Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search
Journal : e-CliniC

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA WARGA YANG TINGGAL DI DAERAH RAWAN BANJIR KHUSUSNYA WARGA DI KELURAHAN TIKALA ARES KOTA MANADO Lamba, Chaflin T.; Munayang, Herdy; Kandou, Lisbeth F. J.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.15526

Abstract

Abstract: Anxiety disorders, classified as psychiatric disorders, are usually resulting from a complex interaction of biological, psychological, and psychosocial elements. Anxiety warns the threat of injury to the body, fear, despair, the possibility of punishment, or the frustration of the need for enhanced social body, separation from loved ones, interference with the success or status of a person, and ultimately a threat to the unity or wholeness of a person. People living in areas prone to floods are assumed to suffer from anxiety of the coming floods. This study was aimed to assess the anxiety among people living in flood-prone areas by using sociodemofraphic data and questionnaire of Hamillton Anxiety Rating Scale (HARS). This was a descriptive qualitative study with a cross sectional design. There were 30 respondents that met the inclusion and exclusion criteria. The results showed that 2 (6.7%) respondents did not have any anxiety disorder; 10 (33.3%) people had mild anxiety disorders; 12 (40%) people had moderate anxiety disorders; and 6 (20.0%) people had severe anxiety disorders. Conclusion: The majority of people living in flood-prone areas suffered from anxiety and the most common type of anxiety was mild anxiety.Keywords: anxiety, flood prone areas, HARSAbstrak: Gangguan kecemasan digolongkan sebagai gangguan kejiwaan, umumnya diakibatkan oleh interaksi kompleks dari elemen biologis, psikologis, dan psikososial. Kecemasan memperingatkan ancaman cedera pada tubuh, rasa takut, keputusasaan, kemungkinan hukuman, atau frustrasi dari kebutuhan sosial tubuh, perpisahan dari orang yang dicintai, gangguan pada keberhasilan atau status seseorang, dan akhirnya ancaman pada kesatuan atau keutuhan seseorang. Sebagian masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir mengalami kecemasan akibat takut terkena dampak bencana banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menilai gangguan kecemasan pada warga yang berada di daerah rawan banjir dengan menggunakan data sosiodemografik dan kuesioner Hamillton Anxiety Rating Scale (HARS). Jenis penelitian ialah deskriptif-kualitatif dengan desain potong lintang. Terdapat 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian memperlihatkan responden yang tidak mengalami gangguan kecemasan sebanyak 2 orang (6,7%); gangguan kecemasan ringan sebanyak 10 orang (33,3%); gangguan kecemasan sedang sebanyak 12 orang (40%); dan gangguan kecemasan berat sebanyak 6 orang (20,0%). Simpulan: Sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir mengalami kecemasan dan terbanyak ialah kecemasan sedang.Kata kunci: kecemasan, daerah rawan banjir, HARS
PREVALENSI GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF DAN DEPRESI PADA PASIEN STROKE DI IRINA F BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Hasra, Indha Wardhani P. L.; Munayang, Herdy; Kandou, Joice
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3616

