Penyediaan energi listrik yang memadai dan tepat sasaran menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan pembangunan daerah, baik sektor industri, pelayanan publik, bisnis, maupun peningkatan kualitas hidup masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memproyeksikan kebutuhan beban energi listrik di Kabupaten Lombok Timur menggunakan perangkat lunak LEAP (Long-range Energy Alternatives Planning System) dengan pendekatan permodelan end-use. Metode yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan pemodelan pada aplikasi LEAP dengan mempertimbangkan dua skenario, yaitu skenario baseline dan skenario 1. Skenario baseline merupakan kondisi masa depan berdasarkan kecenderungan yang sudah terjadi, sedangkan skenario 1 merupakan skenario alternatif dengan menon-aktifkan PLTD Paokmotong. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa permintaan energi listrik Kabupaten Lombok Timur pada tahun 2035 untuk skenario baseline sebesar 98.109.736.388 MWh dan skenario 1 sebesar 93.609.274.785 MWh. Sektor rumah tangga menjadi sektor permintaan energi listrik yang dominan di setiap skenario. Pada skenario baseline, PLTD Paokmotong memiliki total pengeluaran bahan bakar tertinggi selama 13 tahun sebesar 212.868 MWh, sedangkan pada skenario 1, setelah menon-aktifkan PLTD Paokmotong, pengeluaran bahan bakar pembangkit terbanyak dihasilkan dari PLTS. Penelitian ini memberikan gambaran tentang proyeksi kebutuhan energi listrik di Kabupaten Lombok Timur dan membandingkan dampak dari skenario baseline dengan skenario alternatif yang menon-aktifkan PLTD Paokmotong terhadap permintaan energi listrik dan pengeluaran bahan bakar pembangkit