Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Tercapainya Remisi pada Anak Penderita Leukemia Limfoblastik Akut Pojoh, Venita S.; Mantik, Max F. J.; Manoppo, Jeanette I. Ch.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27186

Abstract

Abstract: Acute lymphoblastic leukemia (LLA) is the most common type of leukemia in children. Until now chemotherapy is still used as the main treatment. One aspect that affects the success of chemotherapy is body mass index (BMI). BMI values in children with LLA tend to be unstable, low, or high. This is triggered by natural immune cell disorders which have an impact on increasing cytokines and side effects of treatment. This study was aimed to determine the relationship between BMI and the achievement of remission in children with ALL. This was a retrospective and analytical study with a cross-sectional design. Samples were ALL patients who had been given induction phase of chemotherapy during 2015-2018 based on medical records at Estella Children's Cancer Center, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results obtained 52 samples which were evaluated and analyzed to determine the relationship of BMI and the achievement of remission. The Spearman correlation test showed a significant value of p=0.799 (p>0.05). In conclusion, there was no relationship between BMI and the achievement of remission in children with ALLKeywords: body mass index, remission, acute lymphoblastic leukemia Abstrak: Leukemia limfoblastik akut (LLA) merupakan jenis leukemia yang paling sering terjadi pada anak-anak. Sampai saat ini kemoterapi masih dipakai sebagai pengobatan utama. Salah satu aspek yang memengaruhi keberhasilan kemoterapi yaitu indeks massa tubuh (IMT). Nilai IMT pada anak penderita LLA cenderung tidak stabil, bisa kurang tetapi juga lebih. Hal ini dipicu oleh gangguan sel imun alami yang dialami penderita kemudian berdampak terhadap peningkatan sitokin serta efek samping pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IMT dan tercapainya remisi pada anak penderita LLA. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien LLA yang telah diberikan kemoterapi fase induksi periode 2015-2018, didapatkan dari rekam medik di Pusat Kanker Anak Estella RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitin mendapatkan 52 sampel, kemudian dievaluasi dan dianalisis untuk melihat hubungan IMT dan tercapainya remisi pada sampel. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan nilai p=0,799 (p>0,05). Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan antara IMT dan tercapainya remisi pada anak penderita LLA.Kata kunci: Indeks massa tubuh, remisi, leukemia limfoblastik akut
Gambaran Hiperbilirubinemia pada Bayi Aterm dan Prematur di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado Rompis, Yulke R. Y.; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Wilar, Rocky
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.2.2019.25558

Abstract

Abstract: Hyperbilirubinemia is an increase of blood bilirubin level due to physiological or non-physiologic factors, which is clinically characterized by jaundice. In neonates, their livers have not worked optimally, therefore, the process of glucuronidation of bilirubin does not occur optimally. This situation causes the predominance of unconjugated bilirubin in the blood. This study was aimed to obtain the profile of neonatal hyperbilirubinemia cases in the Pediatrics Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. We used medical record data of neonatal hiperbilirubinemia in aterm and premature neonates at the Pediatrics Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital during 2014-2015. The results showed that there were 54 cases, consisted of 32 males (59.3%) and 22 females (40.7%). Among aterm neonates, mean direct bilirubin was 3.97 mg/dL; mean indirect bilirubin was 11.76 mg/dL; and mean total bilirubin was 15.69 mg/dL. Meanwhile, among premature neonates, mean direct bilirubin was 0.87 mg/dL; mean indirect bilirubin was 12.48 mg/dL; and mean total bilirubin was 13.35 mg/dL. In conclusion, at the Pediatrics Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado neonatal hyperbilirubinemia was more common in aterm neonates compared to premature neonates. Moreover, it is more common in males than in females.Keywords: hyperbilirubinemia, bilirubin, aterm meonates, premature neonates Abstrak: Hiperbilirubinemia ialah terjadinya peningkatan kadar bilirubin dalam darah, baik oleh faktor fisiologi maupun non-fisiologi, yang secara klinis ditandai dengan ikterus. Pada neonatus, hati belum berfungsi secara optimal sehingga proses glukuronidasi bilirubin tidak terjadi secara maksimal yang menyebabkan dominasi bilirubin tak terkonjugasi dalam darah. Penelitian in bertujuan untuk mendapatkan gambaran hiperbilirubinemia pada bayi aterm dan prematur di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Data penelitian diperoleh dari rekam medik kejadian hiperbilirubinemia pada bayi aterm dan prematur di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode 2014-2015. Hasil penelitian mendapatkan 54 kasus dengan diagnosis hiperbilirubinemia yang memenuhi kriteria inklusi penelitian, terdiri dari 32 pasien berjenis kelamin laki-laki (59,3%) dan 22 berjenis kelamin perempuan (40,7%). Pada bayi aterm, rerata bilirubin direk sebesar 3,97 mg/dL; rerata bilirubin indirek 11,76 mg/dL; dan rerata bilirubin total 15,69 mg/dL. Pada bayi prematur, rerata bilirubin direk sebesar 0,87 mg/dL; rerata bilirubin indirek 12,48 mg/dL; dan rerata bilirubin total 13,35 mg/dL. Simpulan penelitian ini ialah kasus hiperbilirubinemia di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado lebih sering pada bayi aterm dibandingkan bayi prematur, dan lebih sering pada jenis kelamin laki-laki.Kata kunci: hiperbilirubinemia, bilirubin, bayi aterm, bayi prematur
GAMBARAN GEJALA DAN TANDA KLINIS DIARE AKUT PADA ANAK KARENA BLASTOCYSTIS HOMINIS Aman, Mona C. U.; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Wilar, Rocky
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7483