Abstract

Abstrak: Stroke is a clinical syndrome caused by blood circulatory disorders from one part of the brain that creates a functional disorder of the brain like neurological deficits and nerve paralysis. Depression and cognitive impairment is a results of the occurence of stroke. This study aimed to reveal the prevalence of cognitive impairment and depression in stroke patients in the neurology inpatient room F Prof. DR. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. The sample is all stroke patient in neurology inpatient room F Prof. DR. R. D. Kandou Hospital Manado who fulfilled the inclusion criteria. The results showed that 32.4 % respondents are without cognitive impairment and 67.5 % with cognitive impairment. Of the cognitive impairment group there were 27% mild cognitive impairment, 40.5% moderate cognitive impairment and there was no patient with severe cognitive impairment. The results of depression status examination showed  24.3 %  without depression and 75.7 % with depression. Of the depression group there were 59.5% mild depression, 10.8% moderate depression, and  5.4 % severe depression. The study showed that 18 participants had cognitive impairment and depression. Conclusion: From 37 respondents, there were 7 respondents (19%) had only cognitive impaiment, 10 respondents (27%) had only depression and 18 respondents (49%)  with cognitive impaiment and depression.Keywords: cognitive impairment, depression, stroke   Abstrak: Stroke adalah suatu sindrom yang disebabkan oleh adanya gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak yang menimbulkan gangguan fungsional otak berupa defisit neurologik atau kelumpuhan saraf. Depresi dan gangguan kognitif adalah salah satu akibat dari terjadinya stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gangguan fungsi kognitif dan depresi pada pasien stroke di Irina F Neuro BLU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado Penelitian ini menggunakan jenis penelitian “observasional” dengan desain “studi cross sectional”. Sampel penelitian adalah seluruh pasien stroke di Irina F Neuro BLU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil pemeriksaan fungsi kognitif didapatkan 32,4 % normal, sedangkan yang mengalami gangguan fungsi kognitif 67,5 % dimana gangguan kognitif ringan 27 %, gangguan kognitif sedang 40,5 % dan tidak ada gangguan kognitif berat. Hasil pemeriksaan status depresi didapatkan 24,3 % normal, sedangkan yang mengalami depresi 75,7 % dimana depresi ringan 59,5 %, depresi sedang 10,8 %, dan depresi berat 5,4 %. Dari hasil pemeriksaan didapatkan 18 orang dengan gangguan fungsi kognitif yang disertai dengan depresi. Kesimpulan: Dari 37 responden, didapatkan 7 orang (19%) yang hanya mengalami gangguan fungsi kognitif, 10 orang (27%) yang hanya mengalami depresi dan 18 orang (49%) dengan gangguan fungsi kognitif dan depresi.Kata kunci: gangguan fungsi kognitif, depresi, stroke
Profil supplementary scales Minnesota multiphasic personality inventory-2 (MMPI-2) adaptasi Indonesia pada komunitas public united not kingdom (punk) di kawasan Megamas Kota Manado Ab'ror, Rijal; Kairupan, Bernabas H.R.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14684

