks Tamansari dan lingkungan sekitar kawasan. 
Rumusan Kebijakan Penataan Reklame di Kota Semarang Rina Kurniati; Muhammad Fajri Nugraha
Ruang Vol 5, No 1 (2019): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.729 KB) | DOI: 10.14710/ruang.5.1.32-42

Abstract

The rapid growth of billboards that are used as a medium of communication and marketing of products and services, one of which is caused by increasing community needs and development of technology & information. The rapid growth must be responded to well by the Semarang City Government so that strategic points for regional income can be maximized while maximizing spatial planning efforts in Semarang City. Based on this, the research itself aims to formulate a billboard structuring policy in the city of Semarang by using a qualitative descriptive method. The formulation efforts were carried out through several analysis points which resulted in each building function and land use affecting the provisions relating to billboards and the development of advertisement plots on private land to be controlled because they were related to environmental aesthetics, road benefits and road space could also be used for advertising and information media provided that they get permission from the road organizer according to their authority.