Abstract

Abstract: This study aimed to obtain the description of symptoms and clinical signs of acute diarrhea in children because of Blastocystis hominis. This was a descriptive study with a cross-sectional retrospective design. Data were obtained from medical records of pediatric patients diagnosed as acute diarrhea due to Blastocystis hominis infection from January 2010 - September 2014 in Gastroenterology Children ward Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Data were clinical symptoms, vital signs, and nutritional status. There were 31 samples, 24 (77.4 %) males and 7 (22.6 %) females. Most children who suffered were in the age group 1-3 years as many as 18 (58.1 %) children. The most frequent clinical symptoms were diarrhea 29 (93.5 %) patients, fever 27 (87.1 %) patients, and vomiting 21 (67.7 %) patients. Conclusion: Children of acute diarrhea due to Blastocystishominis infection were most frequent in the age group 1-3 years, males, with clinical symptoms acute diarrhea, fever, and vomiting.Keywords: acute diarrhea, blastocystishominis, childrenAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran gejala dan tanda klinis diare akut pada anak karena Blastocystis hominis. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan pendekatan potong lintang. Data diperoleh dari rekam medik pasien anak dengan diagnosis diare akut karena infeksi Blastocystis hominis periode Januari 2010-September 2014 di Bangsal Gastroenterologi Anak Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Data berisi gejala klinis dan tanda vital serta status gizi. Sampel penelitian berjumlah 31 anak, 24 (77,4%) anak laki-laki dan 7 (22,6%) anak perempuan. Umur yang paling banyak menderita diare akut karena Blastocystis hominis yaitu 1 – 3 tahun sebanyak 18 (58,1%) anak. Gejala klinis yang paling sering muncul yaitu buang air besar cair sebanyak 29 (93,5%) pasien, demam sebanyak 27 (87,1%) pasien,dan muntah sebanyak 21 (67,7%) pasien. Tanda vital menunjukkan nilai normal. Simpulan: Anak diare akut karena infeksi Blastocystis hominis terbanyak pada kelompok umur 1 – 3 tahun. Anak diare akut karena infeksi Blastocystis hominis terbanyak pada jenis kelamin laki-laki. Gejala klinis yang ditemukan pada pasien diare akut karena infeksi Blastocystis hominis ialah buang air besar cair, demam dan muntah dengan tanda vital normal.Kata kunci: anak, blastocystishominis,diare, akut
HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DAN LINGKUNGAN DENGAN DIARE PADA ANAK BALITA DI DAERAH ALIRAN SUNGAI TONDANO Soentpiet, Marlina G. O.; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Wilar, Rocky
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i3.10157

