Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

REDESAIN RUANG RAWAT INAP SILOAM HOSPITALS BALI DI KUTA, BALI Indah Pradnya Pramesti; I Gede Mugi Raharja; Putu Ari Darmastuti
Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Vastukara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah sakit adalah sebuah tempat fasilitas medis yang memberikan perawatan kesehatan kepada pasien. Ruang rawat inap pasien merupakan salah satu dari sekian banyak fasilitas penting yang harus ada pada tiap rumah sakit. Ruang rawat inap pasien diperlukan untuk tempat perawatan bagi pasien yang mengidap penyakit tertentu dan harus mendapatkan pengawasan dari rumah sakit. Sama halnya seperti interior ruangan lainnya, interior dari ruang rawat inap juga harus fungsional, nyaman, dan tidak melupakan sisi estetikanya. Hal ini dikarenakan agar pasien yang tengah menjalani perawatan merasa nyaman. Maka dari itu Siloam Hospitals Bali melakukan redesain interior ruang rawat inap pasiennya untuk bisa membuat desain interior ruang rawat inap pasien yang lebih baik. Melalui magang di CV. Asta Loma, penulis mendapatkan pengalaman dalam menjalani proyek ini, terutama pada bagian pengawasan proyek di lapangan serta pembuatan gambar as built drawing. Dengan menggunakan metode project based learning, metode pengumpulan data kualitatif berupa deskripsi, dan penyajian data mengenai proyek yang didapatkan melalui wawancara dan observasi, penulis mengetahui tahapan yang dilalui selama proses redesain terjadi. Mulai dari briefing dengan pihak Siloam Hospitals, membuat desain konsep, pengajuan RAB, briefing kembali mengenai teknis pengerjaan, pengerjaan elemen interior di proyek dan pembuatan furniture, setting furniture di lapangan, hingga tahap final yaitu pengecekan realisasi redesain bersama dengan pihak Siloam. Selama pengerjaan proyek berlangsung, segala kendala yang terjadi tak bisa terelakkan. Walau begitu kendala-kendala tersebut dapat dilewati tanpa adanya masalah yang berarti hingga tahap akhir dan hasil realisasi redesain ruang rawat inap ini mampu memuaskan dan sesuai dengan keinginan pihak Siloam Hospitals Bali.
DESAIN INTERIOR RUMAH TINGGAL SEKAR TUNJUNG DENGAN GAYA MODERN TROPICAL Kelvin Darma Putra; I Wayan Balika Ika; I Gede Mugi Raharja
Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Vastukara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah tinggal merupakan sebuah bangunan yang memiliki arti sangat penting bagi kehidupan manusia. Hal tersebut dikarenakan rumah tinggal dapat berfungsi sebagai tempat beristriahat dan berlindung, sekaligus sebagai tempat yang dapat membuat penghuninya merasa nyaman, damai, dan tentram saat berada di dalamnya. Pentingnya keberadaan rumah tinggal tersebut semakin dirasakan saat terjadinya pandemi Covid-19. Pentingnya keberadaan rumah tinggal itulah yang membuat penulis tertarik untuk mengangkat Proyek Sekar Tunjung sebagai studi kasus dari artikel ini. Proyek Sekar Tunjung merupakan sebuah proyek rumah tinggal yang terletak di Jalan Sekar Tunjung, Bali. Rumah tinggal ini didesain menggunakan gaya modern tropical. Pengambilan Proyek Sekar Tunjung sebagai kasus dari judul artikel ini, yaitu untuk mengetahui alur dari pengerjaan sebuah proyek dan bagaimana keterlibatan mahasiswa dalam pengerjaan proyek tersebut. Metode pembelajaran yang digunakan pada pada pengerjaan proyek ini, yaitu project based learning. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dari proyek ini yaitu menggunakan metode kualitatif, yang dapat berupa narasi, deskripsi, maupun gambar seputar proyek yang dibahas. Penggunaan tipe penelitian ini, bisa didapatkan dengan melalui wawancara, observasi, serta studi kasus ataupun literatur. Tujuan dari penulis mengangkat proyek Sekar Tunjung sebagai studi kasus, yaitu untuk memaparkan hasil kerja mahasiswa selama mengerjakan proyek pada program magang merdeka belajar – kampus merdeka. Hal lainnya yang membuat saya mengangkat proyek ini, dikarenakan proyek ini memiliki konsep desain yang menarik, yaitu sebuah rumah tinggal dengan suasana desain seperti berada di vila. Hasil akhir yang didapatkan dari pengerjaan proyek Sekar Tunjung ini, yaitu menghasilkan 3D rendering setiap ruang, dengan menggunakan program Sketchup untuk 3D modelling dan program Enscape untuk rendering
ANTHROPOMETRY AND ACOUSTIC REVIEWAT AUDITORIUMSEAT OF GIRI NATA MANDALA CULTURE CENTER Ida Ayu Anindya Chintya Aridewi; Ida Ayu Dyah Maharani; I Gede Mugi Raharja
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Idealog Vol 8 No 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v8i1.5847

