Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Rumoh: Journal of Architecture

ARSITEKTUR PERILAKU Marlina, Henny; Ariska, Devi
Rumoh Journal of Architecture Vol. 9 No. 2 (2019): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/rumoh.v9i18.5

Abstract

Arsitektur Perilaku merupakan hubungan manusia dengan lingkungannya serta perilakunya memiliki hubungan timbal balik, saling terkait dan saling mempengaruhi. Arsitektur perilaku merupakan arsitektur yang menerapkan pertimbangan-pertimbangan perilaku dalam perancangan. Dalam merancang sebuah bangunan pada arsitektur perilaku harus diperhatikan agar peran bangunan dapat berfungsi sebagai suatu pelayanan sosial dalam arti yang luas maka elemen-elemen yang harus dipertimbangkan. Prinsip-prinsip arsitektur perilaku yaitu mampu berkomunikasi dengan manusia dan lingkungan, mewadahi aktivitas penghuninya dengan nyaman secara fisik maupun psikis dan memperhatikan kondisi dan perilaku pemakai.
PANTI JOMPO AL WASILAH DI BANDA ACEH: (Tema: Arsitektur Perilaku) Devi Ariska; Henny Marlina
Rumoh Journal of Architecture Vol. 9 No. 2 (2019): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/rumoh.v9i18.8

Abstract

Kondisi Panti Jompo Rumoh Sejahtera Geunaseh Sayang saat ini masih kurang memadai baik dari segi sarana maupun fasilitas yang ada seperti kurangnya pencahayaan dalam ruang, dimensi ruang yang tidak mencukupi, material yang tidak sesuai, tidak ramah terhadap difable serta kondisi yang kurang terawat. Permasalahan ini diselesaikan dengan cara merancang panti jompo sesuai dengan standar yang telah di tetapkan. Lokasi Panti Jompo Al Wasilah di Banda Aceh ini berada pada jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda. Panti Jompo Al Wasilah ini menerapkan tema Arsitektur Perilaku yang merupakan hubungan timbal balik antara arsitektur dan perilaku dimana desain-desain yang diciptakan harmonis antara bangunan, pengguna, lingkungan dan menjadi satu komposisi yang dipersatukan dan saling berhubungan. Penerapan tema ini dapat dilihat pada ukuran ramp yang sesuai standar khusus difable yaitu 9 meter dengan kemiringan ramp 5% dan dilengkapi dengan railing, material lantai yang digunakan bertekstur untuk mencegah lansia terjatuh, material dan warna di bedakan untuk mempermudah lansia dalam memahami kondisi jalan atau ruang serta sebagai petunjuk arah. Klasifikasi yang diterapkan antaranya Panti Jompo Al Wasilah di Banda Aceh termasuk kedalam bangunan gedung sosial budaya, batasan lansia ditinjau dari aspek umur yaitu 60 tahun keatas. Analisis yang dipakai dalam bangunan ini yaitu analisis fungsional, analisis tapak dan analisis bangunan. Luas lahan Panti Jompo Al Wasilah di Banda Aceh adalah 27.320 m², massa bangunan merupakan masa tunggal berlantai banyak dengan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 60% yaitu 16.392 m², dan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 32.784 m² dengan fasilitas yaitu hunian lanjut usia, klinik kesehatan, ruang ketrampilan, area rekreasi, ruang ibadah, serta hunian pengasuh.
MUSEUM DIORAMA GAYO: (Tema: Arsitektur Tangible Metaphors) Fendika Anggara; Henny Marlina
Rumoh Journal of Architecture Vol. 10 No. 2 (2020): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/sz7vmv95

