Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : agriTECH

Analisis Keberlanjutan Kawasan Usaha Perkebunan Kopi (KUPK) Rakyat di Desa Sidomulyo Kabupaten Jember Elida Novita; I B Suryaningrat; Idah Andriyani; Sukrisno Widyotomo
agriTECH Vol 32, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.45 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9621

Abstract

Sidomulyo village, Silo region is one of main small holder coffee producer at Jember district. Unpredictable world production and price can cause unsustainability of small holder coffee production. The research objective was to evaluate sustainability of small holder coffee plantation in Sidomulyo, Jember district. Based on purposive and random sampling survey, questionnaire and discussion with key persons were implemented in this research in collecting data. Dimension of ecology, social institutional, economic and technology were analyzed using Rap-Coffee program modified from Rapfi sh software. The result reveals that from four dimensions implemented in this research, the sustainability index was 59,5 % means that activity of small holder coffee plantation at Sidomulyo still have sustainability as a coffee production unit. This index could be increased through factors improvement of each dimension. The improvement of high sensitivity attributes in each dimension is strongly needed to develop better regulation to support the continuity of small holder plantation of coffee production unit at Sidomulyo.ABSTRAKDesa Sidomulyo, Kecamatan Silo merupakan salah satu sentra produksi kopi rakyat utama di Kabupaten Jember. Perkembangan produksi dan harga kopi dunia yang tidak pasti dapat berimplikasi terhadap keberlanjutan usaha pertanian kopi rakyat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keberlanjutan usaha kopi rakyat di Desa Sidomulyo, Kabupaten Jember. Berdasarkan purposive and random sampling survey, penelitian ini menggunakan kuesioner dan diskusi dengan pihak terkait dalam pengambilan data. Dimensi ekologi, sosial kelembagaan, ekonomi dan teknologi dianalisis dengan menggunakan program Rap-Coffee hasil modifi kasi dari program Rapfi sh. Berdasarkan simulasi program Rap-Coffee untuk keempat dimensi keberlanjutan, maka Indeks Keberlanjutan KUPK Desa Sidomulyo adalah 59,5 % yang berarti berlanjut. Indeks keberlanjutan ini dapat ditingkatkan melalui perbaikan terhadap faktor pengungkit (indikator sensitif). Oleh karena itu di dalam perencanaan kebijakan untuk pengembangan KUPK Desa Sidomulyo sebaiknya memprioritaskan pada peningkatan indikator yang memiliki sensitivitas tinggi di masing-masing dimensi.
Prediksi Laju Sedimentasi dan Erosi di Sub DAS Kemuning Menggunakan Rainfall Simulator Idah Andriyani; Sri Wahyuningsih; Muhamad Derajat Karim
agriTECH Vol 39, No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.82 KB) | DOI: 10.22146/agritech.41507

Abstract

Sedimentation is the accumulation of sediment materials in a location due to both surface erosion and cliff erosion that occurred in the water catchment area, and which was carried by the flow of water to that location. The purpose of this study was to determine the sedimentation rate by using slope data and rainfall intensity in the river basin area. The sample used in this study was the land located in the Kemuning watershed, in which the Kemuning watershed is a sub-watershed of the Bedadung watershed located upstream. Soil samples were taken from 3 different points, upstream, middle and downstream, then the soil was taken to the laboratory to be tested for the soil’s physical properties and the rate of soil loss using a rainfall simulator tool. The research results of soil erodibility in the upstream, middle area and downstream were 0.74 (very high); 0.59 (high); and 0.7 (very high) respectively. Moreover, the calibration of slope in the field to the rainfall simulator was 15°. We found that rainfall intensity which give the highest sedimentation in the upstream, middle and downstream area were 142.15 mm/h; 132.05 mm/h; and 137.43 mm/h respectively, with rainfall durations of 13.88 minutes; 15.50 minutes; and 14.60 minutes. Finally, the sedimentation measurement results using a rainfall simulator in the upstream, middle and downstream were 39904.04 mg/L; middle 85401.85 mg/L; and downstream 75530.00 mg/L respectively. We conclude that rainfall duration gives more influence to the sedimentation.
Perubahan Tata Guna Lahan di Sub DAS Rembangan - Jember dan Dampaknya Terhadap Laju Erosi Idah Andriyani; Sri Wahyuningsih; Siska Suryaningtias
agriTECH Vol 39, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.098 KB) | DOI: 10.22146/agritech.42424

