Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

MEMBANGUN GENERASI MUSLIM KRITIS DI ERA ANIME: PELATIHAN ANALISIS MEDIA ISLAMI UNTUK SISWA MAN 2 PEKANBARU Qori Islami Aris; Essy Syam
Hawa : Jurnal Pemberdayaan Dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): April 2025 Hawa : Jurnal Pemberdayaan Dan Pengabdian Masyarakat (HAWAJPPM)
Publisher : Yayasan Wayan Marwan Pulungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69745/hawajppm.v3i1.94

Abstract

Budaya populer, khususnya anime dan manga Jepang, telah secara signifikan mempengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda Muslim di Indonesia. Penelitian ini melaporkan program pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk mengembangkan kesadaran kritis di kalangan siswa MAN 2 Pekanbaru dalam menyikapi budaya populer dari perspektif Islam. Program ini melibatkan 36 siswa dan menggunakan pendekatan interaktif yang menggabungkan ceramah dan diskusi terarah. Pengumpulan data meliputi penilaian pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pemahaman siswa dalam tiga aspek utama: pemahaman media dan budaya populer, pemahaman nilai-nilai Islam dalam konteks modern, dan keterampilan berpikir kritis. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada semua aspek yang diukur, dengan peningkatan paling substansial (17,1%) pada pemahaman nilai-nilai Islam, diikuti oleh pemikiran kritis (14,0%), dan pemahaman media dan budaya populer (11,9%). Program ini menghasilkan beberapa luaran termasuk draft artikel ilmiah, publikasi media, modul digital "Analisis Media Islami," dan pembentukan forum diskusi online untuk keberlanjutan program. Penelitian ini mendemonstrasikan efektivitas pengintegrasian perspektif Islam dalam pelatihan analisis media untuk membantu generasi muda Muslim menavigasi kompleksitas budaya populer global sambil mempertahankan identitas keislaman mereka.
OPTIMALISASI VISUAL BRANDING SEKOLAH MELALUI PROGRAM DIGITAL CONTENT CREATOR DI SMA MUHAMMADIYAH I PEKANBARU Qori Islami Aris; Essy Syam; Triono Dul Hakim
Hawa : Jurnal Pemberdayaan Dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): April 2026 Hawa : Jurnal Pemberdayaan Dan Pengabdian Masyarakat (HAWAJPPM)
Publisher : Yayasan Wayan Marwan Pulungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69745/hawajppm.v4i1.130

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengoptimalkan visual branding SMA Muhammadiyah 1 Pekanbaru melalui peningkatan kemampuan Tim Kreatif siswa dalam digital content creation. Permasalahan mitra meliputi belum adanya brand guidelines komprehensif, inkonsistensi kualitas konten visual, keterbatasan kemampuan teknis Tim Kreatif dalam fotografi dan videografi, serta belum terstandarnya sistem pengelolaan konten visual. Program dilaksanakan selama enam bulan menggunakan pendekatan kolaboratif akademisi-praktisi dengan metode learning by doing melalui tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan, dan monitoring evaluasi. Kegiatan utama berupa workshop konseptual visual branding dan pelatihan praktis fotografi-videografi yang melibatkan 25 siswa Tim Kreatif dengan bimbingan praktisi profesional content creator. Hasil program menunjukkan peningkatan pemahaman konseptual mencapai 85%, tingkat kepuasan peserta 92%, dan peningkatan engagement rate media sosial sekolah sebesar 34%. Seluruh peserta berhasil menguasai pengoperasian peralatan fotografi profesional dan teknik dasar komposisi-pencahayaan. Luaran program mencakup guidelines visual branding sekolah, draft modul pelatihan content creation, dan terbentuknya sistem pengelolaan konten yang terstruktur dan berkelanjutan. Program berhasil menciptakan Tim Kreatif dengan kemampuan produksi konten berkualitas yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan tren digital modern untuk optimalisasi visual branding sekolah.
Menegosiasikan “Kemelayuan” Pascakolonial: Narasi Kepahlawanan Mat Kilau dan Hibriditas Budaya Identitas Nasional Malaysia Qori Islami Aris; Essy Syam
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2025): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i3.3786