Abstract

Abstract: Diarrhea is still a health problem in the world which can be seen from the high rates of morbidity and mortality due to diarrhea in children worldwide. In patients with diarrhea, nutrients needed by the body are excreted along with the occurence of body dehydration. Therefore, when a child under five years has diarrhea oftenly, then his/her growth can not be optimal. This was an analytical observational study with a cross sectional approach, conducted in Tondano Watershed during November to December 2014. Subjects were 70 children under five years old. Data were collected by using questionnaires and then were analyzed with the chi-square test. The results showed that there was no correlation between sociodemographic factors (education, occupation, and ages of the mothers), sources of drinking water, and house floors with the occurence of diarhhea (P > 0.05). However, there was a correlation between excreta disposal sites and the occurence of diarrhea (P = 0.003). Conclusion: There was a correlation between excreta disposal site with diarrhea in Tondano watershed and there was no correlation between the level of education, parents’ occupation, maternal age, source of drinking water, and the type of floor house and diarrhea.Keywords: diarrhea, children under five years, sociodemographic factors, environmental factorsAbstrak: Diare masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Masalah tersebut terlihat dari tingginya angka morbiditas dan mortalitas akibat diare pada anak di seluruh dunia. Pada penderita diare, zat-zat makanan yang masih diperlukan tubuh terbuang bersamaan dengan dehidrasi. Oleh karena itu, bila anak balita sering mengalami diare, maka pertumbuhannya tidak akan berlangsung secara optimal. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan potong lintang, dilakukan di Daerah Aliran Sungai Tondano selama bulan November-Desember 2014. Subyek penelitian sebanyak 70 orang anak. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, dan data dianalisis dengan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara faktor sosiodemografi yang meliputi tingkat pendidikan ibu (p=0,146), jenis pekerjaan ibu (p= 0,089), dan umur ibu (p=0,053). Untuk faktor lingkungan yang meliputi sumber air minum (p=0,349) tidak berhubungan, jenis tempat pembuangan tinja (p= 0,003) berhubungan, dan jenis lantai rumah (p=0,264) tidak berhubungan. Simpulan: Terdapat hubungan antara tempat pembuangan tinja dengan diare di Daerah Aliran Sungai Tondano dan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan, pekerjaan orang tua, usia ibu, sumber air minum dan jenis lantai rumah dengan diare.Kata kunci: diare, anak balita, faktor sosiodemografi, faktor lingkungan
Gambaran Fungsi Hati pada Sepsis Neonatorum di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Lorencia, .; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Umboh, Valentine
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27188

Abstract

Abstract: Neonatal sepsis is a clinical syndrome that consists of nonspecific symptoms and infection signs, occuring with bacteremia in the first 28 days of life. SGOT and SGPT abnormalities as well as hypoalbuminemia can be found in neonatal sepsis patients. This study was aimed to obtain the overview of liver function especially SGOT, SGPT and albumin in neonatal sepsis patients at NICU of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. This was a retrospective and descriptive study. Data were obtained from the patients’ medical records. The results showed that the percentage of sepsis patients that had mild increased SGOT level was 47.9%. Meanwhile, the SGPT level was more often normal (81.7%). Hypoalbuminemia was found in 54 patients (76.1%), more frequent in male infants (80.9%). Increased SGOT and SGPT levels were more frequent in male infants; 51.1% for mild increased SGOT and 12.8% for mild increased SGPT. In conclusion, among neonatal sepsis increased SGOT levels were more often in mild form meanwhile increased SGPT levels were rare. Increased SGOT and SGPT levels and decreased albumin levels were more common among male infants.Keywords: SGOT, SGPT, albumin, neonatal sepsis Abstrak: Sepsis neonatorum merupakan sindroma klinis yang terdiri dari gejala-gejala nonspesifik dan tanda-tanda infeksi, terjadi bersamaan dengan bakteremia pada 28 hari pertama kehidupan. Abnormalitas SGOT dan SGPT serta hipoalbuminemia dapat ditemukan pada pasien sepsis neonatorum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi hati secara khusus SGOT, SGPT, dan albumin pada pasien sepsis neonatorum di NICU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medik pasien sepsis neonatorum. Hasil penelitian mendapatkan persentase pasien sepsis yang mengalami peningkatan ringan kadar SGOT sebesar 47,9%. Kadar SGPT lebih sering ditemukan normal (81,7%). Hipoalbuminemia dijumpai pada 54 pasien (76,1%), lebih sering pada bayi laki-laki (80,9%). Peningkatan SGOT dan SGPT berdasarkan jenis kelamin lebih sering pada bayi laki-laki dan dalam bentuk peningkatan ringan yaitu sebesar 51,1% untuk SGOT dan 12,8% untuk SGPT. Simpulan penelitian ini ialah pada pasien sepsis neonatorum peningkatan kadar SGOT paling sering dalam bentuk peningkatan ringan sedangkan peningkatan kadar SGPT jarang didapatkan. Peningkatan ringan SGOT dan SGPT serta penurunan albumin lebih sering dijumpai pada bayi laki-laki.Kata kunci: SGOT, SGPT, albumin, sepsis neonatorum
Hubungan Stunting dengan Prestasi Belajar Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Tikala Manado Gunawan, Gregorius; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Wilar, Rocky
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.2.2018.22128

