Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

ASESMEN KELAIKAN FUNGSI STRUKTUR GEDUNG MASJID AL FALAH ARENG-ARENG JUNREJO BATU Suhariyanto Suhariyanto; Nabila Ayu Sabrina; Kartika Purwitasari; Fauziah Shanti Cahyani Siti Maisarah; Taufiq Rochman; Bobby Asukmajaya Raharjo
Jurnal Online Skripsi Manajemen Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK) Vol. 6 No. 4 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jos-mrk.v6i4.8927

Abstract

Asesmen kelayakan fungsi struktur Gedung Masjid Al Falah Areng-areng Junrejo Batu bertujuan untuk mengevaluasi kondisi struktural bangunan yang mengalami kerusakan pada beberapa elemen, terutama di sekitar kubah, yang berpotensi mengancam keselamatan dan kenyamanan jamaah. Proses asesmen melibatkan pemeriksaan teknis yang dilakukan oleh ahli forensic dan ahli struktural untuk menilai tingkat kerusakan dan penyebabnya, serta merancang solusi perbaikan yang sesuai. Selain itu, asesmen ini juga mempertimbangkan kelayakan teknis, ekonomi, sosial, dan hukum terkait pelaksanaan perbaikan. Berdasarkan assessment yang dilakukan dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut kubah seharusnya menumpu pada balok ring kubah, tetapi yang terbangun kubah menumpu pada pada balok dan pelat di luar balok ring kubah, ditemukan beberapa defect/failure pada balok dan  plat atap di sekitar kubah, getaran terjadi pada  sebagaian  lantai 2 ketika dibebani orang yang meloncat, ditemukan beberapa defect/failure pada balok dan  plat atap di sekitar kubah, getaran terjadi pada  sebagai lantai 2 ketika dibebani orang yang meloncat. Gedung terasa bergetar  jika terdapat truck yang melalui jalan di depan masjid. Hasil loading test: pada beban 0 sampai dengan sekitar 150 kg/m2 maka balok ring, pelat dan balok berada pada Daerah I (daerah Elastis), pada beban  sekitar 150 kg/m2 sampai 350 kg/m2 maka balok ring, pelat dan balok berada pada Daerah II (daerah Retak), setelah beban  350 kg/m2 maka balok ring, pelat dan balok atap masuk pada Daerah III  (daerah baja lelah atau beon pecah), lendutan tetap terjadi ketika dilakukan unloading sampai dengan beban uji 0. Tindak lanjut selanjutnya adalah melakukan analisis dan penyusunan rencana perbaikan atau perkuatan struktur yang mengalami defect.
PERBANDINGAN DEFLEKSI DAN BERAT MENARA PLTB DENGAN MENGGUNAKAN MODEL RANGKA DAN MONOPOLE Bobby Asukmajaya Raharjo; sugeng Riyanto; Achendri M. Kurniawan; Suhariyanto Suhariyanto
Jurnal Online Skripsi Manajemen Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK) Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jos-mrk.v6i3.9347

Abstract

Pemenuhan kebutuhan energi listrik merupakan aspek fundamental pada era saat ini, mengingat hampir seluruh aktivitas manusia sangat bergantung pada ketersediaan energi listrik. Meskipun Indonesia telah mencapai tingkat penyediaan listrik yang baik di wilayah yang mudah dijangkau, pada wilayah kepulauan terpencil penyediaan listrik masih menjadi permasalahan, terutama karena ketergantungan pada bahan bakar minyak yang kurang efisien secara ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan solusi penyediaan energi listrik yang lebih ekonomis, salah satunya melalui penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). PLTB memiliki keunggulan berupa kebutuhan investasi awal yang relatif rendah serta ramah lingkungan dengan emisi karbon mendekati nol. Dalam konteks ini, peran menara (tower) sebagai struktur penyangga turbin angin untuk menangkap energi angin di wilayah terpencil menjadi sangat penting. Pembangunan tower di daerah tersebut menghadapi tantangan utama berupa keterbatasan transportasi peralatan dan material ke lokasi, sehingga material yang dapat diangkut umumnya terbatas baik dari segi ukuran maupun berat. Oleh karena itu, tower direncanakan dalam bentuk rangka (lattice/truss) dan monopole. Perbandingan efisiensi kedua model, khususnya dari aspek berat struktur, diperlukan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan pemilihan tipe tower. Penelitian ini membandingkan penggunaan model tower rangka (lattice) dan monopole pada PLTB dengan mengevaluasi respons lendutan (defleksi) akibat beban turbin serta beban lateral akibat angin.  Hasil analisis menunjukkan bahwa model lattice memiliki defleksi lateral yang lebih kecil, yaitu sebesar 0,021 m, sedangkan model monopole menunjukkan defleksi lateral terbesar sebesar 0,213 m. Nilai batas maksimum defleksi lateral yang diizinkan berdasarkan ketentuan peraturan adalah sebesar 1% dari tinggi tower (24 m), yaitu 0,24 m. Hasil ini menunjukkan bahwa model lattice memiliki kinerja yang lebih baik dalam mengendalikan defleksi lateral dengan tingkat optimalitas rasio penampang yang setara. Dengan demikian, model lattice lebih sesuai diterapkan pada wilayah dengan kondisi angin yang tidak stabil atau memiliki variasi dan fluktuasi kecepatan angin yang tinggi.