Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : agriTECH

Analisis Kromatografi Cair Kinerja Tinggi untuk Penetapan Kadar Asam Galat, Kafein dan Epigalokatekin Galat pada Beberapa Produk Teh Celup Yohanes Martono; Sudibyo Martono
agriTECH Vol 32, No 4 (2012)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.934 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9578

Abstract

A rapid and accurate High Performance Liquid Chromatography (HPLC) method for determination of gallic acid, caffein, and epigallocatechin gallate (EGCG) with an isocratic mobile phase elution was developed. HPLC parameters consisted of a C18 reversed-phase column (Eurosphere C18, 250 × 4.6 mm i.d., 5μm), mobile phase composed of 0.1% ortho phosporic acid : water : acetonitrile : methanol (14 : 7 : 3 : 1 v/v/v/v) pH = 4.00, flow rate 1.2 mL/min and was detected by UV detector at 280 nm. The validation of this method was confirmed from selectivity, linearity, accuracy and precision, limit of detection and limit of quantification. The method developed has proved to comply with validation requirements and has been applied to analyze various tea bag products (green and black tea). In green tea, the results showed that the highest amount of constituent was EGCG followed by caffein and gallic acid, whereas in black tea, EGCG can not be measured. ABSTRAK Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) yang cepat dan akurat untuk penetapan kadar asam galat, kafein dan epigalokatekin galat (EGCG) dengan sistem elusi fase gerak secara isokratik telah dikembangkan. Sistem KCKT terdiri atas kolom fase terbalik C18 (Eurosphere C18, 250 × 4,6 mm i.d., 5μm), fase gerak campuran asam orto-fosfat 0,1% : air : asetonitril : metanol (14 : 7 : 3 : 1 v/v/v/v) pH = 4,00 dengan kecepatan alir 1,2 mL/min serta dideteksi pada UV 280 nm. Validasi metode ini dikonfirmasi terhadap selektivitas, linearitas, akurasi, presisi, batas deteksi dan batas kuantitasi. Metode yang dikembangkan dapat memenuhi syarat-syarat validasi metode dan telah digunakan untuk menganalisis berbagai produk teh celup (teh hijau dan hitam). Pada teh hijau, hasilnya menunjukkan bahwa kandungan terbesar adalah EGCG diikuti kafein dan asam galat sedangkan pada teh hitam, EGCG tidak terkuantitasi.
Aktivitas Antioksidan Daun Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn) Lydia Ninan Lestario; Anggelia Essi Christian; Yohanes Martono
agriTECH Vol 29, No 2 (2009)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.753 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9766

Abstract

A research on antioxidant activity of Javanese Ginseng (Talinum paniculatum Gaertn) leaves has been carried out. The aims of this research were to compare the antioxidant activity and phenolic content of javanese ginseng leaves extract- ed by various kinds of solvent and to compare the antioxidant activity and phenolic content between and dried javanese ginseng leaves extracted by hot water. The antioxidant activity were measured by free radical scavenging method with DPPH, ferric thiocyanate method, and reducing power method, whereas the phenolic content was measured by Folin– Ciocalteu. The results showed that the highest antioxidant activity of javanese ginseng was found in ethanol extract: 43.78 %, IC = 273.13 µg/ml (by free radical scavenging method with DPPH); 93.17 % (by ferric thiocyanate meth- od); and 0.7022 meq K Fe(CN) /g extract (by reducing power method). The highest phenolic content was also found in46ethanol extract: 171.03 mg/g extract. The antioxidant activity of hot water extract of fresh leaves was higher than from dried leaves: 55.03 %, IC = 181.15 µg/ml (by method DPPH); 85.59 % (by ferric thiocyanate method); whereas the antioxidant activity by reducing power method and the phenolic content of the hot water extract of javanese ginseng leaves found in dried leaves were : 0.8078 meq K Fe(CN) /g extract and  116.11 mg/g extract respectively.ABSTRAKPenelitian tentang aktivitas antioksidan daun Ginseng Jawa (T. paniculatum Gaertn) telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan aktivitas antioksidan dan kadar fenolik daun ginseng jawa yang diekstrak dengan beberapa jenis pelarut, dan membandingkan aktivitas antioksidan dan kadar fenolik ekstrak air panas daun ginseng jawa segar dan ekstrak air panas daun ginseng jawa yang dikeringkan. Aktivitas antioksidan diukur dengan metode penangkapan radikal bebas dengan DPPH, metode feri-tiosianat, dan metode kemampuan mereduksi; sedang- kan kadar fenolik diukur dengan metode Folin – Ciocalteu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan tertinggi dari daun ginseng jawa diperoleh dari ekstrak etanol, yaitu sebesar 43,78 %, dengan nilai IC = 273,13 µg/ ml (metode penangkapan radikal bebas DPPH); 93,17 % (metode feri tiosianat) ;dan 0,7022 mek K Fe(CN) /g ekstrak46(metode kemampuan mereduksi). Kadar fenolik tertinggi juga terdapat dalam ekstrak etanol sebesar 171,03 mg/g ek-strak. Aktivitas antioksidan ekstrak air panas daun ginseng jawa segar lebih tinggi daripada ekstrak air panas daun kering, yaitu sebesar 55,03 % dan IC = 181,15 µg/ml (metode DPPH); 85,59 % (metode feri-tiosianat); sedangkan aktivitas antioksidan dengan metode kemampuan mereduksi dan kadar fenolik,  ekstrak air panas daun ginseng jawa kering lebih tinggi daripada ekstrak daun segar, yaitu berturut-turut sebesar 0,8078 mek K Fe(CN) /g ekstrak dan46116,11 mg/g ekstrak.
Pengaruh Fermentasi terhadap Kandungan Protein dan Asam Amino pada Tepung Gaplek yang Difortifikasi Tepung Kedelai (Glycine max (L)) Yohanes Martono; Lucia Devi Danriani; Sri Hartini
agriTECH Vol 36, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.085 KB) | DOI: 10.22146/agritech.10684

