Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Islamic educational psychology, critical analysis study of Hamka and Zakiah Daradjat's thinking Setiawan, Muhammad Nurrosyid Huda; Fadhlurrahman, Fadhlurrahman; Marzuki , Marzuki; Retnowati, Endah
Al-Misbah (Jurnal Islamic Studies) Vol. 11 No. 2 (2023): October
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/almisbah.v11i2.9752

Abstract

This research focuses on a comparative analysis of Islamic psychology education from the perspective of two great figures, namely Hamka and Zakiah Daradjat. Islamic psychology is a field that explores the human mind and behavior through an Islamic lens, combining principles from the Koran and Hadith. Hamka and Zakiah Daradjat are figures who have made significant contributions in this field. By examining their approach to education, curriculum design, teaching methods, assessment practices, and their overall impact and influence, this research aims to provide valuable insights into the field of Islamic psychology education and its relevance today. The research method used is literature with interpretive data analysis methods, pragmatic and holistic content analysis. data validation using method triangulation and source triangulation. The results of this research focus specifically on the comparison of Hamka and Zakiah Daradjat in the context of Islamic psychology education. The scope includes their approach to education, curriculum design, teaching methods, assessment practices, and their overall impact on the field. This analysis will examine their individual contributions and highlight the similarities and differences between the two figures. In the theoretical study of these two figures, the results of educational approaches, curriculum design, teaching methods, assessment practices and their impact on the field emerge.
Fostering Religious Harmony: The Role of Religious Leaders in Pancasila Village, Indonesia Majid, M. Kharis; Setiawan, Muhammad Nurrosyid Huda; Izzah, Afiyatin Nur
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v4i2.25818

Abstract

Differences in beliefs in Indonesia often lead to social conflicts. This study aims to identify and analyze the role of religious figures in maintaining and fostering religious harmony in Banaran Village, which has been officially designated as Pancasila Village. The method used is qualitative with a descriptive-analytical approach, conducted in Pancasila Village, Banaran, Kandangan Subdistrict, Kediri Regency. The findings show that religious leaders have a significant influence on maintaining diversity harmony through inclusive approaches and interfaith dialogue. Religious leaders not only act as spiritual leaders but also as mediators and wise problem solvers amidst differences in beliefs and traditions. Through effective communication, tolerance, and inter-religious dialogue, they have successfully built and maintained social harmony in the village. However, they also face challenges, such as internal conflicts and disparities in resource access, requiring specific strategies to ensure a peaceful and harmonious community life.
Religious Tolerance in the ‘Hajat Sasih’ Tradition of Kampung Naga: An Ethnographic Perspective Prayogo, Tonny Ilham; Muttaqin, Muttaqin; Nasution, Alhafidh; Setiawan, Muhammad Nurrosyid Huda; Jamilah, Nurazizah
Fenomena Vol 24 No 1 (2025): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v24i1.194

Abstract

The phenomenon of religious intolerance has recently become increasingly intractable and complex. Some records indicate that secondary-level institutions, state universities, and religious education institutions within communities are susceptible to radical ideologies. This research project aims to analyse the role of local wisdom, exemplified by the Hajat Sasih tradition observed by the Kampung Naga community, in fostering tolerance. The research method applied is quasi-qualitative, focusing on understanding the nature of tolerance and its implications for the formation of interfaith harmony in relation to the Hajat Sasih culture in Kampung Naga. To ensure the accuracy and reliability of the data, meticulous observation and in-depth interviews were employed as data collection techniques. The findings of this study can be summarised as follows: first, the community views the Hajat Sasih culture as a means of respecting and appreciating local wisdom. Second, the tolerance model applied is through the symbolism and meaning of the Hajat Sasih ceremony. Third, education in Kampung Naga facilitates the community's openness to external or foreign cultures while maintaining local customs. Fenomena intoleransi dalam beragama belakangan ini semakin menguat dan kompleksitas. Beberapa catatan telah diungkapkan bahwa lembaga jenjang menengah dan perguruan tinggi negeri serta lembaga pendidikan keagamaan di masyarakat terpapar paham radikalimse. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan menguatkan sikap toleransi yang dilakukan oleh kearifan lokal yakni masyarakat Kampung Naga melalui tradisi Hajat Sasih. Metode penelitian yang dilakukan oleh peneliti yakni kuasi kualitatif yang berfokus pada pemahaman toleransi dan implikasinya dalam pembentukan harmoni antar umat beragama dengan Kebudayaan Hajat Sasih di Kampung Naga. Teknik pengumpulan data yang diterapkan pada penelitian ini adalah observasi terhadap objek dengan hati-hati (meticulous observation) dan wawancara mendalam (in depth interview) yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang akurat dari informan atau narasumber. Hasil temuan dalam penelitian ini yakni pertama, pandangan masyarakat terhadap budaya Hajat Sasih adalah menghormati dan menghargai adat kearifan lokal yang telah dijalankan oleh para sesepuh/leluhur. Kedua, model toleransi yang diterapkan yakni melalui simbolisasi dan makna upacara Hajat Sasih. Ketiga, peran pendidikan di Kampung Naga yang merealisasikan keterbukaannya terhadap dunia luar atau budaya asing dengan mempertahankan adat lokalnya.    
Fostering Religious Harmony: The Role of Religious Leaders in Pancasila Village, Indonesia Majid, M. Kharis; Setiawan, Muhammad Nurrosyid Huda; Izzah, Afiyatin Nur
Abrahamic Religions: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Prodi Studi Agama-Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/arj.v4i2.25818

