Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS SAWIT I KECAMATAN SAWIT KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2014 Titik Sulandari; Triwik Sri Mulati; Siti Yulaikhah
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 5, No 2 (2014): JULI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.657 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v5i2.89

Abstract

Latar Belakang : Data susenas cakupan ASI pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai 6 bulan turun dari 28,6% di tahun 2008 menjadi 24,3% dan jumlah bayi dibawah 6 bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16,7 % tahun 2002 menjadi 27,9% di tahun 2007(Depkes RI ;Suratno,2011.P.2). Banyaknya bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif disebabkan berbagai faktor diantaranya dukungan dari berbagai pihak kurang, salah satunya dukungan suami. Keberhasilan ASI eksklusif lebih mudah bila dukungan suami turut berperan. Menyusui memerlukan kondisi emosional yang stabil, yang mempengaruhi produksi ASI, suami istri harus memahami pentingnya dukungan terhadap ibu yang sedang menyusui (Tasya,2008;Suratno,2011.P.3) Tujuan Penelitian:adakah hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Sawit I Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali tahun 2014?”. Sesuai dengan rumusan masalah tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara umum hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Sawit I Kecamatan Sawit I Kabupaten Boyolali tahun 2014.Sedangkan secara khusus bertujuan 1)mengetahui dukungan suami yang meliputi emosional, instrumental, informasional dan penilaian suami dalam pemberian ASI eksklusif. 2)mengetahui pemberian ASI eksklusif. 3)Menganalisis hubungan dukungan suami yang meliputi emosional, instrumental, informasional dan penilaian suami dalam pemberian ASI eksklusif. 4)Mengetahui dukungan suami yang paling dominan terhadap pemberian ASI eksklusif. Metode Penelitian:Jenis penelitian ini penelitian deskriptif korelasi dengan metode kuantitatif, dengan pendekatan croos sectional.Teknik analisa uji chi square, Dengan populasi 96 ibu menyusui yang mempunyai bayi 0-6 bulan,yang punya suami,tinggal satu rumah bisa baca tulis. Hasil Penelitian :berdasarkan hasil penelitian pemberian dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif diperoleh hasil p value sebesar 0,001 yang lebih kecil dari p value 0,05. Kesimpulan :Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif Kata Kunci : Hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif
PENGARUH DERAJAT LASERASI PERINEUM TERHADAP SKALA NYERI PERINEUM PADA IBU POST PARTUM Triwik Sri Mulati
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 8, No 1 (2017): JANUARI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.552 KB) | DOI: 10.36419/jkebin.v8i1.53

Abstract

Sebagian ibu post partum mengalami laserasi/robekan perineum, baik karena ruptur secara alami ataupun karena adanya tindakan episiotomi. Ruptur dan episiotomi akan menimbulkan laserasi perineum dari derajat ringan sampai berat. Berat ringannya laserasi perineum (derajat laserasi perineum) menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap nyeri perineum yang dirasakan oleh ibu post partum. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh derajat laserasi perineum terhadap skala nyeri perineum pada ibu post partum. Metode Penelitian ini menggunakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini yaitu ibu post partum yang mengalami laserasi perineum tapi yang tidak mengalami komplikasi sejumlah 91 orang di BPM wilayah Kabupaten Klaten. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2016. Data penelitian ini mengganakan data primer. Pangambilan data dilakukan dengan alat pengumpul data berupa lembar instrumen skala/rentang nyeri Numeric Rating Scale dari 0 – 10. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan Uji Regression linear. Hasil penelitian ini menunjukkan derajat laserasi perineum sebagian besar responden adalah derajat 2 sebanyak 64 orang (70.3 %); skala nyeri perineum sebagian besar responden adalah nyeri ringan sejumlah 40 orang (44 %). Berdasarkan hasil uji statistik, t hitung = 4,228 dengan p value = 0.001, p < 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang nyata (signifikan) antara derajat laserasi perineum dengan skala nyeri perineum ibu post partum. Kata Kunci: derajat laserasi perineum, nyeri perineum, ibu post partum
INOVASI JELLY JAMU CEKOK TERSTANDAR SEBAGAI UPAYA PENANGANAN STUNTING; BERBASIS SOCIAL ENTERPRENEURSHIP puspita sari, lutfiana; Mulati, Triwik Sri; Rahmawati, Muftika Khoiri; Rochmani, Sri
ABHIPRAYA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan dan Sains Vol 2 No 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/abhipraya.v2i1.23958