Abstract

Chairs in the auditorium room are important furniture that is used for a long time by the audience. So it is important to know the anthropometric size of the auditorium seats to determine user comfort. inaddition to anthropometry, auditorium chairs are used to support sound comfort. This study focuses ontheanthropometry of the auditorium seats Giri Nata Mandala Puspem Badung Cultural Center and chairs assupporting the acoustic quality of the auditorium. The purpose of this study was to examine the designof auditorium seats in terms of anthropometry as well as the identification and measurement of seats in terms of interior that af ect acoustics. The method used is quantitative descriptive method. Data obtained basedonobservation, direct measurement and dissemination of questionnaires to users. The Data were analyzed usinganthropometric theory as well as theories related to interior acoustics. The results obtained are theauditorium seats have been designed in accordance with the standards of the auditoriumseats withanthropometry following the standards of Indonesia. So that the chair is comfortable to use for a longtime. In terms of interior acoustics, the auditorium seats have met the standards. However, there are someinconveniences when the auditorium is used for events. Audience in the front row to the middle of thecorridor on the left and right complained that the sound was too loud to make the seats shaking. In addition, vibrations in the seats are felt when other spectators pass by in the corridor. For further improvements, it would be better to pay attention to the sound volume and material of the chair or floor to reduce vibrationonthe chair. Keywords: Anthropometry, Acoustics, Auditorium Chair
TAMAN AIR TRADISIONAL BALI DALAM NARASI KEBERLANJUTAN MENUJU ANTROPOSEN I Gede Mugi Raharja
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 2 (2022): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Candrabhayasingha Warmmadewa adalah raja Bali yang pertama berinisiatif menyelamatkan mata air (kelebutan) untuk menghindari kerusaan akibat aktivitas penduduk, berupa penataan (masamahin) Tirta Empul pada Oktober 962 Masehi. Prasasti peresmiannya merupakan sebuah narasi keberlanjutan, jauh sebelum PBB mencanangkannya pada 21 Oktober 2015. Pada masa Bali Madya, beberapa kerajaan membangun taman air dengan konsep filosofi bersumber dari teks Adiparwa, tentang peristiwa Samudramantana. Teks ini mengisahkan pengadukan lautan Ksirarnawa menggunakan Gunung Mandhara untuk mencari Amertha, air kehidupan abadi yang diperebutkan oleh para dewa dan denawa. Intisari filosofinya adalah penyelamatan mata air dalam ekologi pada ekosistem alam. Tatkala bumi memasuki periode Antroposen, filosofi pertamanan tradisional Bali sudah mempertimbangkan, bahwa berbagai aktivitas manusia saat ini, memiliki dampak terhadap lingkungan hidup jutaan tahun yang akan datang.
Analysis of The Value of Panji Village Shaking Tradition for Performing Arts Costume Design in Singaraja City Putu Ariella Peggy Sabella; I Gede Mugi Raharja; Anak Agung Gede Rai Remawa
Jurnal Syntax Transformation Vol 5 No 1 (2024): Jurnal Syntax Transformation
Publisher : CV. Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jst.v5i1.908

Abstract

The Megoak-goakan tradition is a tradition in the form of a traditional game originating from Panji Village, Buleleng Regency, Bali. This tradition has now developed into a performance art in the form of dance, and drama. The tradition of megoak-goakan was developed into a performing art for preservation efforts and introduced the tradition of Megoak-goakan to the younger generation. The tradition of gowing has values implicit in it and is conveyed through the performing arts to the audience. The value in the tradition of goak-goakan can also be conveyed through the costumes used. The selection of the right costume design can be an intermediary message to the audience. This study aims to analyze the values that exist in the tradition of rocking Panji Village to become the basis for designing costumes for the performing arts tradition of rocking in Singaraja City. This research is a qualitative research with the data in this study being primary and secondary data. The method of collecting this research data is in the form of observation, interviews and literature. The purpose of this study is to find value in the Megoak-goakan Tradition that can help in making costume designs for Megoak-goakan performing arts in Singaraja City.
KONSEP RUMAH IMPIAN PADA RUMAH TINGGAL DI JL. AURORA ULUWATU, JIMBARAN Utami, Anak Agung Gita Asri; Raharja, I Gede Mugi; Mulyati, Made Ida
Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Vastukara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/vastukara.v4i1.3459

