Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : CJPP

Hubungan Self-Esteem dengan Online Disinhibition pada Emerging Adult Pengguna Media Sosial X Shafira, Meir Tasya Ilza; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n01.p563-578

Abstract

Self-esteem merupakan salah satu aspek psikologis yang memengaruhi bagaimana individu dapat menunjukkan perilaku yang berbeda di media sosial.  Perbedaan perilaku yang berbeda ini dapat disebut sebagai online disinhibition. Online disinhibition ini memungkinkan individu menunjukkan perilaku yang positif ataupun agresif. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah guna mengetahui bagaimana hubungan antara self-esteem dengan online disinhibition pada emerging adult pengguna media sosial X. Metode yang dipakai dalam penelitian adalah kuantitatif dengan melibatkan 385 responden usia emerging adult pengguna media sosial X. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner. Alat ukur untuk mengukur self-esteem yang digunakan adalah adaptasi Self-Liking/Self-Competence Scale-Revised (SLCS-R) ke dalam bahasa Indonesia. Sedangkan, online disinhibition diukur dengan menggunakan modifikasi Online Disinhibition Scale (ODS). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson dengan nilai korelasi sebesar -0,229 (r=-,0229) dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Hasil tersebut mengartikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self-esteem dengan online disinhibition pada emerging adult pengguna media sosial X dengan arah hubungan negatif. Abstract Self-esteem is one of the psychological aspects that influence how individuals can show different behaviors on social media. This difference in behavior can be referred to as online disinhibition. This online disinhibition allows individuals to show positive or aggressive behavior. The purpose of this research is to find out how the relationship between self-esteem and online disinhibition in emerging adult social media users X. The method used in the research is quantitative by involving 385 respondents of emerging adult users of social media X. The data were collected through questionnaires. Data collection was done through distributing questionnaires. The measuring instrument to measure self-esteem used is the adaptation of the Self-Liking/Self-Competence Scale-Revised (SLCS-R) into Indonesian. Meanwhile, online disinhibition was measured using the modified Online Disinhibition Scale (ODS). Data were analyzed using Pearson correlation test with a correlation value of -0.229 (r=-.0229) and a significance value of 0.000 (p<0.05). These results mean that there is a significant relationship between self-esteem and online disinhibition in emerging adult social media users X with a negative relationship direction.
Eksplorasi Pengalaman Pada Wanita Dewasa Awal Yang Merokok: Tinjauan Berdasarkan Teori Disonansi Kognitif Faturrochman, Aydin; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n01.p579-589

Abstract

Merokok pada wanita dewasa awal sering kali memunculkan konflik psikologis antara pengetahuan akan dampak negatif rokok dengan perilaku yang dijalani. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi  pengalaman disonansi kognitif yang dialami oleh wanita dewasa awal yang merokok. Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode fenomenologi untuk menggali makna subjektif dari pengalaman tersebut. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa subjek mengalami disonansi dalam bentuk rasa bersalah, penyesalan, dan pertentangan nilai personal. Untuk mereduksi disonansi, mereka cenderung melakukan rasionalisasi dengan cara mencari informasi pendukung perilaku, mengubah keyakinan agar sejalan dengan perilaku yang dilakukan, serta menyesuaikan tingkat disonansi itu sendiri agar tidak mengganggu perilaku mereka. Temuan ini menunjukkan perlunya pendekatan psikologis yang mempertimbangkan aspek disonansi kognitif dalam upaya memahami dan mengurangi perilaku merokok pada kelompok ini. Abstract Smoking among early adult women often triggers psychological conflict between their awareness of the harmful effects of smoking and their actual behavior. This study aims to explore the experience of cognitive dissonance among early adult women who smoke. A qualitative approach was used with a phenomenological method to explore the subjective meaning of these experiences. The subjects consisted of five women aged 18–25 who are active smokers. The results of the study indicate that the subjects experienced dissonance in the form of guilt, regret, and a conflict of personal values. To reduce the dissonance, they tended to rationalize their behavior by seeking information that supports their actions, altering their beliefs to align with their behavior, and adjusting the level of dissonance so that it would not interfere with their actions. These findings highlight the need for psychological approaches that take cognitive dissonance into account in efforts to understand and reduce smoking behavior within this group.
Pengaruh Dukungan Sosial Teman Sebaya Terhadap Penyesuaian Diri Remaja Siswa Kelas X di MAN 2 Gresik Zamakhsayry, Bastino Hawarizmy; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n01.p590-600