Abstract

Artikel ini menganalisis fenomena narasi populer seputar Mat Kilau, seorang pejuang Melayu yang melawan penjajahan Inggris di Pahang, Malaysia pada akhir abad ke-19. Setelah perilisan film "Mat Kilau: Kebangkitan Pahlawan" (2022), wacana seputar tokoh sejarah ini semakin intensif, memberikan perspektif unik untuk mengkaji konstruksi identitas pascakolonial. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menginvestigasi bagaimana narasi Mat Kilau merepresentasikan hibriditas budaya dan menegosiasikan identitas Melayu dalam Malaysia kontemporer. Penelitian ini menggunakan analisis dokumen terhadap film dan liputan media terkait, didukung kerangka teoretis dari teori pascakolonial dan kajian budaya. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa narasi Mat Kilau mewujudkan proses hibridisasi budaya yang kompleks, di mana nilai-nilai tradisional Melayu bersinggungan dengan pengaruh kolonial. Film ini berfungsi sebagai medium untuk mengonstruksi narasi sejarah yang memperkuat identitas nasional Malaysia yang berakar pada warisan Melayu sambil mengakui realitas hibriditas pascakolonial. Rekonstruksi figur pahlawan nasional ini merepresentasikan upaya mempertahankan relevansi identitas lokal dalam konteks globalisasi, mempengaruhi wacana kontemporer tentang nilai-nilai nasional dan konstruksi identitas Malaysia.
Anthropomorphism in Upin dan Ipin: A Study of Children’s Literature Qori Islami Aris; Essy Syam
Kawanua International Journal of Multicultural Studies Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : State Islamic Institute of Manado (IAIN) Manado, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/kijms.v4i1.593

Abstract

This study discusses the use of anthropomorphism in two episodes of Upin and Ipin entitled Aku Sebatang Pensel and Aku Sebuah Jam. Through observation and note-taking techniques, data were obtained to analyze how the two episodes humanize pencils and clocks. The results of the analysis show the presence of anthropomorphic elements in both episodes, including human characters, emotions, and human behavior given to pencils and clocks. The pencils in the episode Aku Sebatang Pensel behave like humans with the ability to speak, interact, and show emotions such as worry, anger, pride, sadness, and joy. Meanwhile, the clock characters in the episode Aku Sebuah Jam also show human behavior with the ability to speak, share experiences, show concern, and dance. Sad emotions are also displayed by the clock characters. The characteristics of pencil and clock characters include helpful, encouraging, caring, argumentative, passionate, optimistic, cheerful, curious, obedient, and expressive. This study uncovers the use of anthropomorphism in Upin and Ipin animations, shedding light on its contribution to children's imagination, understanding of complex issues, and story appeal. Through this technique, young audiences can connect with the characters and develop empathy. The findings are relevant for the development of children's films and learning media, as an effective strategy to convey moral values. The study also encourages animation and creative producers to produce creative and diverse content, in line with the demands of complex audiences.
Women’s Roles in Aboriginal Australian and Talang Mamak Literary Works: A Comparative Analysis Qori Islami Aris; Essy Syam
Anaphora : Journal of Language, Literary, and Cultural Studies Vol. 7 No. 1 (2024): JULY
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Prodi sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/anaphora.v7i1.10965

Abstract

This research conducts a comparative analysis of the representation of women's roles in the Aboriginal society of Australia and the Talang Mamak society in Riau Province, Indonesia, through the literary works "Alinta, The Flame" by Hyllus Maris and Sonia Borg, and "Behuma" by Gunawan. The study aims to contribute to understanding gender dynamics in Indigenous communities, addressing the need for more inclusive perspectives on cultural preservation and women's empowerment. Using a comparative literary analysis approach informed by anthropological perspectives, this study explores the similarities and differences in women's domestic and public roles, their contributions to food production, and the cultural and social contexts shaping gender dynamics within these indigenous communities. The findings reveal that while there are shared responsibilities in the domestic sphere, there are distinctions in women's participation in the public realm, reflecting unique cultural practices and the division of labor. However, in both communities, women's domestic and public roles are intertwined, affirming their holistic contributions to ensuring the sustainability of their societies. This research highlights the importance of women's roles in preserving cultural heritage and the need to recognize their contributions in both domestic and public spheres. By bridging literary representations with anthropological perspectives, this study offers insights into the complexities of gender roles in indigenous societies, contributing to discussions on cultural preservation and gender equality in diverse cultural contexts.