Abstract

Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni sehingga diperlukan kenyamanan dan keamanan untuk berada di dalamnya. Seiring berkembangnya jaman dan perubahan kondisi sosial ekonomi membuat tatanan hidup manusia berubah menjadi tempat yang kompleks untuk itu diperlukan solusi kreatif, baru dan implementasi tepat pada desain interior. Rumah tinggal di Jl. Aurora, Uluwatu, Jimbaran, Kuta Selatan, Bali, milik sepasang suami istri asal Australia merupakan salah satu rumah tinggal yang ditujukan untuk tempat tinggal, tempat bekerja, tempat bersosialisasi, tempat hiburan, dan tempat menaungi inspirasi serta ide-ide baru. Rumah ini memiliki konsep rumah impian atau dream house. Tujuan penulisan ini adalah untuk memaparkan tahapan dan hasil proyek rumah tinggal Jl. Aurora, Uluwatu. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah penelitian kualitatif, hal ini didasari studi kasus rumah tinggal sehingga metode analisis yang digunakan yakni wawancara, observasi, partisipasi dan dokumentasi yang melibatkan manusia. Hasil yang diperoleh adalah tercapainya kajian tahapan proses pengerjaan proyek, data proyek dan 3D rendering model disertai gambar kerja pengembangan. Kedua hasil ini menjadi acuan untuk mewujudkan gambar sesuai dengan kondisi lapangan, setelah melalui seluruh proses ini selama 6 bulan terdapat beberapa kendala seperti gagalnya komunikasi yang teratasi dengan melakukan diskusi bersama tim dan senior desainer.
PENERAPAN GAYA MODERN MINIMALIS PADA PROJECT KLINIK KECANTIKAN BEAUTY HEAVEN DI CANGGU OLEH DEWI DECO Paramitha, Kadek Dinda Maharani Putri; Raharja, I Gede Mugi; Darmastuti, Putu Ari
Jurnal Vastukara: Jurnal Desain Interior, Budaya, dan Lingkungan Terbangun Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Vastukara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/vastukara.v4i1.3489

Abstract

Klinik kecantikan merupakan sebuah klinik yang menawarkan jasa pelayanan untuk perawatan tubuh khususnya pada kulit, rambut, serta kuku (dermatologi). Fungsi klinik kecantikan adalah sebagai suatu tempat untuk melakukan konsultasi dan perawatan terhadap tubuh, wajah, kulit, rambut dan kuku yang dilakukan oleh ahli kecantikan dan dokter spesialis, mengembalikan kebugaran tubuh, serta mempercantik penampilan dari setiap pengunjung yang menggunakan fasilitas dari klinik kecantikan. Meningkatnya minat masyarakat untuk melakukan perawatan diri, baik itu perempuan maupun laki-laki membuat bisnis klinik kecantikan kian berkembang pesat. Saat ini banyak klinik kecantikan yang berlomba untuk memberikan pelayanan yang baik demi kepuasan pelanggan. Selain dengan meningkatkan kualitas pelayanan dalam setiap perawatan yang diberikan, desain arsitektur dan interior klinik kecantikan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menjadikan tampilan klinik memiliki nilai estetika sehingga dapat menarik minat pelanggan untuk mengunjungi klinik tersebut. Beauty Heaven merupakan salah satu proyek klinik kecantikan yang dikerjakan oleh Dewi Deco Studio Interior yang berlokasi di Jl. Pantai Batu Bolong, Canggu, Badung. Proyek Beauty Heaven ini sekaligus menjadi proyek yang melibatkan penulis selaku mahasiswa yang menjalani program kegiatan magang/praktik kerja MBKM (Merdeka Belajar - Kampus Merdeka) di Dewi Deco. Perancangan proyek klinik kecantikan Beauty Heaven menekan pada tampilan visual dengan menerapkan gaya modern minimalis dengan titik fokus suasana hangat dan lembut yang diharapkan mampu menarik minat pengunjung untuk mengunjungi klinik Beauty Heaven, selain dari segi estetika visual, perancangan interior tetap memperhatikan fungsionalitas agar dapat mendukung kegiatan yang berlangsung di dalam klinik dengan baik dan aman.
ANTHROPOMETRY AND ACOUSTIC REVIEW AT AUDITORIUM SEAT OF GIRI NATA MANDALA CULTURE CENTER Chintya Aridewi, Ida Ayu Anindya; Dyah Maharani, Ida Ayu; Mugi Raharja, I Gede
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Idealog Vol 8 No 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v8i1.5847