Abstract

Pada tahun pertama peralihan jenjang pendidikan ada tuntutan yang harus dihadapi, oleh karena itu individu harus bisa menyesuaikan diri. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dukungan sosial yang diberikan kepada teman sebaya untuk membantu menyesuaikan diri dilingkungan sekolah, dengan memberikan bantuan dan afirmasi positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap penyesuaian diri pada remaja siswa MAN 2 Gresik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana. Subjek berjumlah 153 siswa kelas X MAN 2 Gresik melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan secara luring dengan skala dukungan social dan penyesuaian diri yang diadaptasi dalam bahasa Indonesia. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana dengan bantuan SPSS 26.0 for Windows. Hasil menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan dari dukungan sosial teman sebaya terhadap penyesuaian diri dengan nilai korelasi 0,303 dan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Artinya semakin tinggi tingkat dukungan sosial dari siswa maka semakin tinggi penyesuaian diri. Abstract The first year of transitioning into a new educational level presents various demands that must be addressed, thereby requiring individuals to adapt accordingly. This study is motivated by the role of peer social support in helping students adjust to the school environment through the provision of assistance and positive affirmation. The aim of this research is to examine the influence of peer social support on self-adjustment among adolescents at MAN 2 Gresik. This study employed a quantitative approach using simple linear regression analysis. The subjects consisted of 153 tenth-grade students at MAN 2 Gresik, selected through purposive sampling. Data were collected offline using scales measuring social support and self-adjustment, both of which were adapted into the Indonesian language. Data analysis was conducted using simple linear regression with the assistance of SPSS version 26.0 for Windows. The results indicated a positive and significant influence of peer social support on self-adjustment, with a correlation coefficient of 0.303 and a significance value of 0.000 (p < 0.05). This means that the higher the level of peer social support received by students, the greater their level of self-adjustment.
Dilema Mahasiswa di Era Digital: Korelasi antara FoMO dan Cyberslacking Alvaridzi, Rizky Akbar Dwi; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n01.p601-610

Abstract

Kemajuan teknologi digital telah mengubah pola interaksi dan kebiasaan belajar mahasiswa, salah satunya dengan meningkatnya penggunaan media sosial yang dapat memicu perilaku cyberslacking. Perilaku ini sering kali dipicu oleh fenomena Fear of Missing Out (FoMO), yaitu kecemasan akan tertinggal dari informasi atau aktivitas sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara FoMO dan perilaku cyberslacking pada mahasiswa. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Partisipan berjumlah 221 mahasiswa aktif Universitas Negeri Surabaya yang rutin menggunakan perangkat digital. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring menggunakan skala On-FoMO dan skala cyberslacking yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS 27.0. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara FoMO dan cyberslacking dengan nilai pearson correlation 0,402 (p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat FoMO, semakin tinggi pula kecenderungan mahasiswa melakukan cyberslacking. Simpulan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa FoMO merupakan faktor psikologis yang dapat memengaruhi perilaku digital non-akademik mahasiswa, sehingga intervensi berbasis regulasi diri dan literasi digital perlu dikembangkan untuk meminimalisasi dampak negatifnya dalam konteks akademik. Abstract The advancement of digital technology has changed the interaction patterns and learning habits of students, one of which is the increased use of social media which can trigger cyberslacking behavior. This behavior is often triggered by the Fear of Missing Out (FoMO) phenomenon, which is anxiety about being left out of information or social activities. This study aims to determine the relationship between FoMO and cyberslacking behavior in college students. The method used is quantitative correlation with purposive sampling technique. Participants totaled 221 active students of Surabaya State University who regularly use digital devices. Data collection was conducted through an online questionnaire using the On-FoMO scale and the cyberslacking scale which had been adapted into Indonesian. Data analysis was conducted using the Pearson Product Moment correlation test with the help of SPSS 27.0. The results of the analysis show that there is a positive and significant relationship between FoMO and cyberslacking with a pearson correlation value of 0.402 (p < 0.001). This finding shows that the higher the level of FoMO, the higher the tendency of students to do cyberslacking. The conclusion of this study indicates that FoMO is a psychological factor that can affect students' non-academic digital behavior, so interventions based on self-regulation and digital literacy need to be developed to minimize its negative impact in the academic context.
Hubungan antara Self-disclosure dengan Online Identity Reconstruction pada Emerging Adulthood Pengguna Second Account Instagram Larasati, Hayyu Nur; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n02.p938-951