Abstract

Differences in beliefs in Indonesia often lead to social conflicts. This study aims to identify and analyze the role of religious figures in maintaining and fostering religious harmony in Banaran Village, which has been officially designated as Pancasila Village. The method used is qualitative with a descriptive-analytical approach, conducted in Pancasila Village, Banaran, Kandangan Subdistrict, Kediri Regency. The findings show that religious leaders have a significant influence on maintaining diversity harmony through inclusive approaches and interfaith dialogue. Religious leaders not only act as spiritual leaders but also as mediators and wise problem solvers amidst differences in beliefs and traditions. Through effective communication, tolerance, and inter-religious dialogue, they have successfully built and maintained social harmony in the village. However, they also face challenges, such as internal conflicts and disparities in resource access, requiring specific strategies to ensure a peaceful and harmonious community life.
Upaya Tokoh Agama dalam Menanggulangi Konflik Sosial Keagamaan di Kampung Pancasila Desa Banaran Kediri M. Kharis Majid; Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan; Afiyatin Nur Izzah
Journal Hub for Humanities and Social Science Vol. 1 No. 2 (2024): 2024: July - December
Publisher : Yayasan Masjid Al-Muhajirin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63847/fj0evt67

Abstract

Sebutan Kampung Pancasila untuk Desa Banaran Kediri tentunya memliki beberapa alasan, diantaranya adalah bahwasanya di Desa tersebut terdapat berbagai agama dan dalam keberagaman tersebut, mereka bisa hidup rukun, toleran antara satu dengan yang lain dan tentunya terhindar dari konflik keagamaan. Hal ini tidak lepas dari upaya tokoh agama dalam mennggulangi konflik antar umat beragama. Sehingga dalam artikel ini akan mengupas sejauh mana upaya tokoh agama dalam menanggulangi konflik antar umat beragama di Desa tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian lapangan ini adalah deskriptif analitis dengan melibatkan tokoh agama dan masyarakat beragama sebagai responden dari pengumpulan datanya. Hasil dari penelitian ini diantaranya adalah pertama, tokoh agama sebagai sosok pemelihara keimanan. Kedua, Upaya tokoh agama dalam menanggulangi konflik antar umat beragama  adalah dengan membangun komunikasi antar umat. Ketiga, Upaya menjaga kerukunan antar umat beragama dengan sikap toleran. Keempat, memfasilitasi dialog antar agama. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan karena pada dasarnya tokoh agama memiliki peran yang sangat penting untuk menjaga kerukunan antar umat beragama.
The Influence of Celibacy on Enhancing the Spiritual Life of Pastors: A Case Study in Paroki Santo Mateus, Pare Setiawan, Muhammad Nurrosyid Huda; Awaludin, Asep; Muttaqin, Muttaqin; Cholifah, Nur
Jurnal Ilmiah Multidisipin Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Januari 2026
Publisher : Lumbung Pare Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60126/jim.v4i1.1402

Abstract

Selibat adalah komitmen utama para imam Katolik untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan umat. Meskipun memiliki nilai spiritual yang tinggi, selibat menghadapi tantangan psikologis, sosial, dan emosional yang dapat mempengaruhi kehidupan spiritual para imam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh selibat terhadap spiritualitas para imam di Gereja Katolik Paroki Santo Mateus, Pare, serta mengidentifikasi tantangan dan strategi yang digunakan dalam menjalankan komitmen tersebut. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan bentuk penelitian lapangan (field research) untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang pengalaman para imam dalam menjalani hidup selibat dan dengan pendekatan deskriptif analitis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi tentang praktik hidup selibat. Analisis dilakukan untuk memahami bagaimana selibat mempengaruhi kehidupan spiritual para imam dari sudut pandang teologi dan psikologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selibat meningkatkan kedekatan dengan Tuhan, disiplin rohani, dan dedikasi terhadap pelayanan. Namun, para imam juga menghadapi tantangan seperti kesepian, kebosanan, dan stigma sosial. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, mereka menggunakan strategi seperti refleksi spiritual, keterlibatan dalam komunitas, dan kegiatan-kegiatan produktif seperti membaca, menulis, dan berolahraga. Studi ini menegaskan bahwa selibat bukan hanya kewajiban gerejawi, tetapi juga merupakan sarana untuk meningkatkan spiritualitas dan pelayanan. Keberhasilan dalam mempraktikkannya bergantung pada dukungan gereja, keseimbangan psikologis, dan pembinaan rohani yang berkelanjutan agar imam tetap teguh dalam panggilannya.
Integrasi Kepribadian Muhammadiyah Dalam Model Pembelajaran Tajdid Leadership di SDKUB Muhammadiyah Purworejo Setiawan, Muhammad Nurrosyid Huda; Katni, Katni
Jurnal Ilmiah Multidisipin Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Januari 2026
Publisher : Lumbung Pare Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60126/jim.v4i1.1403