Abstract

Suku Gayo merupakan masyarakat asli dari Kabupaten Aceh Tengah yang beribukota Takengon dan merupakan bagian dari Provinsi Aceh. Keberadaan adat istiadat, budaya dan sejarah suku Gayo menjadi karakter yang di wariskan nenek moyang mereka kepada generasi berikutnya secara turun temurun. Namun sayangnya saat ini sebagian masyarakat suku Gayo sudah lupa akan adat istiadat, budaya dan sejarahnya. Untuk hal tersebut maka di perlukan suatu wadah berupa museum yang mampu mengekspresikan adat istiadat, budaya dan sejarah suku Gayo dalam bentuk diorama yang menyenangkan dan edukasi.Proses perancangan Museum Diorama Gayo Di Aceh Tengah ini diawali dengan pendekatan studi literatur dari objek sejenis, studi lapangan dan pendekatan tema bangunan, yaitu Arsitektur Tangible Methaphors. Maka dari itu dilanjutkan dengan analisa terhadap permasalahan yang timbul dalam rancangan dengan memperhatikan beberapa kemungkinan yang ada seperti lokasi tapak, hubungannya dengan lingkungan sekitar serta potensipotensi yang dapat dikembangkan. sehingga dapat mempermudah dalam proses perancangan. Museum Diorama Gayo Di Aceh Tengah akan dibangunan di atas lahan seluas 25.500 m² dengan luas bangunan 4577.3 m². Museum Diorama Gayo Di Aceh Tengah ini bersifat massa tunggal dengan jumlah lantai sebanyak empat lantai, yang dilengkapi dengan lobby, loket karcis, ruang penitipan, ruang informasi, ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, ruang seminar, ruang auditorium, perpustakaan, ruang edukasi, dan ruang konservasi. Selain itu juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa toko souvenir, mushalla, kafetarian dan taman. Konsep yang diangkat pada museum diorama Gayo di Aceh Tengah ini adalah kombinasi dari bentuk gerakan tarian saman dan alat musik teganing.
IDENTIFIKASI PENERAPAN KONSEP NEW NORMAL PADA KAFE DI ACEH: Identification of Application of the New Normal Concept at Cafes in Aceh Qurratul Aini; Henny Marlina; Febria Ningsih; Irval Huzairi
Rumoh Journal of Architecture Vol. 12 No. 1 (2022): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/rumoh.v12i1.193

Abstract

Jumlah kafe di Aceh semakin hari semakin bertambah, sehingga menambah wadah berkumpul bagi masyarakat dalam bersosialisasi secara langsung. Saat kondisi pandemic Covid-19, kafe menjadi salah satu area publik yang dihimbau untuk mengatur pembatasan sosial. Berbagai kebijakan untuk menekan penularan virus dilakukan, yaitu; pembatasan waktu, pembatasan jarak dan pembatasan kuantitas pengunjung. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan konsep new normal pada beberapa kafe di Aceh. Jumlah sampel adalah 21 kafe, yang berada di beberapa wilayah Aceh. Hasil yang diperoleh bahwa sebagian besar kafe yang berada di Aceh belum menerapkan konsep new normal secara signifikan, di mana 43% dari 21 kafe belum menerapkan konsep new normal. Penerapan konsep new normal yang paling banyak diterapkan adalah dengan memberi jarak lebih jauh antar set furniture yaitu mencapai 57%. Konsep lain yang juga diterapkan adalah mewajibkan memakai masker, sistem layanan take away dan mempertimbangkan penghawaan dan pencahayaan yang baik.
IDENTIFIKASI SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH PADA PASAR IKAN DI KECAMATAN BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH: Identification of Fish Market Waste Management System in Baiturrahman, Banda Aceh Henny Marlina; Qurratul Aini; Hazanul Fuady; Riskan Fauzy; Hijrah
Rumoh Journal of Architecture Vol. 11 No. 2 (2021): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/rumoh.v11i2.171