Abstract

Abstract: Society in general still views punk community negatively. It is caused by their dress and hair styles which were assumed as weird, therefore, they are considered dangerous for other citizens. This study was aimed to examine mental health status of members of punk community for detection of the presence of any mental disorders. This was a survey study with a cross-sectional design to determine the members of punk community mental status at Megamas area in Manado based on Supplementary Scales of Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) Indonesian adaptation. According to socio-demographic data the majority of 30 respondents were males (86.67%), age range 18-27 years old (86.67%), respondents’ parents worked as private sectors employees (50%), respondents worked in private sectors (70%), had three siblings (43.33%), lived in Manado (76.67%), senior high school graduates (83.33%), reason of joining punk community was freedom (63,33%). Supplementary scales of MMPI-2 distribution obtained high t-score to low t-score as follows: PK (83.33%), AAS (56.67%), MAC-R (46.67%), A (46.67%), MDS (43.33%), Ho (36.67%), Mt (30%), OH (6.67%), R (3.33%), Es (0%), Do (0%), Re (0%), APS (0%), GM (0%), and GF (0%). Conclusion: The supplementary scales of MMPI-2 Indonesian adaptation in punk community at Megamas area in Manado city obtained high t-scores in Post Traumatic Disorder, Addiction Acknowledge/Admission Scale, MacAndrew Alcoholism-Revised, Anxiety Scale, Marital Distress, and Hostility Scales.Keywords: profile, supplementary scales, MMPI-2 Indonesian adaptation, punk community Abstrak: Masyarakat umumnya masih memandang komunitas punk dengan pandangan negatif dikarenakan gaya berpakaian dan gaya rambut yang aneh serta dianggap sebagai komunitas yang berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan status kesehatan mental pada anggota komunitas punk untuk mendeteksi adanya gangguan mental. Jenis penelitian ialah survey dengan desain potong lintang untuk mengetahui status mental anggota komunitas punk di kawasan Megamas Kota Manado berdasarkan Supplementary Scales Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) adaptasi Indonesia. Berdasarkan sosio-demografi dari 30 responden, distribusi anggota komunitas punk terbanyak ialah laki-laki (86,67%), rentang usia 18-27 tahun (86,67%), pekerjaan orang tua responden di bidang swasta (50%), pekerjaan responden di bidang swasta (70%), memiliki jumlah saudara sebanyak tiga orang (43,33%), beralamat di Kota Manado (76,67%), pendidikan terakhir SMA (83,33%), dan alasan bergabung pada komunitas punk karena menginginkan kebebasan (63,33%). Hasil distribusi supplementary scales MMPI-2, mendapatkan skala dengan t-skor yang tinggi dengan persentase berturut-turut dari tinggi ke rendah yaitu: PK (83,33%), AAS (56,67%), MAC-R (46,67%), A (46,67%), MDS (43,33%), Ho (36,67%), Mt (30%), OH (6,67%), R (3,33%), Es (0%), Do (0%), Re(0%),APS (0%), GM (0%), dan GF (0%). Simpulan: Supplementary Scales Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) adaptasi Indonesia yang tinggi yaitu pada Post Traumatic Disorder, Addiction Acknowledge/Admission Scale, MacAndrew Alkhoholism-Revised, Anxiety Scale, Marital Distress dan Hostility Scales. Kata kunci: profil, supplementary scales, MMPI-2 adaptasi indonesia, komunitas punk
GAMBARAN TINGKAT DEPRESI PADA WANITA PEKERJA SEKS DI KALANGAN REMAJA DI KOTA MANADO Wardoyo, Serly; Kaunang, Theresia M. D.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.2.2014.5041

Abstract

Abstract: Depression is a mental disorder that is predicted by the World Health Organization which will be ranked first in the burden of disease on a global scale in 2030. Emotional maturity of the teens which is still unstable, highly susceptible to depression. Especially for those who work as female sex workers and often receive negative pressure when they work. Method: This research is a descriptive study with cross-sectional design. Depression among 30 adolescent FSWs will be assessed using the Beck Depression Inventory II questionnaire. Results: Results showed that 10.0%  FSWs are normal, 30.0% FSWs have mild depression, 36.7% FSWs have moderate depression and 23.3% FSWs have severely depression. Keywords: Depression, Female Sex Worker, adolescent, Beck Depression Inventory.   Abstrak: Depresi merupakan gangguan mental yang diprediksikan oleh World Health Organization kelak menduduki peringkat pertama beban penyakit dalam skala global pada tahun 2030. Usia remaja yang kematangan emosionalnya masih labil, sangat rentan mengalami depresi. Apalagi bagi remaja yang berprofesi sebagai Wanita Pekerja Seks yang kerap mendapat berbagai tekanan negatifdalam pekerjaannya. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Tingkatan depresi pada 30 remaja WPS akan dinilai dengan menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory II. Hasil: Didapatkan sebanyak 10.0%  WPS normal, 30.0% WPS mengalami depresi ringan, 36.7% WPS mengalami depresi sedang dan 23.3% WPS mengalami depresi berat. Kata Kunci: Depresi, Wanita Pekerja Seks, remaja, Beck Depression Inventory.
HUBUNGAN KEKERASAN DENGAN DEPRESI PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Hutasoit, Christin Y.; Munayang, Herdy; Kairupan, Bernabas H.R.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14485