Abstract

Muhammadiyah memiliki inti gerakan tajdid, namun masih sedikit bentuk tajdid yang berfokus kepada pembentukan karakter pemimpin dalam institusi sebuah Pendidikan sejak dini. Menariknya, Sekolah Dasar Kepemimpinan Ummat dan Bangsa (SDKUB) Muhammadiyah Purworejo telah berhasil melakukannya. Penelitian ini bertujuan mengkaji integrasi Kepribadian Muhammadiyah dalam model pembelajaran Tajdid Leadership di SDKUB Muhammadiyah Purworejo. Penelitian dilakukan untuk menganalisis bagaimana nilai-nilai Kepribadian Muhammadiyah diinternalisasikan ke dalam proses pembelajaran kepemimpinan, strategi pedagogis yang digunakan, serta dampaknya terhadap pembentukan karakter siswa sebagai calon pemimpin masa depan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 Kepribadian Muhammadiyah terintegrasi dalam tiga program unggulan leadership, yaitu: Leadership Class, Leadership Event, Leadership Laboratory. Program Petuah juga menjadi sarana membangun karakter khusus bagi kelas atas. Integrasi nilai dilakukan melalui pembelajaran berbasis proyek, experiential learning, mentoring kepemimpinan, dan budaya sekolah. Dampak implementasi menunjukkan peningkatan kemampuan komunikasi, keberanian mengambil peran, kemampuan memecahkan masalah, serta sensitivitas moral pada siswa. Penelitian ini merekomendasikan penguatan sistem evaluasi nilai, peningkatan kapasitas guru, dan pengembangan model Tajdid Leadership yang lebih terstruktur sebagai model kurikulum khas sekolah Muhammadiyah.
Peningkatan Literasi Multikultural Guru Pondok Pesantren Darussalam Gontor Kampus Putri Melalui Experiential Learning Yahya, Yuangga Kurnia; Majid, M. Kharis; Setiawan, Muhammad Nurrosyid Huda; Karomi, Kholid; Junana, Olivia Fiestha; Az Zuhroh, Talia; Nugraheni, Arfita Maula; Nasywadina, Nyiar; Kurnia, Farhana Ovista
Abdimas Mandalika Vol 5, No 2 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/am.v5i2.36164

Abstract

Abstract: The diverse activities and social backgrounds within Islamic boarding schools constitute valuable social capital for strengthening social cohesion in society. However, limited direct encounters with communities of different religious and ethnic backgrounds outside the pesantren environment may constrain the development of multicultural literacy. This community service program aims to enhance the multicultural literacy of teachers at Darussalam Gontor Islamic Boarding School for Female Students through an experiential learning approach based on direct engagement with multicultural communities. The implementation method consisted of three stages: preparation, implementation, and evaluation, carried out through enrichment lectures, discussions, field visits, reflective sessions, and direct interactions with interfaith and interethnic communities in Malaysia. The results indicate an improvement in participants’ cultural awareness, experiential understanding, and intercultural sensitivity, particularly in relation to diversity management and the development of inclusive and dialogical social attitudes. These direct experiences strengthened the participants’ readiness to engage constructively in multicultural societies and to contribute to the reinforcement of social cohesion in their respective fields of service.Abstrak: Kehidupan pesantren yang diwarnai oleh keragaman latar belakang santri dan guru merupakan modal sosial penting dalam penguatan kohesi sosial di masyarakat. Namun, keterbatasan perjumpaan langsung dengan masyarakat lintas agama dan etnis di luar lingkungan pesantren berpotensi membatasi pengembangan literasi multikultural. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi multikultural guru Pondok Pesantren Darussalam Gontor Kampus Putri melalui pendekatan experiential learning berbasis perjumpaan langsung dengan masyarakat multikultural. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi yang diwujudkan dalam bentuk kuliah pengayaan, diskusi, kunjungan lapangan, refleksi, serta interaksi langsung dengan komunitas lintas agama dan etnis di Malaysia. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan wawasan, pengalaman, dan sensitivitas budaya peserta terhadap realitas multikultural, khususnya dalam memahami pengelolaan keragaman agama dan etnis serta membangun sikap inklusif dan dialogis dalam interaksi sosial. Pengalaman langsung ini memperkuat kesiapan peserta untuk berperan aktif dalam masyarakat multikultural serta berkontribusi pada penguatan kohesi sosial di lingkungan tempat mereka mengabdi.