Abstract

Enhancement of proteins and enrichment of amino acids of dried cassava flour can be carried out by fermentation of dried cassava and soy-flour mixture. The purposes of this study were to compare soluble protein's content and to identify amino acids in fortified dried-cassava flour. The methods involved were making fortified dried-cassava flour with ratio of 25 g (soy-flour) and 5 g (yeasts) of 100 grams dried-cassava and fermentation of the mixture for 40 h, measuring soluble protein's content by biuret assay and identifying amino acids using Thin Layer Chromatography (TLC) and High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Research design used Randomized Completely Block Design (RCBD). Treatments applied were unfortified dried cassava flour at 0 hour (G0); 20 hour (G20); 40 hour (G40) and fortified dried cassava flour at 0 hour (GF0); 20 hour (GF20) and 40 hour (GF40). As group was analyisis time. Data of soluble protein content were analyzed using ANNOVA. The Honestly Significant Differences (HSD) test at 5% level of significance was used to compare the treatments mean. The results showed that the soluble protein's content of 40 hours fermentation was higher than of 20 hours fermentation and the latter was higher than 0 hour fermentation, with values of 22.86%, 20.96%, and 18.70%, respectively. Based on TLC and HPLC identification, the amino acids in fortified dried-cassava flour, were aspartate, glumatate, serine, histidine, glicine, arginine, alanine, tyrosine, methionine, valine, isoleusine, leusine, and lysine.ABSTRAKPeningkatan kadar protein dan pengayaan asam amino dalam tepung gaplek dapat dilakukan dengan cara fortifikasi tepung gaplek dengan tepung kedelai melalui fermentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan kandungan protein  terlarut  antara  tepung  gaplek  tidak  terfortifikasi dan  terfortifikasi tepung  kedelai  pada  beberapa  waktu fermentasi dan mengidentifikasi asam amino yang terkandung dalam tepung gaplek dan tepung gaplek terfortifikasi. Metode penelitian meliputi pembuatan tepung gaplek terfortifikasi secara fermentasi dengan rasio penambahan tepung kedelai 25 g dan kapang 5 g dari 100 g gaplek yang kemudian difermentasi selama 40 jam. Kadar protein ditentukan menggunakan metode Biuret sedangkan identifikasi asam amino menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Rancangan percobaan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Sebagai perlakuan adalah gaplek kontrol (tidak terfortifikasi tepung kedelai) pada jam ke-0 (G0); 20 jam (G20); 40 jam (G40) dan gaplek terfortifikasi pada jam ke-0 (GF0); 20 jam (GF20); dan 40 jam (GF40). Sebagai kelompok adalah waktu analisis. Data rata-rata kadar protein terlarut dibandingkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan tingkat kebermaknaan 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar protein terlarut pada fermentasi selama 40 jam lebih tinggi dibandingkan 20 jam dan 0 jam, dengan nilai 22,68%, 20,96%, dan 18,70% secara berurutan. Berdasarkan hasil identifikasi KLT dan KCKT, asam amino dalam tepung gaplek terfortifikasi adalah aspartat, glutamat, serin, histidin, glisin, arginin, alanin, tirosin, metionin, valin, isoleusin, dan lisin.
Pengaruh Penambahan Asam Galat Sebagai Kopigmen Antosianin Murbei Hitam (Morus nigra L.) terhadap Stabilitas Termal Yoko Putra Nusantara; Lydia Ninan Lestario; Yohanes Martono
agriTECH Vol 37, No 4 (2017)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.171 KB) | DOI: 10.22146/agritech.22963