Abstract

Perkembangan media sosial memberikan ruang bagi individu pada masa emerging adulthood untuk mengekspresikan diri secara daring, salah satunya melalui penggunaan second account Instagram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-disclosure dan online identity reconstruction pada pengguna second account Instagram usia emerging adulthood. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sebanyak 386 responden dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Revised Self-Disclosure Scale (RSDS) dan skala online identity reconstruction. Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS versi 22.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikansi korelasi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,497 (r = 0,497) menunjukkan bahwa hubungan antara self-disclosure dan online identity reconstruction berada pada kategori sedang dan bersifat positif. Individu yang menunjukan self-disclosure memiliki kecenderungan untuk melakukan rekonstruksi identitas secara daring dikarenakan kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang positif dan signifikan. Abstract The development of social media has provided a space for individuals in the emerging adulthood stage to express themselves online, one of which is through the use of second Instagram accounts. This study aims to examine the relationship between self-disclosure and online identity reconstruction among emerging adults who use second Instagram accounts. A quantitative approach with a correlational method was employed. A total of 386 respondents were selected using purposive sampling. The instruments used were the Revised Self-Disclosure Scale (RSDS) and the Online Identity Reconstruction Scale. Data were analyzed using the Pearson Product Moment correlation technique with the assistance of SPSS version 22.0 for Windows. The results indicated a significant relationship between the two variables (p < 0.05), with a correlation coefficient of 0.497 (r = 0.497), indicating a moderate and positive correlation. This indicates that individuals who engage in self-disclosure are more likely to reconstruct their identities online, as there is a statistically significant and positive relationship between the two variables.
Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Psychological Well-being pada Mahasiswa Bekerja Paruh Waktu Ramadhani, Nanda Puspita; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1144-1158

Abstract

Mahasiswa yang bekerja paruh dihadapkan pada tuntutan ganda antara kewajiban akademik dan tanggung jawab pekerjaan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mahasiswa. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menjaga psychological well-being adalah dukungan sosial yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan psychological well-being pada mahasiswa bekerja paruh waktu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Subjek penelitian berjumlah 305 mahasiswa yang bekerja paruh waktu dan berdomisili Surabaya, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) serta skala psychological well-being yang disusun berdasarkan model Ryff. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal, sehingga data analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dan psychological well-being pada mahasiswa bekerja paruh waktu (rs = 0,215; p < 0,001). Dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial memiliki peran dalam meningkatkan psychological well-being mahasiswa yang bekerja paruh waktu, meskipun kekuatan hubungannya tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa psychological well-being mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor lain di luar dukungan sosial. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan bagi institusi pendidikan dan pihak terkait dalam merancang upaya pendukung untuk menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa yang menjalani peran ganda. Abstract Part-time working students face dual demands between academic obligations and work responsibilities. This situation may lead to psychological stress that affects their psychological well-being. One factor believed to play a role in maintaining psychological well-being is social support obtained from the surrounding environment. This study aims to examine the relationship between social support and psychological well-being among part-time working students. Employing a quantitative correlational approach, the research involved 305 part-time working students residing in Surabaya, selected via purposive sampling. Data were collected using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and a psychological well-being scale developed based on Ryff's model. Normality tests revealed non-normal data distribution, so Spearman's correlation test was applied. Results indicated a positive and significant relationship between social support and psychological well-being (rs = 0.215; p < 0.001). In conclusion, social support contributes to enhancing psychological well-being among part-time working students, though the strength of the relationship is low. This suggests that psychological well-being is influenced by various other factors beyond social support. These findings are expected to inform educational institutions and stakeholders in designing support initiatives for students balancing dual roles.
Hubungan antara Perbandingan Sosial dengan Kecemasan pada Mahasiswa Pengguna Media Sosial Ramadhani, Nouvalya Putri; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1159-1169