Abstract

Abstract: Stunting is a condition where height is not in accordance with age. It is due to chronic malnutrition which causes nonoptimal brain development that can affect children’s cognitive development, performance at school, and learning ability, as well as consequently influences learning achievement at school. This study was aimed to identify the correlation between stunting and learning achievement of elementary school students at Tikala Manado. This was an analytical study with a cross sectional design. Respondents were elementary school students at Tikala Manado aged 7-13 years that had their average grades. Data were analyzed by using unpaired T-test. The results showed that there were 232 students as respondents. Stunting was found in 103 students (44%) and not stunting in 129 students (56%). The average grade of stunting students was 67.16 and of not stunting students was 68.53. Statistical analysis showed that there was no significant difference between the average student grade in stunting students and not stunting students (P=0.215; α=0.05). Conclusion: There was no significant correlation between stunting and learning achievementKeywords: stunting, learning achievement Abstrak: Stunting merupakan keadaan dimana tinggi badan tidak sesusai dengan usia. Hal ini dapat menyebabkan perkembangan otak tidak optimal sehingga berpengaruh pada perkem-bangan kognitif dan performance anak di sekolah, serta kemampuan belajar, yang selanjutnya berpengaruh pada prestasi belajar anak di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stunting dan prestasi belajar pada siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Tikala Manado. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Responden ialah siswa sekolah dasar di Kecamatan Tikala Manado yang berusia 7-13 tahun dan rerata nilai rapor siswa. Analisis uji statistik yang digunakan ialah uji T-test tidak berpasangan. Hasil penelitian mendapatkan 232 siswa sebagai responden. Stunting didapatkan pada 103 siswa (44%) dan yang tidak stunting 129 siswa (56%). Rerata nilai rapor pada siswa stunting 67,16 dan yang tidak stunting 68,53. Hasil uji analisis menunjukkan tidak terdapat perbedaan rerata prestasi belajar antara siswa stunting dan tidak stunting (P=0,215; α=0,05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara stunting dan prestasi belajar.Kata kunci: stunting, prestasi belajar
ANGKA KEJADIAN DIARE PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE TAHUN 2011-2015 Latamu, Fatmawati; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Mantik, Max F. J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10999

Abstract

ABSTRACTBackground : Leukemia is a type of non-transmitted disease that cause death with a large number of cases, especially in children. Leukemia is the most common childhood cancer. Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) is approximately 75% of all cases. One of the main consequences of leukemia is inability of the immune system defending the body from the invasion of foreign objects. As a result of infection or bleeding is the most common cause of death in patient with leukemia. Diarrhea is one of the infections that can be found in children with Acute Lymphoblastic Leukemia. Diarrhea in children with Acute Lymphoblastic Leukemia can occur either from the disease itself or due to chemotherapy. The purpose of this study is to describe the incidence of diarrhea in children with acute lymphoblastic leukemia in Prof. R. D. Kandou Hospital Manado year period 2011-2015.Methods : This study is a descriptive retrospective, with cross sectional approach by collecting data medical records of pediatric patient with ALL in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado then describe the incidence of diarrhea. Samples were 60.Results : The result obtained 60 patients who met the inclusion criteria, and 17 patients had diarrhea. Diarrhea in children with ALL is more common in induction phase, and the duration of diarrhea more to less than 7 days (acute diarrhea).Conclusion : From this result, it can be concluded that the incidence of diarrhea in children with Acute Lymphoblastic Leukemia in Prof. DR. R. D. Kandou Hospital Manado year period 2011-2015 is low enough.Keywords : Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL), Diarrhea, ChildABSTRAKLatar Belakang : Leukemia merupakan jenis penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian dengan jumlah kasus yang tidak sedikit khususnya pada anak-anak. Leukemia adalah kanker anak yang paling sering. Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) berjumlah kira-kira 75% dari semua kasus. Salah satu konsekuensi utama dari Leukemia adalah ketidakmampuan sistem imum mempertahankan tubuh dari invasi benda asing. Akibatnya infeksi atau perdarahan hebat adalah penyebab tersering kematian pada pasien leukemia. Diare merupakan salah satu infeksi yang dapat dijumpai pada anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut. Diare pada anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut dapat terjadi baik akibat dari Leukemia Limfoblastik Akut itu sendiri maupun akibat dari kemoterapi yang diberikan.Metode : Penelitian ini bersifat retrospektif deskriptif, dengan pendekatan potong lintang dengan cara mengumpulkan rekam medik pasien anak dengan LLA di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado, kemudian mendeksripsikan kejadian diare.Hasil : Didapatkan 60 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, dan 17 pasien mengalami diare. Diare pada anak dengan LLA lebih sering terjadi pada fase induksi, dan lamanya diare lebih banyak pada < 7 hari (diare akut).Kesimpulan : Angka kejadian diare pada anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut di RSUP Prof. DR. R. D. Kandou periode tahun 2011-2015 cukup rendah.Kata Kunci : Leukemia Limfoblastik Akut (LLA), Diare, Anak
Faktor Risiko Terjadinya Enterokolitis Nekrotikan pada Neonatus Palinggi, Eoudia S.; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Rompis, Johnny L.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.59445