Abstract

Abstract: Child abuse is all forms of violence and neglect that occurred against children under the age of 18 years old. One of the psychological impact of violence is depression. Depression is a mood disorder that can happen to anyone, including a child. The purpose of this study is to determine whether there is a relationship of violence with depression in elementary school children in the district Malalayang city of Manado. Design of the study is quantitative analytical research with cross sectional approach. Samples were 4th, 5th, and 6th grade elementary schools students in the district of the city of Manado Malalayang aged 9 to 12 years old. The respondents who followed the study are 316 children consisting of 169 female and 147 male. Screening instrument used for children depression in this study was Children Depression Inventory (CDI). Statistic analysis chi-square test with alternative test fisher. The results showed that of 316 respondents, 315 experience abuse but only 31 respondents become depressed. The result (p value) of the analysis of relationship between violence and depression in children using Fisher test is 1.000 (p> 0.05). Conclusion: Violence is not associated with depression in children, but does not guarantee children who are abused in childhood will not experience depression as they grow up.Keywords: violence, depression, elementary school children, CDI Abstrak: Kekerasan pada anak adalah segala bentuk tindakan kekerasan dan penelantaran yang terjadi terhadap anak di bawah usia 18 tahun. Salah satu dampak psikologis dari kekerasan adalah depresi. Depresi adalah gangguan mood yang dapat terjadi pada siapapun, termasuk seorang anak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan kekerasan dengan depresi pada anak sekolah dasar di kecamatan Malalayang kota Manado. Desain Penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian ini adalah siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6 sekolah dasar di kecamatan Malalayang kota Manado yang berusia 9 sampai 12 tahun.Responden yang mengikuti penelitian adalah 316 anak yang terdiri dari 169 perempuan dan 147 laki-laki.Intrumen yang digunakan untuk skrining depresi pada anak dalam penelitian ini adalah kuesioner Children Depression Inventory (CDI).Uji analisis yang digunakan adalah chi-square dengan uji alternatif uji fisher. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 316 responden, 315 yang mengalami kekerasan tetapi hanya 31 responden yang depresi. Hasil analisis hubungan kekerasan dengan depresi pada anak menggunakan uji fisher didapatkan nilai p sebesar 1,000 (p > 0,05). Simpulan: kekerasan tidak berhubungan dengan depresi pada anak, tetapi tidak menjamin anak yang mengalami kekerasan pada masa kecil tidak akan mengalami depresi saat dewasa. Kata kunci: kekerasan, depresi, anak sekolah dasar, CDI
Gambaran Mental Emosional pada Orang Tua yang Anaknya dirawat di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Suputra, I Dewa G. Adi; Kaunang, Theresia ` M. D.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 6, No 1 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.1.2018.18635

Abstract

Abstract: Emotional mental disorder is a condition that indicates psychological changes in an individual. This disorder can manifest as symptoms of depression, psychosomatic disorders, and anxiety. Having a child hospitalized for a life-threatening illness or injury can cause deep psychological reactions to the parents. This study was aimed to determine the mental emotional profile among the parents whose children were treated at the Emergency Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from October to November 2017. This was a quantitative descriptive study with a cross sectional design. This study involved all parents whose children were treated in the emergency installation who met the inclusion criteria as many as 72 respondents. The instruments of the study were Self Reporting Questionnaire (SRQ) and Depression Anxiety Stress Scale (DASS). Univariate and bivariate analyzes were performed using SPSS. Based on SRQ and DASS questionnaire data filled by 72 respondents, 54 parents (75%) had emotional mental disorders, consisting of 49 parents (68.1%) suffering from anxiety from mild to very severe and 18 parents (25 %) suffering from mild to very severe depression. The most dominant diseases of the children that caused anxiety to the parents were diarrhea, bronchopneumonia, and febrile seizures. Conclusion: The conditions of children treated in the Emergency Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital could cause psychological stress in the form of anxiety and depression for the parents.Keywords: emotional mental disorders, anxiety, depression, parentsAbstrak: Gangguan mental emosional adalah kondisi yang mengindikasikan perubahan psikologik pada seseorang. Gangguan mental emosional dapat berupa gejala depresi, gangguan psikosomatik, dan kecemasan. Pengalaman memiliki anak yang dirawat di rumah sakit karena penyakit atau cedera yang mengancam jiwa dapat menyebabkan reaksi psikologik yang mendalam pada orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mental emosional pada orang tua yang anaknya dirawat di IGD RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode Oktober-November 2017. Jenis penelitian ialah deskriptif kuantitatif dengan studi potong lintang. Penelitian ini melibatkan semua orang tua yang anaknya dirawat di IGD dan memenuhi kriteria inklusi yaitu 72 responden orang tua. Instrumen yang digunakan ialah kuesioner Self Reporting Qustionnaire (SRQ) dan Depression Anxiety Stress Scale (DASS). Analisis univariat dan bivariat dilakukan dengan menggunakan SPSS. Berdasarkan perolehan data kuesioner SRQ dan DASS dari 72 responden, 54 orang tua (75%) mengalami gangguan mental emosional, yang terdiri dari 49 orang tua (68,1%) dengan kecemasan dari ringan hingga sangat berat dan 18 orang tua (25%) dengan depresi ringan hingga sangat berat. Dari penelitian ini didapatkan diagnosis penyakit anak yang paling dominan menye-babkan kecemasan dan depresi pada orang tua, yaitu diare, bronkopneumonia, dan kejang demam. Simpulan: Kondisi anak yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou dapat menimbulkan stres psikologik berupa kecemasan dan depresi pada orang tua.Kata kunci: gangguan mental emosional, kecemasan, depresi, orang tua
Komorbiditas anak gangguan spektrum autisme Warouw, Seriven Y.; Elim, Christoffel; Munayang, Herdy; Ekawardani, Neni
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14497