Abstract

Tingginya intensitas penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa sebagai emerging adults meningkatkan kerentanan terhadap perbandingan sosial yang dipicu oleh potret kehidupan ideal di ruang digital. Fenomena ini berpotensi memicu tekanan psikologis berupa kecemasan akibat ketidakmampuan individu dalam memenuhi standar pencapaian atau gaya hidup yang ditampilkan secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perbandingan sosial dengan kecemasan pada mahasiswa pengguna media sosial. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dan pengumpulan data menggunakan kuesioner berupa Google Form. Instrumen yang digunakan meliputi Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) untuk mengukur perbandingan sosial dan Beck Anxiety Inventory (BAI). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif perguruan tinggi di Surabaya yang berusia 18-25 tahun dan menggunakan media sosial. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Spearman rho menggunakan perangkat lunak SPSS 25 for Windows. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,387 dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,000. Temuan  ini mengindikasikan  adanya  hubungan  positif  yang  signifikan  dengan  tingkat  kekuatan  sedang  antara perbandingan sosial dan kecemasan pada mahasiswa pengguna media sosial. Abstract The high intensity of social media use among college students as emerging adults increases their vulnerability to social comparison triggered by idealized portrayals of life in the digital space. This phenomenon has the potential to trigger psychological pressure in the form of anxiety due to individuals' inability to meet the standards of achievement or lifestyle displayed online. This study aims to determine the relationship between social comparison and anxiety among students who use social media. This study uses a correlational quantitative approach and data collection using a questionnaire in the form of a Google Form. The instruments used include the Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) to measure social comparison and the Beck Anxiety Inventory (BAI). The population in this study consisted of active college students in Surabaya aged 18-25 years who use social media. The data analysis technique used was the Spearman rho test using SPSS 25 for Windows software. The analysis results showed that the correlation coefficient (r) value was 0.387 with a significance value (p) of 0.000. These findings indicate a significant positive relationship with a moderate level of strength between social comparison and anxiety among students who use social media.
Hubungan antara Self-Acceptance dengan Resiliensi pada Narapidana Nabilla, Jasmine Najla; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1170-1180

Abstract

Kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan menempatkan narapidana pada berbagai tekanan psikologis, seperti hilangnya kebebasan dan keterbatasan sosial, yang dapat memengaruhi kondisi mental mereka secara signifikan. Dalam situasi tersebut, self-acceptance dan resiliensi menjadi kapasitas psikologis yang penting dalam proses adaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-acceptance dengan resiliensi pada narapidana. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional terhadap 105 narapidana laki-laki di Lapas Kelas I Surabaya (Lapas Porong, Jawa Timur) yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah Berger’s Self-Acceptance Scale dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson’s Product Moment. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara self-acceptance dan resiliensi pada narapidana (r = 0,226; p = 0,020), namun dengan kekuatan korelasi yang tergolong lemah. Hal ini mengindikasikan bahwa self-acceptance berperan mendukung resiliensi narapidana, namun kontribusinya terbatas mengingat adanya faktor lain yang lebih dominan. Temuan deskriptif juga menunjukkan bahwa mayoritas narapidana berada pada kategori sedang untuk kedua variabel. Abstract Life within correctional institutions exposes prisoners to various psychological pressures, such as loss of liberty and social limitations, which can significantly affect their mental condition. In such situations, self-acceptance and resilience become crucial psychological capacities for adaptation. This study aimed to examine the relationship between self-acceptance and resilience among prisoners. A quantitative research method with a correlational design was employed involving 105 male prisoners at the Class I Correctional Institution of Surabaya (Porong Prison, East Java), selected through purposive sampling. The data collection instruments used were Berger’s Self-Acceptance Scale and the Connor–Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Data analysis was conducted using the Pearson’s Product Moment correlation test. The results indicated a positive and significant relationship between self-acceptance and resilience among prisoners (r = 0.226; p = 0.020), although the correlation strength was classified as weak. This implies that while self-acceptance plays a role in supporting prisoner resilience, its contribution is limited, suggesting the presence of other more dominant factors. Descriptive findings also showed that the majority of prisoners fell into the moderate category for both variables.