Abstract

Abstract: Necrotizing enterocolitis is inflammation of babies' digestive tract and the main cause of morbidity and mortality of premature neonates in the NICU. The exact etiology of necrotizing enterocolitis is not known so far. This study aimed to determine prematurity, formula feeding, sepsis, anemia, congenital heart disease and preeclampsia/eclampsia in mothers as risk factors for necrotizing enterocolitis in neonates and other risk factors that influence the incidence of necrotizing enterocolitis. This was a quantitative and analytical study with a cross sectional design. Sampling techniques were total sampling of necrotizing enterocolitis cases (38 patients) and executive sampling for control cases (38 patients) admitted to Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado using data of medical records. The results of the distribution table analysis and chi-square test showed that the risk factors analyzed that had p<0.05, namely prematurity (p<0.001), and sepsis (p<0.001). Other variables did not have significant relationships with the incidence of necrotizing enterocolitis (p>0.05), as follows: formula milk consumption (p>0.387), anemia (p>0.234), congenital heart disease (p>0.556), and mothers with preeclampsia/ eclampsia (p>0.556). In conclusion, prematurity and sepsis are risk factors for necrotizing enterocolitis in neonates at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital, Manado. Keywords: risk factors; necrotizing enterocolitis; neonates   Abstrak: Enterokolitis nekrotikan (EKN) merupakan peradangan pada usus saluran cerna bayi yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatus prematur di NICU. Tingkat kematian EKN makin tinggi pada bayi yang lebih kecil. Sampai saat ini etiologi yang jelas mengenai EKN belum diketahui secara pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prematur, pemberian susu formula, sepsis, anemia, penyakit jantung bawaan, dan preeklamsi/eklamsi pada ibu sebagai faktor risiko terjadinya EKN pada neonatus, dan mengetahui faktor risiko lain yang memengaruhi kejadian EKN. Jenis penelitian ialah analitik kuantitatif dengan desain potong lintang. Teknik sampling penelitian ialah total sampling pada kasus EKN 38 pasien  dan executive sampling pada kontrol EKN 38 pasien yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado melalui sumber data rekam medis. Hasil analisis tabel distribusi dan uji chi-square menunjukkan bahwa faktor risiko yang dianalisis mempunyai p<0,05 ialah faktor prematur (p<0,001), dan sepsis (p<0,001). Variabel lainnya tidak hubungan bermakna dengan kejadian EKN dengan nilai p>0,05 sebagai berikut:  pemberian susu formula (p>0,387), anemia (p>0,234), penyakit jantung bawaan (p>0,556), dan preeklamsi/eklamsi pada ibu (p>0,556). Simpulan penelitian ini ialah prematur dan sepsis merupakan faktor risiko terjadinya enterokolitis nekrotikan pada neonatus di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Kata kunci: faktor risiko; enterokolitis nekrotikan; neonatus