Abstract

Abstract: Autism spectrum disorder is a developmental disruption. Its early condition is characterized by delay and deviance in the development of social, communication, and other skills. Someone who has been diagnosed with autism spectrum disorder is easily to encounter other health problems which occur simultaneously, the comorbidity. Comorbidities that usually occur in children with autism spectrum disorder are mental disorders and physical diseases. This study was aimed to identify the comorbidities of children with autism spectrum disorder at autism schools, exceptional schools and disabled children therapy sites in Manado and Tomohon. This was a quantitative study with a cross-sectional design. The results showed that there were 31 parents of children with autism spectrum disorder as respondents. There were 30 children (96.77%) that had comorbidities. Of the 30 children with comorbidities, 7 children had generalized anxiety disorder (22.6%), 9 children had specific phobias (29%), 6 children had bipolar disorders (25.8%), 7 children had ADHD (22.6%), 22 children had allergic diseases (71%), 23 children had gastrointestinal disorders (74.2%), and 4 children had epilepsy (12.9%). Conclusion: In this study, most children with autism spectrum disorder had comorbidities and gastrointestinal disorder was the most frequent comorbidity.Keywords: comorbidity, children, autism spectrum disorder. Abstrak: Gangguan spektrum autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang mana kondisi awalnya ditandai dengan keterlambatan dan penyimpangan dalam perkembangan sosial, komunikasi dan keterampilan lainnya. Orang yang didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme sangat rentan mengalami masalah kesehatan lain yang terjadi secara bersamaan atau dikenal dengan istilah komorbiditas. Komorbiditas yang sering muncul pada anak gangguan spektrum autisme berupa gangguan mental dan penyakit fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komorbiditas pada anak gangguan spektrum autisme di sekolah khusus autisme, sekolah luar biasa dan tempat terapi anak berkebutuhan khusus di Kota Manado dan Tomohon. Jenis penelitian ialah kuantitatif dengan desain potong lintang terhadap 31 responden yaitu orangtua yang mempunyai anak gangguan spektrum autisme. Dari 31 responden ini didapatkan 30 anak gangguan spektrum autisme (96,77%) mengalami komorbiditas. Dari 30 anak gangguan spektrum autisme yang mengalami komorbiditas didapatkan 7 anak mengalami gangguan cemas menyeluruh (22,6%), 9 anak mengalami fobia spesifik (29%), 6 anak mengalami gangguan obsesif kompulsif (19,4%), 5 anak mengalami gangguan depresif mayor (16,1%), 8 anak mengalami gangguan bipolar (25,8), 7 anak mengalami GPPH (22,6%), 22 anak mengalami alergi (71%), 23 anak mengalami gangguan gastrointestinal (74,2%), dan 4 anak mengalami epilepsi (12,9%). Simpulan: Hampir semua anak gangguan spektrum autisme mengalami komorbiditas dan gangguan gastrointestinal merupakan komorbiditas yang paling sering ditemukan. Kata kunci: komorbiditas, anak, gangguan spektrum autisme.
PREVALENSI TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN INFARK MIOKARD LAMA DI POLIKLINIK JANTUNG RSUP PROF. Dr. R.D. KANDOU Maendra, I Ketut; Munayang, Herdy; Dundu, Anita E.; Ekawardani, Neni
e-CliniC Vol 2, No 3 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.3.2014.6342