Abstract

The purposes of this research were to determine the effect of copigmentation of mulberry anthocyanin with gallic acid towards thermal and to determine the optimal molar ratio of anthocyanin: gallic acid to stabilize the mulberry anthocyanin. The variation of treatments on this research were molar ratio of mulbery anthocyanin: gallic acid: 1:0; 1:25; 1:50; 1:75; 1:100 which were heated at 60 °C, 70 °C, 80 °C, and 90 °C. After heated, the colour intensity were measured every 45 minutes at 60 °C, 30 minutes at 70 °C, 30 minutes at 80 °C, and 20 minutes at 90 °C. The measurement was conducted on wavelength 512 nm for uncopigmented anthocyanin and 514 nm for copigmented anthocyanin using Spectrophotometer UV-VIS. The result showed that copigmentation could increase the thermal stability of mulberry anthocyanin. Copigmentation could increase the activation energy and half life. The optimal molar ratio of anthocyanin: copigment was 1:75, while the energy of activation was 65.20 kJ/mole.  ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk menentukan efek kopigmentasi antosianin murbei dengan asam galat terhadap panas dan menentukan rasio molar antosianin: asam galat yang optimal untuk menstabilkan antosianin murbei. Variasi perlakuan penelitian ini adalah rasio molar antosianin: asam galat: 1:0; 1:25; 1:50; 1:75; 1:100 yang dipanaskan pada suhu 60 °C, 70 °C, 80 °C, dan 90 °C. Setelah pemanasan selesai, dilakukan pengukuran intensitas warna setiap 45 menit pada suhu 60 °C, 30 menit pada suhu 70 °C, 30 menit pada suhu 80 °C, dan 20 menit pada suhu 90 °C. Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 512 nm pada antosianin yang tidak terkopigmentasi dan 514 nm pada antosianin yang terkopigmentasi dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kopigmentasi meningkatkan stabilitas antosianin murbei terhadap panas. Kopigmentasi dapat meningkatkan energi aktivasi dan waktu paruh. Rasio molar optimal antosianin:asam galat adalah 1:75 dengan energi aktivasi sebesar 65,20 kJ/mol.
Co-Authors A. Rindang Anggit Laksono Abdul Rohman Abi Berkah Nadi, Muhammad Agung Rimayanto Gintu Agung Rimayanto Gintu Agung Rimayanto Gintu Agung Rimayanto Gintu Agung Rimayanto Gintu Andreas Setiawan Andriyani Rosita Sari Anggelia Essi Christian Ari Hasna Widyapuspa Bereka Meidelivia Raharjianti Bernaditha Catur Marina Betsy Felita Betsy Felita Cucun Alep Riyanto Devina Intan Sari Devinta Lestari Dewi Kurnianingsih Arum Kusumahastuti Diyonisio Kevin Elisando Dwiky Iswara, Kerri Eliana Prabalaras Elisabeth Betty Elok Kristiani Elizabeth Betty E. Kristiani Elizabeth Betty Elok Kristiani Erlien Giovani Soeroso Fahmi Puteri Perdani Ferdy Semuel Rondonuwu Fidelia Novitasari Fransiskus Tri Wahyu Hananto Franyoto, Yuvianti Dwi Gunawan, Raden Harry Setiawan Hartati Soetjipto Hartati Soetjipto Hindra, Ronal Febria Ida Suskawati Ika Puspitaningrum Ika Puspitaningrum Ira Tyas Kurniasari Kachingwe, Baxter Hepburn Kiki Fransiska Suharto Kusmita Kusmita Lia Kusmita Lucia Devi Danriani Lydia Ninan Lestario Maria Endah Retno Palupi Muhamad Syaiful Ampri Mutmainah Mutmainah Mutmainah Mutmainah Mutmainah Mutmainah November Rianto Aminu Noviana Gunawan Nur Ayu Hidayati Rahayu Sulistyorini Rema Fitriyani Resa Wulandari Salsabila Eka Ghina Rana Sandra Ayu Apriliyani Sekar Nurani Saptaningtyas Sherly Novita Sari Nawawi Slamet Widodo Sri Hartini Sri Hartini Sri Kasmiyati Sudibyo Martono Sudibyo Martono Sugeng Riyanto Suryasatriya Trihandaru Susanti Pudji Hastuti Tambunan, Hermon Frederik Tiffany Febetania Widodo Tonia Nur Fitria Widhi Nugroho Meindra Wijaya, Daniel Ricky Putra Yayi Suryo Prabandari Yoko Putra Nusantara Yuniarti, Zulfa Zhafira, Elian Zulfa Yuniarti