Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Aksara

Ekofeminisme dalam Puisi-Puisi Perempuan Indonesia: Kajian Stilistika dan Ekokritik Riana Dwi Lestari; Eli Syarifah Aeni
Aksara Vol 37, No 1 (2025): AKSARA, EDISI JUNI 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i1.4789.210-225

Abstract

Poetry serves as a medium for women to express critical perspectives on the relationship between the female body and nature, both of which are subjected to oppression, especially amidst environmental crises and gender inequality. Female poets such as Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, and Toeti Heraty have written poetry that is not only personal but also acts as a form of protest against patriarchy and anthropocentric worldviews that neglect the environment. Therefore, this research is important to explore how women's poetry symbolically and ideologically portrays the body, trauma, love, and nature, as well as how poetic language is used to voice social, ecological, and feminist critiques. This study employs two approaches: stylistics and ecofeminist ecocriticism. The stylistic approach examines the linguistic aspects of poetry, such as diction, imagery, figurative language, and sound structure, which create aesthetic and emotional effects. Meanwhile, the ecofeminist ecocritical approach analyzes the relationship between representations of the female body and nature as a whole within the poems. Three poems are analyzed in this study: the untitled poem by Oka Rusmini (beginning with the line “Pertemuan itu, jadi benih pulau…”), “Nikah Sungai” by Dorothea Rosa Herliany, and “Lukisan Wanita 1938” by Toeti Heraty. This research uses a descriptive qualitative methodology and applies literary text analysis techniques. The analysis process begins with a close reading of the three poems. Stylistic elements are identified, and symbolic meanings are interpreted using the ecofeminist ecocritical framework. The findings reveal that the female body is depicted as an ecological and historical landscape marked by wounds and oppression. The poems expose systems of power that oppress both women and nature, while offering a space for resistance through symbols of nature, the body, and death. These poems explicitly reject the romanticization of love, the aestheticization of the body, and historical narratives that silence women's voices. AbstrakPuisi menjadi media bagi perempuan untuk menyampaikan pandangan kritis tentang hubungan antara tubuh perempuan dan alam yang mengalami penindasan, terutama di tengah krisis lingkungan dan ketidakadilan gender. Penyair perempuan seperti Oka Rusmini, Dorothea Rosa Herliany, dan Toeti Heraty telah menulis puisi yang tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga sebagai bentuk protes terhadap patriarki dan cara pandang manusia yang mengabaikan alam (antroposentrisme). Karena itu, penelitian ini penting untuk melihat puisi-puisi perempuan menggambarkan tubuh, trauma, cinta, dan alam secara simbolis dan ideologis, serta bagaimana bahasa puisi digunakan untuk menyampaikan kritik sosial, lingkungan, dan feminisme. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan: stilistika dan ekokritik-ekofeminisme. Pendekatan stilistika melihat aspek kebahasaan puisi, seperti diksi, citraan, gaya bahasa, dan struktur bunyi yang memberikan dampak estetis dan emosional. Sementara itu, pendekatan ekokritik-ekofeminisme melihat hubungan antara representasi tubuh perempuan dan alam secara keseluruhan dalam puisi. Puisi tanpa judul karya Oka Rusmini (dengan kutipan pembuka "Pertemuan itu, jadi benih pulau.), "Nikah Sungai" karya Dorothea Rosa Herliany, dan "Lukisan Wanita 1938" karya Toeti Heraty adalah ketiga puisi yang dianalisis. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deskriptif dan menggunakan teknik analisis teks sastra. Proses analisis dimulai dengan pembacaan menyeluruh dari ketiga puisi. Stilistika diidentifikasi dan makna simbolik ditafsirkan menggunakan kerangka ekokritik-ekofeminisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh perempuan digambarkan sebagai lanskap ekologis dan historis yang dipenuhi dengan luka dan penindasan. Puisi membongkar kekuasaan yang menindas alam dan perempuan dan menawarkan ruang perlawanan melalui simbol alam, tubuh, dan kematian. Puisi-puisi ini secara khusus menentang romantisasi cinta, estetika tubuh, dan narasi sejarah yang mengabaikan suara perempuan.
Jati Diri Orang Sunda dalam Mitos Ciung Wanara: Pendekatan Strukturalisme Levi-Strauss Enung Nurhayati; Ika Mustika; Riana Dwi Lestari; Suhud Aryana; Lilik Herawati; Muhamad Haryanto
Aksara Vol 35, No 1 (2023): AKSARA, EDISI JUNI 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i1.1051.74--93

Abstract

This research examines the identity of the Sundanese people contained in the Ciung Wanara (CW) myth. The research method uses the Levi-Strauss structuralism approach, which is assumed to be able to interpret myths comprehensively through innate discoveries which are the meeting point between surface and deep structure. The stages of research were carried out in several locations, namely (1) the search for Ciung Wanara data was divided into episodes and units; (2) synchronous and diachronic series were made to find the surface structure; (3) looking for a deep structure with a binary opposition path; and (4) innate discovery. The results showed that there were 17 episodes and 49 units. From the synchronic and diachronic tables for my theme, five triangular patterns were found, namely the queen's triangle pattern, the Supreme triangle pattern, the parents' triangle pattern, the life triangle pattern, the natural triangle pattern, and also found the Sundanese political triad. The most dominant pattern is contained in the Ciung Wanara myth, namely the triangular way of life, patterns of thinking, patterns of behavior, and patterns of action which are the identity of the Sundanese people and the application of the triad of Sundanese Politica (silih asih, silih asah, and silih asuh). AbstrakPenelitian ini mengkaji jati diri orang Sunda yang terdapat dalam mitos Ciung Wanara (CW). Penelitian menunjukkan model logis orang Sunda mengatasi konflik atau kontradiksi yang terjadi di antara mereka. Metode penelitian menggunakan pendekatan strukturalisme Levi-Strauss yang diasumsikan dapat memaknai mitos secara komprehensif melalui penemuan innate yang merupakan titik temu antara surface dan deep structure. Tahapan penelitiannya, yaitu (1) pencarian data CW dibagi dalam episode dan unit; (2) dibuat deret sinkronis dan diakronis untuk menemukan surface structure; (3) dicari deep structure dengan jalan oposisi biner; dan (4) penemuan innate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 17 episode dan 49 unit. Dari hasil penyusunan tabel sinkronis dan diakronis untuk mytheme ditemukan lima pola segitiga, yaitu pola segitiga permaisuri, pola segitiga Mahatinggi, pola segitiga orang tua, pola segitiga kehidupan, pola segitiga alam, dan ditemukan pula trias politika Sunda. Pola yang paling dominan terdapat dalam mitos CW, yaitu pola segitiga kehidupan, pola berpikir, pola bersikap, dan pola bertindak yang menjadi kekhasan jati diri orang Sunda, serta penerapan dari trias politika Sunda (silih asih, silih asah, dan silih asuh).