Abstract

Abstract: Lifestyle change affects the disease patterns from infection and malnutritions to degenerative diseases such as heart and vascular diseases. National prevalence of heart diseases in Indonesia is 7.2 percents and the prevalence in North Sulawesi is 8.2 percents. Myocardial infarction is usually followed by psychological reactions such as anxiety and depression. Anxiety has relation with heart disease progression and higher anxiety level increases the heart disease risk. This study aimed to know the prevalence of anxiety level in myocardial infarction patients at cardiac clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive study with sample size of 60 patients. The results showed that the prevalence of anxiety was 93.3% and the most common anxiety level was moderate anxiety. Keywords: anxiety, myocardial infarction, prevalenceAbstrak: Perubahan pola hidup mengubah pola penyakit mulai dari penyakit infeksi dan malnutrisi ke penyakit-penyakit degeneratif, salah satunya adalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Prevalensi nasional penyakit jantung di Indonesia sebesar 7,2 persen sedangkan prevalensi di Sulawesi Utara adalah sebesar 8,2 persen. Infark miokard biasanya diikuti oleh reaksi-reaksi psikologis seperti depresi dan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi tingkat kecemasan pada pasien infark miokard lama di poliklinik jantung RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan sampel yang berjumlah 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi kecemasan pada pasien infark miokard di poliklinik jantung RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yaitu 93,3% dan tingkat kecemasan sedang didapatkan paling banyak. Kata kunci: kecemasan, infark miokard, prevalensi
Pola asuh pada anak gangguan spektrum autisme di sekolah autis, sekolah luar biasa dan tempat terapi anak berkebutuhan khusus di Kota Manado dan Tomohon Larete, Indah J.; Kandou, Liesbeth F. J.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.12660

Abstract

Abstract: Autism spectrum disorder is an extremely complex growth disorder that deals with communication, social interaction, and imagination activities that can be observed in children before they reach 3 years of age. The parenting style consists of 3 types, which are democratic parenting style, authoritarian parenting style, and permissive parenting style. This atudy aimed to identify the parenting style implemented by parents to children with autism spectrum disorders at autism schools, exceptional schools, and disabled children therapy sites in Manado and Tomohon. This was a quantitative study with a cross sectional design. There were 30 respondents who were parents of chidren with autism spectrum disorder. The results showed that of 30 respondents, 17 (56.7%) implemented the authoritarian parenting style, 10 (33.3%), implemented the democratic parenting style, and 3 (10%) implemented the permissive parenting style. Conclusion: Most of the parents with children of autism spectrum disorder at autism school, exceptional school, and disabled children therapy sites in Manado and Tomohon implemented the authoritarian parenting style to their children.Keywords: parenting style, children, autism spectrum disorder.Abstrak: Gangguan spektrum autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks dan berat menyangkut komunikasi, interaksi social, dan aktivitas imajinasi yang dapat dilihat pada anak sebelum umur 3 tahun. Pola asuh terdiri dari 3 jenis yaitu pola asuh demokratis, pola asuh otoriter, dan pola asuh permisif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola asuh orang tua terhadap anak yang memiliki gangguan spektrum autisme di sekolah khusus autis, sekolah luar biasa, dan tempat terapi anak berkebutuhan khusus di kota Manado dan Tomohon. Jenis penelitian ini kuantitatif dengan desain potong lintang terhadap 30 responden yaitu orang tua yang mempunyai anak gangguan spektrum autisme, dilanjutkan dengan penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap 2 orang responden. Hasil penelitian memperlihatkan dari 30 responden didapatkan orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter sebanyak 17 responden (56,7%); orang tua yang menerapkan pola asuh demokratis ialah 10 responden (33,3%); dan orangtua yang menerapkan pola asuh permisif sebanyak 3 responden (10%). Simpulan: Sebagian besar orang tua yang memiliki anak gangguan spektrum autisme di sekolah autisme, sekolah luar biasa, dan tempat terapi di kota Manado dan Tomohon mengasuh anak dengan cara pola asuh otoriter.Kata kunci: pola asuh, anak, gangguan spektrum autis
Hubungan penyakit jantung bawaan pada anak dengan status pendidikan orang tua Munaiseche, Kimberly; Munayang, Herdy; Kaunang, Erling D.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.13921