Abstract

Chairs in the auditorium room are important furniture that is used for a long time by the audience. So it is important to know the anthropometric size of the auditorium seats to determine user comfort. in addition to anthropometry, auditorium chairs are used to support sound comfort. This study focuses on the anthropometry of the auditorium seats Giri Nata Mandala Puspem Badung Cultural Center and chairs as supporting the acoustic quality of the auditorium. The purpose of this study was to examine the design of auditorium seats in terms of anthropometry as well as the identification and measurement of seats in terms of interior that affect acoustics. The method used is quantitative descriptive method. Data obtained based on observation, direct measurement and dissemination of questionnaires to users. The Data were analyzed using anthropometric theory as well as theories related to interior acoustics. The results obtained are the auditorium seats have been designed in accordance with the standards of the auditorium seats with anthropometry following the standards of Indonesia. So that the chair is comfortable to use for a longtime. In terms of interior acoustics, the auditorium seats have met the standards. However, there are some inconveniences when the auditorium is used for events. Audience in the front row to the middle of the corridor on the left and right complained that the sound was too loud to make the seats shaking. In addition, vibrations in the seats are felt when other spectators pass by in the corridor. For further improvements, it would be better to pay attention to the sound volume and material of the chair or floor to reduce vibrationonthe chair. Keywords: Anthropometry, Acoustics, Auditorium Chair
MENGENAL BUDAYA MARITIM DALAM ARSITEKTUR NUSANTARA Raharja, I Gede Mugi; Wasista, I Putu Udiyana
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika bumi mengalami perubahan iklim ekstrim pada zaman Pleistosen, temperatur bumi sering naik turun. Manusia harus hidup nomaden, karena terjadi proses glasial (zaman es) terus menerus. Ketika lapisan es di kutub mencair, permukaan air laut naik. Benua Sunda dan Sahul kemudian terendam menjadi dangkalan. Dampaknya, muncul pulau-pulau yang kemudian menjadi Negara Kepulauan Nusantara (Indonesia). Jadi, Indonesia dasarnya adalah benua maritim, yang terbentuk pada masa Holosen atau Alluvium. Wilayahnya adalah tanah dan air yang luas. Oleh karena itu, budaya maritim penduduk di Nusantara sudah berakar sejak masa prasejarah. Gambar-gambar perahu di dalam gua-gua purba, merupakan ekspresi seni penduduk Nusantara prasesejarah. Jiwa maritim juga tercermin pada sebutan wilayah negerinya, yang disebut Tanah Air. Perahu bercadik digunakan sebagai alat transportasinya di kawasan Samudera Hindia dan Pasifik. Jiwa maritim juga berpengaruh pada bidang arsitektur bangunannya, yang antara lain dapat ditemukan di wilayah Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Ekspresi jiwa maritim pada arsitektur, antara lain tampak pada mahkota atap bangunan, pola desa atau kampung, denah rumah dan struktur bangunan rumah.
PENCIPTAAN SANGKU KERAMIK DENGAN ORNAMEN GAMBAR WAYANG KHAS BALI I Wayan Mudra; I Gede Mugi Raharja; I Wayan Sukarya
Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, dan Seni (Sesanti) 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penciptaan sangku keramik dengan memnafaatkan gambar wayang khas Bali sebagai budaya tradisi, masih sangat jarang dilakukan oleh pencipta keramik di Bali maupun di Indonesia pada umumnya. Budaya tradisi sangat penting diangkat dalam upaya menghadirkan karya-karya keramik berkarakter Indonesia, di tengah menjamurnya karya-karya keramik bernuansa asing di Indonesia. Tujuan penulisan ini adalah untuk menjelaskan: proses pembentukan, proses pembakaran, proses ornamen dan fungsi penciptaan karya sangku keramik yang menerapkan objek ornamen wayang khas Bali. Penelitian penciptaan ini menggunakan metode diskriptif kualitatif dengan teori pengmbilan data purposive sampling. Metode penciptaan merujuk pada metode penciptaan SP. Gustami yaitu eksplorasi, improvisasi, dan perwujudan. Teknik pengambilan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi, analisis karya dengan kualitatif dan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan: proses pembuatan sangku keramik ini menggunakan teknik putar, pembakaran karya melalui tiga tahapan yaitu pembakaran bisquit, pembakaran glasir 1250oC dan pembakaran ornamen mencapaisuhu 1250oC; penerapanornamen dilakukan dengan teknik lukis; dan fungsi karya sangku keramik ini yaitu sebagai benda hias, sebagai benda fungsi pakai, dan souvenir. Kesimpulannya adalah penelitian penciptaan sangku keramik ini merupakan tahapan yang cukup panjang mulai dari tahap pembentukan sampai tahap pembakaran akhir. Gambar wayang khas Bali sebagai ornamen pada penciptaan sangku keramik ini merupakan penciptaan yang cukup langka, juga sebagai upaya pelestarian budaya tradisi dan juga mendukung upaya penciptaan kriya keramik berkarakter Indonesia.