Abstract

Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat dan kampung, diperlukan sarana perekonomian melalui pasar kampong sebagai pusat interaksi sosial masyarakat perkampungan. bentuk interaksi sosial di Kecamatan Baiturahman juga hadir pasar kampong, baik yang yang direncanakan secara permanen maupun pasar dadakan. Kecamatan Baiturahman memiliki beberapa pasar yang bersifat permanen yaitu; pasar pagi Setui, Pasar Mini Kampong Baro dan pasar pagi Peniti. Ketiga pasar inilah yang menjadi objek pengamatan. Objek pengamatan difokuskan pada pasar ikan dengan mengamati sistem pengolahan air limbah pada ketiga pasar ikan tersebut. Metode yang dilakukan melalui pengamatan dan wawancara terhadap pelaku pasar baik pengelola, pedagang dan pembeli. Berdasarkan Identifikasi Sistem Pengolahan Limbah pada ketiga Pasar Ikan di Kecamatan Baiturrahman ini, dapat disimpulkan bahwa: Terdapat dua jenis limbah di pasar ikan, yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat berupa bagian ikan yang tidak dipakai seperti: tulang, kepala, ingsang, kulit, usus, perut dan sisik. Limbah cair berupa darah ikan serta air dari hasil penyiraman dan pembersihan ikan. Sistem pengolahan limbah pada masing-masing pasar berbeda-beda. Sistem pengolahan limbah pada Pasar setui dilakukan dengan memisahkan limbah padat dan limbah cair. Limbah padat diolah menjadi kompos dan limbah cair dialirkan melalui bak kontrol ke bak penguraian kemudian ke bak pengolah dan terakhir dibuang ke drainase. Pada Pasar Gemilang Kampung Baru dan Pasar Pagi Peniti, pengaliran limbah cair langsung dialirkan ke saluran yang ada di lingkungan tanpa pengontrolan jenis limbah, sedangkan limbah padat langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah. Proses pembuangan limbah cair pada pasar pagi peniti dilakukan melalui proses penyaringan namun tidak melalui proses pengolahan dengan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Kondisi ketiga pasar tersebut sudah tersedia drainase khusus untuk mengalirkan limbah cair ke luar bangunan pasar. Namun proses pengolahan limbah baik padat maupun cair hanya dilakukan oleh Pasar Pagi Setui.
Study of Students' Psychological Influence on Square-shaped Learning Classrooms in Unmuha Architecture Department Unmuha Annisa, Astrid; Marlina, Henny; Verdinal, Teuku Zafran Farras
Rumoh Journal of Architecture Vol. 14 No. 2 (2024): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/181

Abstract

A satisfying social and personal life will be realized through education, and the educational process will shape students' character. The Architecture Department, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh is a department that conducts direct learning in both theory classes, laboratories, and design studio rooms. As part of educational facilities, the existence of a classroom is an important element in the learning process, the comfort of the classroom affects the level of focus and concentration of students in teaching and learning activities in the classroom. This study aims to examine the influence of the square shape of the classroom on the psychological comfort of students and identify the factors that affect the psychological comfort of students in Architecture Department. Using qualitative methods through observation to study objects in the form of a square shaped learning classroom of Architecture Department. Literature study is used to explore previous research, regulations and standards related to this research. Indicators used to assess students' psychological comfort are physical environmental factors, and psychological factors. Physical environmental factors in the form of lighting and spatial layout, while psychological factors related to focus, comfort and positive feelings felt by students, so that effective learning can be created. The results showed that, the shape of the classroom has a significant influence on the psychological comfort of students where the capacity of the RKB at the Architecture Department, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh which exceeds the standard and the lack of flexibility of the layout has a negative impact on student comfort.
Multimedia Center Design In Banda Aceh with High-Tech Architecture Approach Nafis, Badratul; Joni, Muhammad; Marlina, Henny
Rumoh Journal of Architecture Vol. 13 No. 1 (2023): Rumoh: Journal of Architecture
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37598/rumoh.v13i1.294

Abstract

Multimedia serves as a medium for conveying information through the integration of various elements, including text, sound, images, animation, audio, and video. In Banda Aceh, formal media institutions—such as TVRI Aceh, RRI Banda Aceh, and Baiturrahman FM—alongside creative communities like the Aceh Film Community and Aceh Animation Community, operate independently. This fragmentation highlights the need for an integrated hub capable of unifying content production, distribution, and public dissemination of local multimedia. This study proposes the design of a Multimedia Center in Banda Aceh as a response to this need. The building adopts a High-Tech architectural approach, emphasizing transparency, layering, and movement—expressed through tempered low-e glass façades, intelligent building skins, and transparent elevators that convey dynamism. The structural system utilizes lightweight vertical steel frameworks as expressive architectural elements. Located on Jalan Cut Meutia, Kecamatan Baiturrahman, the center occupies a 17,798 m² site, with a building footprint (KDB) of 14,231 m² and a total floor area (KLB) of 80,091 m². Designed as a five-story, single-mass public building (Class 9), it accommodates three primary functional zones: management (director’s office, deputy director, secretariat), multimedia production (news broadcasting studio, Aceh News TV station, animation studio, digital video and filming studios), and public amenities (auditorium, multimedia library, food court, ATM center, and more). The Multimedia Center is envisioned as a dynamic hub for creating, sharing, and celebrating Aceh’s unique cultural and informational content.