Abstract

Abstract: Congenital heart disease (CHD) has an incidence of 30% of all congenital abnormalities. The incidences of CHDs in developed countries and developing countries range from 6-10 cases per 1000 live births, with an average of 8 per 1,000 live births. Education and knowledge of parents play important roles in the treatment of CHD. This study was aimed to determine the relationship between CHD in children and the educational status of parents. This was an analytical observational study with a cross sectional design. Subjects were all children admitted to the Pediatrics Department Prof. Dr. R. D. Kandou Manado in 2014-2015 due to heart diseases. Data consisted of sex, age, and the last education of the parents. Data were analyzed by using the Chi-Square test. The results showed that there were 100 children with heart diseases consisted of 53 males and 47 females. There were 38 males (52.8%) with positive CHD and the highest percentage of positive CHD was at 7-12 years as many as 17 children (60.7%). Based on education level, most of the children’s fathers were senior high school (42.9%) as well as the children’s mother (53.6%). The Chi-Square showed p= 0.776 and p= 0.532 for the relationships between the fathers’ as well as the mothers’ education levels and congenital heart disease in children. Conclusion: There was no significant relationship between parents’ educational level and congenital heart disease in children.Keywords: congenital heart disease, education. Abstrak: Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan bawaan yang sering dijumpai, dengan angka kejadian 30% dari seluruh kelainan bawaan. Insiden PJB dinegara maju maupun negara berkembang berkisar 6-10 kasus per 1000 kelahiran hidup, dengan rata-rata 8 per 1000 kelahiran hidup. Pendidikan, pengetahuan, dan pekerjaan orang tua berperan penting dalam penanganan PJB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara PJB pada anak dengan status pendidikan orang tua. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ialah semua anak dengan penyakit jantung yang dirawat di Instalasi Rawat Inap di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2014-2015. Data diambil dari Bagian Rekam Medik berupa jenis kelamin anak, usia anak, serta pendidikan terakhir ayah dan ibu. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian mendapatkan jumlah subjek penelitian sebanyak 100 anak terdiri dari 53 anak laki-laki dan 47 anak perempuan. Berdasarkan jenis kelamin yang terbanyak positif PJB ialah laki-laki sebanyak 38 orang (52,8%). Berdasarkan usia yang terbanyak positif PJB ialah 7-12 tahun sebanyak 17 anak (60,7%). Pendidikan terbanyak ialah SLTA yaitu pada ayah 42,9% dan pada ibu sebesar 53,6%. Uji Chi-Square, mendapatkan p = 0,776 dan p = 0,532 untuk hubungan tingkat pendidikan ayah dan ibu dengan PJB. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan orang tua dengan penyakit jantung bawaan pada anak. Kata kunci: penyakit jantung bawaan, pendidikan