Abstract

Inappropriate land use and lack of cover crops may increase erosion rates. The purpose of this study was to compare the erosion rates of land use in Rembangan sub-watershed in 2001 and 2014. The erosion rates were calculated using a USLE (Universal Soil Loss Equation) method. The input data used were rainfall from 2004 to 2014, soil erodibility values based on field measurements, DEM (Digital Elevation Model), and land use maps in 2001 and 2014. USLE modeling showed that erosion rates in the study area in 2001 and 2014 were 873.1 tons/ha/year and 881.9 tons/ha/year, respectively. The erosion rates were classified as a very high level, which covered 42.5% of the total area. So, land conservation action is vital in the Rembangan Sub-watershed. 
Penilaian Indikasi Geografis Pegunungan Hyang Argopuro dan Kesesuaian Lahannya untuk Budidaya Kopi Idah Andriyani; Mohammad Makhrus Ubaidillah
agriTECH Vol 42, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10189.884 KB) | DOI: 10.22146/agritech.60195

Abstract

Kopi adalah salah satu komoditas pertanian yang menjadi produk unggulan di Kabupaten Bondowoso. Salah satunya adalah biji kopi yang dihasilkan oleh petani di Desa Tanah Wulan. Kopi yang dihasilkan oleh petani di Tanah Wulan memiliki rasa dan aroma yang khas karena dipengaruhi oleh kondisi geografis kebun kopi yang berada di lereng pegunungan Hyang Argopuro. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis karakteristik sumberdaya lahan pada lereng pegunungan Hyang Argopuro, khususnya di Desa Tanah Wulan dan membuat peta kesesuaian lahannya. Sumberdaya lahan tersebut berpengaruh terhadap cita rasa kopi, sementara pembuatan peta berpengaruh pada pengembangan kopi di masa datang. Penelitian ini penting untuk dilakukan agar produk kopi di Bondowoso mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis sebagai bukti cita rasa produk kopi di lokasi penelitian. Selain itu, Indikasi Geografis tersebut juga bertujuan menunjukkan karakteristik sumberdaya lahan yang ada disana dan membedakannya dari lokasi-lokasi lain. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPS, set pengambilan tanah, software ArcGIS 10.4, sampel tanah, data curah hujan tahun 1999 – 2018, data DEM (Digital Elevation Modul), dan data suhu tahun 1999 – 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis perkalian bobot kesesuaian lahan untuk komoditas kopi berdasarkan kriteria parameter dari Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Center, kemudian dipetakan menggunakan software ArcGIS 10.4. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman kopi Arabika di Desa Tanah Wulan terdapat 4,09 Ha atau 0,42% dari total area lahan yang masuk klasifikasi kelas S1 (sangat sesuai), 977,28 Ha atau 99,52% dari total area lahan yang masuk klasifikasi kelas S2 (cukup sesuai), dan 0,62 Ha atau 0,06% dari total area lahan yang masuk klasifikasi kelas S3 (sesuai marginal). Sedangkan untuk tanaman kopi Robusta terdapat 918,89 Ha atau 93,58% dari total area lahan yang masuk klasifikasi kelas S2 (cukup sesuai) dan 63,10 Ha atau 6,42% dari total area lahan yang masuk klasifikasi kelas S3 (sesuai marginal). Oleh karena itu perlu dilakukan pemberian irigasi yang baik, pembuatan terasiring, dan pemberian zat hara agar lahan yang ada bisa lebih sesuai untuk pengembangan tanaman kopi. Sementara itu, hasil penilaian indikasi geografisnya, yaitu wilayah tersebut memiliki ciri suhu 17 – 27 °C, ketinggian 300 – 1.700 mdpl, curah hujan tahunan 1.800 – 2.000 mm/tahun, lama bulan kering 2 bulan, tekstur tanah agak kasar (lempung berpasir), mengandung c-organik lebih dari 1,8% - 6%, dan kemiringan lereng 8 – 30%.