Abstract

Stunting remains a global nutritional issue for children. The prevalence of stunted children under five years old nationwide in Indonesia is 21.5%. One of the causes of stunting is due to appetite issues. The benefits of jamu cekok can increase appetite and boost immunity. However, the gift caused psychological trauma because it was given forcefully. The innovative work of jamu cekok made into jelly, a favorite food for children, but with the benefit of enhancing appetite and immunity. The Purpose is to address the issue of stunting and develop an entrepreneurial spirit among the community of Joton village, Jogonalan, Klaten. The jelly jamu cekok training activity was held for 2 days on June 3 and June 6, 2024, at the Dea Joton Hall, Jogonalan Klaten. Participants include all traditional health cadres and mothers of toddlers who have stunted or malnourished children, or even those with severe malnutrition. The first day's activities included training on making herbal jelly and materials on stunting, while the second day's activities focused on entrepreneurship training. The evaluation was conducted on June 18, 2024, to assess the jelly jamu cekok products made by the training participants. After conducting a 2-day training on making jelly jamu cekok and entrepreneurship, there was an increase in knowledge and skills among all participants. Additionally, toddlers with malnutrition and stunting who were given jelly jamu cekok showed an increase in appetite and a weight gain of approximately 1 kg within 2 weeks. The jelly jamu cekok and entrepreneurship training is effective in enhancing the knowledge and skills of cadres to address the issue of appetite in toddlers, which is the root cause of stunting, and can also increase community income from the sale of jelly jamu cekok.
Utilization of Moringa, Tiwul and Catfish Leaves as Ingredients for Making Food to Prevent Stunting Triwik Sri Mulati; Susilo Wirawan; Titik Lestari; Dyah Noviawati Setya Arum; Sri Wahyuni; Lutfiana Puspita Sari; Yuniar Indo Masadi; Muftikha Khoiri Rahmawati; Lilis Setyaningsih; Dina Fadhilah
ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2025): ABDIMAS UMTAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35568/abdimas.v8i1.5659

Abstract

Sambirejo Village is one of the stunting locus areas. Based on 2022 data, there are 23 children under two years old who are stunted out of a total of 192 people, and 50 children under five years old who are stunted out of a total of 494 toddlers. One of the causes of stunting is based on maternal anemia and CED (Chronic Energy Deficiency). In 2022, data was obtained from 83 pregnant women, there were 43 people experiencing anemia and 15 people with KEK. The incidence of anemia in adolescent girls was 45 and KEK was 58 out of a total of 361 adolescent girls. If this condition is not prevented, the incidence of anemia, CED and stunting will continue to increase from year to year. Alternative food to increase iron and prevent CED to prevent stunting is to use food ingredients taken from local wisdom in the form of processed food using three basic triad ingredients (moringa leaves, catfish and tiwul/cassava) in the form of: cilok catfish, moringa ice cream and chips / cassava-catfish sticks which have nutritional and economic value. Through this training, 100 target participants were given health material and demonstrations on making highly nutritious food preparations. The results of this activity prove that there is an increase in knowledge about anemia, CED, stunting and skills in making processed food that has nutritional value and marketability.
Pengaruh Edukasi Tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) Melalui Media Leaflet terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Adrisyahrani, Shalma Putri; Sugita, Sugita; Andriyani, Asti; Mulati, Triwik Sri
Jurnal Empathy Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Empathy Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37341/jurnalempathy.v5i1.357

Abstract

Background: Early detection of breast cancer can be carried out through Breast Self-Examination (BSE), which helps identify any lumps or abnormalities in the breast. However, a lack of awareness about BSE among adolescents affects their ability to perform it correctly. Educating young women about BSE through leaflet media can significantly enhance their knowledge and attitudes toward it. This activity aims to provide SADARI education based on leaflets to young women in Polonharjo Village and to monitor changes in knowledge and attitudes through pre- and post-session assessments. Methods The SADARI education programme based on leaflets (±20 minutes) was given to 75 adolescent girls, with measurements of knowledge (structured questionnaire) and attitude (Likert scale) before and after the session. Data were summarised descriptively and analysed in pairs. Results: The results revealed a significant increase in the average knowledge score, which rose from 13.92 to 21.53 after the intervention. Similarly, the average attitude score increased from 43.61 to 62.63. The test indicated a significant improvement in knowledge post-intervention. Conclusion: Providing education about Breast Self-Examination (BSE) through leaflet media effectively enhances the knowledge and attitudes of young women in X Village regarding breast health.